<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192</id><updated>2012-01-21T07:46:05.717+07:00</updated><category term='Singhasari'/><category term='Nurhadi Rangkuti'/><category term='Titi Surti Nastiti'/><category term='Penawaran'/><category term='Hariani Santiko'/><category term='Jawa Barat'/><category term='La Galigo'/><category term='Wacananusantara'/><category term='Siaran Pers'/><category term='Surat'/><category term='China'/><category term='Sumatera Utara'/><category term='Harry Widianto'/><category term='Maritim'/><category term='Info'/><category term='Artefak'/><category term='Mancanegara'/><category term='Celengan'/><category term='Prasasti'/><category term='Jawa Tengah'/><category term='Klasik'/><category term='Merapi'/><category term='Edi Sedyawati'/><category term='Sulawesi Selatan'/><category term='Buku'/><category term='Kliping'/><category term='Fosil'/><category term='Perahu kuno'/><category term='Publikasi'/><category term='Jawa Timur'/><category term='Majapahit'/><category term='Pameran'/><category term='Bambang Budi Utomo'/><category term='Video'/><category term='Cagar Budaya'/><category term='India'/><category term='Berita'/><category term='Surat Pembaca'/><category term='Harta karun'/><category term='Islam'/><category term='Sriwijaya'/><category term='Yogyakarta'/><category term='Prasejarah'/><category term='Jambi'/><category term='Palgading'/><category term='Timor Leste'/><category term='Agus Aris Munandar'/><category term='RP Soejono'/><category term='Djulianto Susantio'/><category term='Muaro Jambi'/><category term='Borobudur'/><category term='Doktor'/><category term='Non-Arkeologi'/><category term='Tokoh'/><category term='Foto'/><category term='Indoarchaeology'/><category term='Museum'/><category term='Konservasi'/><category term='Bali'/><category term='Candi'/><category term='Batujaya'/><category term='Trinil'/><category term='Diskusi'/><category term='Radya Pustaka'/><category term='Kamboja'/><category term='Patung'/><category term='ArkeologiJawa'/><category term='Barus'/><category term='Thailand'/><category term='ABA'/><title type='text'>ILMU ARKEOLOGI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>248</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-4724547696918482976</id><published>2012-01-21T07:39:00.004+07:00</published><updated>2012-01-21T07:44:31.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Replika Benteng Kuno</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Bn0FPwJ-VrU/TxoJawkUQaI/AAAAAAAAAqc/B8emmWp0jt0/s1600/replika.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 266px; height: 181px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Bn0FPwJ-VrU/TxoJawkUQaI/AAAAAAAAAqc/B8emmWp0jt0/s320/replika.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699878633709257122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS, Rabu, 18 Jan 2012&lt;/span&gt; -  Replika Pelabuhan Brest, Perancis, salah satu hasil karya ahli pertahanan militer Perancis, Marquis de Vauban (1633-1707), dipajang dalam Pameran ”La France en relief: 1668-1870”. Pameran yang berlangsung di The Galeries nationales du Grand Palais, Jumat (13/1), di Paris, itu menyajikan koleksi mahakarya peta dan relief sejak Louis XIX sampai Napoleon III. Vauban mengembangkan ilmu tentang kubu pertahanan dan merencanakan taktik pengepungan menggunakan barisan parit pertahanan paralel.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-4724547696918482976?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/4724547696918482976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2012/01/replika-benteng-kuno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4724547696918482976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4724547696918482976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2012/01/replika-benteng-kuno.html' title='Replika Benteng Kuno'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Bn0FPwJ-VrU/TxoJawkUQaI/AAAAAAAAAqc/B8emmWp0jt0/s72-c/replika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-8303339793293524221</id><published>2011-12-12T07:04:00.001+07:00</published><updated>2011-12-12T07:06:53.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cagar Budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artefak'/><title type='text'>Mendesak, Penetapan Kawasan Cagar Budaya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS, Selasa, 6 Desember 2011&lt;/span&gt; - Untuk mencegah penjualan benda-benda bersejarah, penetapan sebagian kawasan Kepulauan Karimata, Kalimantan Barat, menjadi kawasan cagar budaya sudah sangat mendesak. Jika penjualan benda bersejarah terus dilakukan, akan sangat mengganggu upaya penelitian arkeologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin, Ulce Oktrivia, Senin (5/12), mengatakan, ada banyak situs dan kawasan yang menyimpan potensi benda-benda bersejarah di gugusan Kepulauan Karimata. ”Sampai saat ini belum ada penetapan kawasan itu menjadi cagar budaya. Akibatnya, tidak ada perlindungan undang-undang terhadap benda-benda bersejarah di wilayah itu,” ujar Ulce.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pulau di gugusan Kepulauan Karimata, seperti Pulau Maledang, Pulau Serutu, dan Pulau Karimata, merupakan kawasan dengan peninggalan benda bersejarah cukup banyak, terutama dari abad ke-7 hingga ke-19. Benda-benda itu terutama mangkuk porselen, peralatan makan, dan perkakas rumah tangga lain buatan China dari abad ke-7 sampai abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gugusan Kepulauan Karimata ditemukan juga prasasti menggunakan huruf China yang menguak pelayaran tentara Tar Tar pimpinan Kubhilai Khan yang singgah di Karimata untuk menyerang Kerajaan Singhasari (Singosari) di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa penetapan kawasan cagar budaya itu, sulit untuk menjerat para pelaku penjualan benda bersejarah menggunakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Komisi D DPRD Kalimantan Barat, Ikhwani A Rahim, mengatakan, seharusnya pemerintah yang mengusulkan sebagian wilayah Kepulauan Karimata sebagai kawasan cagar budaya. ”Kalau pemerintah belum punya agenda, DPRD yang akan mendorong supaya segera mengusulkannya,” ujar Ikhwani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Kayong Utara Hildi Hamid mengatakan, masih ada peluang untuk memberikan perlindungan pada benda-benda bersejarah di kawasan Karimata. ”Kami hanya membutuhkan peta temuan arkeologi sehingga bisa menyiapkan upaya preventif. Kami membuka diri untuk berkomunikasi dengan Balai Arkeologi Banjarmasin,” kata Hildi. (aha)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-8303339793293524221?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/8303339793293524221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/12/mendesak-penetapan-kawasan-cagar-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8303339793293524221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8303339793293524221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/12/mendesak-penetapan-kawasan-cagar-budaya.html' title='Mendesak, Penetapan Kawasan Cagar Budaya'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-354445028294362103</id><published>2011-12-12T07:00:00.001+07:00</published><updated>2011-12-12T07:04:30.417+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artefak'/><title type='text'>Amphora Kuno Obyek Turisme</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-pbdJP69sXoI/TuVEnTqeaFI/AAAAAAAAAqQ/2VU45r5Cin8/s1600/amphora.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-pbdJP69sXoI/TuVEnTqeaFI/AAAAAAAAAqQ/2VU45r5Cin8/s200/amphora.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685025546709133394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;AFP/BORIS HORVAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amphora Kuno Obyek Turisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS, Jumat, 9 Desember 2011&lt;/span&gt; -  Para penyelam mengamati amphora (guci keramik dengan dua pegangan) Romawi kuno di dasar laut pantai Pulau Frioul, Perancis selatan, Minggu (4/12). Amphora itu ditemukan tahun 1952 oleh pemimpin eksplorasi bawah laut Perancis Jacques-Yves Cousteau dan tim Calypso selama ekskavasi kapal karam ”Grand-Congloué” di lembah perairan Marseilles. Sebanyak 250 amphora ditenggelamkan sedalam 14 meter di perairan Pulau Frioul pada musim panas lalu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-354445028294362103?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/354445028294362103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/12/amphora-kuno-obyek-turisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/354445028294362103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/354445028294362103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/12/amphora-kuno-obyek-turisme.html' title='Amphora Kuno Obyek Turisme'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pbdJP69sXoI/TuVEnTqeaFI/AAAAAAAAAqQ/2VU45r5Cin8/s72-c/amphora.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2353836571300880273</id><published>2011-12-12T06:54:00.002+07:00</published><updated>2011-12-12T06:58:55.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasejarah'/><title type='text'>Rencana Menghidupkan Kembali Gajah Purba</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Jumat, 9 Desember 2011&lt;/span&gt; - Melihat mammoth (gajah purba) hidup kembali kelak bukan hal mustahil. Setidaknya dalam lima tahun ke depan kita akan bisa melihat lagi anggota keluarga gajah yang punah 10.000 tahun lalu itu. Peneliti asal Rusia yang juga Direktur &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" &gt;Museum&lt;/span&gt; Mammoth Republik Sakha, Semyon Grigoriev, berencana mengkloning gajah purba itu setelah menemukan sumsum tulang paha yang masih utuh. Kantor berita Jepang, Kyodo, Senin (5/12), menyebutkan, fosil gajah purba itu ditemukan di wilayah Siberia. Proyek yang akan dilakukan bersama Universitas Kinki itu akan dimulai tahun depan. Menurut Grigoriev, kunci penting untuk mengkloning gajah purba adalah menggantikan inti dari sel telur gajah dengan sel-sel tulang paha gajah purba. Proses ini akan menghasilkan embrio dengan DNA gajah purba. Pencarian inti sel gajah purba dilakukan sejak tahun 1990-an. Melihat gajah purba hidup kembali akan menjadi temuan yang menakjubkan. Hanya saja ide mengkloning binatang yang sudah punah memunculkan perdebatan panjang. Banyak yang khawatir gajah purba akan sulit beradaptasi dengan ekosistem yang ada saat ini meski akan hidup di kebun binatang khusus. — (DISCOVERY NEWS/LUK)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2353836571300880273?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2353836571300880273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/12/rencana-menghidupkan-kembali-gajah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2353836571300880273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2353836571300880273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/12/rencana-menghidupkan-kembali-gajah.html' title='Rencana Menghidupkan Kembali Gajah Purba'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-1617775928658113571</id><published>2011-11-22T07:35:00.002+07:00</published><updated>2011-11-22T07:39:03.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cagar Budaya'/><title type='text'>Mayoritas Benda Cagar Budaya Tidak Terawat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS, Rabu, 16 Nov 2011&lt;/span&gt; -  Benda cagar budaya di Indonesia yang telah didaftar Direktorat Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berjumlah 11.000 peninggalan. Namun, dari jumlah itu hanya 1.900 (17,27 persen) yang terpelihara optimal dan ditangani ahlinya, di antaranya di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Di provinsi lain, penggarapannya tak optimal karena kekurangan ahli konservasi dan juru pelihara. ”Untuk memenuhi kebutuhan itu, kami mengadakan pelatihan ahli konservasi dan juru pelihara di setiap provinsi. Targetnya, setiap provinsi mendapat tambahan 250 ahli konservasi dan juru pelihara,” kata Kepala Subdirektorat Konservasi Direktorat Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Yusuf Budi Aryanto di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (15/11). (HEN)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-1617775928658113571?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/1617775928658113571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/11/mayoritas-benda-cagar-budaya-tidak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1617775928658113571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1617775928658113571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/11/mayoritas-benda-cagar-budaya-tidak.html' title='Mayoritas Benda Cagar Budaya Tidak Terawat'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5724226684585905653</id><published>2011-10-01T15:32:00.000+07:00</published><updated>2011-10-01T15:37:10.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yogyakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Palgading'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Candi'/><title type='text'>Candi Palgading, Tempat Ibadah dan Pendopo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS, Jumat, 30 Sep 2011&lt;/span&gt; -  Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) DI Yogyakarta memperkirakan candi yang ditemukan di Dukuh Palgading, Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, merupakan paduan tempat ibadah dan pendopo pada zaman Mataram Kuno. Kesimpulan sementara itu didapat setelah Tim Ekskavasi BP3 DI Yogyakarta melakukan ekskavasi tahap kedua. Di lahan ekskavasi itu ditemukan tatanan batu candi dan batu umpak yang tengahnya membentuk lingkaran. ”Kemungkinan besar umpak itu menjadi fondasi tiang pendopo yang jadi tempat tinggal pendeta,” kata Ketua Tim BP3 DI Yogyakarta, Wahyu Astuti, Selasa (27/9). (HEN)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5724226684585905653?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5724226684585905653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/10/candi-palgading-tempat-ibadah-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5724226684585905653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5724226684585905653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/10/candi-palgading-tempat-ibadah-dan.html' title='Candi Palgading, Tempat Ibadah dan Pendopo'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5248884231341610015</id><published>2011-07-11T07:04:00.001+07:00</published><updated>2011-07-11T07:06:09.216+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='India'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harta karun'/><title type='text'>Harta Karun Ditemukan di Kuil India</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;kompas.com, Selasa, 5 Juli 2011&lt;/span&gt; - Harta karun yang terdiri atas perhiasan dan perak emas, koin dan batu mulia yang dikatakan bernilai miliaran dolar AS telah ditemukan di satu kuil Hindu di India selatan, kata beberapa pejabat, Sabtu (2/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang berharga itu menurut perkiraan awal bernilai lebih dari 500 miliar rupee India (11,2 miliar dolar AS), kata Kepala Menteri Kerala K. Jayakumar, sehingga mencuatkan kuil tersebut ke dalam liga kuil paling kaya di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan kalung, koin dan batu berharga telah disimpan di sedikitnya lima makam bawah tanah di Kuil Stee Padmanabhaswamy, yang terkenal karena patungnya yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami akan membuka salah satu kamar rahasia lain yang belum dibuka selama hampir 140 tahun," kata Jayakumar kepada AFP --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Ahad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai sesungguhnya harta karun tersebut hanya dapat dipastikan setelah semuanya diperiksa oleh departemen arkeologi, kata Jayakumar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuil itu, yang didedikasikan untuk dewa Wishnu dalam agama Hindu, dibangun ratusan tahun lalu oleh Raja Travancore dan sumbangan dari pengikutnya telah disimpan di beberapa ruang di kuil tersebut sejak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kalung yang ditemukan Kamis (30/6) memiliki panjang enam meter. Ribuan koin emas juga telah ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak India memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 1947, satu yayasan yang dikelola oleh keturunan keluarga raja Travancore telah menguasai kuil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Mahkamah Agung India baru-baru ini mengeluarkan perintah agar kuil itu dikelola oleh negara guna menjamin keamanan semua barang berharga di tempat suci tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setakat ini, kuil Thirupathy di negara bagian India selatan, Andhra Pradesh, diduga sebagai kuil paling kaya di India dengan sumbangan dari penganutnya bernilai 320 miliar rupee India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengungkapan mengenai kekayaan luar biasa di kuil Padmanabhaswamy telah membuat polisi untuk memasang alarm dan kamera keamanan dengan kemampuan canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga berencana menempatkan pasukan keamanan untuk keamanan, kata Direktur Jenderal Kepolisian Kerala Jacob Punnose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena sekarang diketahui di seluruh dunia bahwa kuil Padmanabhaswamy memiliki perhiasan yang bernilai miliaran rupee, maka kami telah memutuskan untuk menempatkannya dalam pengamanan maksimal," kata Kepala Menteri Kerala Oommen Chandy kepada AFP. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5248884231341610015?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5248884231341610015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/07/harta-karun-ditemukan-di-kuil-india.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5248884231341610015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5248884231341610015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/07/harta-karun-ditemukan-di-kuil-india.html' title='Harta Karun Ditemukan di Kuil India'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-1305545179567665775</id><published>2011-04-29T08:24:00.002+07:00</published><updated>2011-04-29T08:29:57.895+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Patung'/><title type='text'>China: Patung Confucius Digusur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS - Minggu, 24 April 2011&lt;/span&gt; - Sebuah patung besar filsuf kuno China, Confucius, digusur. Lokasi patung itu tadinya berada di luar sebuah museum Partai Komunis China di Beijing. Dikatakan, penggusuran itu dilakukan menyusul sejumlah protes di beberapa situs internet China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Confucius adalah filsuf besar China yang dikenang sepanjang masa di Asia Timur, bahkan menjadi inspirasi pendirian sejumlah lembaga pengajaran etika Confucius di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung dari batu setinggi 9,5 meter dengan berat 17 ton itu sempat berada di seberang Lapangan Tiananmen, tidak jauh dari lokasi gambar Mao Zedong yang dipajang di depan Kota Terlarang, Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung itu dipajang sejak Januari lalu. Pihak pengelola museum tidak memberikan penjelasan soal pemindahan patung itu, yang kini tidak diketahui keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungan Presiden Hu Jintao ke Amerika Serikat pada Januari lalu, dia mengunjungi Institusi Confucius yang ada di Chicago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ajaran Confucius adalah soal keharmonisan, yang menuntut pemerintahan tahu diri, serta mengayomi rakyat, yang sebaliknya harus hormat kepada pemimpin yang bertugas demi kesejahteraan komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejumlah warga China mengeluh bahwa patung itu menghina Partai Komunis. Bagi sebagian pendukung fanatik Partai Komunis, terutama pengagum Mao Zedong, penghormatan kepada Confucius tak cocok dengan aspirasi Partai Komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mao pernah mengikis habis aliran kepercayaan warga China pada ajaran Confucius, sebuah nama Barat yang diterjemahkan misionaris Jesuit dari kata-kata K'ung-fu-tzu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat zaman Revolusi Kebudayaan di China pada era 1970-an, kubu Mao mengatakan, pemberangusan anasir-anasir Confucius tidak perlu dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Debat panas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pendukung partai mengatakan, ajaran Confucius tidak layak disetarakan dengan ideologi Komunis. Beberapa pihak dari partai mengatakan, unsur magis Confucius merupakan sesuatu yang harus diberangusPartai Komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Hu, juga almarhum Pemimpin China Deng Xiaoping, kerap mengutip kalimat-kalimat Confucius, seperti "bekerja lebih baik ketimbang berbicara banyak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemindahan itu juga memunculkan kecaman lain. "Mungkin Confucius telah dipindahkan oleh polisi yang diduga melakukan kejahatan ekonomi", demikian tulisan seseorang di situs sina.com.cn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di situs maoflag.net, yang populer bagi para pemikir dan pendukung ajaran Partai Komunis, pemindahan patung itu disambut. Di situs itu juga muncul kalimat penghinaan kepada Confucius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu Direktur Museum Partai Komunis China Lu Zhangshen kepada media lokal mengatakan, Confucius layak mendapatkan tempat di hati masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Confucius dianggap bertentangan dengan pemerintahan Komunis yang otoriter. (REUTERS/AFP/MON)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-1305545179567665775?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/1305545179567665775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/04/china-patung-confucius-digusur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1305545179567665775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1305545179567665775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/04/china-patung-confucius-digusur.html' title='China: Patung Confucius Digusur'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-1970882645243615039</id><published>2011-04-29T08:20:00.001+07:00</published><updated>2011-04-29T08:23:48.103+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fosil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinil'/><title type='text'>Benda Purbakala Masih Ditemukan di Trinil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS, Selasa, 26 April 2011&lt;/span&gt; - Benda purbakala terus ditemukan warga di sekitar Museum Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Setahun terakhir lebih dari 200 benda diterima pengelola museum. Menurut Kepala Unit Museum Trinil Endro Waluyo, Jumat lalu, temuannya banyak dan spektakuler. Terakhir, fosil utuh geraham gajah setinggi 50 cm berdiameter 20 cm. Benda ditemukan Said (45), warga Desa Kawu, Kedunggalar, seminggu lalu, saat menggali tanah di tepi Bengawan Solo. Temuan lain berupa fosil kepala dan tanduk banteng utuh sepanjang 60 cm dari zaman Pleistosen, sekitar 1 juta hingga 730.000 tahun lalu. Endro yakin, penemuan fosil manusia purba, seperti Pithecanthropus erectus oleh EugeneDubois pada tahun 1891, dapat terjadi lagi.(NIK)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-1970882645243615039?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/1970882645243615039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/04/benda-purbakala-masih-ditemukan-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1970882645243615039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1970882645243615039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/04/benda-purbakala-masih-ditemukan-di.html' title='Benda Purbakala Masih Ditemukan di Trinil'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-8617848103714474028</id><published>2011-04-02T14:08:00.000+07:00</published><updated>2011-04-02T14:10:18.874+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sulawesi Selatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='La Galigo'/><title type='text'>Jepang Bantu Terbitkan Komik La Galigo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS - Jumat, 1 April 2011&lt;/span&gt; -  Jepang melalui perusahaan Toyota membantu Pusat Studi La Galigo (PSLG) menerbitkan komik La Galigo untuk konsumsi tingkat sekolah dasar. La Galigo adalah sastra klasik tentang hikayat peradaban pertama manusia di Sulawesi Selatan yang ditulis dengan aksara lontarak. Hingga kini, dari 12 jilid buku terjemahan, baru dua jilid yang diterbitkan karena terkendala dana. Jepang menyokong aktivitas PSLG 1,5 tahun terakhir setelah kontrak PSLG dengan Ford Foundation berakhir pertengahan tahun 2009. Setiap semester, PSLG mendapat bantuan Rp 70 juta dari mereka. Semester ketiga ini, bantuan akan digunakan untuk membuat film dokumenter dan komik La Galigo. "Terlalu banyak energi yang dibutuhkan kalau kami menunggu langkah pemerintah," kata Nurhayati Rahman, Kepala Pusat Studi La Galigo di Makassar, Kamis (31/3). Nurhayati juga Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin dan Filolog Bugis Kuno.(SIN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-8617848103714474028?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/8617848103714474028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/04/jepang-bantu-terbitkan-komik-la-galigo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8617848103714474028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8617848103714474028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/04/jepang-bantu-terbitkan-komik-la-galigo.html' title='Jepang Bantu Terbitkan Komik La Galigo'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-7090789980993295477</id><published>2011-03-15T05:34:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T05:35:58.621+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fosil'/><title type='text'>Fosil Kuda Zaman Es Digarap</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS - Jumat, 11 Maret 2011&lt;/span&gt; - Dalam tiga tahun terakhir, sekitar 16.000 tulang fosil binatang berukuran kecil dan binatang bertubuh besar, seperti kuda, unta, mammoth (gajah purba), dan jaguar raksasa, ada di La Brea Tar Pits, Los Angeles, Amerika Serikat. Fosil itu berasal dari Zaman Es, puluhan tahun lalu. "Saat kita membuka lubang ini, kita masuk ke dalam zaman purba," kata Karin Rice, Rabu (9/3) di lokasi penggalian. Selain fosil hewan, juga diteliti fosil mikro yang terkandung dalam tanah yang digali. Tulang hewan ditemukan di sana sejak 1969. Lokasi lubang ekskavasi sekitar 7 kilometer di luar Los Angeles dan merupakan lubang tambang. (AP/ISW)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-7090789980993295477?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/7090789980993295477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/03/fosil-kuda-zaman-es-digarap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7090789980993295477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7090789980993295477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/03/fosil-kuda-zaman-es-digarap.html' title='Fosil Kuda Zaman Es Digarap'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5985731767213956431</id><published>2011-03-15T05:29:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T05:31:07.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pameran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celengan'/><title type='text'>Pameran Celengan Antik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KOMPAS - Minggu, 13 Maret 2011 - Ke mana perginya celengan setelah manajemen keuangan modern menguasai kehidupan kita? Bukan hanya celengan yang menusuk hati benar, tetapi bisa saja itu indikasi betapa kultur menabung kita luntur lantaran terlalu banyak direcoki kepentingan keuntungan. Menabung tak lagi sekadar menyimpan uang, tetapi sudah menjadi metode menambah pundi-pundi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bentara Budaya Jakarta (BBJ) bersama Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta menggelar pameran Celengan Antik: Simpan Satu Rupiah, 18-26 Maret 2011. Pembukaan pameran dilakukan Kamis (17/3) pukul 19.30. Museum ini menampilkan sekitar 250 keping celengan antik dari 2.000 buah koleksi. Celengan memang sebagian besar berbentuk babi karena asalnya dari kata "celeng" atau piggy bank. Lewat celengan, pameran ini akan menyuguhkan kebudayaan menabung sejak masa Majapahit hingga sekarang.(CAN)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5985731767213956431?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5985731767213956431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/03/pameran-celengan-antik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5985731767213956431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5985731767213956431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/03/pameran-celengan-antik.html' title='Pameran Celengan Antik'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3446878371669751162</id><published>2011-02-18T15:40:00.000+07:00</published><updated>2011-02-18T15:43:39.235+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klasik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><title type='text'>Situs Biting Terancam Proyek Perumahan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS - Jumat, 11 Feb 2011&lt;/span&gt; -  Situs Biting, yang diduga peninggalan masa Hindu Buddha dan Mataram Islam, terancam oleh pembangunan perumahan. Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit mendesak pengembang Perum Perumnas menghentikan ekspansi pembangunan di kawasan situs di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang, Jawa Timur.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Karena perumahan akan merusak situs, kami minta agar dihentikan," kata Ketua Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit (MPPM) Mansur Hidayat, Selasa. Situs Biting berada di kawasan seluas 135 hektar yang semula merupakan lahan milik penduduk. Sekitar 12,5 hektar dikuasai Perum Perumnas dan telah dibangun 459 unit rumah di atas lahan 10 hektar.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, menduga, Situs Biting berasal dari dua masa pemerintahan: masa Hindu-Buddha hingga Mataram Islam. Sesuai bahasa lokal, biting berarti benteng. Di areal seluas 2-4 hektar terlihat struktur bata membentuk benteng.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ada beberapa kemungkinan sejarah terkait Situs Biting. Di antaranya, peninggalan Arya Wiraraja, tokoh pengatur strategi yang diberi kekuasaan Raden Wijaya-Raja Majapahit-di wilayah Jawa bagian timur, yaitu Lamajang (sekarang Lumajang) pada masa awal pemerintahan Majapahit atau era pemerintahan Hindu Buddha (abad ke-14).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Dilihat dari bangunan dan kisah sejarah masa lalunya diduga Situs Biting itu wilayah kedaton atau kerajaan dari Arya Wiraraja. Apalagi dikelilingi benteng yang menjaga istana itu," ujar Dwi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Manajer Lokasi Perum Perumnas Bumi Biting Indah Ribut Santoso membantah jika pihaknya merusak lokasi Situs Biting. "Kami mendapat izin lokasi dan izin prinsip pembangunan proyek perumahan dari pemerintah kabupaten secara resmi tahun 1996," katanya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Saat pembebasan lahan, tidak ada pemberitahuan dari pemerintah kabupaten bahwa ada peninggalan sejarah. Pemkab hanya mengingatkan, apabila menemukan sesuatu supaya dipelihara atau diselamatkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Menyikapi permintaan warga peduli peninggalan sejarah, Pemkab Lumajang akan membentuk tim pemetaan. "Kami belum melangkah jauh," tutur Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Lumajang Hendro Iswahyudi. (SIR/DIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3446878371669751162?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3446878371669751162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/02/situs-biting-terancam-proyek-perumahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3446878371669751162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3446878371669751162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/02/situs-biting-terancam-proyek-perumahan.html' title='Situs Biting Terancam Proyek Perumahan'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-8064607259481070989</id><published>2011-02-18T15:35:00.001+07:00</published><updated>2011-02-18T15:37:54.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Timor Leste'/><title type='text'>Batuan Berukir Purba di Timor Leste</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS - Senin, 14 Feb 2011&lt;/span&gt; - Sejumlah ilmuwan Australia pemburu fosil tikus raksasa di Timor Leste terpikat ukiran/pahatan unik yang mereka jumpai pada bebatuan di Goa Lene Hara. "Karya seni" itu diperkirakan berumur lebih dari 12.000 tahun, seperti diungkapkan badan riset Australia. Temuan itu terjadi ketika para ilmuwan menggali lokasi di sekitar goa. "Melihat bagian atas dari lantai goa, senter di kepala saya menyinari sesuatu yang seperti dipahat oleh alam," kata Ken Aplin, peneliti Australia pada Commonwealth Scientific and Research Organisation (CSIRO), seperti dikutip AFP, Jumat lalu. Ia takjub dengan panel lukisan/pahatan wajah-wajah manusia prasejarah di dinding goa. Salah satunya wajah dengan hiasan kepala sirkuler berbentuk matahari, yang diperkirakan temuan pertama di Timor Leste dan satu-satunya dari masa Pleistosen di kawasan itu. Warga sekitar mengaku terkejut dengan temuan itu. Karya seni lain di goa yang berumur 30.000 tahun ditemukan CSIRO akhir tahun lalu, saat mereka mengumumkan bukti kepunahan spesies purba, tikus raksasa sebesar anjing kecil.(AFP/GSA)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-8064607259481070989?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/8064607259481070989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/02/batuan-berukir-purba-di-timor-leste.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8064607259481070989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8064607259481070989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/02/batuan-berukir-purba-di-timor-leste.html' title='Batuan Berukir Purba di Timor Leste'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2742791745478048508</id><published>2011-02-14T13:57:00.002+07:00</published><updated>2011-02-14T14:02:01.915+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Radya Pustaka'/><title type='text'>Dugaan Pemalsuan Wayang Dilaporkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Inventarisasi Koleksi Museum Radya Pustaka Dimulai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS - Jumat, 11 Feb 2011&lt;/span&gt; - Mencuatnya dugaan hilang dan dipalsukannya koleksi wayang di Museum Radya Pustaka Solo dilaporkan ke polisi. Laporan disampaikan Sekretaris Komite Museum Radya Pustaka Djaka Darjata ke Kepolisian Resor Kota Surakarta, Kamis (10/2).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dugaan hilang dan pemalsuan wayang berumur ratusan tahun itu pertama kali muncul dari sejumlah dalang tenar di Kota Solo. "Wali kota yang meminta kasus ini dilaporkan ke polisi," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo Purnomo Subagyo, Kamis di Solo.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ia mengemukakan, rencananya keseluruhan koleksi juga akan diinventarisasi. Bukan hanya jumlah, melainkan juga kondisinya: asli atau palsu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Karena itu, Pemerintah Kota Solo akan menyediakan dana APBD sebagai stimulan untuk mendampingi dana APBN demi proses inventarisasi tersebut. Proses inventarisasi diharapkan selesai tahun ini dan hasilnya akan diumumkan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Saat ini, inventarisasi lengkap baru sebatas pada koleksi arca batu, arca perunggu, dan koleksi keramik, serta kristal. Hasilnya, antara lain, dari 80 koleksi arca perunggu, ada sekitar 50 koleksi yang palsu. Inventarisasi yang dilakukan tahun 2007 tersebut dilakukan menyusul terungkapnya kasus hilang dan dipalsukannya arca batu dan perunggu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah Gutomo mengatakan, koleksi wayang hanya terdapat dalam Laporan Reinventarisasi Benda Cagar Budaya Bergerak Koleksi Museum Radya Pustaka yang disusun BP3 tahun 2007. Sulit mencari data pembanding karena sebelumnya belum pernah ada inventarisasi koleksi wayang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Mulai Jumat ini akan datang tiga ahli dari Direktorat Permuseuman dan Benteng Vredeburg Yogyakarta untuk menginventarisasi wayang selama empat hari," kata Gutomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sempat curiga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Djaka Darjata mengungkapkan, sebenarnya pada saat acara ngisis (mengangin-anginkan) wayang setahun lalu, pihaknya telah melihat adanya wayang yang berprada emas dan bukan emas. Demikian pula dengan koleksi tosan aji yang diperkirakan ada yang palsu serta koleksi buku dan naskah kuno.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Namun, kami hanya mewarisi pengelolaan dari pengurus lama yang dipidana penjara. Sulit untuk melacak hilang-tidaknya karena tidak ada data pembanding," tuturnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kalau terbukti koleksi wayang ada yang hilang, diakui Djaka, sulit untuk mengetahui kapan hilangnya. Berbagai kemungkinan bisa terjadi, termasuk kemungkinan terjadi pada 10-20 tahun lalu. (EKI)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2742791745478048508?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2742791745478048508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/02/dugaan-pemalsuan-wayang-dilaporkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2742791745478048508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2742791745478048508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/02/dugaan-pemalsuan-wayang-dilaporkan.html' title='Dugaan Pemalsuan Wayang Dilaporkan'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-8049282739235202827</id><published>2011-02-14T13:52:00.000+07:00</published><updated>2011-02-14T13:54:43.133+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thailand'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamboja'/><title type='text'>Thailand Menentang Kunjungan UNESCO</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS - Jumat, 11 Feb 2011&lt;/span&gt; -  Thailand menentang rencana kunjungan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) untuk memeriksa candi kuno  Preah Vihear yang berada di pusat sengketa perbatasan Thailand dan Kamboja. "Karena situasi terkini di perbatasan, kami yakin misi UNESCO tidak pantas dan bisa memperumit masalah," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Thani Thongphakdi, Kamis (10/2). "Kalau UNESCO ingin mengunjungi candi itu, mereka harus mendapat persetujuan Thailand karena misi itu harus melewati wilayah kedaulatan kami," ujarnya. Candi dari abad ke-11 yang dibangun untuk menghormati Dewa Syiwa itu diperebutkan Thailand dan Kamboja sejak dinyatakan sebagai warisan dunia oleh UNESCO, Juli 2008. Minggu lalu, Kamboja menyatakan, salah satu sayap candi hancur karena serangan artileri Thailand. UNESCO berencana mengirim misi ke daerah itu secepatnya untuk mengecek kondisi candi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-8049282739235202827?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/8049282739235202827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/02/thailand-menentang-kunjungan-unesco.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8049282739235202827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8049282739235202827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2011/02/thailand-menentang-kunjungan-unesco.html' title='Thailand Menentang Kunjungan UNESCO'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-6887637659077122439</id><published>2010-12-10T06:34:00.001+07:00</published><updated>2010-12-10T06:39:11.648+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borobudur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merapi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Candi'/><title type='text'>Dampak Erupsi: Pembersihan Candi Borobudur Sebulan Lagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS Jawa Tengah, Senin, 6 Des 2010&lt;/span&gt; -  Proses pembersihan Candi Borobudur dari abu vulkanik Gunung Merapi hingga Sabtu (4/12) masih terus berlangsung. Setelah membersihkan permukaan batuan candi, pada tahap selanjutnya akan dilakukan pembersihan drainase.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Diperkirakan, Candi Borobudur baru akan benar-benar bersih dari abu vulkanik, sekitar sebulan mendatang," ujar Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Marsis Sutopo, Sabtu, di Magelang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kegiatan lanjutan berupa pembersihan drainase ini, perlu dilakukan karena banyak abu vulkanik  yang diperkirakan telah masuk ke dalam saluran.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Jika dari pembersihan permukaan batuan candi, abu vulkanik yang terkumpul mencapai 40 meter kubik, maka setelah saluran drainase dibersihkan diperkirakan jumlah volume abu vulkanik yang terkumpul mencapai 50 meter kubik," ujarnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pembersihan permukaan batuan candi termasuk pembungkusan 72 stupa candi sudah berlangsung sejak pertengahan November. Setelah abu vulkanik dibersihkan secara manual, maka pada Sabtu (4/12), pembersihan abu di permukaan batuan dituntaskan dengan menyemprot air bertekanan tinggi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kendati masih terus dilakukan pembersihan, pada pertengahan Desember, Candi Borobudur diperkirakan sudah bisa dibuka untuk wisatawan. Namun pengunjung dibatasi hingga lantai ketujuh.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Pada bulan Desember ini, kunjungan wisatawan masih kami batasi, karena kami masih perlu membersihkan bagian dalam stupa yang ada di lantai delapan hingga sepuluh," ujar Marsis.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pembersihan bagian dalam stupa dilakukan dengan metode khusus menggunakan mesin penyedot debu. Dalam upaya ini, abu vulkanik harus benar-benar dipastikan bersih dengan cara mengetes ada tidaknya kandungan asam dalam batuan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pembersihan bangunan Candi Borobudur secara keseluruhan ini melibatkan 1.500 relawan. Dari jumlah itu, sebanyak 10 orang adalah mahasiswa arkeologi Universitas Indonesia yang bertugas khusus untuk membersihkan relief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bantuan Amerika Serikat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Judith A McHale yang datang berkunjung, Sabtu, menyatakan ikut mendukung pembersihan abu vulkanik demi kelestarian Candi Borobudur.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Setelah pulang ke negaranya nanti, dia berjanji akan berdiskusi tentang kondisi Candi Borobudur dan menentukan bantuan apa yang tepat diberikan Pemerintah AS untuk mendukung pembersihan candi.(EGI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-6887637659077122439?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/6887637659077122439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/12/dampak-erupsi-pembersihan-candi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6887637659077122439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6887637659077122439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/12/dampak-erupsi-pembersihan-candi.html' title='Dampak Erupsi: Pembersihan Candi Borobudur Sebulan Lagi'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-9171149901833858473</id><published>2010-12-10T06:30:00.001+07:00</published><updated>2010-12-10T06:32:37.132+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borobudur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Candi'/><title type='text'>Borobudur, Wujud Toleransi Masyarakat Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS - Rabu, 8 Des 2010&lt;/span&gt; - Candi Borobudur dinilai sebagai wujud toleransi masyarakat di Indonesia. "Konteks itu perlu diangkat ke dunia internasional sebagai salah satu kearifan lokal Indonesia," kata Direktur Regional Asia Pasifik Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) Hubert Gijzen di sela-sela konferensi tingkat dunia bidang kultur, pendidikan, dan sains atau Wisdom 2010 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Senin (6/12). Hubert mengatakan, Borobudur adalah salah satu monumen Buddha terbesar di dunia yang mampu bertahan hingga ratusan tahun. Padahal, candi itu berdiri di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas Muslim.(IRE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-9171149901833858473?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/9171149901833858473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/12/borobudur-wujud-toleransi-masyarakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/9171149901833858473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/9171149901833858473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/12/borobudur-wujud-toleransi-masyarakat.html' title='Borobudur, Wujud Toleransi Masyarakat Indonesia'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2161067356690174971</id><published>2010-12-03T18:07:00.001+07:00</published><updated>2010-12-03T18:11:14.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yogyakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merapi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Candi'/><title type='text'>Candi Kimpulan: Debu Vulkanik Ancam Kondisi Batu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS Jogja - Selasa, 30 Nov 2010&lt;/span&gt; - Pembersihan batu Candi Pustakasala atau Kimpulan di kompleks kampus Universitas Islam Indonesia dari debu vulkanik Merapi berjalan sepekan ini. Debu vulkanik bercampur hujan meningkatkan keasaman batu candi sehingga membuat batu mudah lapuk.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ketua Tim Pemugaran Candi yang juga Ketua Pokja Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) DIY Indung Panca Putra mengatakan, dampak debu vulkanik Merapi terhadap batu-batu candi, jika tak diantisipasi, terjadi 5-10 tahun mendatang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Batuan candi bisa rapuh dan jelas menjadi kerugian besar. Debu vulkanik, jika di udara lalu tercampur air, akan menjadi sulfat yang mengandung asam. Dampaknya, terjadi pelunakan mineral yang membentuk bebatuan candi ini. Prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun," ujarnya, Senin (29/11).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Saat ini tingkat keasaman bebatuan candi menunjukkan angka 4, yang jauh dari tingkat keasaman normal, yakni 7. Diperlukan sejumlah tahapan pembersihan untuk mengantisipasi dampak buruk yang mungkin terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersihkan mekanis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Saat ini, yang dilakukan pada bangunan candi di kampus UII Yogyakarta di Jalan Kaliurang Km 14,5 itu adalah pembersihan secara mekanis menggunakan air. Sela-sela bebatuan disikat hati-hati menggunakan ijuk.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Langkah selanjutnya adalahsecara kimiawi yakni mengolesi bebatuan candi dengan bahan kimia untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Namun, bebatuan candi harus kering betul. Semua bagian candi harus diolesi sempurna," kata Indung.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Secara terpisah, Kepala BP3 Herni Pramastuti mengatakan, penggalian dan pemugaran Candi Kimpulan akan diselesaikan hingga akhir 2010. Seluruh candi, baik candi induk dan pewara, akan dipugar. Demikian juga bagian pagarnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Ini untuk mengembalikan bentuk utuh candi. Kami juga akan menata lingkungan sekitar, seperti pembuatan saluran air dan drainasenya," ucap Herni.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Candi Kimpulan ditemukan tak sengaja pada Desember 2009 ketika sejumlah pekerja hendak membangun perpustakaan UII. Temuan demi temuan membuat tercengang pengamat kepurbakalaan Indonesia dan luar negeri. Pembangunan perpustakaan UII pun tertunda, tetapi sepekan ini sudah dimulai.(PRA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2161067356690174971?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2161067356690174971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/12/candi-kimpulan-debu-vulkanik-ancam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2161067356690174971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2161067356690174971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/12/candi-kimpulan-debu-vulkanik-ancam.html' title='Candi Kimpulan: Debu Vulkanik Ancam Kondisi Batu'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3697871754786272788</id><published>2010-12-03T18:04:00.001+07:00</published><updated>2010-12-03T18:07:12.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muaro Jambi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Candi'/><title type='text'>Peluang Situs Muaro Jambi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS - Senin, 29 Nov 2010&lt;/span&gt; - Situs Muaro Jambi yang tengah diusulkan sebagai warisan budaya dunia berpeluang lolos. Dalam konteks tersebut, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mengimbau masyarakat terus merawatnya sebaik mungkin sehingga kelestarian peninggalan Kerajaan Melayu Kuno pada abad IX ini terjaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Masanori Nagaoka, Programme Specialist for Culture UNESCO, mengungkapkan hal tersebut dalam "International Seminar on Jambi Heritage" di Kota Jambi, Sabtu (27/11). "Situs itu masih sangat asli," kata Masanori. Keberadaan Candi Gumpung di kompleks utama percandian mencerminkan orisinalitasnya meski telah mengalami pemugaran oleh para arkeolog masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi bangunan dan lingkungannya juga relatif dirawat masyarakat. Ada kesan, tercipta hubungan harmonis antara masyarakat sekitar dan situs. "Saya belum melihat potensi yang dapat menjadikan candi ini gagal sebagai warisan dunia," kata Masanori&lt;br /&gt;menambahkan.(ITA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3697871754786272788?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3697871754786272788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/12/peluang-situs-muaro-jambi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3697871754786272788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3697871754786272788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/12/peluang-situs-muaro-jambi.html' title='Peluang Situs Muaro Jambi'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-1070525246242312070</id><published>2010-10-31T06:58:00.001+07:00</published><updated>2010-10-31T07:01:03.471+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bali'/><title type='text'>Penggalian Situs Diprioritaskan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS, Jumat, 29 Okt 2010&lt;/span&gt; - Balai Arkeologi Denpasar akan memprioritaskan pencarian dan penggalian situs-situs di Bali hingga Nusa Tenggara. Temuan-temuan situs tersebut diyakini mampu mendongkrak kunjungan wisata. Namun, Kepala Balai Arkeologi Denpasar I Wayan Suantika mengelak menyebutkan secara pasti jumlah anggaran yang dinilainya minim untuk proyek tersebut. "Ya, yang terpenting kami masih bisa bekerja," katanya, Kamis (28/10). Tahun ini, lanjut Suantika, pihaknya tengah merampungkan lanskap situs di kawasan Badung Selatan, penemuan sarkofagus di beberapa lokasi tersebar, dan menyusuri peradaban di aliran sungai di Bangli. Selain itu, juga meneliti penemuan sejumlah benda peradaban di sekitar Candi Kuning. Kepala Humas Pemerintah Provinsi Bali Ketut Teneng menyambut baik rencana tersebut.(AYS)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-1070525246242312070?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/1070525246242312070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/penggalian-situs-diprioritaskan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1070525246242312070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1070525246242312070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/penggalian-situs-diprioritaskan.html' title='Penggalian Situs Diprioritaskan'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5997036714287279662</id><published>2010-10-31T06:52:00.002+07:00</published><updated>2010-10-31T06:56:40.019+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Batujaya'/><title type='text'>Puncak Peradaban di Batujaya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS Jawa Barat, Rabu, 27 Okt 2010&lt;/span&gt; - Kemampuan teknologi tinggi di eranya dan adaptasi terhadap perubahan sosial dan budaya dari orang-orang di masa peradaban Buni mengantarkan mereka mencapai puncak peradaban. Hal ini setidaknya terlihat di Candi Jiwa dan Blandongan di kawasan Situs Candi Batujaya, Karawang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Demikian dikemukakan arkeolog Hasan Djafar saat memandu peserta International Conference on Sundanese Culture di kompleks Batujaya, Karawang, Selasa (26/10). "Peradaban Buni ini mencakup wilayah Tangerang, Jakarta, Bekasi, Karawang, dan Bogor. Ada 150 situs sejarah di kawasan itu. Buni sendiri sebuah desa di Kabupaten Bekasi," kata Djafar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi di Situs Batujaya yang terbuat dari bata yang dilapis semen kapur, kata Djafar, menunjukkan, pada masa itu (masa Kerajaan Tarumanagara) mereka telah menguasai teknologi arsitektur yang maju. Mereka juga mampu membuat beton cor. Kemampuan membuat barang-barang dari logam-yang dibuktikan antara lain dengan temuan berupa lempengan dan gelang emas-mempertegas capaian teknologi yang dikuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan teknologi yang tinggi menjadi bekal masyarakat kala itu ketika menghadapi globalisasi yang datang dari India melalui pesisir utara. "Ketika orang India datang dengan budaya dan kepercayaannya, mereka bisa cepat beradaptasi," tuturnya. (ADH) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5997036714287279662?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5997036714287279662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/puncak-peradaban-di-batujaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5997036714287279662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5997036714287279662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/puncak-peradaban-di-batujaya.html' title='Puncak Peradaban di Batujaya'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5309794153938168014</id><published>2010-10-20T17:46:00.001+07:00</published><updated>2010-10-20T17:50:18.226+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Singhasari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><title type='text'>Fondasi Rumah Singosari Ditemukan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS, Jumat, 15 Okt 2010&lt;/span&gt; -  Tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melakukan penggalian situs Singosari Kabupaten Malang. Penggalian bertujuan menemukan dan memetakan kembali permukiman kuno era Kerajaan Singosari demi melengkapi data kepurbakalaan Indonesia.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tim berjumlah delapan orang (tujuh dari Puslitbang Arkenas Jakarta dan seorang lagi dari BP3 Trowulan). Mereka menggali di dua lokasi, yaitu di sekitar patung Dwarapala di Jalan Kertanegara Barat, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, dan di pekuburan masyarakat di Jalan Kadipaten, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Malang. Keduanya di sebelah barat Candi Singosari.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Penggalian dilakukan mulai 9-18 Oktober 2010 di dua lokasi tersebut. Di lokasi pertama, mereka berharap menemukan pagar keliling dari suatu daerah permukiman era Kerajaan Singosari.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Patung Dwarapala selama ini menjadi semacam pintu gerbang suatu kawasan tertentu. Itu sebabnya, kami mencoba mencari pagar keliling dari kawasan ini demi memastikan arah dan keberadaan permukiman itu sendiri," ujar Amelia Driwantoro, Ketua Tim Peneliti Situs Singosari Puslitbang Arkenas, Kamis (14/10) di Malang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Di lokasi penggalian pertama sekitar patung Dwarapala tidak ditemukan apa-apa. Di lokasi kedua di sektor Kadipaten ditemukan fondasi hunian masa Singosari setelah menggali delapan kotak gali seluas 7 meter x 6 meter.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Struktur fondasi hunian disusun dari batu padas dan batu bata kuno. "Di sini juga ditemukan pecahan keramik, tembikar, dan genteng. Dari kajian awal, keramik-keramik itu berasal dari Dinasti Song Yuan sekitar abad ke-10 hingga ke-13 Masehi," ujar penanggung jawab penggalian di sektor Kadipaten, Wati R Susetyo.(DIA)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5309794153938168014?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5309794153938168014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/fondasi-rumah-singosari-ditemukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5309794153938168014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5309794153938168014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/fondasi-rumah-singosari-ditemukan.html' title='Fondasi Rumah Singosari Ditemukan'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-7754046113172719483</id><published>2010-10-20T17:43:00.000+07:00</published><updated>2010-10-20T17:45:43.486+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klasik'/><title type='text'>Benda Bersejarah di Situs Punjulharjo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS Jawa Tengah, Kamis, 14 Okt 2010&lt;/span&gt; -  Benda-benda bersejarah kembali ditemukan di situs perahu kuno Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Benda-benda itu antara lain uang kepeng atau uang logam yang tengahnya berlubang, pecahan keramik pada masa sebelum Dinasti Ming, tujuh sumur yang terbuat dari gerabah, lumpang batu, dan tulang manusia. Temuan tersebut dipublikasikan Koordinator Peneliti Situs Punjulharjo Balai Arkeologi Yogyakarta, Novida Abas, di Rembang, Rabu (13/10). "Kami menemukan benda-benda itu di sekitar perahu kuno," kata dia. Sementara itu, Kepala Desa Punjulharjo Nur Salim mengatakan, pada akhir Oktober dan November, penelitian itu akan dilanjutkan oleh Direktorat Jenderal Peninggalan Bawah Air, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, dan ahli kapal dari Jepang Prof Matsui. (HEN)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-7754046113172719483?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/7754046113172719483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/benda-bersejarah-di-situs-punjulharjo_20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7754046113172719483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7754046113172719483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/benda-bersejarah-di-situs-punjulharjo_20.html' title='Benda Bersejarah di Situs Punjulharjo'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5274110174636097413</id><published>2010-10-20T17:39:00.000+07:00</published><updated>2010-10-20T17:42:18.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yogyakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Candi'/><title type='text'>Ditemukan, Piring Perunggu di Candi Kimpulan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS, Rabu, 13 Okt 2010&lt;/span&gt; - Temuan demi temuan di Candi Pustakalasala atau Candi Kimpulan di kompleks Kampus Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, semakin banyak. Temuan terbaru, Selasa (12/10), berupa satu piring dan mangkuk perunggu. Piring perunggu berdiameter 21 sentimeter (cm) dengan tinggi 2,5 cm, sedangkan mangkuk perunggu berdiameter 11 cm setinggi 4 cm. Dua benda purbakala itu ditemukan tim Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta di bawah landasan arca ganesha candi induk. "Kondisi fisik piring agak retak pada sisi tepi, sedangkan mangkuk perunggu masih utuh," kata Kepala BP3 Yogyakarta Herni Pramastuti, Selasa.(PRA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5274110174636097413?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5274110174636097413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/ditemukan-piring-perunggu-di-candi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5274110174636097413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5274110174636097413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/ditemukan-piring-perunggu-di-candi.html' title='Ditemukan, Piring Perunggu di Candi Kimpulan'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2599974302392132092</id><published>2010-10-18T13:22:00.003+07:00</published><updated>2010-10-18T13:29:56.896+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Barus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Utara'/><title type='text'>Situs Barus Penanda Penting Sejarah Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kompas, Senin, 18 Oktober 2010&lt;/span&gt; - Situs Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menjadi penanda penting masuknya Islam ke Sumatera. Di Barus terdapat sumber tentang Islam berdasar pada epigraf yang tertera pada batu nisan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya terdapat 36 nisan bertulis di pekuburan Islam di Barus yang terletak di enam kompleks pekuburan. Lima di antaranya sudah diidentifikasi dan sisanya belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Nisan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks pemakaman tersebut di antaranya makam Ibrahim, Papan Tinggi, Ambar, Maqdum, dan Mahligai. Ukuran nisan-nisannya sangat bervariasi dan tidak semua terletak pada posisi aslinya karena sering tercabut dan digeser masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Variasi dari batu nisan tersebut sekaligus menunjukkan asal-usul dan pengaruh. Namun, asal-usul batu nisan belum dapat dipastikan, melainkan hanya diprediksi,” kata anggota staf Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed), Erond L Damanik, pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erond mengemukakan, makam tertua di antara kompleks makam tersebut adalah kompleks Ibrahim yang terletak di simpang jalan menuju pekuburan Papan Tinggi dan Kota Barus. Makam tersebut bertarikh 772 H atau 1370 M berbahasa Arab dan Persia. Di antara kompleks makam tersebut makam Papan Tinggi kerap dikunjungi peziarah. (MHF/HAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2599974302392132092?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2599974302392132092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/situs-barus-penanda-penting-sejarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2599974302392132092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2599974302392132092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/situs-barus-penanda-penting-sejarah.html' title='Situs Barus Penanda Penting Sejarah Islam'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3637877741802262419</id><published>2010-10-16T17:37:00.002+07:00</published><updated>2010-10-18T13:30:16.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yogyakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Candi'/><title type='text'>Benda Temuan Candi UII Dibuatkan Museum</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS Jogja, Sabtu, 9 Okt 2010&lt;/span&gt; -  Arca dan barang berharga yang ditemukan di lokasi Candi Pustakasala Kampus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta akan disimpan di museum yang dibangun seiring dengan pembangunan perpustakaan pusat universitas itu. "Penempatan tersebut bertujuan agar masyarakat dapat menyaksikan secara langsung benda-benda itu karena candi direncanakan dibuka untuk masyarakat sebagai obyek wisata sekaligus pembelajaran," kata Rektor UII Edy Suandi Hamid, Kamis di Yogyakarta. Menurut dia, candi itu akan menjadi obyek sejarah dan obyek wisata sebagai gambaran perkembangan peradaban bangsa, tetapi tidak untuk obyek peribadatan. "Tanggapan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata terhadap rencana itu cukup baik. Mereka menilai sikap yang ditunjukkan UII sangat terbuka, kooperatif, dan membantu," katanya. (ANTARA)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3637877741802262419?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3637877741802262419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/benda-temuan-candi-uii-dibuatkan-museum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3637877741802262419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3637877741802262419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/benda-temuan-candi-uii-dibuatkan-museum.html' title='Benda Temuan Candi UII Dibuatkan Museum'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2457072994868634556</id><published>2010-10-16T17:20:00.002+07:00</published><updated>2010-10-18T13:30:43.525+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perahu kuno'/><title type='text'>Benda Bersejarah di Situs Punjulharjo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS Jawa Tengah, Kamis, 14 Okt 2010&lt;/span&gt; - Benda-benda bersejarah kembali ditemukan di situs perahu kuno Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Benda-benda itu antara lain uang kepeng atau uang logam yang tengahnya berlubang, pecahan keramik pada masa sebelum Dinasti Ming, tujuh sumur yang terbuat dari gerabah, lumpang batu, dan tulang manusia. Temuan tersebut dipublikasikan Koordinator Peneliti Situs Punjulharjo Balai Arkeologi Yogyakarta, Novida Abas, di Rembang, Rabu (13/10). "Kami menemukan benda-benda itu di sekitar perahu kuno," kata dia. Sementara itu, Kepala Desa Punjulharjo Nur Salim mengatakan, pada akhir Oktober dan November, penelitian itu akan dilanjutkan oleh Direktorat Jenderal Peninggalan Bawah Air, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, dan ahli kapal dari Jepang Prof Matsui. (HEN)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2457072994868634556?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2457072994868634556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/benda-bersejarah-di-situs-punjulharjo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2457072994868634556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2457072994868634556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/10/benda-bersejarah-di-situs-punjulharjo.html' title='Benda Bersejarah di Situs Punjulharjo'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5995532855192945664</id><published>2010-09-25T10:34:00.004+07:00</published><updated>2010-09-25T10:40:53.998+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Candi'/><title type='text'>Borobudur Mandala Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh M Burhanudin dan Regina Rukmorini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/TJ1uMawY0TI/AAAAAAAAApk/NWjrsl5wqUc/s1600/mandala.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/TJ1uMawY0TI/AAAAAAAAApk/NWjrsl5wqUc/s320/mandala.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520689877845856562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Sabtu, 25 September 2010 - &lt;/span&gt;Wisatawan menikmati senja di antara stupa Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (20/9). Candi yang diperkirakan berdiri pada abad IX di masa wangsa Syailendra ini merupakan monumen mahakarya peradaban budaya sekaligus ikon wisata Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari terjadi kebakaran hebat di hutan. Si burung pipit yang tinggal di hutan itu lalu berinisiatif memadamkan api meski sadar kemampuannya terbatas. Hari itulah sepuluh abad lampau ”altruisme”—kosakata yang menyeruak kembali dua tahun terakhir di sini—dipahat di batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung itu terbang ke telaga, membasahi tubuhnya, lalu terbang kembali menuju lokasi kebakaran, dan mengibaskan tubuhnya agar air bisa sedikit membantu memadamkan api. Upaya tersebut dilakukan bolak-balik, sampai akhirnya burung itu mati lemas dan diangkat menjadi Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepenggal kisah Jantaka dalam salah satu panel relief Candi Borobudur. Jantaka merupakan cerita tentang perjalanan titisan Bodhisattva yang menjadi berbagai macam hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah si burung pipit merefleksikan betapa berharganya sikap altruistik, rela berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, dan solidaritas. Melepaskan ego pribadi demi kepentingan bersama dengan pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sikap hidup yang dalam kehidupan nyata saat ini terasa mahal. Keikhlasan sering kali hanya indah terucap, tetapi kosong dalam kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Candi Borobudur memang kaya akan pesan kebajikan. Semuanya terpampang pada bagian dinding dan langkan bangunan candi yang panjangnya jika direntangkan akan mencapai 3.000 meter. Pada permukaan dinding-dinding batu yang membujur di bangunan candi terbesar kedua di dunia ini dipahat sebanyak 2.670 panel relief tebal. Sebanyak 1.212 panel berupa relief dekoratif dan 1.460 yang lain adalah panel relief naratif (relief berupa cerita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibangun oleh Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra sekitar tahun 824, Candi Borobudur memang diarahkan sebagai monumen atas intisari kehidupan. Intisari itu tertutur dari dasar hingga puncak bangunan. Maknanya tersurat dan tersirat dari bentuk fisik candi, relief, serta kosmologi tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Borobudur terbuat dari dua juta potongan batu berukuran rata-rata 25 x 10 x 15 cm dengan tinggi 35,29 meter. Bangunannya bertingkat. Setiap tingkatnya melambangkan tahapan kehidupan manusia. Tahapan yang mengandung nilai universal tentang petunjuk hidup bagi manusia menuju kebajikan. Setiap tahapan itu diuraikan lewat ribuan panel relief candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kaki candi bernama Kamadhatu, lambang dunia yang masih dikuasai oleh ”kama” atau nafsu. Bagian yang tertutup struktur tambahan, berisi 160 panil cerita Karmawibhangga, cerita tentang segala perbuatan manusia soal ganjarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tingkat di atas kaki candi bernama Rupadhatu—artinya manusia yang telah dapat melepaskan diri dari hawa nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief dan lantainya berbentuk lingkaran. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu—yang tak berwujud—melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk sehingga siap mencapai nirwana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mandala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Borobudur tak sekadar syarat makna kebajikan. Ia juga merupakan mandala atas bentuk tiga dimensinya sendiri, dan juga bangunan percandian di sekelilingnya (Muhammad Taufik dalam jurnal Balai Konservasi Purbakala Borobudur, 2008). Borobudur adalah totalitas, suatu tanda kesempurnaan dan kemuliaan. Pusat dunia yang berupa arca dan bangunan yang batas-batasnya telah ditentukan atau semacam ”pagar suci”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr Sukmono dalam buku Chandi Borobudur (1976), sinergi dalam pengembangan peribadatan Borobudur dan percandian semasanya adalah bukti situasi damai masa itu. Posisi mandala ini segaris lurus dengan dua mandala Buddha lain di dekatnya, yaitu Candi Pawon, Mendut, dan Gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Taufik, mengacu pada pengertian bahwa bentuk mandala berupa garis lurus geometris, Candi Mendut, Pawon, dan Borobudur yang dibangun pada satu garis lurus. Ketiga bangunan tersebut dianggap sebagai superstruktur. Candi-candi Hindu yang ada di sekitarnya dapat dianggap sebagai substrukturnya, seperti Candi Ngawen dan Kali Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir satu milenium Borobudur ”tidur” dalam timbunan tanah dan debu vulkanik letusan Merapi. Sejak ditemukan dan dipugar oleh Pemerintah Kolonial Belanda antara abad XIX dan awal abad XX serta kemudian dilanjutkan dengan renovasi pada masa kemerdekaan, Borobudur terlihat kembali segar. Borobudur menjelma sebagai salah satu bangunan yang diakui sebagai warisan keajaiban dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Borobudur lebih dikenal sebagai obyek wisata. Namun, kurang dibarengi dengan sosialisasi sebagai monumen warisan peradaban dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Kantor Pusat Studi Borobudur yang dulu diharapkan menjadi arena transformasi nilai luhur ke generasi masa kini telah lama berubah sebagai Hotel Manohara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Menempatkan Borobudur kembali sebagai mandala kehidupan sangat relevan pada masa gegar nilai seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5995532855192945664?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5995532855192945664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/borobudur-mandala-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5995532855192945664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5995532855192945664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/borobudur-mandala-kehidupan.html' title='Borobudur Mandala Kehidupan'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/TJ1uMawY0TI/AAAAAAAAApk/NWjrsl5wqUc/s72-c/mandala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-7122558805016499951</id><published>2010-09-19T08:00:00.000+07:00</published><updated>2010-09-19T08:05:07.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><title type='text'>Ditemukan, Kerangka Manusia Prasejarah Baru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Jumat, 17 Sep 2010&lt;/span&gt; - Balai Arkeologi Bandung kembali menemukan dua fragmen tulang rahang dan gigi milik manusia prasejarah yang diperkirakan berumur sekitar 5.600 tahun yang lalu di Goa Pawon, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Temuan ini semakin menunjukkan banyaknya kehidupan dan aktivitas manusia prasejarah di Goa Pawon.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Sebelum penemuan ini sudah ditemukan lima kerangka manusia prasejarah di Goa Pawon. Penemuan kali ini juga sama, usianya 9.500 tahun-5.600 tahun lalu," ujar arkeolog Balai Arkeologi (Balar) Bandung, Lutfi Yondri, di Bandung, Kamis (16/9).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Lutfi mengatakan, penemuan rahang dan gigi manusia prasejarah ini berada di kotak S2 T4 pada kedalaman 150 sentimeter. Penemuan sebelumnya, yang terjadi pada 2003, kerangka ditemukan pada kedalaman 50-100 sentimeter. Namun, berbeda dengan penemuan  sebelumnya, rahang dan gigi manusia prasejarah ini tidak mendapatkan perlakuan khusus.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dalam beberapa penemuan sebelumnya, kerangka yang ditemukan terdiri dari atap tengkorak, rahang bawah, dan rahang atas yang telah diwarnai menggunakan pewarna merah. Selain itu, ada juga kerangka manusia utuh ditemukan dalam posisi terlipat. Perwarnaan dan posisi terlipat menandakan adanya perlakuan khusus.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Tidak ada indikasi adanya perlakuan khusus dalam kerangka yang kami temukan. Hal ini memberikan pemahaman baru bahwa tidak semua pemakaman manusia purba menggunakan perlakuan khusus," ujar Lutfi yang melakukan penelitian lanjutan sejak 20 Agustus hingga awal September itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teliti lebih dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dalam penelitian lanjutan di tempat yang sama pada awal 2011 mendatang, Lutfi bersama timnya akan melakukan penelitian lebih mendalam di sekitar Goa Pawon. Tidak menutup kemungkinan akan dibuka juga kotak penelitian lainnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Kami menduga masih banyakjejak kehidupan manusia prasejarah Goa Pawon beserta segala ciri khas dan gaya hidupnya. Bukan tidak mungkin akan ditemukan peradaban manusia yang lebih tua atau berusia di atas 9.500-5.600 tahun lalu," kata Lutfi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ribuan sisa makanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Selain menemukan kerangka manusia, Tim Balar Bandung juga menemukan ribuan sisa makanan manusia prasejarah, seperti tulang dan gigi gajah, kerangka kepala monyet, dan kerang. Selain itu, ada juga perhiasan dari gigi hiu dan perkakas batu obsidian yang telah dihaluskan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Perhiasan ini kemungkinan besar dipergunakan manusia prasejarah Pawon. Usianya sama dan banyak ditemukan di sekitar kerangka manusia," ungkapnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung, T Bachtiar, mengatakan, promosi lokasi penemuan benda arkeologi harus dilakukan secara terus-menerus. Efek promosi diharapkan akan membawa semakin banyak anggota masyarakat yang mencintai dan mendalami sumbangan keilmuan dari peninggalan arkeologi itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Dengan pengelolaan lebih baik, banyak daerah di Jabar mampu meraup nilai tambah secara ekonomi dari lokasi arkeologi, sekaligus memberikan sumbangan berharga bagi dunia keilmuan," ujarnya.(CHE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-7122558805016499951?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/7122558805016499951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/ditemukan-kerangka-manusia-prasejarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7122558805016499951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7122558805016499951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/ditemukan-kerangka-manusia-prasejarah.html' title='Ditemukan, Kerangka Manusia Prasejarah Baru'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3831637659873008874</id><published>2010-09-19T07:54:00.002+07:00</published><updated>2010-09-19T07:59:40.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasejarah'/><title type='text'>Kotak P3K Berusia 2.000 Tahun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kompas, Kamis, 16 Sep 2010&lt;/span&gt; - Kotak obat berisi obat-obatan untuk pertolongan pertama ternyata telah digunakan setidaknya sejak 2.000 tahun lalu. Situs Discovery News, Rabu (14/9), menyebutkan, tim arkeolog Italia menemukan kotak obat atau P3K itu di dalam kapal Relitto del Pozzino buatan Roma tahun 140-120 sebelum Masehi yang karam di kedalaman 200 meter pantai Tuscany, Italia. Arkeolog bawah air, Enrico Ciabatti, mengemukakan, di dalam kapal itu ditemukan beragam barang, seperti keramik dari Athena dan Pergamon, cangkir dari wilayah Palestina, tempat air bergaya Siprus, serta lampu-lampu dari Asia. "Kapal itu kemungkinan karam karena badai sepulang dari laut Mediterania Timur setelah berkunjung ke Suriah-Palestina, Siprus, dan Delos," kata Ciabatti. Dari sekian banyak barang yang ditemukan, yang paling menarik adalah kotak obat. Di dalam kotak obat itu ditemukan pisau kecil untuk bedah, 136 botol kecil obat-obatan, dan beberapa kaleng berisi tablet pipih berwarna hijau. Karena kalengnya tertutup rapat, tablet hijau itu benar-benar kering meski berada di dalam laut selama ratusan tahun. Tablet hijau itu dianggap temuan yang baru karena kandungan tablet itu yang 100 persen berasal dari sayur-sayuran, seperti wortel, lobak, peterseli, seledri, bawang, dan kol. Hipotesis yang ada, tablet-tablet itu dicampurkan di dalam air atau minuman anggur dan kemudian disuntikkan. Tablet itu diduga semacam suplemen vitamin bagi anak buah kapal selama perjalanan yang panjang. (DISCOVERY NEWS/LUK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3831637659873008874?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3831637659873008874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/kotak-p3k-berusia-2000-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3831637659873008874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3831637659873008874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/kotak-p3k-berusia-2000-tahun.html' title='Kotak P3K Berusia 2.000 Tahun'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2985740990365794981</id><published>2010-09-16T08:06:00.003+07:00</published><updated>2010-09-16T08:12:40.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Djulianto Susantio'/><title type='text'>Kasus “Homo Floresiensis” dan Kode Etik Penelitian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DJULIANTO SUSANTIO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penemuan fosil manusia purba dari Flores, Homo Floresiensis, beberapa tahun lalu yang kemudian dipublikasikan majalah Nature, menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia kurang sekali memberikan perhatian pada sektor kebudayaan. Padahal selain  memiliki ladang penelitian sangat luas, kita pun mempunyai tenaga peneliti relatif banyak. Hanya dana penelitian yang dialokasikan untuk bidang arkeologi memang masih sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merunut ke masa lalu, masa kritis terjadi pada 1980-an ketika anggaran penelitian untuk bidang arkeologi dikurangi secara drastis. Pemerintah memotong sekitar separuh dari anggaran yang diterima sebelumnya. Dampaknya antara lain adalah penelitian arkeologi tak pernah tuntas sekali jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak candi, umpamanya, hanya sempat dilakukan pemugaran parsial, bukan menyeluruh. Akibatnya bangunan yang sudah berbentuk itu, nyaris runtuh kembali diterpa hujan dan gejala alam lain. Bahkan batu-batunya yang masih berserakan di halaman, sering diambili penduduk untuk berbagai keperluan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penelitian baru juga urung terlaksana karena skala prioritas bukan untuk itu, tetapi untuk meneruskan penelitian lama yang belum selesai. Padahal penelitian baru sangat penting, dalam rangka mencari kesinambungan dengan penelitian sejenis yang lain. Anggaran menjadi semakin kecil ketika bidang arkeologi dialihkan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke dalam Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata. Dengan demikian anggaran yang ada harus dibagi-bagi lagi kepada banyak direktorat. Entah sekarang di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Surga”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu Indonesia merupakan “surga” bagi peneliti-peneliti asing. Pada zaman Hindia-Belanda, peneliti Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Australia, dll mulai menjejakkan kaki di Indonesia. Konyolnya, sebagian besar benda arkeologi, seperti naskah kuno, prasasti, dan fosil dibawa ke negara si peneliti. Bahkan ada yang tidak dikembalikan ke Indonesia sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun terakhir ini banyak peneliti Indonesia bekerja sama dengan peneliti asing, baik untuk melakukan ekskavasi maupun pemeliharaan benda-benda kuno. Bangsa Barat menjadikan Indonesia sebagai “surga” penelitian karena keingintahuan mereka terhadap kebudayaan luar sangat tinggi. Hal serupa juga dialami sejumlah negara di Dunia Ketiga seperti Mesir, Irak, Iran, dan India. Berbagai ekskavasi di sana sering dibiayai pihak Barat, antara lain British Museum di Mesir dan Irak. British Museum mempunyai dana riset yang amat besar. Sebaliknya ladang penelitian yang tersedia di negara mereka sangat sedikit. Itu alasan mengapa mereka giat melakukan ekspansi penelitian ke mancanegara, khususnya Asia dan Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah arkeolog ternama, antara lain Howard Carter, T.E. Lawrence, dan Herry Layard rata-rata memusatkan perhatiannya pada Dunia Ketiga. Berkat Dunia Ketigalah Howard Carter, misalnya, dikenal sebagai penemu makam emas Tutankhamunh di Mesir.  Namun semua temuan Carter digarap dan dipamerkan di museum-museum Inggris. Bukan di Mesir, tempat asal temuan-temuan arkeologi itu. Pameran Tutankhamunh pernah pula berlangsung di Indonesia sekitar tahun 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pihak Baratlah yang lebih memetik keuntungan dari program kerja sama. Orang lebih mengenal Carter sebagai penemu harta karun dari piramida Mesir. Padahal Carter mendapat laporan dari penduduk Mesir asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai negara Dunia Ketiga sampai kini masih memiliki dana penelitian arkeologi yang amat minim. Sebagian besar anggaran masih diperuntukan bagi pembangunan ekonomi dan pembangunan fisik. Sebaliknya banyak negara maju mempunyai perhatian serius terhadap masalah kebudayaan ditopang dana riset memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prancis, misalnya, sejak lama memiliki anggaran penelitian arkeologi relatif sama besar dengan anggaran pembangunannya. Masyarakat Prancis dikenal berapresiasi sekali terhadap peninggalan masa lampau. Ini terjadi sejak zaman Renaisans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan mendasar yang masih membuat mereka penasaran adalah apakah mereka keturunan manusia purba Cro-magnon? Karena rasa penasaran yang begitu besar, mereka bukan saja meneliti di tanah airnya, tetapi juga meluas ke seluruh dunia, terutama di negara-negara bekas jajahannya. Sebagai bentuk kepedulian, mereka mendirikan lembaga ilmiah EFEO (Lembaga Prancis untuk Kajian Timur Jauh). Selama bertahun-tahun Prancis berhasil menggarap segala penelitian tentang negara-negara yang pernah dijajahnya di kawasan Indocina. Karenanya segala literatur tentang Indocina yang lengkap harus dicari di Prancis, bukan di Vietnam, Laos, atau Kamboja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia EFEO banyak melakukan penelitian prasejarah dan arkeologi maritim. EFEO juga banyak membantu penerjemahan naskah Islam dan naskah Sunda, termasuk penerbitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan besar juga diberikan oleh  KITLV atau Institut Kerajaan untuk Bahasa, Budaya, dan Sejarah. Lembaga ini memusatkan perhatian pada negara-negara bekas jajahan Belanda di Asia Pasifik dan Karibia, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kepada lembaga-lembaga ilmiah internasional, para peneliti arkeologi Indonesia juga sering “menodong” yayasan-yayasan asing, seperti Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Prince Claus Foundation, dan Caltex Foundation. Ironisnya, jarang ada perusahaan swasta Indonesia yang berkenan memberikan sponsor kepada peneliti arkeologi. Kalaupun ada, tak lebih berkat hubungan antarpersonal yang sudah terjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan penelitian lapangan merupakan keharusan seorang arkeolog. Selain untuk menguji teori, hal ini untuk mengasah keterampilan ilmiah. Tapi karena anggaran penelitian begitu terbatas, maka para arkeolog jarang melakukan ekskavasi. Padahal penelitian merupakan jalan untuk menapak karir. Bagi arkeolog peneliti, kerja lapangan beserta hasil publikasinya menghasilkan poin penting untuk memperoleh angka kredit dalam jenjang kepangkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dimungkiri kalau para peneliti Indonesia sering menerima tawaran penyandang dana untuk melakukan penelitian bersama tanpa mempertimbangkan MoU. Karena tanpa perjanjian, maka apa hak dan kewajiban kita tidak jelas. Bagi peneliti Indonesia, yang penting bisa meneliti. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kode Etik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia punya situs, pihak asing punya duit sekaligus punya nama. Kasus seperti itulah yang dialami peneliti Indonesia ketika menemukan fosil manusia Flores. Berhari-hari penemuan tersebut mengisi gegap gempita pemberitaan media cetak dan media elektronik  Indonesia dan mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama peneliti Australia pun terangkat karenanya. Orang lebih mengenal Peter Brown dan Michael Morwood daripada R.P. Soejono dan Teuku Jacob. Karena itu dalam sebuah konperensi pers, peneliti Indonesia menuding pihak Australia sebagai “teroris ilmiah”.  Lagi pula, menurut Jacob, temuan tersebut tidak istimewa karena temuan serupa pernah diperoleh dari sejumlah situs arkeologi. Kalau ditelusuri, sebenarnya publikasi tentang manusia-manusia prasejarah,  sudah sering diungkapkan dalam penerbitan lokal Berita Penelitian Arkeologi. Namun karena berskala kecil, gaungnya tidak sehebat di majalah Nature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dirugikan, ada beberapa hal yang pantas dijadikan pelajaran dari kasus Flores itu. Pertama, kita jangan menjadi “pengemis ilmiah” kepada dunia internasional. Kalaupun terpaksa, harus ada kode etik penelitian, misalnya siapa pemilik hak publikasi atau hak siar, apa hak dan kewajiban kita, serta apa hak dan kewajiban mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, berbagai pihak (pemerintah dan swasta) harus bekerja sama memajukan dunia arkeologi Indonesia. Salah satu langkah, misalnya menerbitkan publikasi bergengsi macam majalah Nature atau Science. Semoga kasus seperti Homo Floresiensis tidak menimpa lagi dunia arkeologi Indonesia.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2985740990365794981?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2985740990365794981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/kasus-homo-floresiensis-dan-kode-etik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2985740990365794981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2985740990365794981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/kasus-homo-floresiensis-dan-kode-etik.html' title='Kasus “Homo Floresiensis” dan Kode Etik Penelitian'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3689113572318608395</id><published>2010-09-05T03:45:00.002+07:00</published><updated>2010-09-05T03:50:28.348+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><title type='text'>Cerah, Masa Depan Arkeologi Jawa Barat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMPAS Jawa Barat, Senin, 30 Agustus 2010&lt;/span&gt; -  Pengembangan penelitian arkeologi Jawa Barat bermasa depan cerah. Diyakini, masih banyak aset arkeologi Jabar yang belum dikembangkan atau potensinya belum dimanfaatkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Jabar bisa belajar dari daerah di Jawa Timur atau Jawa Tengah. Penemuan benda arkeologi adalah kebanggaan besar bagi mereka. Hal itu dibuktikan dengan penelitian dan promosi yang dilakukan dengan intensif," ujar Peneliti Utama Balai Arkeologi Bandung Lutfi Yondri di Bandung, Minggu (29/8).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Para arkeolog dunia, seperti dituturkan Lutfi, meyakini  Jabar adalah salah bagian jalur perjalanan manusia prasejarah mongoloid dari Asia menuju Australia. Bahkan, Jabar dianggap sebagai daerah yang pertama kali disinggahi manusia prasejarah dan hewan purba di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ironisnya, penemuan arkeologi justru banyak terjadi di Jateng dan Jatim. Banyaknya penemuan itu terkait dengan kepedulian dan perhatian pemerintah yang demikian besar terhadap arkeologi di kedua provinsi itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Lutfi mengatakan, sebenarnya Jabar kaya dengan situs prasejarah. Penemuan fosil hewan prasejarah seperti kelompok gajah (Stegodon sp) dan kelompok rusa (Cervus sp) di beberapa daerah seperti Bogor, Kuningan, Cirebon, dan Ciamis adalah beberapa buktinya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Begitu juga dengan penemuan kerangka lengkap manusia prasejarah berusia 9.600 tahun di Goa Pawon, karst Rajamandala, Bandung Barat, 2003. Bahkan, manusia purba berusia 600.000 tahun diperkirakan pernah hidup di Tambaksari, Ciamis.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Saat ini kami masih meneliti Goa Pawon lebih lanjut. Penemuan terbaru adalah perhiasan manusia prasejarah Goa Pawon seperti gigi hiu dan kerang. Tandanya, mereka sangat kreatif dan berdaya jelajah tinggi," ujarnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Penemuan ini, menurut Lutfi, harus ditangani serius mengingat temuan tersebut  berguna bagi ilmu pengetahuan serta menjadi  sumber ekonomi dan kebanggaan daerah. Ia mencontohkan Goa Lawa di Trenggalek, Jatim. Penanganan intensif dari goa ini mampu memberikan sumbangan ekonomi dan menaikkan derajat Kabupaten Trenggalek sebagai salah satu daerah pelestari warisan arkeologi. Padahal, ragam koleksi arkeologi Goa Lawa  tak sebanyak Goa Pawon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Promosi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ia mengimbau pemerintah daerah di Jabar mulai berpromosi, setidaknya bagi pegawai negeri sipil untuk mengunjungi lokasi arkeologi. Tujuannya, agar semakin banyak orang datang dan lantas peduli terhadap lokasi itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ketua Masyarakat Geografi Indonesia T Bachtiar mengatakan, promosi lokasi penemuan benda arkeologi harus dilakukan secara terus-menerus. Efek promosi diharapkan membawa semakin banyak masyarakat guna mencintai dan mendalami sumbangan keilmuan dari peninggalan arkeologi itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Dengan pengelolaan lebih baik, banyak daerah di Jabar mampu meraup nilai ekonomi dari lokasi arkeologi sekaligus memberikan sumbangan berharga bagi dunia keilmuan," ujarnya. (CHE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3689113572318608395?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3689113572318608395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/cerah-masa-depan-arkeologi-jawa-barat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3689113572318608395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3689113572318608395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/09/cerah-masa-depan-arkeologi-jawa-barat.html' title='Cerah, Masa Depan Arkeologi Jawa Barat'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5729772059145784903</id><published>2010-08-31T06:03:00.001+07:00</published><updated>2010-08-31T06:05:56.284+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Mesir Cekal 9 Pejabat Terkait Pencurian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Selasa, 24 Agustus 2010&lt;/span&gt; -   Jaksa Agung Mesir mencekal sembilan pejabat Kementerian Kebudayaan, Senin (23/8), sebagai tindak lanjut penyelidikan atas hilangnya lukisan karya maestro Vincent van Gogh, Sabtu pekan lalu. Lukisan berjudul "Bunga Poppy" itu dicuri dari Museum Mahmoud Khalil di Kairo, salah satu museum terbaik di Timur Tengah yang terkenal dengan koleksi benda seni dari abad ke-19 dan ke-20. Harian Al Ahram menyebutkan, dari penyelidikan awal ditemukan kelemahan pengamanan di museum tersebut, dengan hanya 7 dari total 43 kamera keamanan yang berfungsi baik. Lukisan Van Gogh tersebut saat ini ditaksir bernilai sekitar 55 juta dollar AS (Rp 493,3 miliar). Lukisan tersebut juga pernah dicuri tahun 1970-an dan baru ditemukan 10 tahun kemudian.(AP/AFP/REUTERS/MON/DHF)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5729772059145784903?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5729772059145784903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/08/mesir-cekal-9-pejabat-terkait-pencurian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5729772059145784903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5729772059145784903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/08/mesir-cekal-9-pejabat-terkait-pencurian.html' title='Mesir Cekal 9 Pejabat Terkait Pencurian'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-1906871576139822505</id><published>2010-08-31T05:50:00.002+07:00</published><updated>2010-08-31T06:00:05.498+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><title type='text'>Dorong Masyarakat ke Museum</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Promosi Harus Lebih Gencar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas Jawa Tengah, Jumat, 27 Agustus 2010&lt;/span&gt; -    Sejak dicanangkan pada 2010, program Tahun Kunjungan Museum di Jawa Tengah belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari 47  museum di Jateng, peningkatan jumlah pengunjung hanya berkisar 7-10 persen. Perlu ada promosi untuk mendorong masyarakat mengunjungi museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di Museum Ronggowarsito Jawa Tengah, yang rata-rata dikunjungi 52.000 orang per tahun juga naik hanya tujuh persen. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih awam dalam memaknai pentingnya berwisata ke museum," kata Kepala Museum Jawa Tengah, Puji Joharnoto, dalam pertemuan pemangku kepentingan di bidang kebudayaan dan pariwisata se-Jateng di Museum Jateng di Semarang, Rabu (25/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng Maryanto serta lembaga terkait termasuk Ketua PHRI Jateng Heru Ismawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji mengatakan, potensi museum sebagai tujuan wisata sangat beragam. Museum andalan di Jateng, misalnya museum wayang dan artefak di Purbalingga, museum batik di Pekalongan, museum Karst di Wonogiri, museum Susilo Sudarman di Cilacap, museum kretek di Kudus, museum Kartini di Jepara, museum Oie Hong Djin (museum seni) di Magelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum seni milik seniman besar di Solo yang memiliki nilai sejarah dan nilai seni tinggi juga layak dikunjungi wisatawan. Hanya saja, kekayaan ragam museum ternyata masih memerlukan promosi yang gencar supaya wisatawan berminat mengunjungi museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Evaluasi terhadap program kunjungan museum selama enam bulan ini, menunjukkan masyarakat masih statis. Mereka perlu didorong, dibujuk, dan ditunjukkan keragaman museum. Setelah itu, barulah mereka bersedia untuk mengunjungi museum," kata Puji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal tersebut, Maryanto kembali menegaskan, tekad Jateng mencanangkan Tahun Kunjungan Jateng 2013 dengan target jumlah pengunjung sampai 20 juta orang. Untuk mempersiapkan ke arah itu, semua pihak termasuk pengelola hotel dan restoran dan daerah tujuan wisata diminta mulai ikut berbenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Lebaran ini, Maryanto mengimbau pelaku wisata harus siap menyambut pemudik yang masuk Jateng. "Ada sedikitnya 2,5 juta  orang yang pasti akan mengunjungi obyek-obyek wisata. Ini bisa meningkatkan jumlah pengunjung hingga 10 kali lipat," ujar Maryanto. (WHO)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-1906871576139822505?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/1906871576139822505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/08/ditemukan-peralatan-manusia-prasejarah_31.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1906871576139822505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1906871576139822505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/08/ditemukan-peralatan-manusia-prasejarah_31.html' title='Dorong Masyarakat ke Museum'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-7590295383270077673</id><published>2010-08-30T17:08:00.002+07:00</published><updated>2010-08-30T17:11:44.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasejarah'/><title type='text'>Tulang Dinosaurus di Saluran Pembuangan Air</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kompas, Kamis, 26 Agustus 2010&lt;/span&gt; -  Di tengah-tengah proses penggalian terowongan untuk saluran pembuangan air, para pekerja dinas pekerjaan umum di Kanada menemukan empat fosil tulang dinosaurus, yakni gigi, tungkai dan lengan, tulang belakang, serta tulang paha di wilayah Quesnell Heights, kota Edmonton, Provinsi Alberta, Kanada, pekan lalu. Situs BBC News, Senin (23/8), menyebutkan, fosil tulang tungkai dan lengan diyakini milik spesies dinosaurus Edmontosaurus. Sementara fosil gigi adalah milik spesies dinosaurus bernama Albertosaurus, saudara dekat Tyrannosaurus rex (T Rex). Fosil spesies Albertosaurus ini pertama kali ditemukan oleh Joseph Tyrrell pada 1884 di Red Deer River Valley di Alberta, Kanada. Kini keempat fosil dinosaurus itu akan dibawa ke Royal Tyrrell Museum di Drumheller, Alberta, untuk diteliti tim ahli paleontologi dari RoyalAlberta Museum dan University of Alberta.(BBC NEWS/LUK)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-7590295383270077673?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/7590295383270077673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/08/tulang-dinosaurus-di-saluran-pembuangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7590295383270077673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7590295383270077673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/08/tulang-dinosaurus-di-saluran-pembuangan.html' title='Tulang Dinosaurus di Saluran Pembuangan Air'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-4459778358946085049</id><published>2010-08-30T17:04:00.000+07:00</published><updated>2010-08-30T17:07:07.769+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><title type='text'>Ditemukan, Peralatan Manusia Prasejarah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Jumat, 27 Agustus 2010&lt;/span&gt; - Balai Arkeologi Bandung menemukan peralatan yang diperkirakan pernah digunakan manusia prasejarah di Goa Pawon, Karst Rajamandala, Bandung Barat. Peninggalan itu memperkuat pola interaksi, distribusi, dan okupasi manusia prasejarah Pawon. "Alat-alat itu seperti gigi hiu, gigi gajah, perhiasan kerang, dan batuan obdisian yang diperkirakan berusia 6.000-9.500 tahun lalu. Diperkirakan pernah digunakan untuk mengolah makanan atau menyayat kulit," ujar arkeolog Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Youndri, di lokasi penggalian, Rabu (25/8). Mayoritas peralatan ditemukan setelah tim arkeolog menggali sedalam 10 sentimeter. Ia yakin, penemuan akan lebih banyak lagi jika penggalian dilakukan lebih dalam lagi.(CHE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-4459778358946085049?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/4459778358946085049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/08/ditemukan-peralatan-manusia-prasejarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4459778358946085049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4459778358946085049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/08/ditemukan-peralatan-manusia-prasejarah.html' title='Ditemukan, Peralatan Manusia Prasejarah'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3483421516971411083</id><published>2010-07-31T10:40:00.001+07:00</published><updated>2010-07-31T10:40:35.431+07:00</updated><title type='text'>Pameran Warisan Budaya Bawah Air</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_39mO43uy5wA/TFOaE1dbuxI/AAAAAAAAASo/ZSvN3qGC97A/s1600/airku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 368px; height: 518px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_39mO43uy5wA/TFOaE1dbuxI/AAAAAAAAASo/ZSvN3qGC97A/s400/airku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499908977810193170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3483421516971411083?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3483421516971411083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/07/pameran-warisan-budaya-bawah-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3483421516971411083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3483421516971411083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/07/pameran-warisan-budaya-bawah-air.html' title='Pameran Warisan Budaya Bawah Air'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_39mO43uy5wA/TFOaE1dbuxI/AAAAAAAAASo/ZSvN3qGC97A/s72-c/airku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-6830750187907427837</id><published>2010-07-29T07:07:00.001+07:00</published><updated>2010-07-29T07:13:51.321+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Majapahit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agus Aris Munandar'/><title type='text'>Gajah Mada dan Perang Bubat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Dr. Agus Aris Munandar&lt;br /&gt;Departemen Arkeologi&lt;br /&gt;Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya&lt;br /&gt;Universitas Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Gajah Mada adalah anggota Dinasti Rajasa&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orang tua dan kelahiran Gajah Mada hingga sekarang masih belum diketahui secara jelas. Oleh karena itu banyak kisah dan mitos yang berhubungan dengan kelahiran orang besar dari Kerajaan Majapahit tersebut. Berdasarkan uraian kitab &lt;em&gt;Pararaton&lt;/em&gt; dan dukungan interpretasi dari prasasti Gajah Mada (tahun 1273 Śaka/1351 M) yang ditemukan di dekat Candi Singhasari, dapat dikemukakan bahwa sangat mungkin Gajah Mada masih anggota dinasti Rajasa juga. Ia masih keturunan Ken Angrok, Gajah Mada adalah cucu dari Krtanagara bukan dari garis permaisuri, melainkan dari salah seorang selir Krtanagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Gajah Pagon dalam &lt;em&gt;Pararaton&lt;/em&gt; disebutkan sebagai salah seorang pengawal Raden Wijaya yang terluka terkena tombak orang-orang Kadiri yang mengejar-ngejar mereka. Raden Wijaya lalu menitipkan Gajah Pagon tersebut kepada kepala Desa Pandakan dengan wanti-wanti harus dirawat. Macan Kuping sang kepala desa akan menyediakan makanan setiap hari bagi Gajah Pagon, namun ia harus tinggal di ladang yang penuh ilalang. Maksudnya jika ada tentara Kadiri mencari-cari ke Desa Pandakan, mereka tidak akan menemukan pengikut Raden Wijaya. Perhatikan pernyataan Raden Wijaya dalam Pararaton yang sangat mengkhawatirkan keadaan Gajah Pagon, dia terluka dan dititipkan kepada kepala Desa Pandakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;em&gt;Sira Gajah Pagon tan kawasa lumaku; andika nira Raden Wijaya: “Buyuting Pandakan, ingsun atuwawa wong sawiji, Gajah Pagon tan bisa lumaku didine ring sira”&lt;/em&gt; (Brandes, 1920: 27; Padmapuspita, 1966: 29).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Gajah Pagon tidak dapat berjalan, berkata Raden Wijaya: ”Kepala Desa Pandakan saya titip seseorang, Gajah Pagon tidak dapat berjalan, lindungilah olehmu”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pengiring Raden Wijaya yang terluka Pararaton hanya menyebutkan secara khusus tokoh Gajah Pagon tersebut, artinya penulis Pararaton begitu mengistimewakan tokoh Gajah Pagon. Jika ia bukan siapa-siapa, tidak mungkin Raden Wijaya menitipkan dengan sungguh-sungguh Gajah Pagon yang terluka itu kepada kepala Desa Pandakan. Maka dapat dikemukakan bahwa Gajah Pagon tentunya masih putra Krtanagara pula, dari salah seorang selirnya, sedangkan putri-putri yang menjadi istri Krtarajasa Jayawarddhana (Raden Wijaya) adalah anak Krtanagara dari permaisurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dikemukakan pula bahwa sangat mungkin Gajah Pagon selamat, menikah dengan putri kepala Desa Pandakan dan akhirnya mempunyai anak Gajah Mada yang mengabdi kepada istana Majapahit. Jadi Gajah Mada dengan Tribhuwanottunggadewī mempunyai eyang yang sama, mereka adalah cucu-cucu Krtanagara Bhattara Śiva-Buddha. Perbedaan terletak pada garis keturunan, Gajah Mada cucu dari istri selir Krtanagara; sedangkan Tribhuwana adalah cucu dari istri  resmi Krtanagara, sang permaisurinya, hanya saja nama permaisuri Krtanagara belum dapat diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pararaton tidak menceritakan lebih lanjut tentang tokoh Gajah Pagon, namun dapat ditafsirkan bahwa keadaan berangsur-angsur aman dan Gajah Pagon sembuh dari lukanya. Sangat mungkin ia lalu menikah dengan anak perempuan Macan Kuping. Setelah penghulu Desa Pandakan itu meninggal, Gajah Pagon menggantikan kedudukannya menjadi kepala Desa Pandakan. Kemudian keadaan semakin membaik. Majapahit berdiri, dan Wijaya menjadi raja.  Pada waktu itulah teman-teman seperjuangan Wijaya mendapat kedudukan masing-masing, walaupun berbagai sumber menyatakan ada yang tidak puas. Gajah Pagon tetap menjadi penguasa daerah Pandakan. Interpretasi selanjutnya telah terbuka bahwa Gajah Pagon kemudian mempunyai anak lelaki yang tumbuh gagah seperti ayahnya yang dijuluki Gajah Mada. Jadi, Gajah Mada adalah anak Gajah Pagon, dari ibunya adalah cucu Macan Kuping, penghulu tua Desa Pandakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah Mada dilahirkan dan dibesarkan di Desa Pandakan; ia kemudian mendapat berbagai pendidikan kewiraan oleh ayahandanya. Pandakan sebagai nama desa yang disebut dalam Pararaton, mungkin berlokasi di wilayah Pandakan sekarang, kecamatan di utara Malang. Apabila benar bahwa Pandakan sekarang dahulu berpangkal kepada Desa Pandakannya Macan Kuping, maka dapat diketahui bahwa Gajah Mada lahir di Jawa Timur, di dataran tinggi Malang, daerah awal mengalirnya Sungai Berantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Candi bagi sang Kakek&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah Gajah Mada menjadi patih amangkubhumi Majapahit ia mendirikan caitya  bagi Krtanagara di wilayah Malang, lokasinya sekarang Kecamatan Singasari. Mungkin tempat berdirinya Candi Singasari tersebut dahulu bekas kedaton Krtanagara yang sebagiannya dibakar dalam serangan licik pihak Jayakatwang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk arsitektur Candi Singasari cukup berbeda dengan bentuk candi lainnya yang sezaman atau candi pada umumnya di Tanah Jawa. Sebagaimana diketahui bahwa secara konsepsi vertikal, bangunan candi terbagi menjadi tiga bagian, masing-masing bagian itu melambangkan konsep tingkatan dunia tertentu dalam Hinduisme atau Buddhisme. Bagian pondasi, lapik, dan kaki candi melambangkan Bhurloka (Hinduisme) atau Kamadhatu (Buddhisme), yaitu suatu dunia atau suasana tempat berlangsungnya kehidupan duniawi yang masih penuh dosa dan nafsu angkara. Tubuh candi yang terdapat di atas bagian kaki candi tempat adanya bilik utama candi dan relung-relung (parśvadevata) yang berisikan arca dewa melambangkan Bhuvarloka (Hinduisme) atau Rupadhatu (Buddhisme). Dalam konsep tersebut dipandang sebagai suatu dunia yang telah lepas dari segala hasrat dan nafsu, namun manusia belum bersatu dengan alam dewa-dewa  atau dengan dewata. Manusia masih terperangkap dalam kehidupan kasarnya di alam manusia, namun mereka telah berhasil menekan segala keinginan dan nafsu kehidupan. Adapun atap candi melambangkan Śvarloka (Hinduisme), yaitu alam kehidupan dewa yang serba menyenangkan, tidak ada penderitaan, dan manusia tidak akan dilahirkan kembali. Dalam Buddhisme atap candi melambangkan Arupadhatu, yaitu suatu keadaan yang “hampa”, tanpa wujud apapun, tanpa warna, tanpa cahaya, kosong dan senyap (sunyata), yang merupakan tujuan akhir para pemeluk Buddha agar tidak dilahirkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi Triloka digambarkan cukup berbeda dalam bangunan Candi Singasari, arca-arca dewa Hindu (Lingga-yoni, Mahākala, Nandiśvara, Durga Mahisasuramardinī, Agastya, dan Ganeśa) tidak diletakkan di bagian tubuh candi yang melambangkan konsepsi Bhuvarloka. Arca-arca tersebut justru ditempatkan di bagian kaki candi yang didirikan di permukaan lapik yang lebar. Jadi arca-arca dewa simbol manusia yang telah bebas dari hawa nafsu “ditarik” keberadaannya ke lapisan Bhurloka yang disimbolkan pada bagian kaki Candi Singasari. Keadaan seperti ini sungguh tidak  lazim dalam arsitektur bangunan candi, dimana arca dewa berada di kaki candi, arca-arca dewa seharusnya berada di bagian tubuh candi (Bhuvarloka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat dugaan bahwa di bagian tubuh candi yang sekarang terlihat pejal tanpa rongga, dahulu terdapat relung dangkal untuk bertahtanya arca-arca Tathagata (Dhyani Buddha) sesuai dengan keletakannya di arah mata angin. Hanya saja sekarang semua arca Tathagata sudah tidak ada lagi di tempatnya. Jika asumsi itu benar, maka terdapat dua interpretasi, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a)  terdapat dua nafas keagamaan di bangunan Candi Singasari, yaitu Hindu-śaiva dan Buddha Mahāyana, atau sering disebut ringkas saja menjadi terdapat aspek Śiva-Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b) terdapat perbedaan dalam menempatkan arca-arca dewa, bahwa dewa-dewa Hindu posisinya lebih rendah, di kaki candi; sedangkan dewa-dewa Buddha diposisikan pada tempat yang lebih tinggi di bagian tubuh candi. Mengenai adanya perbedaan penempatan itu tidak boleh ditafsirkan bahwa kedudukan agama Hindu-śaiva lebih rendah dari Buddha Mahāyana, mungkin terdapat perbedaan konsep keagamaan yang harus dibahas lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terwujud dalam bentuk arsitektur candi itu tentunya sudah diketahui oleh Gajah Mada, dan pastinya bentuk arsitektur demikian mempunyai maksud yang berkaitan dengan ajaran keagamaannya. Gajah Mada pasti sudah mengetahui bahwa leluhur para penguasa Majapahit, yaitu Krtanagara atau dalam prasasti dijuluki Bhatara Śri Krtanagarajnaneśwarabraja Namābhisekā, memuja Śiva dan Buddha secara bersamaan. Gelar yang tercantum dalam prasasti jelas mengandung unsur nama Hindu-śaiva dalam kata “isvara” dan Buddha Tantrayana dalam kata “braja, bajra” atau “vajra” Dalam kitab Pararaton Krtanagara dijuluki Bhatara Śiva-Buddha, dan dia agaknya melak-sanakan ritual Tantrayana, sebab diberitakan dalam Pararaton bahwa Krtanagara bersama patihnya tewas dibunuh tentara Jayakatwang ketika sedang minum tuak (Hardjowardojo, 1965: 38). Minum tuak adalah bagian dari  ritual Panca Makara Puja, yaitu mada, meminum minuman keras sampai mabuk dan pada saat itulah si pemuja dapat bersatu utuh dengan dewanya. Ritual itu sangat mungkin terpotong tiba-tiba oleh serbuan tentara Jayakatwang, dan Krtanagara tewas sebelum persatuan sempurna dengan sang dewa dapat terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan berbagai data yang ada, baik berita dari prasasti, karya sastra, dan tinggalan arkeologis, dapat ditafsirkan adanya dua alasan Gajah Mada untuk memuliakan Krtanagara di Candi Singasari, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gajah Mada mencari acuan legitimasi untuk membuktikan Sumpah Palapa-nya, bahwa ia akan berupaya keras agar wilayah Nusantara mengakui kejayaan Majapahit. Sebenarnya raja pendahulu Gajah Mada yang mempunyai wawasan politik luas dengan memperhatikan daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa adalah Krtanagara. Raja itulah yang mengembangkan wawasan Dwipantara mandala (daerah-daerah diluar pulau [Jawa]), Krtanagaralah yang membina hubungan dengan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara daratan, wilayah Semenanjung Melayu, dan Sumatera. Krtanagara pula yang mengirimkan tentaranya ke Malayu seraya menghadiahi penguasa Malayu dengan arca Amoghapaśa Bhairawa. Dalam kitab Pararaton peristiwa berangkatnya bala tentara Singhasari ke Malayu itu dinamakan Pamalayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Gajah Mada seakan-akan “ngalap berkah” (minta restu) kepada Raja Krtanagara yang telah menjadi bhattara (hyang) bersatu dengan dewa-dewa. Gajah Madalah yang meneruskan politik pengembangan mandala hingga seluruh Dwipantara/Nusantara yang awalnya telah dirintis oleh Krtanagara. Sumpah Palapa Gajah Mada penerus gagasan Krtanagara  tersebut  terbukti  berhasil,  Majapahit Raya pernah menguasai Nusantara dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk (1351—1389 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam masa Jawa Kuno (Singhasari-Majapahit) candi atau caitya bagi pemuliaan seorang tokoh (pendharmaan),  selalu dibangun oleh kaum kerabat atau keturunan langsung  tokoh tersebut. Banyak candi pendharmaan yang didirikan oleh anak-cucu sang tokoh, misalnya Candi Jago (Jajaghu) yang pernah dibangun dalam masa Singhasari untuk raja Wisnuwarddhana diperbaiki kembali oleh Mpu Aditya (Adityawarman) dalam masa Majapahit tahun 1265 Śaka/1343 M, Candi Sumberjati bagi Raden Wijaya dibangun sekitar tahun 1321 M dalam masa pemerintahan Jayanagara, dan Candi Bhayalango pendharmaan bagi Rajapatni Gayatri dibangun oleh cucunya, yaitu Hayam Wuruk sekitar tahun 1362 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah berdasarkan data itu dapat ditafsirkan bahwa sangat mungkin Gajah Mada masih keturunan dari raja Krtanagara! Setidaknya Gajah Mada masih mempunyai hubungan darah dengan Krtanagara. Oleh karena itu, Gajah Mada mempunyai perhatian khusus kepada raja itu yang memang leluhurnya. Selanjutnya dapatlah dipahami mengapa Gajah Mada sangat menghormati Raja Krtanagara, karena raja itu tidak lain eyangnya sendiri, hanya keturunannya sajalah yang dengan senang hati membangun caitya bagi diri sang raja. Krtanagara mungkin sangat menginspirasi Gajah Mada, terutama dalam hal pengembangan konsepsi Dwipantara mandala yang mendorong Gajah Mada mencetuskan sumpah Palapanya. Bagi Gajah Mada, tokoh Krtanagara adalah raja besar yang patut dijadikan teladan, layak mendapat pemujaan dan pemuliaan walaupun dia telah tiada. Demi untuk mengenang kebesaran leluhurnya lalu didirikan caitya atau Candi Singasari sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;“Kesepakatan Gajah Mada dan Raja Sunda”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah banyak daerah di Nusantara menyatakan bernaung di bawah kekuasaan Majapahit, tinggal beberapa saja yang masih bebas merdeka, antara lain Kerajaan Sunda yang berkembang di Jawa bagian barat. Haruslah dipahami bahwa sukar dibayangkan apabila armada dan tentara Majapahit harus menyerang Kerajaan Sunda. Kerajaan Sunda memang wilayah yang cukup unik bagi Majapahit, sebab (1) Sunda merupakan kerajaan tersendiri yang bebas merdeka namun berada dalam lingkungan pulau yang sama, yaitu Jawadwipa, (2) tidak ada sesuatu alasan pun untuk berperang dengan kerajaan itu. Jadi berbeda dengan Bali yang disebut oleh Mpu Prapanca ikaŋ bāli nathanya duśśila nīcchā, (“raja Bali berbuat kasar, kejam, dan nista) oleh karena itu perlu diperangi dan Bali akhirnya mengakui kekuasaan Majapahit, (3) mungkin di masa itu telah berkembang anggapan bahwa Sunda wilayah  patut dihormati dan tidak layak ditaklukkan secara militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya dalam pemikiran Gajah Mada kedudukan Sunda yang merdeka itu menjadi ganjalan untuk  membuktikan sumpahnya, namun tiada alasan untuk bermusuhan dengan kerajaan Sunda. Gajah Mada sebagai tokoh yang cerdas pastinya mengetahui beberapa kenyataan sejarah berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wilayah Jawa bagian barat tempat berkembangnya Kerajaan Sunda merupakan wilayah peradaban tua, dahulu kerajaan yang bercorak kebudayaan India pertama kali muncul di Jawa bagian barat, yaitu Tarumanagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wilayah barat Majapahit dahulu adalah tempat kekuasaan Sanjaya, raja pertama Mataram Kuno yang berdasarkan prasastinya pertama kali menyebarkan agama Hindu Trimurtti yang masih dikenal hingga zaman Majapahit. Sanjaya dapat dipandang sebagai penyeru agama Hindu-śaiva di Tanah Jawa, karena itu bekas daerah kekuasaannya juga tetap dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ketika wilayah Jawa Timur terus-menerus dilanda kerusuhan dan peperangan sejak zaman Airlangga, Janggala-Panjalu, Kadiri, Singhasari, hingga masa Tribhuwanottunggadewi, wilayah Jawa bagian barat aman saja, penduduk tidak ditakutkan dengan berbagai peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar pertimbangan itulah mungkin Gajah Mada menjadi segan untuk melakukan serangan ke wilayah Kerajaan Sunda. Dikhawatirkan apabila tentara Majapahit menyerang Sunda dalam suatu peperangan terbuka sebagaimana yang terjadi atas Bali, Lombok, dan Sumbawa, maka pihak Majapahit akan dapat dikalahkan. Lagi pula secara politik hubungan antara Sunda dan Majapahit baik-baik saja, hanya saja para penguasa Sunda tidak pernah mengakui raja Majapahit sebagai penguasa yang harus dipertuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber-sumber tertulis menyatakan bahwa keberangkatan raja Sunda beserta rombongannya ke Majapahit adalah untuk keperluan pernikahan putrinya dengan Hayam Wuruk. Raja Sunda tersebut menurut Carita Parahyangan dan Pararaton dinamakan dengan Prebhu/Prabhu Maharaja, dalam sumber-sumber Jawa Barat lainnya disebutkan nama sebenarnya adalah Linggabuwana, karena tokoh tersebut berhasil mempersatukan seluruh wilayah Jawa bagian barat, mempersatukan Kerajaan Galuh dan Sunda. Nama itu sungguh merupakan pilihan yang mengandung makna yang dalam, raja tersebut mengaku diri sebagai Lingga bagi dunia. Lingga adalah simbol Śiwa Mahādewa sang dewa tertinggi. Linggabuwana juga dapat diartikan sebagai titik tengah dunia yang tidak lain adalah Gunung Mahāmeru yang di puncaknya terdapat tempat persemayaman dewa-dewa. Jika dia menganggap dirinya sebagai Linggabuwana, maka kekuasaannya juga harus luas sebab sebagai titik tengah alam semesta. Oleh karena itu --menurut uraian Kidung Sunda-- ketika Raja Majapahit meminang putrinya, Dyah Pītaloka untuk dijadikan permaisurinya, sang Linggabuwana setuju, karena tujuannya akan membawa kebaikan, yaitu bersatunya kedua kerajaan besar di Tanah Jawa tersebut. Dalam sudut pandang Gajah Mada, perkawinan itu juga bertujuan sama, yaitu akan mempersatukan Sunda dan Majapahit tanpa harus melakukan peperangan antara keduanya. Hal lain yang penting bagi Gajah Mada adalah jika perkawinan tersebut terjadi, akan menjadi pembuktian sumpahnya, mempersatukan wilayah-wilayah Nusantara. Jadi terdapat pemikiran yang sama dan ideal antara kedua tokoh besar itu, antara Linggabuwana dan Gajah Mada telah sepaham untuk mempersatukan Jawa dengan perkawinan, tanpa harus berperang dan saling menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan  halnya pertanyaan para cerdik-cendikia yang mengherankan sikap Raja Sunda untuk bersusah payah mengantarkan putrinya ke Majapahit, mungkin hal itu dapat dirujuk kepada tradisi perkawinan masa itu. Banyak sumber yang menjelaskan bahwa pihak perempuanlah yang mendatangi pihak lelaki untuk mencari jodohnya. Misalnya dalam kisah rakyat Jawa tentang Ande-ande Lumut dinyatakan bahwa para Klenting yang mendatangi tempat Ande-ande Lumut berada, ketika mereka harus menyeberangi sungai, para Klenting itu harus rela dicium oleh Yuyu Kangkang. Kecuali Klenting Kuning yang berhasil mengatasi Yuyu Kangkang dan akhirnya bertemu dengan Ande-ande Lumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan budaya Sunda Kuno sendiri terdapat penjelasan tentang pihak perempuan yang melamar dan mendatangi pihak lelaki ketika hendak mencari pasangan hidup. Uraian itu terdapat dalam kisah Bujangga Manik yang menyebutkan bahwa sang Rakean Jaya Pakuan dilamar oleh putri bangsawan bernama Putri Ajung Larang. Utusan datang membawa uba rampe lamaran lengkap dengan sirih pinang pengikat perjaka  Akan tetapi lamaran dari sang putri itu ditolak oleh Bujangga Manik, seluruh benda persembahan yang diuraikan secara rinci dalam naskah itu, diminta dikembalikan kepada sang putri (Noorduyn &amp;amp; A.Teeuw 2009: 289—291).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masih terdapat contoh lainnya bahwa dalam masa kuno, baik di Sunda atau Jawa terdapat juga tradisi pengajuan lamaran dari pihak perempuan, atau pihak perempuanlah yang “menghampiri” kediaman pihak laki-laki. Dengan demikian datangnya rombongan Raja Sunda mengantar putrinya sebagai calon mempelai bagi Hayam Wuruk adalah hal yang wajar saja, tidak ada sesuatu yang luar biasa pada masanya. Jadi dalam hal ini tidak ada kaitannya dengan tuduhan bahwa “keluarga Raja Sunda demikian bangganya akan menikahkan putrinya dengan raja Majapahit yang agung” sehingga mereka rela mengantarkan sang putri hingga ke Majapahit; atau juga tuduhan-tuduhan lain yang bernuansa negatif bagi pihak Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Epilog: Gajah Mada yang Disalahkan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan kajian terhadap kisah-kisah Panji dapat disimpulkan bahwa kisah-kisah itu sebenarnya mengacu kepada peristiwa sejarah yang pernah terjadi dalam era Majapahit (Munandar, 2005). Tokoh-tokoh utama dalam cerita Panji adalah metafora dari tokoh-tokoh sejarah Majapahit sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Raden Panji/Raden Mantri/Wanengpati/Raden Putra) = Hayam Wuruk,&lt;br /&gt;2. Ayahanda Panji raja Keling/Janggala/Koripan = Krtawarddhana alias Raden Cakradhara&lt;br /&gt;3. Ibunda Panji permaisuri raja Keling/Janggala/Koripan=Tribuwana Wijayottunggadewi, ibu Hayam Wuruk bergelar Bhre Kahuripan, penguasa Majapahit ke-3 ( 1328—1350 M)&lt;br /&gt;4. Raja Daha, paman Panji = Wijayarajasa alias Raden Kudamerta, paman Hayam Wuruk&lt;br /&gt;5. Permaisuri Raja Daha = Rajadewi Maharajasa, bibi Hayam Wuruk adik Tribhuwana, bergelar juga Bhre Daha.&lt;br /&gt;6. Dewi Sekar Taji/Candrakirana putri raja Daha = Indudewi, menurut Nagarakrtagama anak Rajadewi Maharajasa dengan Wijayarajasa, permaisuri Hayam Wuruk yang merupakan adik sepupunya. Menurut Pararaton putri ini berjuluk Paduka Śori (paduka parama + iśwari = permaisuri).&lt;br /&gt;7. Dewi Angréni = putri Sunda, dikenal juga dengan nama Dyah Pitaloka.&lt;br /&gt;8. Patih Kudanawarsa, ayahanda Dewi Angréni = Raja Sunda&lt;br /&gt;9. Raden Brajanata = Gajah Mada.&lt;br /&gt;10. Para Kadéyan = Mantri-mantri Majapahit antara lain Gajah Enggon, Pu Tanding, Pu Nala, Patih Dami dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kentaranya penyamaan tokoh-tokoh tersebut dan juga terdapat kedekatan uraian kisahnya, maka dapat dinyatakan bahwa kisah Panji Angréni Palembang yang telah dibahas oleh R. M. Ng. Poerbatjaraka (1968: 178—225), pada bagian awal hingga pertengahannya sangat sejajar dengan peristiwa sejarah yang dialami oleh Hayam Wuruk. Peristiwa itu adalah gagalnya perkawinan antara Hayam Wuruk (Panji) dengan Dyah Pitaloka (Dewi Angréni), padahal keduanya telah saling mencintai. Dalam hal ini Pararaton mencatat peristiwa peperangan di Bubat disebabkan oleh sikap keras Gajah Mada yang memerintahkan raja Sunda langsung menyerahkan putrinya ke kedaton Majapahit. Hal itu ditolak mentah-mentah hingga timbul tragedi di Bubat. Baik Pararaton maupun Kidung Sunda,  kedua sumber tertulis tersebut terus terang menyalahkan Gajah Mada yang tidak setuju jika Hayam Wuruk kawin dengan putri Sunda dalam upacara meriah dalam kondisi setara antara dua kerajaan merdeka. Gajah Mada menghendaki agar Putri Sunda dianggap sebagai persembahan kepada raja Majapahit. Oleh karena itu, ia harus diantar langsung ke keraton. Hayam Wuruk tidak perlu menjemput calon istrinya di Bubat, demikian pendapat Gajah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Panji Angréni Palembang menawarkan tafsir lain tentang latar belakang terjadinya peristiwa Bubat dalam tahun 1357 tersebut. Latar belakang peristiwa Bubat bukan ambisi politik Gajah Mada untuk menaklukkan Sunda yang belum bernaung di bawah panji-panji kebesaran Majapahit. Latar belakang itu hanya sederhana saja, yaitu masalah asmara dan untuk menjaga persatuan keluarga kerajaan Majapahit. Sejalan dengan uraian kisah Panji Angréni, ayah dan ibu Raden Panji tidak suka anaknya menikah dengan Angréni karena Panji tidak mau menikah dengan perempuan lain lagi, bahkan dengan Dewi Sekar Taji yang sudah ditunangkan sejak kecil. Apabila perkawinan Panji dengan Sekar Taji batal, hal itu akan membuat Raja dan permaisuri Daha (ayah dan ibu Sekar Taji marah) dan akibatnya akan menimbulkan perang antara kedua kerajaan tersebut. Oleh karena itu Raja dan Ratu Koripan (ayah dan ibu Panji) menyuruh Brajanata, anak raja Koripan dari selir untuk membunuh Dewi Angréni. Maksudnya jelas agar Panji terbebas dari cintanya kepada Angreni, dapat melupakan Angreni, dan pada akhirnya mau menikah dengan Dewi Sekar Taji, putri paman-bibinya yang telah dijodohkan sejak kanak-kanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah apabila diterapkan kepada kenyataan sejarah kehidupan Hayam Wuruk terdapat kesetaraan yang nyata dengan kisah Panji Angréni tersebut. Hayam Wuruk sebenarnya memilih dan jatuh cinta kepada Dyah Pitaloka putri raja Sunda. Berdasarkan namanya terbayangkan bahwa sang putri sangat cantik, bersih, berkulit kuning langsat, dan mungkin menyenangi busana dengan warna kuning, karena pitaloka berarti “dunia dalam nuansa kuning”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Sunda memang tidak sepopuler Majapahit dalam masanya. Oleh karena itu, raja Sunda hanya disamakan saja dengan patih Kudanawarsa dalam kisah Panji. Dalam sejarah perkawinan itu tidak jadi dilangsungkan, namun dalam Kisah Panji perkawinan itu terjadi antara putra mahkota Koripan dengan Dewi Angreni, anak Patih Kudanawarsa yang telah menghadap kepada raja Koripan. Raja Koripan semula setuju dengan pernikahan Raden Panji dengan Dewi Angreni, namun setelah mendengar kabar bahwa Panji tidak mau menikah lagi dengan siapa pun, maka raja memerintahkan Brajanata untuk membunuh Angréni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sementara itu baginda radja sedang duduk-duduk dengan Bradjanata; mereka lama menunggu kedatangan Pandji. Baginda memerintahkan kepada Bradjanata untuk membunuh Angréni, apabila Pandji tidak ada di dekatnya…” (Poerbatjaraka 1968: 183).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dapat ditafsirkan bahwa dalam peristiwa sejarah sebenarnya Gajah Mada (Brajanata) sangat mungkin disuruh oleh ayahanda Hayam Wuruk, Krtawarddhana suami Tribhuwanottunggadewi yang disebut sebagai penguasa Kahuripan. Krtawarddhana agaknya mendesak Gajah Mada agar dengan berbagai alasan untuk membatalkan pernikahan Hayam Wuruk dengan Putri Sunda. Dapat ditafsirkan bahwa apabila terjadi pernikahan Hayam Wuruk dengan putri Sunda, maka putri Sunda akan menjadi permaisuri Rajasanagara,  sebagaimana yang diinginkan oleh Raja Sunda dan para pengiringnya. Mereka minta Hayam Wuruk menjemput mempelainya di lapangan Bubat, tempat orang-orang Sunda membuka perkemahan, bukan pihak Sunda yang mengantarkannya ke istana Majapahit. Sebab sebagaimana telah dikemukakan, apabila diantarkan ke istana berarti puteri persembahan dan hanya akan dijadikan istri selirnya Hayam Wuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan perkembangan tersebut Krtawarddhana ayahanda Hayam Wuruk merasa berkeberatan. Agaknya sebagai anggota keluarga besar istana Majapahit keturunan Raden Wijaya, ia beserta isitrinya, Tribhuwana Wijayottunggadewi telah berjanji untuk menjodohkan Hayam Wuruk dengan Indudewi, anak Rajadewi Maharajasa adik Tribuwana yang berkedudukan di Daha (Kadiri) didampingi suaminya Wijayarajasa. Andaikata terjadi perkawinan antara Rajasanagara dengan Dyah Pitaloka, maka Indudewi hanya akan menjadi selir, dan pasti keluarga Daha menolak ingá pada akhirnya akan terjadi perpecahan keluarga dan konflik pun timbul di Majapahit yang sedang berada di puncak kejayaannya. Oleh karena Krtawarddhana --sangat mungkin telah disetujui oleh Tribuwanottunggadewi--  segera meminta Gajah Mada agar mengajukan alasan yang membuat pihak raja Sunda mau menerima syarat dari pihak Majapahit atau kalau tidak, akan dipaksa dengan kekerasan agar pihak Sunda menyerahkan putri Dyah Pitaloka ke istana Majapahit.  Dalam hal situasi tersebut Rajasanagara tidak mengetahuinya, ia tetap bersemayam di istananya tanpa mengetahui perkembangan dan ketegangan di Bubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya desakan dari Krtawarddhana dan Tribhuwanottunggadewi kepada Gajah Mada untuk membatalkan perkawinan Hayam Wuruk dengan putri Sunda, adalah sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh umum. Masyarakat luas, pejabat tinggi Majapahit dan pihak Sunda sendiri pastinya menduga bahwa yang mempunyai niat untuk membatalkan perkawinan dalam tataran raja dan permaisuri itu adalah Gajah Mada.  Demikianlah berdasarkan uraian dari kisah Panji mengemuka tafsiran baru tentang biang keladi terjadinya peristiwa Bubat, peristiwa Bubat terjadi akibat keinginan ayah dan ibu Hayam Wuruk sendiri, bukan karena ulah Gajah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dipahami sekarang bahwa Gajah Mada hanya melaksanakan perintah orang tua Hayam Wuruk yang tidak setuju jika Raja Majapahit yang masih muda itu menikah dengan putri Sunda. Gajah Mada yang semula setuju rajanya menikah dengan putri Sunda, bahkan merancang undangan dan kedatangan orang-orang Sunda di Bubat; mau tidak mau menjadi tidak setuju dan mengajukan alasan-alasan agar putri Sunda diantarkan langsung ke istana Majapahit. Gajah Mada hanya perpanjangan tangan orang tua Hayam Wuruk yang khawatir kedudukan permaisuri Majapahit jatuh ke tangan Dyah Pitaloka, padahal mereka telah bersepakat untuk menikahkan Hayam Wuruk dengan Indudewi, putri dari Rajadewi Mahārajasa adik Tribhuwanottunggadewī.  Dalam interpretasi ini alasan terjadinya peristiwa Bubat bukan ambisi pribadi Gajah Mada untuk membuktikan Sumpah Palapanya, alasan itu begitu logis dalam ranah domestic institution, yaitu masalah asmara dan perjodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Gajah Mada juga manusia yang mempunyai banyak kelemahan, ia tertekan dan tidak tidak berdaya melawan perintah orang-orang yang dimuliakannya, padahal kewiraan dirinya sebagai patih amangkubhumi Majapahit waktu itu sedang berada di puncak kejayaannya. Kedatangan rombongan patih Sunda ke Pakuwon Kepatihan Gajah Mada untuk melaporkan bahwa rombongan raja dan putri Sunda telah tiba di Bubat, menunjukkan bahwa Gajah Mada sejak awal memang menyetujui pernikahan Hayam Wuruk dengan Putri Sunda. Mungkin dalam pikiran Gajah Mada jika Majapahit dan Sunda dipersatukan dalam ikatan perkawinan justru akan lebih membawa kejayaan Majapahit, sebagaimana yang dicita-citakannya. Mungkin juga Gajah Mada hingga waktu itu tidak mengetahui adanya pertunangan antarkeluarga istana Majapahit untuk menikahkan Hayam Wuruk dengan Indudewi (Paduka Sori). Mungkin Gajah Mada terkejut mendapat perintah dari Krtawarddhana untuk membatalkan pernikahan Hayam Wuruk dengan Putri Sunda. Justru yang diharapkan Gajah Mada adalah putri Sunda itu sebagai permaisuri Hayam Wuruk, agar Majapahit dan Sunda bersatu. Gambaran kebimbangan dirinya dalam menghadapi situasi yang berada di luar kendalinya itu digambarkan secara baik lewat sosok Brajanata dalam kisah Panji Angréni. Perhatikan kutipan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bradjanata berkata: ‘Nah, aku dapat perintah membunuh tuan’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angreni dengan sangat minta pendjelasan mengapa. Djawab Bradjanata: ‘Baginda radja berpikir demikian: selama tuan hidup, Pandji tidak akan pernah mau kawin dengan puteri Kadiri. Itulah sebabnja tuan harus dibunuh’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘O, begitu’, djawab Angreni. ‘Tapi saja selalu berdoa, apabila sedang chusjuk sembahjang, semoga perkawinan suamiku dengan puteri Kadiri bisa berlangsung. Di dunia ini maupun di achirat kelak, aku tidak keberatan sesuatu apapun; dan kini ternjata bahwa hidupku mendjadi rintangan bagi perkawinannja itu. Djika demikian, wahai tuan pangeran, segeralah bunuh aku’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bradjanata: ‘Sekiranja mungkin, ingin aku menjembunjikan tuan sampai berlangsung perkawinan Pandji dengan puteri Kadiri. Kemudian aku akan katakan kepada Pandji bagaimana duduknja perkara, sehingga ia dapat membawa tuan kepada puteri Kadiri dan dengan demikian tuan dapat tinggal terus bersamanja’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angreni menangis dengan sedih, bukan karena takut mati, tapi kerena tjintanja jang besar kepada suaminja. Air mata meleleh di pipinja dan mengalir di atas dadanja. Disapunja air matanja itu dengan badju suaminja, jang dipakainja sebagai selendang. Achirnja ia bertanja kepada Bradjanata: ‘Katakanlah, dimanakah saudara tuan, suamiku, wahai pangeran? Aduhai, dimanakah engkau, suamiku jang tertjinta?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bradjanata mendjawab dengan bertjutjuran air mata: ‘Ia pergi ke Putjangan, dipanggil oleh bibinja. Sesudah itu aku mendapat perintah dari baginda radja untuk membunuh tuan’. Sambil mengeringkan air matanja Bradjanata meneruskan lagi: ‘Kalau aku tidak mengerdjakan perintah radja, aku akan kena kutukannja; dan aku takut kena kutukan’.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Setelah mengutjapkan beberapa kata perpisahan jang mengharukan kepada Pandji jang tidak hadir, ia pun berkata kepada Bradjanata: ‘Nah tuanku pangeran, ambillah njawaku, aku kuatir saudara tuan (Pandji) sudah dalam perdjalanan pulang’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bradjanata segera memberi perintah kepada Kebotendas untuk mendjalankan hukuman itu; Angreni dikeris (Poerbatjaraka, 1968: 183—185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata benar bahwa kisah Panji Angreni adalah representasi dari peristiwa gagalnya perkawinan Hayam Wuruk dengan Putri Sunda. Maka jelaslah bahwa Gajah Mada tidak bertanggung jawab atas meninggalnya puteri Sunda,  ia hanya pejabat tinggi yang melaksanakan perintah raja. Ia tidak bermaksud menggagalkan perkawinan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka, namun kedua orang tua Hayam Wuruk-lah yang menghendaki batalnya perkawinan itu, demi keutuhan keluarga istana Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sejarah telah terjadi, peristiwa Bubat akhirnya pecah, Hayam Wuruk meratapi kematian Dyah Pitaloka, kemudian dia banyak melakukan perjalanan keliling Jawa Timur. Mungkin untuk menghibur hatinya yang terluka akibat tidak terkabul bersanding dengan putri Sunda. Hayam Wuruk menerima putri pilihan orang tuanya, yaitu Indudewi sepupunya, anak paman dan bibinya (Wijayarajasa dan Rajadewi Maharajasa). Dalam cerita Panji dinyatakan bahwa roh Angréni akhirnya memasuki tubuh Dewi Sekar Taji, sehingga kecantikan kedua putri itu menjadi satu. Oleh karena keindahannya bagaikan sinar bulan, Dewi Sekartaji selanjutnya dinamakan Candra Kirana. Uraian itu seakan-akan memberi legitimasi agar Hayam Wuruk tidak perlu bersedih, karena kecantikan Putri Sunda Dyah Pitaloka telah berpadu dengan Indudewi yang sekarang menjadi permaisurinya (Paduka Śori).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah Mada sebagai abdi negara Majapahit mendapat getahnya sampai sekarang, ia selalu dihujat bahwa sebagai patih amangkubhumi Majapahit yang digjaya, di akhir kariernya justru kejeblos dalam peristiwa Bubat yang tidak populer itu. Bahkan menurut Kidung Sunda, Gajah Mada akhirnya dibenci oleh keluarga istana Majapahit karena telah menggagalkan pernikahan agung Rajasanagara. Akhir kehidupan Gajah Mada melenyap dalam uraian ketidakpastian karena ia malu dengan pecahnya tragedi Bubat. Gajah Mada dikagumi pada masa muda dan kejayaannya dalam berkarier, namun menjelang hari tuanya justru namanya tidak cemerlang lagi. Gajah Mada tak ubahnya diri kita yang juga manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PUSTAKA ACUAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hardjowardojo, Pitono, 1965. &lt;em&gt;Pararaton&lt;/em&gt;. Djakarta: Bhratara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munandar, Agus Aris, 2009. &lt;em&gt;Gajah Mada: Kuasa, Cita-cita, dan Prahara&lt;/em&gt;. Bogor: Akademia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------, 2005. “Bingkai Sejarah yang Menjadi Acuan Kisah Panji”, makalah  dalam Seminar Internasional Jawa Kuna: Mengenang Jasa-jasa Prof.Dr. P. J. Zoetmulder S. J. Kajian Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Kuna. Diselenggarakan oleh Program Studi Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 8—9 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noorduyn, J. &amp;amp; Teeuw, 2009. &lt;em&gt;Tiga Pesona Sunda Kuno&lt;/em&gt;. Diterjemahkan oleh Hawé Setiawan, Tien Wartini dan Undang A.Darsa. Jakarta: Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poerbatjaraka, R. M. Ng., 1968.  &lt;em&gt;Tjerita Pandji dalam Perbandingan&lt;/em&gt;. Diterdjemahkan oleh Zuber Usman dan H.B.Jassin. Djakarta: Gunung Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;*Makalah, disampaikan pada DIALOG BUDAYA SEKITAR PERANG BUBAT, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Bandung, Rabu, 21 Oktober 2009&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;(lihat pula &lt;a href="http://warnaindonesia.com/"&gt;warnaindonesia.com&lt;/a&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-6830750187907427837?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/6830750187907427837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/07/gajah-mada-dan-perang-bubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6830750187907427837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6830750187907427837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/07/gajah-mada-dan-perang-bubat.html' title='Gajah Mada dan Perang Bubat'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5308968762403442727</id><published>2010-07-22T18:08:00.002+07:00</published><updated>2010-07-22T18:14:27.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doktor'/><title type='text'>Promosi Doktor Arkeologi Tinia Budiati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;PEMBANGUNAN KOTA PERHATIKAN BUDAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan kota, termasuk Kota Tarakan di Kalimantan Timur, harus memerhatikan warisan budaya. Langkah ini penting agar kota tidak kehilangan identitasnya. Khusus untuk Kota Tarakan, pemeliharaan warisan budaya ini penting agar Tarakan tidak kehilangan identitasnya sebagai kota pertambangan minyak bumi terbesar di Indonesia pada zaman penjajahan Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dikemukakan Tinia Budiati pada sidang promosi doktor dalam bidang Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Arkeologi di Universitas Indonesia, Selasa (20/7) di Depok, Jawa Barat. Tinia Budiati dalam disertasinya-dengan promotor Prof Dr Nurhadi Magetsari dan Ko-Promotor Dr Wiwin Djuwita Ramelan-melakukan penelitian mendalam tentang "Perkembangan Kota Tarakan: Sebuah Kajian Arkeologi Sejarah bagi Manajemen Sumber Daya Manusia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tinia, harus ada nilai sejarah dari Kota Tarakan yang dapat diangkat sebagai kebanggaan daerahnya. Nilai-nilai positif yang dikandung Tarakan akan mengangkat harga diri kota yang pada akhirnya menggugah rasa nasionalisme. "Pemerintah dan masyarakat Kota Tarakan memiliki tanggung jawab bersama untuk mengangkat nilai tersebut," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan situs dan bangunan di Tarakan, ujar Tinia, terkonsentrasi pada beberapa wilayah, yakni kawasan Juata Laut, kawasan Tarakan kota, kawasan Karungan, dan kawasan Pantai Amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sidang akademik yang dipimpin Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Dr Bambang Wibawarta serta penguji Dr Irmawati M Johan, Dr Supratikno Rahardjo, Dr Kresno Yulianto, dan Dr Erwiza Erman, yudisium Tinia dinyatakan sangat memuaskan. (NAL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kompas, Rabu, 21 Juli 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5308968762403442727?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5308968762403442727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/07/promosi-doktor-arkeologi-tinia-budiati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5308968762403442727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5308968762403442727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/07/promosi-doktor-arkeologi-tinia-budiati.html' title='Promosi Doktor Arkeologi Tinia Budiati'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-4017375530374662006</id><published>2010-07-19T04:10:00.004+07:00</published><updated>2010-07-19T04:17:57.411+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Animasi Tertua Ditemukan di Iran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://hurahura.files.wordpress.com/2010/07/anima.jpg"&gt;&lt;img src="http://hurahura.files.wordpress.com/2010/07/anima.jpg?w=300" alt="" title="anima" class="alignleft size-medium wp-image-1565" height="199" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Selama ini animasi dianggap sebagai penemuan modern, sehingga banyak orang yang keliru mengenai usia animasi sebenarnya. Sebuah mangkuk yang berusia  5.200 tahun telah ditemukan  di kota Burnt, Iran  di tahun 1970-an memiliki serangkaian lima gambar yang baru-baru ini diidentifikasi sebagai gambar sekuensial, seperti yang banyak di jumpai pada sebuah zoetrope.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mangkuk tersebut diputar, kita akan melihat sebuah gerakan kambing melompat untuk merebut daun dari pohon, seperti yang terlihat di klip video di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://hurahura.files.wordpress.com/2010/07/kambing.gif"&gt;&lt;img src="http://hurahura.files.wordpress.com/2010/07/kambing.gif?w=300" alt="" title="kambing" class="alignleft size-medium wp-image-1557" height="225" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a target="_blank" title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img146.imageshack.us/i/kambing.gif/"&gt;&lt;img src="http://img146.imageshack.us/img146/9800/kambing.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penemuan berharga tersebut berasal  dari situs pemakaman oleh arkeolog Italia, yang tidak menyadari kegunaan gambar-gambar yang menghiasi mangkuk tersebut. Hal tersebut baru di temukan 2 tahun kemudian oleh arkeolog Iran Dr Mansur Sadjadi, yang kemudian diikutkan untuk mengarahkan penggalian Kota Burnt, yang terletak 57 kilometer dari kota Zabol di sebelah tenggara provinsi Iran Sistan-Baluchestan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun belum ada yang mempertanyakan contoh animasi awal, para peneliti telah mempunyai beberapa pendapat atas arti sesungguhnya dari karya seni mangkuk gerabah itu. Awalnya arkeolog sepakat bahwa mangkok tersebut  menggambarkan kambing yang sedang makan dari Pohon Kehidupan Asiria, tetapi sekarang arkeolog menegaskan bahwa mangkok tersebut mendahului peradaban Asiria selama seribu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi Budaya, Pariwisata dan Kerajinan Tangan Iran  (CHTHO) telah membuat sebuah film dokumenter 11 menit terhadap penemuan itu, yang dipimpin oleh  Mohsen Ramezani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(animationmagazine.net)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-4017375530374662006?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/4017375530374662006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/07/animasi-tertua-ditemukan-di-iran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4017375530374662006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4017375530374662006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/07/animasi-tertua-ditemukan-di-iran.html' title='Animasi Tertua Ditemukan di Iran'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3702297660905634120</id><published>2010-06-28T16:02:00.003+07:00</published><updated>2010-06-28T16:10:03.850+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>RP SOEJONO, Dialah Ahli Prasejarah Indonesia Pertama</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/TChlsqwiFyI/AAAAAAAAApE/W7zALmF0lSE/s1600/Om-Jon.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 296px; height: 148px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/TChlsqwiFyI/AAAAAAAAApE/W7zALmF0lSE/s320/Om-Jon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5487747964017448738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Langkahnya begitu pelan, mendaki satu per satu anak tangga di Gedung Pusat Penelitian Arkeologi  Nasional (Pustlit Arkenas), Jalan Raya Condet Pejaten, Nomor 4, Jakarta Selatan, Rabu (23/6/2010). Tangan kanannya memegang pagar tangga, sedangkan tangan kirinya menggenggam tongkat. Sejenak dia berhenti, tetapi terus melangkah lagi menuju kantornya di lantai dua, tepat di depan tangga. Hanya langkah lambat itu yang menandai usia menggerogoti fisik  RP Soejono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RP Soejono adalah salah satu arkeolog Indonesia pertama. Bahkan, pria kelahiran Mojokerto, 27 November 1926, itu adalah pakar prasejarah pertama negeri ini. Meski usianya sepuh, dia tidak memiliki penyakit degeneratif. Justru pada hari tuanya dia tetap sibuk, seperti menulis artikel dan memeriksa disertasi mahasiswa dari dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejadian lucu soal memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang tengah menyusun disertasi. Mahasiswa itu berasal dari Malaysia. Untuk membimbing calon doktor seperti itu, Soejono sebagai pembimbing mendapat honor Rp 400.000 per mahasiswa. Nah, pembayaran dari Malaysia ternyata melalui bank yang tidak ada cabangnya di Indonesia. Alhasil, kiriman itu pun tidak sampai ke tangan Soejono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak tahu kiriman uang itu sampai di mana. Saya juga tidak menagih. Entah kapan persisnya, saya sudah lupa," kata Soejono di ruang kerjanya yang penuh berisi buku dan disertasi para mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai profesor prasejarah, Soejono membimbing banyak calon doktor dari berbagai negara. Dulu, dia membimbing mahasiswa, antara lain dari Perancis, Belanda, Australia, Amerika Serikat, India, Jepang, Malaysia, dan Indonesia. Semasa aktif, Soejono mengajar di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, dan beberapa universitas lainnya. Sekarang, dia hanya membimbing satu kandidat doktor dari Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada dua lagi dari Malaysia, tetapi saya tolak," ujar Soejono. Dia menolak karena usianya terus meninggi dan fisiknya tidak sekuat dulu lagi. Padahal, sampai masa pensiun usia 65 tahun di Puslit Arkenas, Soejono masih aktif mengunjungi situs, termasuk mendatangi situs-situs yang berada di perbukitan atau pegunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mahasiswa ingin melanjutkan studi mengenai Indonesia sebaiknya mengambil kuliah di dalam negeri, bukan di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidup mantan Kepala Puslit Arkenas itu penuh warna. Dia berpindah kota mengikuti ayahnya, Soeroso, dulu anggota Volksraad pada zaman Belanda dan Residen Kedu. Sekolahnya pun berantakan karena zaman bergolak. Namun, dia lancar berbahasa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Soejono berusia 19 tahun, di daerah Malang, Jawa Timur, dia ditangkap Belanda. Dia dijebloskan ke dalam bui sebesar lemari pakaian berukuran sempit dan gelap. Namun, tentara Belanda yang menangkapnya bingung karena Soejono pandai berbahasa Belanda. Tentara tersebut akhirnya membebaskan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentara Belanda itu menganggap saya mungkin orang penting sehingga tidak berani membunuh saya. Saya pun selamat. That was the best year of our life," kata Soejono mengenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai arkeolog senior, Soejono mengalami masa awal tumbuhnya arkeologi di Indonesia. Dari bangsa Belanda, bangsa Indonesia mengenal arkeologi dan memiliki arkeolog. Dia memilih spesialisasi prasejarah karena ketika itu tidak ada yang mengambil spesialisasi tersebut. R Soekmono dan Satyawati Suleiman mengambil spesialisasi klasik, sedangkan Boechari mendalami studi epigrafi. Alhasil, hanya dia yang menjadi murid HR van Heekeren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enaknya, karena belum banyak teori tentang prasejarah Indonesia, saya tinggal bikin teori sendiri," kata suami Hangarini Ambaroekmi Vascayati itu sembari terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, Soejono menilai bagi mahasiswa ingin melanjutkan studi mengenai Indonesia sebaiknya mengambil kuliah di dalam negeri, bukan di luar negeri. Alasannya, rakyat Indonesia lebih tahu perihal bangsanya sendiri. Biarkan saja bangsa asing yang sibuk berdatangan ke Indonesia untuk mempelajari betapa kayanya negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akarnya ada di sini. Mengapa tidak mempelajari dari akarnya langsung di sini," katanya singkat. Dia mencontohkan, disertasinya pada Juni 1977 tentang "Sistem- Sistem Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali mengenai situs Gilimanuk" masih dapat diperbaiki oleh peneliti selanjutnya. Bukan berarti semua obyek yang sudah menjadi skripsi, tesis, dan disertasi tidak dapat digugat lagi. Justru penelitian tentang obyek tersebut harus terus dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Situs Gilimanuk sangat luas dan perlu penelitian lebih lanjut. Apalagi situs lain di Indonesia," imbuh penerima gelar doctor honoris causa dari Universite d’Aix Marseille II itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, meski sekarang banyak arkeolog muda dan ilmu arkeologi tidak lagi hanya dipelajari segelintir orang, tetap saja banyak kepurbakalaan di Nusantara yang perlu penelitian lebih lanjut. Kepurbakalaan di Indonesia timur, misalnya. Belum lagi menguak secara lebih menyeluruh dari aneka obyek arkeologi yang pernah diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Negeri ini membutuhkan banyak arkeolog," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak ingin arkeologi Indonesia lebih dipahami bangsa asing. Apalagi jika bangsa lain menguasai kepurbakalaan Indonesia. Dia tidak memungkiri ada banyak tesis dan disertasi karya orang asing yang mengambil obyek Indonesia. Namun, akan lebih menggembirakan jika orang Indonesia sendiri yang menguasai, memahami, mengembangkan, dan memperkenalkannya kepada dunia internasional. Terutama karena Indonesia begitu heterogen dalam berbagai hal. Setiap daerah memiliki suku bangsa, bahasa, makanan, bentuk rumah, tradisi, dan pakaian khas yang berlainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak bangsa yang memiliki sejarah begitu kaya dan lengkap. Indonesia sangat beruntung karena memilikinya. Lihat saja, Indonesia memiliki manusia purba. Kepurbakalaan klasik Hindu-Buddha begitu banyak. Borobudur hanya satu-satunya di dunia ini. Coba cari, apa ada yang mirip dengannya? Bayangkan jika Indonesia tidak memiliki kekayaan tersebut. Mungkin akan mengaku-aku kekayaan bangsa lain," urainya penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan arkeologi bagi Indonesia ini adalah memberikan kebanggaan bahwa bangsa ini begitu besar. Tugas arkeolog adalah terus menguak betapa rakyat Indonesia senantiasa terlibat dalam perkembangan sejarah bangsa dan negaranya. Bahkan, sejarah bangsa ini selalu terkait dengan perjalanan sejarah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam setiap periode sejarah, rakyat dan pemimpin bangsa bersatu. Namun, kini pemimpin jauh dari bangsanya sendiri. Mereka hidup dalam dunia lain. Mengabaikan rakyatnya. Menyedihkan. Kalau tahu akan begini, mungkin para pejuang kemerdekaan akan sedih. Untuk apa mereka meraih kemerdekaan? Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju kemakmuran. Sayangnya, para pemimpin lebih senang menggerogoti emas jembatan tersebut sehingga jembatannya runtuh dan kemakmuran semakin jauh," katanya. (Ida Setyorini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Kompas, Senin, 28 Juni 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3702297660905634120?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3702297660905634120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/06/rp-soejono-dialah-ahli-prasejarah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3702297660905634120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3702297660905634120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/06/rp-soejono-dialah-ahli-prasejarah.html' title='RP SOEJONO, Dialah Ahli Prasejarah Indonesia Pertama'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/TChlsqwiFyI/AAAAAAAAApE/W7zALmF0lSE/s72-c/Om-Jon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-1292152546859625862</id><published>2010-04-14T08:59:00.005+07:00</published><updated>2010-04-14T09:15:34.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Publikasi'/><title type='text'>Varuna, Jurnal Arkeologi Bawah Air</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S8UiXMmz0dI/AAAAAAAAAoE/hRyPwnrntko/s1600/varuna-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 210px; height: 251px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S8UiXMmz0dI/AAAAAAAAAoE/hRyPwnrntko/s320/varuna-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459807905172935122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sesungguhnya potensi peninggalan bawah air di Indonesia sangat kaya. Ini karena secara geografis wilayah Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera, sehingga menjadi jalur transportasi internasional sejak zaman dulu. Untuk itu pemerintah, melalui Direktorat Peninggalan Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, secara bertahap dan berkesinambungan melakukan berbagai upaya untuk perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya. Salah satu upaya tersebut adalah dengan memublikasikan berbagai informasi dan kegiatan berkenaan dengan pelestarian peninggalan bawah air melalui Varuna, Jurnal Arkeologi Bawah Air. Dengan adanya jurnal ini diharapkan dunia arkeologi bawah air bisa terkuak dan mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah serta dikenal luas oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varuna, Jurnal Arkeologi Bawah Air, ini dimaksudkan sebagai salah satu media komunikasi di bidang arkeologi, terutama dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang arkeologi bawah air. Selain itu melalui Jurnal ini diharapkan seluruh kegiatan pada Direktorat Peninggalan Bawah Air dapat disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat luas, sehingga mendapat respons positif dan konstruktif untuk peningkatan kegiatan pengelolaan cagar budaya bawah air di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S8Ui-_rRdYI/AAAAAAAAAok/OILkFyHF3MQ/s1600/varuna-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 249px; height: 324px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S8Ui-_rRdYI/AAAAAAAAAok/OILkFyHF3MQ/s320/varuna-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459808588896761218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S8Ui-dmik8I/AAAAAAAAAoc/dNr7zVZm8L4/s1600/varuna-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 248px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S8Ui-dmik8I/AAAAAAAAAoc/dNr7zVZm8L4/s320/varuna-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459808579750106050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-1292152546859625862?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/1292152546859625862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/04/varuna-jurnal-arkeologi-bawah-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1292152546859625862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1292152546859625862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/04/varuna-jurnal-arkeologi-bawah-air.html' title='Varuna, Jurnal Arkeologi Bawah Air'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S8UiXMmz0dI/AAAAAAAAAoE/hRyPwnrntko/s72-c/varuna-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-9178834626971895673</id><published>2010-03-21T14:47:00.005+07:00</published><updated>2010-03-21T15:05:43.560+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Maritim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ABA'/><title type='text'>Seputar Arkeologi Bawah Air</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan berdasarkan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh manusia, baik di darat maupun di dalam air. Tinggalan arkeologi tidak hanya menunjuk pada budaya bendawi yang ditinggalkan manusia dari masa lalu, melainkan pula untuk semua jejak di luar budaya bendawi yang menunjukkan sisa-sisa aktivitas manusia. Biji padi, arang, tulang-tulang binatang, dan sisa-sisa makanan dapat disebut sebagai tinggalan arkeologi. Yang demikian itu dikenal dengan istilah ekofak. Demikian pula lubang-lubang di tanah yang tercipta karena aktivitas manusia dapat dikategorikan tinggalan arkeologi. Yang demikian itu dikenal dengan istilah fitur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalan arkeologi merupakan data utama bagi arkeolog untuk menafsirkan kebudayaan. Dari data itulah arkeolog bisa merangkai cerita tentang kebudayaan manusia, baik cerita tentang sejarah kebudayaan, rekonstruksi cara-cara hidup, maupun proses perubahan kebudayaan. Bidang arkeologi yang mempelajari data arkeologi yang berada di bawah air (seperti laut, sungai, danau, dan rawa) disebut arkeologi bawah air. Arkeologi bawah air merupakan bagian dari Maritim Arkeologi—suatu ilmu yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain istilah arkeologi bawah air (underwater archaeology) itu ada pula istilah-istilah lain yang lebih spesifik, sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nautical archaeology. Studi yang mempelajari teknologi kelautan (kapal, perahu, dan lain2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riverine Archaeology. Studi tentang artefak pada lalulintas sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Submerged Site Archaeology. Studi yang mempelajari situs yang tergenang air akibat turunnya muka tanah atau naiknya permukaan air (di darat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Water Saturated Sites. Studi yang mempelajari artefak di rawa-rawa, paya2, dan situs tanah berair lainnya yang terbentuk karena perubahan pada permukaan air karena perubahan alam atau ulah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;APA SAJA OBJEK PENELITIAN ARKEOLOGI BAWAH AIR?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memperhatikan ragam pengertian di atas, maka objek penelitian arkeologi bawah air bisa beragam. Akan tetapi yang paling sering menjadi fokus adalah: kapal tenggelam (shipwreck), benda muatan kapal tenggelam (BMKT), lingkungan bawah air yang signifikan terhadap perkembangan kebudayaan (misal sungai-sungai purba dasar laut, dan segala benda jejak manusia yang tenggelam di dasar laut (wreck).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara objek itu, yang paling menyita perhatian banyak pihak dan publik adalah BMKT karena sangat berharga secara ekonomi sehingga banyak diburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS BMKT?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua warga negara Indonesia tentu bertanggung jawab serta berhak mengambil manfaat dari BMKT. Namun, berdasarkan kebijakan yang ada hingga sekarang, BMKT yang masuk kategori BCB dan atau diduga BCB penguasaan/pemanfaatan/pelestarian-nya dikuasai negara. Berikut adalah daftar kebijakan terkait dengan kuasa dan akses pemerintah atas BMKT yang merupakan kebijakan terumit tentang warisan budaya bawah air yang ada di muka bumi ini karena melibatkan belasan departemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pasal 4 Ayat (1) UUD 45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- UU 17/1985 tentang pengesahan konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- UU 5/1992 tentang BCB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- PP 10/1993 tentang pelaksanaan BCB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- UU 9/1990 tentang Kepariwisataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- UU 17/2008 tentang Pelayaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- UU 6/1996 tentang Perairan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- UU 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- PP 6/2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kepres 19/2007 tentang Pannas BMKT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan perundangan itu CUKUP KOMPREHENSIP, tetapi menjadi SANGAT RUMIT dalam pelaksanaannya karena lembaga-lembaga yang terlibat umumnya hanya bersikukuh dengan peraturan yang dikeluarkan dan mendukung departemennya masing-masing. Dikeluarkannya Kepres 19/2007 tentang Panitia Nasional BMKT belum mampu mengatasi masalah koordinasi ini. Barangkali maslahnya karena tupoksi masing-masing departemen jumbuh sehingga seolah saling berebut kekuasaan dan pekerjaan. Jika Kepres 19/2007 benar-benar dipahami dan dijalankan dengan baik oleh para pihak yang terlibat, sesungguhnya masalah koordinasi ini optimis akan berjalan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PILIHAN PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN KAPAL TENGGELAM/BMKT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, membiarkan/mengembalikan kepada kondisi awal agar dapat diketahui nilai-nilai asli yang dikandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengambil barang berharga muatan kapal tenggelam untuk dijual/kepentingan lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, memperbaiki kondisi yang ada agar dapat diapresiasi oleh pengamat pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menyiapkan setting baru agar dapat mengapresiasikan dirinya sesuai dengan jamannya (misal membuat duplikasi, terumbu karang buatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, mengintegrasikan ke dalam sumberdaya lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa arkeolog perlu menyelami bawah air?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lama perairan Indonesia menjadi ladang subur perburuan liar harta karun. Penyelam tradisional dan nelayan lokal sering melakukan pengambilan benda-benda antik dari dasar laut. Lalu berbagai sindikat internasional ikut terlibat di dalamnya dengan mempergunakan peralatan yang canggih. Penjarahan ribuan potong keramik antik dan bermacam jenis harta karun dari kapal der Geldermalsen di Perairan Riau dan kapal Flor de Mar di Selat Malaka pada 1980-an, membuka lembaran hitam dunia arkeologi bawah air (ABA) Indonesia. Selain kehilangan data sejarah penting, kita pun harus merelakan kekayaan bernilai jutaan dolar itu terbang ke kantong penjahat. Pengambilan barang-barang antik dari dalam laut, anehnya, tetap saja berlangsung di perairan Indonesia (Susantio, 2006). Lalu di mana para arkeolog?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin segar sudah mulai berhembus, baik dari departemen pemerintah maupun akademisi. Di UI dan UGM, arkeologi bawah air sudah masuk pada kurikulum wajib. Ruang lingkup mata kuliah ini lebih dikhususkan kepada semua materi peninggalan budaya yang tenggelam atau berada di bawah air, misalnya kapal beserta muatannya yang karam, struktur benteng, gerabah, keramik, bekas kota yang tenggelam di dasar sumur, sungai, danau maupun laut (Mundarjito, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kurikulum di perguruan tinggi tidak bisa mengakomodasi rekan-rekan yang benar-benar ingin menyelam, bukan hanya menguasai teori (asal omong). Untuk itu rekan-rekan mahasiswa perlu mencari sendiri sertifikat yang disyaratkan untuk menjadi arkeolog bawah air. Persyaratan minimal adalah Two Star. Berikut ini adalah standar diklat selam yang harus dilalui arkeolog sesuai standar POSSI dan CMAS.&lt;br /&gt;STANDAR DIKLAT SELAM 1 (One) STAR DIVER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Peserta Diklat (umum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Formulir Pendaftaran&lt;br /&gt;2. Pernyataan riwayat kesehatan&lt;br /&gt;3. Pernyataan mengerti akan standar keamanan penyelaman&lt;br /&gt;4. Pernyataan tanggung jawab dan menerima resiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Dasar Diklat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peserta diklat wajib hadir dan mengikuti penuh seluruh program Pengetahuan Akademis Penyelaman (PAP)&lt;br /&gt;2. Peserta Diklat wajib mengikuti ketrampilan kolam dan latihan penyelaman dalam program Latihan Perairan Terbuka (LPT)&lt;br /&gt;3. Peserta Diklat wajib mengikuti latihan penyelaman perairan terbuka minimum 12 meter (40 feet) dan maksimum 18 meter (60 feet)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualifikasi Kemampuan dan Sertifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peserta Diklat wajib mengikuti evaluasi kemampuan praktek (ketrampilan) setelah mengikuti seluruh pelajaran teknik ketrampilan selam yang dilakukan pengajar instruktur CMAS yang bertanggung jawab, setelah seluruh pelajaran LPT diberikan.&lt;br /&gt;2. Peserta wajib mengikuti evaluasi (ujian) tertulis yang dilakukan pengajar instruktur CMAS yang bertanggung jawab, setelah seluruh pelajaran PAP diberikan.&lt;br /&gt;3. Kualifikasi kemampuan ditentukan sesuai hasil yang dicapai pada sasaran pelajaran dan evaluasi yang diikuti dengan batas nilai kelulusan 75 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah jam pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengetahuan Akademis Penyelaman: 18 Jam Pelajaran&lt;br /&gt;2. Latihan Ketrampilan Kolam: 15 Jam Pelajaran&lt;br /&gt;3. Latihan Perairan Terbuka: 15 Jam Pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR DIKLAT SELAM 2 (Two) STAR DIVER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Peserta Diklat (umum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Formulir Pendaftaran&lt;br /&gt;2. Pernyataan riwayat kesehatan&lt;br /&gt;3. Pernyataan mengerti akan standar keamanan penyelaman&lt;br /&gt;4. Pernyataan tanggung jawab dan menerima resiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Dasar Diklat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peserta diklat wajib hadir dan mengikuti penuh seluruh program Pengetahuan Akademis Penyelaman (PAP)&lt;br /&gt;2. Peserta Diklat wajib mengikuti ketrampilan kolam dan latihan penyelaman dalam program Latihan Perairan Terbuka (LPT)&lt;br /&gt;3. Peserta Diklat wajib mengikuti pengenalan spesialisasi selam (Navigasi Bawah Air, Penyelaman Dalam, dan Penyelaman Malam)&lt;br /&gt;4. Peserta Diklat wajib mengikuti pengenalan spesilisasi secara mandiri.&lt;br /&gt;5. Peserta Diklat wajib mengikuti latihan penyelaman perairan terbuka minimum 18 meter (60 feet) dan maksimum 30 meter (100 feet)&lt;br /&gt;6. Peserta Diklat harus memiliki kemampuan mempersiapkan, menerapkan teknik dan prosedur penyelaman di kondisi perairan teduh dan kondisi penglihatan visibilitas (jarak pandang) yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualifikasi kemampuan dan sertifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peserta Diklat wajib mengikuti evaluasi kemampuan praktek (ketrampilan) setelah mengikuti seluruh pelajaran teknik ketrampilan selam yang dilakukan pengajar instruktur CMAS yang bertanggung jawab, setelah seluruh pelajaran LPT diberikan.&lt;br /&gt;2. Peserta wajib mengikuti evaluasi (ujian) tertulis yang dilakukan pengajar instruktur CMAS yang bertanggung jawab, setelah seluruh pelajaran PAP diberikan.&lt;br /&gt;3. Kualifikasi kemampuan ditentukan sesuai hasil yang dicapai pada sasaran pelajaran dan evaluasi yang diikuti dengan batas nilai kelulusan 75 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah jam pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengetahuan Akademis Penyelaman: 6 - 8 Jam Pelajaran - efektif&lt;br /&gt;2. Latihan Ketrampilan Kolam: 4 – 5 Jam Pelajaran - efektif&lt;br /&gt;3. Latihan Perairan Terbuka: 15 – 18 Jam Pelajaran - efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berburu Shipwreck di Selayar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S6XRGT_XR0I/AAAAAAAAAns/98hyaZWGDPU/s1600-h/ship-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 272px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S6XRGT_XR0I/AAAAAAAAAns/98hyaZWGDPU/s400/ship-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450992830377314114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari hampir tenggelam di ufuk barat. Sangat indah, tapi tetap saja tidak bisa mengobati kegundahan saya. Shipwreck yang kami cari hingga hari-hari terakhir jadwal pencarian belum juga berhasil ditemukan, padahal berbagai informasi telah dihimpun sebelumnya dan peralatan canggih sudah digunakan untuk mendeteksi “kenampakan” di dasar laut. Selayar adalah salah satu lokasi yang menjadi prioritas pencarian kami selain Biak, Morotae, Derawan, Banten, dan Bangka. Pencarian kapal karam ini disponsori oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Khusus untuk pencarian di Selayar, dari tanggal 21 – 29 Juni, dilakukan atas kerjasama Pemda Selayar, BP3 Makassar, DKP, dan Direktorat Arkeologi Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya memiliki waktu satu hari lagi. Sementara itu kapal kayu yang kami tumpangi posisinya berada 4 jam perjalanan dari base camp kami di Benteng, ibukota Selayar. Jika kami pulang ke Benteng, maka hampir dipastikan usaha kami mencari kapal karam tidak akan membuahkan hasil. Akhirnya kami putuskan untuk singgah di Kampung Bahuluang, pulau terdekat saat itu. Kapal kami tidak bisa mendarat karena air laut sedang surut. Kami terpaksa berenang dan membiarkan kapal terjangkar di karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S6XRS5CgCzI/AAAAAAAAAn8/UvuOa8jOOpQ/s1600-h/ship-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 264px; height: 198px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S6XRS5CgCzI/AAAAAAAAAn8/UvuOa8jOOpQ/s320/ship-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450993046481013554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pesawat terbang dan tumpukan kendaraan perang ini sengaja ditenggelamkan tentara Jepang untuk menghilnagkan jejak mereka ketika diserang Sekutu di Morotai. Pulai kecil ini dulu dianggap sangat strategis saat perang Pasifik sebagai batu loncatan untuk menguasai Philpina, Korea, dan Pasifik sehingga diperebutkan oleh tentara Jepang dan Sekutu. Kondisi wreck ini sekarang terbengkalai. Menunggu tangan arkeolog untuk mendokumentasikan dan mengungkap sejarah detilnya. (Dok. Dondy Arafat)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami disambut oleh kepala dusun yang sangat ramah. Ia memberitahu bahwa tidak jauh dari pulaunya terdapat kapal yang tenggelam ratusan tahun silam. Untuk meyakinkan kami, ia memanggil tetua kampung di situ. Rurung Daeng Patunru namanya. Pria berusia 81 tahun ini meyakinkan kami bahwa saat ia kecil, ia sering bermain di sekitar kapal karam. Tempatnya mudah ditengarai karena cerobong asapnya masih muncul di permukaan. Berdasar informasi tersebut ingin rasanya segera pagi untuk memburu harta karun yang sangat penting untuk bahan menyusun sejarah maritim kita dan ditunjukkan pada publik melalui pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sekali, setelah sarapan mie secukupnya yang disajikan kerabat kepala dusun, kami mulai mengusung delapan set SCUBA ditambah tiga tabung cadangan, dibagi dalam dua perahu yang sudah kami carter dari dusun. Deru mesin 50 PK mendorong perahu kami melaju pada titik yang ditunjukan Daeng Patunru. Dua ekor lumba-lumba seolah menantang adu kecepatan dengan perahu kami. Mereka menang karena berada di depan lalu menyelam ke kedalaman. Hilang ditelan laut biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 1,5 jam akhirnya kami tiba di titik yang dituju. Di sana sudah terdapat empat perahu. Dua perahu langsung pergi begitu kami datang, sedangkan dua perahu lainnya tetap diam diayun gelombang. Tetapi para awaknya nampak berkemas. Sebuah kompresor terdengar hidup dan ada satu selang menjulur ke laut. Spontan saya mengambil masker, snorkel, dan fin, lalu mencebur ke laut. Di bawah ada dua penyelam sedang mengaduk-aduk dasar laut menggunakan sekop. Selang kompresor terhubung ke mulutnya. Belakangan diketahui mereka sedang mendulang besi kapal yang karam ratusan tahun silam. Melihat kehadiran kami, si penggali besi itu naik ke permukaan, lalu ditarik temannya dan pergi meninggalkan kami yang masih ternganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalah Cepat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut nakhoda perahu kami, yang dibenarkan kepala dusun, pengangkatan kapal karam itu sudah terjadi selama dua tahun oleh sekelompok orang dari Parasi, sebuah kampung tidak jauh dari lokasi itu. Besi-besinya dihancurkan menggunakan bom dan dipotong-potong menggunakan gergaji. Setelah ditempatkan dalam wadah di dasar laut, lalu ditarik ke atas perahu dan ditumpuk dulu di kampung. Beberapa potongan besi berukuran besar diikat tali lalu langsung ditarik. Setelah banyak, “rongsokan” itu dibawa ke Bantaeng, dijual kepada seorang Cina yang berkerja sebagai pengumpul besi bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kalah cepat. Ketika kami selami, yang tersisa tidak lebih dari sepertiga kapal. Panjangnya 75 meter dan lebar 12 meter. Jika ditemukan utuh, ukurannya tentu lebih besar. Sisa-sisa bangkai kapal tersebut sebagian besar masih tertimbun pasir. Beberapa bagian telah tersingkap karena sempat digali oleh para pemburu besi. Di dasar laut berkedalaman 8 meter itu masih dijumpai beberapa alat gali seperti sekop dan cangkul yang diberi pemberat. Ada juga dua box yang berisi serpihan besi, dan satu karung berisi batu yang tidak jelas jenisnya. Nampaknya barang-barang itu sudah siap diangkat, namun tidak sempat karena mereka keburu kabur melihat kedatangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berusaha mencermati jengkal demi jengkal. Masing-masing mempunyai tugas: ada yang merekam dengan kamera video, memotret, dan mengukur. Dalam menjalani pengamatan itu, kami juga mencoba memungut beberapa bendan yang menurut kami penting. Saat itu, dalam penyelaman selama 51 menit, kami menemukan pecahan botol, pecahan keramik, tulang iga, serpihan tengkorak, keramilk, kabel, arang, karet sil, dan batu-bara. Selain itu kami juga mengambil kayu dan serpihan besai kapal untuk sampel. Pada salah satu kepingan keramik ditemukan tulisan “Made in England” dengan lambang mahkota Ratu Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;London Trinity&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan salah satu penduduk lokal, dalam salah satu bongkahan besi yang pernah diangkat, dijumpai tulisan “London Seriti”. Mungkinkah itu nama kapal tersebut? Tapi tentu saja kata Seriti perlu dipertanyakan karena tidak ada dalam kamus bahasa Inggris. Kemungkinan namanya “London Trinity”. Jika dugaan ini benar, maka kapal tersebut jelas merupakan kapal Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan jejak-jejak yang tersisa, kapal besi berukuran panjang lebih dari 75 meter itu jelas adalah kapal uap karena di sekitar bangkai kapal ditemukan batu bara dan arang yang mulai membatu. Dugaan ini dikuatkan oleh cerita penduduk bahwa sampai tahun 1980-an cerobong asap dari kapal tersebut masih mencuat ke permukaan laut. Banyak nelayan yang sering singgah atau menambatkan perahu di cerobong tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari onggokan kayu yang mulai lapuk, yang ditemukan di sekitar lambung kapal, menjadi jelas pula bahwa bagian sekat-sekat ruangan dan lantai kapal terbuat dari kayu. Sayangnya kami masih kesulitan merekonstruksi bentuk kapal tersebut karena yang tersisa tinggal bagian lambung kanan-kiri yang mana bagian bawahnya masih tertimbun pasir. Perlu penggalian untuk mengetahui bentuk kapal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apatana Dikira Makassar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-16 Portugis dan Spanyol menguasai pelayaran ke Asia serta menguasai perdagangan rempah-rempah antara Asia dengan Eropa, khususnya perdagangan lada. Dalam perkembangan selanjutnya di Eropa, Raja Portugal memiliki kekuasaan tunggal atas pengangkutan dan pembelian hasil bumi dari Asia. Pada tahun 1551, Alfonso d’Albuquerque, panglima Portugis, menaklukkan Malaka. Tapi panglima Portugis itu sama sekali tidak menduga bahwa kejatuhan Malaka bukan saja menyebabkan Malaka menjadi sasaran penyerbuan dari kekuatan Islam di perairan Barat Indonesia, tetapi juga menyebabkan terjadinya pemencaran dari pusat-pusat perdagangan Islam. Maka sementara beberapa negara-kota di pantai Utara Jawa dan Johor, penerus Dinasti Malaka, di tempat-tempat lain kota-kota dagang baru pun bermunculan. Pada waktunya sebagian dari kota-dagang dan pelabuhan persinggahan bagi para pedagang Islam yang baru ini pun tumbuh sebagai pusat kekuasaan besar. Ketika inilah Makasar, Ternate dan Tidore, Aceh-Darussalam, serta Banten secara pelan tetapi pasti menjadi kerajaan Islam yang besar yang telah diperhitungkan oleh para penjelajah dan saudagar dari Eropa. Pada situasi seperti ini, Makassar menjadi sangat strategis karena berada di antara persilangan hubungan itu. Banyak kapal-kapal Eropa yang berlayar dan atau singgah di Makassar untuk menjalin hubungan perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kearkeologian, ramainya Makassar dapat dibuktikan dengan banyaknya informasi kapal Eropa yang karam di sekitar perairan Makassar dan sekitarnya, termasuk di Kepulauan Selayar. Selain dalam bentuk kapal, bukti lain adalah berupa meriam, jangkar, dan nekara yang ditemukan di Selayar. Menurut Pak Rurung Daeng Patunru, nekara biasa digunakan sebagai petanda asal kapal tersebut. Sebelum berlabuh di pelabuhan, awak kapal harus memukul nekara dengan nada tertentu untuk menunjukkan kapal tersebut dari mana. Setiap daerah, seperti Jawa dan Ternate, memiliki nada tertentu yang bisa dibedakan oleh Syahbandar di pelabuhan. Di Selayar ditemukan nekara yang konon sampai saat ini merupakan nekara terbesar yang ditemukan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Daeng Patunru, kapala London Trinity (sementara sebut saja dengan nama itu) sesungguhnya hendak berlabuh di Makassar. Namun nampaknya si nakhoda keliru. Lampu-lampu yang cukup marak di Apatana (bgian paling selatan dari Pulau Selayar) dikira Makassar. Ketika kapal melaju ke arah itu, London Trinity tersangku pada sebuah gosong di antara pulau Bahuluang dan Tambolongan. Jika malam hari gosong tersebut tentu tidak nampak karena kapal-kapal tempo dulu belum dilengkapi alat yang bisa mendeteksi kedalaman. Maka London Trinity pun menabrak gosong tersebut sehingga karam. Tempat tersebut kini dikenal sebagai Taka Bayangan Kapal. Taka artinya karang, sedangkan disebut bayangan karena dari permukaan kapal karam tersebut nampak seperti bayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon kapal tersebut membawa kuda, kambing, kerbau yang merupakan pesanan saudagar kaya di Makassar. Adapun pesanan tersebut kemungkinan besar berasal dari daerah Ternate dan atau Nusa Tenggara Timur. Menurut cerita Ponggah Mahrupun, orang tua Daeng Patunru yang telah meninggal 20 tahun silam di usia 125 tahun, kapal tersebut sudah karam sejak Ponggah Mahrupun masih kecil. Selain membawa barang-barang, kapal tersebut juga membawa uang kertas dan uang logam. Karena penduduk dari pulau tersebut belum mengenal uang kertas maka uang tersebut dibuang. Uang logam yang ada dalam peti diserahkan oleh penduduk yang masih bersahaja itu kepada penguasa di Makassar. Dari Makassar, peti berisi uang itu konon dikirim ke Batavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nilai arkeologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kalah cepat oleh pengumpul besi rongsokan, tapi penemuan kapal karam tersebut tetap berarti secara kesejarahan dan kearkeologian. Kapal tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu bukti hubungan ekonomi dan budaya pada abad-abad ke-17 hingga 18 Masehi. Sejarah kolonial yang selalu diangkat oleh penguasa negeri ini selalu saja tentang perang dan penjajahan, padahal di balik itu banyak jalinan kebudayaan dan perdagangan yang dilakukan dengan damai antara pusat-pusat peradaban di Nusantara ini dengan bangsa-bangsa dari Eropa dan Asia Daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S6XRSmv4s_I/AAAAAAAAAn0/IZWMh4AuZLo/s1600-h/ship-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S6XRSmv4s_I/AAAAAAAAAn0/IZWMh4AuZLo/s320/ship-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450993041571099634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catalina tertidur di kedalaman 32 meter selama 64 tahun di Perairan Biak, Papua. Tenggelam saat Perang Pasifik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui nilai kesejarahan dan kearkeologian yang lain, belum terlambat jika dilakukan penggalian untuk menampakkan bangkai kapal yang sekarang masih tertimbun oleh pasir dan karang. Masih banyak hal yang bisa diungkap dari penggalian tersebut, seperti teknologi mesin yang tentu berada di bagian bawah dan masih tertimbun, bentuk kurve lambung untuk membantu merekonstruksi bentuk kapal, dan tentu yang jauh lebih penting adalah mengais sisa-sisa muatan kapal, siapa tahu ada barang berharga yang disembunyikan di bagian bawah kapal. Jaman dahulu memang ada kebiasaan seperti itu untuk menghindari dirampas perompak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau dihitung secara ekonomi, tidak mungkin para penduduk kampung kerja keras menggali di dasar laut hanya untuk mengambil besi kapal seharga tiga ribu rupiah per kilogram. Tentu ada niat lain, apalagi si pengepul besi rongsokan di Bantaeng dikenal sebagai penadah barang-barang antik. Selayar hanya satu contoh kecil. Di lautan Nusantara yang lain, ratusan kapal karam masih diburu dan diperebutkan. Ending-nya hampir selalu sama: arkeolog selalu kalah cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(divetowreck.blogspot.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-9178834626971895673?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/9178834626971895673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/03/seputar-arkeologi-bawah-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/9178834626971895673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/9178834626971895673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/03/seputar-arkeologi-bawah-air.html' title='Seputar Arkeologi Bawah Air'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S6XRGT_XR0I/AAAAAAAAAns/98hyaZWGDPU/s72-c/ship-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-7988295646086596487</id><published>2010-03-06T08:10:00.005+07:00</published><updated>2010-03-06T08:17:46.212+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasasti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Djulianto Susantio'/><title type='text'>Pemerasan oleh Petugas Pajak Digagalkan Hakim</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DJULIANTO SUSANTIO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ribuan koleksi benda kuno yang ada di Museum Nasional Jakarta, ada satu artefak yang patut mendapat perhatian kita. Benda kuno itu berupa sepotong lempengan logam berukuran 27 cm x 23 cm, dengan kode inventaris E 63. Kondisi koleksi memang sudah berkarat di sana-sini sehingga terkesan “amburadul”. Dilihat dari bentuknya tak ada yang bernilai seni, kecuali berupa tatahan aksara. Tidak sembarang orang mampu membaca benda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi arkeolog yang menggeluti bidang epigrafi (aksara dan tulisan kuno), benda itu sangat berarti karena informasi di dalamnya sangat bermanfaat untuk kajian masa kini. Koleksi tersebut adalah prasasti Wurudu Kidul, ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Pertama kali isi prasasti Wurudu Kidul diulas oleh W.F. Stutterheim pada 1935. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya prasasti Wurudu Kidul menguraikan bagaimana susahnya seseorang menjadi warga keturunan dalam menghadapi petugas pajak. Kemungkinan, sebelum ini pemerasan pajak hampir selalu dilakukan terhadap orang asing. Hukum Jawa kuno memang mengatur bahwa pajak orang asing lebih tinggi daripada pajak orang pribumi. Namun kalau sudah keterlaluan, jelas-jelas akan menimbulkan citra buruk bagi penguasa kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, menurut bagian awal prasasti ini—disebut  Prasasti Wurudu Kidul A—ada  seorang pria bernama Sang Dhanadi. Dia berdomisili di desa Wurudu Kidul. Suatu hari Dhanadi kedatangan tamu bernama Wukajana. Orang ini menjabat sebagai Samgat Manghuri, yang bertugas memungut pajak dari rumah ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu melihat Dhanadi, Samgat Manghuri langsung menuduh Dhanadi bahwa dia adalah anak orang asing. “Anda termasuk golongan warga atau wka kilalang (orang asing),” mungkin begitu katanya. Sebagai orang asing tentu saja Dhanadi harus membayar pajak lebih besar daripada warga pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan Dhanadi tidak terima dengan sangkaan tersebut. Dia lantas mengadu ke pengadilan. Untungnya hakim tidak mengulur-ulur waktu perkara seperti zaman sekarang. Tak berapa lama, hakim segera mengusut tuduhan terhadap Dhanadi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali, keluarga Dhanadi dipanggil satu per satu ke persidangan. Mulai dari kakek nenek hingga ayah ibu di-screening secara ketat di pengadilan. Dari garis kakek dirunut-runut apakah ada unsur asing yang mengalir dalam darah Dhanadi. Begitu pula dari garis nenek. Bukan cuma itu. Warga di desa Grih, Kahuripan, dan Paninglaran yang berada di sekitar desa tempat Dhanadi tinggal, ikut dimintai keterangan sebagai saksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan pemeriksaan yang ketat dan seksama, dengan tegas dan berwibawa hakim segera memutuskan bahwa Dhanadi dan keluarganya benar-benar orang pribumi asli. Istilahnya menurut prasasti wwang yukti. Dengan demikian besarnya pajak yang harus dibayarkan Dhanadi tidak setinggi seperti yang diminta petugas pajak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pegangan, hakim itu Sang Pamget Padang pu Bhadra, memberikan “Surat Sakti” tertanggal 6 Kresnapaksa bulan Baisakha tahun 844 Saka atau identik dengan 20 April 922 Masehi. Waktu itu pula (922 Masehi) yang dijadikan tarikh prasasti Wurudu Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sudah plong-kah hati Dhanadi? Mungkin karena sudah “mental Melayu”, rupa-rupanya petugas pajak tersebut tidak puas atas keputusan hakim. Akibatnya kali ini ketenangan Dhanadi terusik kembali oleh petugas pajak lain, Pamariwa. Ternyata Pamariwa adalah orang suruhan Samgat Manghuri, petugas pajak yang coba memeras Dhanadi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bertemu muka dengan Dhanadi, demikian menurut Prasasti Wurudu Kidul B, Pamariwa langsung menuduhnya anak keturunan Khmer atau Kamboja. Dibilang wka kmir, tentu saja Dhanadi sangat tersinggung. Dia mengadu lagi ke pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai prosedur hukum, hakim mengirim surat panggilan pertama ke rumah Pamariwa agar menghadiri sidang gugatan. Namun pada panggilan pertama, Pamariwa tidak datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim mengirim lagi surat panggilan kedua. Kali ini Pamariwa juga tetap tidak datang. Akhirnya Samget Juru i Madandar memenangkan Dhanadi. Rupa-rupanya pada waktu itu belum dikenal istilah “pemanggilan paksa” seperti pada zaman sekarang. Jadi cukup pemanggilan dua kali berturut-turut. Jika tidak datang, berarti kalah perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Dhanadi menerima “Surat Sakti” tertanggal 7 Suklapaksa bulan Jyaistha tahun 844 Saka atau 6 Mei 922 Masehi. Jelas sekali dari kedua kasus itu, ada upaya pemerasan yang coba dilakukan petugas pajak. Di pihak lain, upaya negatif itu digagalkan hakim yang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, proses pengadilan itu terjadi di masa lampau, tepatnya di Kerajaan Mataram. Kalau saja terjadi di masa kini, mungkin penjara kita sudah dipenuhi koruptor-koruptor pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap ulah Pamariwa yang dua kali mangkir, tentu saja dikenakan sanksi berdasarkan hukum Jawa kuno. Dikatakan di dalam berbagai kitab hukum, perbuatan menuduh yang tidak berdasar (duhilatan) adalah tindak pidana yang patut dikenai hukuman. Namun belum jelas hukuman apa yang dijatuhkan kepada Pamariwa itu. Juga kepada atasan Pamariwa, Samgat Manghuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya gambaran penerapan hukum di Indonesia banyak sekali terdapat dalam prasasti-prasasti yang berkategori jayapattra, jayasong, suddhapattra, dan sukhadukha (prasasti mengenai persoalan hukum). Sayang, pakar-pakar kita yang mampu menerjemahkan dan menafsirkan prasasti-prasasti demikian, masih bisa dihitung jari tangan. Akibatnya, banyak data masih tersimpan di berbagai museum di seluruh Indonesia. Juga di tempat-tempat lainnya seperti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala dan Balai Arkeologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Naskah asli. Dimuat dalam majalah Intisari, Maret 2010)      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-7988295646086596487?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/7988295646086596487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/03/pemerasan-oleh-petugas-pajak-digagalkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7988295646086596487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7988295646086596487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/03/pemerasan-oleh-petugas-pajak-digagalkan.html' title='Pemerasan oleh Petugas Pajak Digagalkan Hakim'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2312877538718048519</id><published>2010-03-06T07:54:00.004+07:00</published><updated>2010-03-06T08:10:20.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasasti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Djulianto Susantio'/><title type='text'>Dicari: Ahli Baca Prasasti</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DJULIANTO SUSANTIO &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;swasti sakawarsatita 824 posa masa tithi dasami kresnapaksa. tunglai. kaliwuan. soma wara. daksinastha jaista naksatra. mitra dewata. sukarmma yoga...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti tulisan di atas? Sudah dialihaksarakan ke dalam aksara Latin saja, banyak yang tidak paham. Apalagi kalau masih tertulis dalam aksara aslinya, lebih tidak tahu. Tidak dimungkiri, sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa awam terhadap tulisan di atas.  Nah, bagaimana kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kata demi kata, seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat! Tahun Saka telah berlangsung 824 tahun, bulan Posa, tanggal 10 paro gelap, pada hari tunglai, kaliwuan dan hari senin, kedudukan planet di selatan, bintang Jaista: dewa Mitra, yoga...&lt;br /&gt;(Sumber: Tiga Prasasti dari Masa Balitung, 1982)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kata-kata itu masih agak sulit dimengerti. Jangankan masyarakat awam, pakar bahasa pun mungkin merasa “kewalahan” dengan terjemahan seperti itu. Karena aksara dan bahasanya berasal dari belasan abad yang lampau, tentu berbagai kendala dihadapi para peneliti zaman sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan baris pertama dari puluhan baris yang ada pada Prasasti Panggumulan itu memang masih terasa asing di telinga kita. Tidak sembarang orang mampu mengalihaksarakan dan membacanya. Apalagi menerjemahkan dan menafsirkannya sekaligus ke dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya segelintir orang yang mampu melakukannya, yakni para arkeolog. Itupun tidak seluruh arkeolog, melainkan mereka yang mendalami bidang epigrafi. Epigrafi adalah subdisiplin dari arkeologi yang memelajari segala aksara dan bahasa kuna beserta seluk-beluknya. Berdasarkan hasil kajian para epigraflah, maka penulisan sejarah kuno Indonesia seperti yang dikenal sekarang, bisa tersusun dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak ada epigraf, kita tidak mungkin mengenal Kerajaan Majapahit dengan Rajanya Hayam Wuruk dan Patihnya Gajah Mada. Kita pun mungkin tidak tahu akan kebesaran tokoh Jayabaya, Airlangga, dan Ken Arok atau Kerajaan Tarumanagara, Sriwijaya, dan Singhasari. Tentu tak terbayangkan jadinya bila sejarah kuno Indonesia begitu gelap. Dari mana kita akan berkaca, kalau tidak mempunyai masa lampau yang cemerlang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akhir prasejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemukannya prasasti tertua pada sejumlah situs arkeologi, dianggap menandai berakhirnya masa prasejarah, yakni babakan dalam sejarah kuno Indonesia yang masyarakatnya belum mengenal tradisi tulisan. Kata prasasti sendiri berasal dari bahasa Sansekerta. Arti sebenarnya adalah pujian. Namun kemudian diangggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang, dan tulisan”. Di kalangan ilmuwan, prasasti disebut inskripsi. Sementara orang awam mengenalnya sebagai batu bertulis atau batu bersurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun berarti pujian, tidak semua prasasti mengandung puji-pujian  kepada raja. Sebagian besar prasasti justru diketahui memuat keputusan mengenai penetapan sebuah desa atau daerah menjadi perdikan atau sima (tanah yang dilindungi). Sebagian lagi berupa keputusan pengadilan tentang perkara-perkara perdata (disebut prasasti jayapattra atau jayasong), sebagai tanda kemenangan (jayacikna), tentang utang-piutang (suddhapattra), dan kutukan atau sumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti tertua Indonesia yang pernah ditemukan bertarikh abad ke-5 M. Periode terbanyak pengeluaran prasasti terjadi pada abad ke-8 hingga ke-14 M, ketika yang berkuasa di Nusantara adalah kerajaan-kerajaan bercorak Hindu dan Buddha (dikenal sebagai masa klasik), seperti Mataram Hindu, Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kerajaan Hindu dan Buddha, di negara kita juga pernah berkuasa kerajaan atau kesultanan Islam, seperti Samudra Pasai, Demak, Gresik, dan Cirebon. Prasasti dari periode Islam pun cukup banyak tersebar di Nusantara. Begitu pula prasasti dari masa pendudukan (kolonial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai etnisitas atau pengaruh kebudayaan, tentu saja aksara dan bahasa yang digunakan dalam prasasti amat beragam. Pada masa klasik, yang terbanyak adalah Sansekerta atau Jawa kuno, kemudian Melayu kuno, Sunda kuno, dan Bali kuno. Pada masa selanjutnya aksara-aksara ini berkembang menjadi Jawa tengahan dan Jawa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Islam digunakan aksara dan bahasa Tamil (India) dan Arab. Prasasti-prasasti dari masa ini umumnya berupa tulisan pada batu nisan yang memuat keterangan tentang nama, tanggal wafat seseorang, kutipan ayat suci Al-Qur’an, serta berkenaan dengan pendirian masjid, kraton, dan gapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti-prasasti dari masa kolonial relatif lebih mudah dibaca karena beraksara Latin. Bahasa yang digunakan antara lain Portugis, Belanda, dan Inggris. Prasasti Latin umumnya dijumpai pada batu makam, tugu peringatan, gereja, rumah tinggal, benteng, dan pergudangan. Selain itu, ada pula prasasti-prasasti beraksara dan berbahasa Mandarin yang sebagian terbesar terdapat pada batu makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, di negara kita pernah ditemukan sejumlah prasasti yang menggunakan dua bahasa sekaligus.  Mungkin ini karena di kerajaan tersebut bermukim dua komunitas besar. Prasasti-prasasti dwibahasa itu antara lain Kayumwungan atau Karangtengah (824 M) yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Jawa kuno serta Amogaphasa (1286 M) dengan bahasa Melayu kuno dan Jawa kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya tulis rupanya sudah dikenal sejak lama. Namun sarana menulis bukanlah tinta dan kertas, melainkan batu dan pahat.  Batu merupakan bahan yang mudah didapat, sekaligus tahan lama. Selain andesit, yang digunakan sebagai sarana penulisan prasasti adalah batu kapur atau basalt. Di kalangan arkeologi, prasasti batu disebut upala prasasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sesungguhnya di luar batu ada juga bahan yang tak kalah awetnya, yakni  logam. Prasasti berbahan tembaga atau perunggu disebut tamra prasasti. Selain itu ada ripta prasasti, yakni prasasti yang ditulis di atas lontar atau daun tal. Prasasti logam dan lontar juga relatif banyak ditemukan di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sedikit jumlahnya tapi tergolong unik adalah prasasti berbahan tanah liat atau tablet. Isi tablet adalah mantra-mantra agama Buddha. Sebenarnya, ada juga prasasti yang dituliskan di atas lembaran perak atau emas. Namun jumlahnya tidak banyak dan itu pun lebih cenderung menunjukkan nama orang/raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sekian jenis prasasti, rupanya hanya prasasti batu yang memiliki berbagai variasi bentuk. Mungkin disesuaikan dengan batu yang ada atau karena keterampilan sang pemahat. Yang terbanyak adalah berbentuk balok (segiempat), lingga (bulat panjang), dan yupa (tiang batu). Prasasti berbentuk stele, dengan bagian atas bulat atau lancip, juga banyak ditemukan. Demikian halnya dengan prasasti berbentuk wadah (jambangan, gentong, peti batu, lumbung) dan alamiah (batu alam). Sejumlah prasasti malah dipahatkan pada bagian candi dan badan arca (Hari Untoro Drajat, 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai bentuk itu, ada yang polos dan ada yang berhiasan, termasuk ukiran, simbol kerajaan, dan simbol keagamaan. Salah satu prasasti yang tergolong megah dan unik adalah Prasasti Telaga Batu dari masa Kerajaan Sriwijaya. Bentuk fisik prasasti tersebut sangat istimewa. Bagian atas prasasti itu dihias dengan tujuh kepala ular kobra berbentuk pipih dengan mahkota berupa permata bulat, sementara leher ularnya mengembang dengan hiasan kalung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara berbagai sumber sejarah kuno Indonesia, seperti naskah dan berita asing, prasasti dipandang merupakan sumber terpenting karena mampu memberikan kronologis suatu peristiwa. Ada banyak hal yang membuat prasasti sangat menguntungkan dunia penelitian masa lampau. Selain mengandung unsur penanggalan, prasasti juga mengungkapkan sejumlah nama dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini prasasti telah banyak membantu penyusunan buku-buku teks sejarah. Berbagai atribut negara pun, seperti bendera merah putih dan lambang burung garuda, digali berdasarkan data dari prasasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disayangkan, masih banyak data belum muncul karena berbagai masalah, seperti huruf pada prasasti sudah aus, batunya pecah-pecah, sebagian tulisan hilang, dan belum terbaca karena tenaga ahlinya (pakar epigrafi atau epigraf) masih langka. Di seluruh Indonesia, mungkin kita hanya memiliki belasan pakar epigrafi yang tersisa. Itu pun sebagian besar sudah berstatus pensiunan. Bahkan ada beberapa yang sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita hidup di masa kini, tentunya kita tidak bisa mengingkari masa lampau. Sebagai cermin untuk masa kini dan masa mendatang, sudah sepatutnya kita memberi perhatian kepada prasasti karena prasasti ibarat ensiklopedia tentang masa lampau kecemerlangan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Naskah asli. Dimuat dalam majalah Intisari, Maret 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2312877538718048519?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2312877538718048519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/03/dicari-ahli-baca-prasasti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2312877538718048519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2312877538718048519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/03/dicari-ahli-baca-prasasti.html' title='Dicari: Ahli Baca Prasasti'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-821967873001659889</id><published>2010-02-10T10:45:00.003+07:00</published><updated>2010-02-10T10:52:50.399+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurhadi Rangkuti'/><title type='text'>Arkeologi di Pulau Maya, Karimata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nurhadi Rangkuti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Undangan dari Balai Arkeologi Banjarmasin setahun yang lalu sangat menantang. Eksplorasi pulau-pulau terpencil di sekitar Selat Karimata dengan pendekatan arkeologi. Tentu saja yang dicari adalah bukti-bukti peradaban masa lampau yang menunjukkan peran penting Selat Karimata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selat Karimata memang penting dan strategis. Selat yang lebarnya 150 km itu menghubungkan antara Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Letaknya di antara Pulau Belitung dan Pulau Kalimantan. Dari Pulau Belitung sekitar 70 mil di sebelah timur laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut David E. Shoper (1977) dalam bukunya: The Sea Nomads: A Study of the Maritime Boat People of Southeast Sumatra, kelompok pulau-pulau di Selat Karimata memiliki hubungan dengan Pulau Belitung dan Kepulauan Riau-Lingga pada masa lalu, terutama tentang budaya orang laut (sea nomad). Di Pulau Belitung terdapat Suku Sekah yang menyebut diri mereka sebagai orang “Manih Bajau” yang berarti “descendant of the Bajau”, atau keturunan orang Bajau dari Sulawesi. Orang-orang Sekah sering menjelajah mencari tripang sampai ke pesisir Kalimantan dan Lampung. Orang Sekah memiliki tempat penguburan di Pulau Selanduk di sebelah barat Pulau Belitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pulau Karimata terdapat permukiman Suku Galang yang muncul pada pertengahan abad XIX Masehi yang pernah dikunjungi oleh orang laut (sea nomad) dari Pulau Belitung. Selain Suku Sekah, di Pulau Belitung terdapat orang laut lainnya, yaitu orang Juru yang beragama Islam dan tinggal di Pulau Lepar. Mereka telah menggunakan perahu yang lebih besar daripada perahu orang Sekah. Telah terjadi percampuran budaya antara orang Sekah dan orang Juru melalui perkawinan. Mereka bermukim di Tanjung Pandan, Mangar dan memiliki tempat (outlet) timah di bagian timur Belitung dan sebuah perkampungan di Pulau Karimata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pulau yang tersebar di sekitar Selat Karimata, sebagian masuk wilayah Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung dan pulau-pulau lainnya masuk wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Pulau-pulau yang masuk wilayah Provinsi Kalimantan Barat, terutama di Kabupaten Kayong Utara , tercatat ada 108 pulau yang meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kecamatan Kendawangan 30 pulau, Matan Hilir Selatan dan Benua Kayong 2 pulau, Matan Hilir Utara, Delta Pawan, Muara Pawan 5 pulau, Sukadana 10 pulau, Pulau Maya Karimata 61 pulau (tidak berpenghuni 26 pulau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Gunung Tote&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasi baru dilakukan pada tahun 2009 dengan fokus Pulau Maya dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Tanggal 17 Mei 2009 saya bertolak dari Palembang menuju Pontianak . Esoknya berangkat menuju Kota Ketapang untuk bergabung dengan Tim Balai Arkeologi Banjarmasin. Hanya 35 menit numpak pesawat kecil dari Pontianak ke Kota Ketapang. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil selama 1,5 jam menuju Sukadana, ibukota Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sukadana lebih mendekati ciri-ciri desa daripada kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim bermalam di hotel yang dibangun di atas pantai pasang surut hutan mangrove. Waswas juga tidur di hotel yang mengangkangi laut itu, jangan-jangan muncul pasang besar yang dapat menggenangi kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok pagi tim berangkat dengan speedboat ke Pulau Maya. Empat puluh lima menit lamanya perjalanan sampai di Desa Tanjung Satai. Di desa ini issue tentang peninggalan purbakala yang spektakuler telah santer dibicarakan penduduk. Foto-foto yang diperlihatkan seorang petugas kecamatan membuat tim tercengang. Foto-foto itu memperlihatkan patung-patung kuno dan lukisan bangunan candi yang dipahat pada permukaan batu besar. Selain itu penduduk menceritakan harta karun lainnya berupa emas, manik-manik, dan keramik kuno. Semua peninggalan tersebut terdapat di kaki Gunung Tote yang masuk wilayah Desa Dusun Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam perjalanan dengan speedboat menuju Desa Dusun Kecil, kemudian dilanjutkan dengan naik perahu kecil menyusuri Sungai Tote. Sampai di hulu sungai, perjalanan dilanjutkan sampai ke lokasi situs dengan jalan kaki selama 30 menit menapaki lumpur hutan mangrove.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs Gunung Tote tampak porak poranda. Sisa-sisa lubang galian liar bertebaran dimana-mana. Sesosok patung batu berbentuk sapi alias arca nandi (Hindu) telah dipotong kepalanya karena disangka di dalamnya terdapat emas. Perusakan itu dilakukan karena sebelumnya para penjarah menemukan benda-benda emas di bawah kaki arca batu berbentuk dewa Wisnu (?) setinggi 120 cm dan bobot 125 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahatan dua bangunan stupa pada batu besar masih dapat dilihat di lokasi. Pahatan ini diperkirakan sezaman dengan pahatan serupa di Situs Batu Pait di Kalimantan Barat, diperkirakan abad V-VI Masehi. Terlihat ada upaya menggeser batu besar itu untuk mencari emas di bawahnya, namun batu itu tidak dapat digerakkan karena terlalu besar dan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang informan menceritakan penggalian massal itu dilakukan pada tahun 2007. Mereka menemukan 8 arca batu yang terdiri satu arca besar dan 7 arca kecil. Arca besar sempat di simpan di rumah Bapak Saleh, seorang dukun yang tinggal di Dusun Tote. Ketika ditemui di rumahnya, arca itu tidak berada di tempatnya lagi. Menurut Bapak Soleh arca itu telah dibawa oleh orang-orang dari Desa Paritjali, Kecamatan Teluk Batang sekitar dua bulan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, penggalian tersebut dilakukan orang-orang dari Desa Paritjali, Kecamatan Teluk Batang. Tim Balai Arkeologi Banjarmasin segera melacak temuan sampai ke Parit Jali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Paritjali tim langsung bertemu dengan penyandang dana “Proyek Gunung Tote”. Sang boss mengeluarkan dana besar untuk menyediakan mesin penyedot pasir dan dongkrak hidrolik untuk mengangkat bebatuan gunung (relief stupa) yang diduga terdapat emas di bawahnya. Selain arca mereka menemukan keramik, gerabah, manik-manik, senjata logam (kapak), nampan dan penginangan dari kuningan. Seorang penduduk Desa Paritjali menceritakan mereka berhasil mengumpulkan emas seberat ± 4 kg emas dalam bentuk bulatan, lantakan, dan lembaran. Emas-emas tersebut ditemukan di bawah arca besar tadi kemudian dilebur lalu dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Arkeologi memperkirakan peninggalan-peninggalan tersebut berasal dari abad V hingga abad XVIII Masehi. Sejak awal Masehi daerah sekitar Selat Karimata memang telah ramai sebagai jalur perdagangan dari Cina dan India menuju Kalimantan, pantai timur Sumatera dan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa-rupanya perompak atau lanun tidak hanya ada pada zaman dulu. Bila dulu mereka membajak muatan kapal-kapal dengan senjata, lanun zaman sekarang merompak situs dengan mesin penyedot air dan dongkrak hidrolik. Dilakukan secara terang-terangan tanpa ada yang mencegahnya. Tanpa ada yang peduli. Hah?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber:&lt;a href="http://nurhadirangkuti.blogspot.com/2009_06_14_archive.html"&gt; nurhadirangkuti.blogspot.com&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-821967873001659889?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/821967873001659889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/02/arkeologi-di-pulau-maya-karimata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/821967873001659889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/821967873001659889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/02/arkeologi-di-pulau-maya-karimata.html' title='Arkeologi di Pulau Maya, Karimata'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-4050566198133853972</id><published>2010-02-09T06:01:00.003+07:00</published><updated>2010-02-12T15:00:11.646+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>Arkeologi UI - Angkatan '84</title><content type='html'>&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S3CYwR03S7I/AAAAAAAAAnc/mcBB9IaDpJQ/s1600-h/terbaru84.psd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 316px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S3CYwR03S7I/AAAAAAAAAnc/mcBB9IaDpJQ/s400/terbaru84.psd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436012705422461874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Angkatan '84&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01. Nurman Sahid (Kunang)&lt;br /&gt;02. Charunia Arni Listya D. (Lisa)&lt;br /&gt;03. Roserri Rosdy Putri (Erri)&lt;br /&gt;04. R. Cecep Eka Permana (Cecep)&lt;br /&gt;05. Tambos Sitorus&lt;br /&gt;06. Sri Hartati (Ati Abeng)&lt;br /&gt;07. Nora Ekawani (Oya)&lt;br /&gt;08. Lutfi Yondri&lt;br /&gt;09. Yeni Purnaeni&lt;br /&gt;10. Andre Donas&lt;br /&gt;11. Tri H. Martiana (Tina)&lt;br /&gt;12. Sri Wirastri (Iik)&lt;br /&gt;13. Petrus Trisiono&lt;br /&gt;14. Sri Yunita&lt;br /&gt;15. Lindia Chaeroti (Ilin)&lt;br /&gt;16. Sri Murniati Purnomo&lt;br /&gt;17. Sri Hana&lt;br /&gt;18. Anton Herrystiadi&lt;br /&gt;19. Sri Rahayu (Yayuk)&lt;br /&gt;20. Emma Rachma&lt;br /&gt;21. Firdaus Ahmad (Firda)&lt;br /&gt;22. Dyah Purbasari&lt;br /&gt;23. Retno Wijiati (Neno)&lt;br /&gt;24. Purwadi (Ipung)&lt;br /&gt;25. Adwin Wibisono (Ade)&lt;br /&gt;26. Madia Patra Ismar&lt;br /&gt;27. Amdaiyon Agus&lt;br /&gt;28. Susiana&lt;br /&gt;29. Noritrianto Anung Nugroho (Anung)&lt;br /&gt;30. Joko Lelono&lt;br /&gt;31. Andang Baskoro&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-4050566198133853972?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/4050566198133853972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/02/arkeologi-ui-angkatan-84.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4050566198133853972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4050566198133853972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/02/arkeologi-ui-angkatan-84.html' title='Arkeologi UI - Angkatan &apos;84'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S3CYwR03S7I/AAAAAAAAAnc/mcBB9IaDpJQ/s72-c/terbaru84.psd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-545382005765963088</id><published>2010-02-06T16:38:00.002+07:00</published><updated>2010-02-06T16:45:43.373+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sriwijaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurhadi Rangkuti'/><title type='text'>Ekspedisi Sriwijaya: Pengembangan Arkeologi Maritim di Balai Arkeologi Palembang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nurhadi Rangkuti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abstrak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wilayah kerja Balai Arkeologi Palembang kaya dengan sumberdaya arkeologi,  baik di darat maupun di perairan. Daerah pantai timur Sumatera dan Kepulauan Bangka-Belitung merupakan wilayah yang padat dengan tinggalan budaya masa lalu, antara lain situs-situs hunian, dan pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir serta peninggalan bawah air berupa kepingan-kepingan kapal (shipwrecks) dan barang muatan kapal tenggelam (BMKT) banyak dijumpai di daerah tersebut. Bukti-bukti arkeologis tersebut yang didukung oleh sumber-sumber tertulis menggambarkan adanya kontak budaya antara Sumatera-Bangka Belitung dengan daerah luar sejak awal Masehi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peninggalan bawah air yang berada di wilayah kerja Balai Arkeologi Palembang belum banyak dikaji dalam upaya merekonstruksi kebudayaan masa lampau, terutama kehidupan bahari bangsa Indonesia pada masa lalu. Sebagai contoh, wilayah kerja Balai Arkeologi Palembang mengandung banyak peninggalan maritim Kerajaan Sriwijaya dari abad ke VII-XIII Masehi. Oleh karena itu penelitian arkeologi maritim (maritime archaeology) sudah saatnya dikembangkan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini bertujuan untuk memberitakan upaya-upaya, rencana-rencana serta kendala-kendala yang dihadapi dalam mengembangkan arkeologi-maritim khususnya di Balai Arkeologi Palembang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kata kunci: Arkeologi-maritim, Sriwijaya, Sumatera, Bangka-Belitung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah pantai timur Sumatera (di Jambi dan Sumsel) dan Kepulauan Bangka-Belitung merupakan wilayah yang padat dengan tinggalan budaya masa lalu. Situs-situs permukiman dan pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir serta peninggalan bawah air berupa kepingan-kepingan kapal (shipwrecks) dan barang muatan kapal tenggelam (BMKT) banyak dijumpai di daerah tersebut. Bukti-bukti arkeologis tersebut yang didukung oleh sumber-sumber tertulis menggambarkan adanya kontak budaya antara Sumatera-Bangka Belitung dengan daerah luar sejak awal Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninggalan bawah air yang berada di wilayah kerja Balai Arkeologi Palembang belum banyak dikaji dalam upaya merekonstruksi kebudayaan masa lampau, terutama kehidupan bahari bangsa Indonesia pada masa lalu. Sebagai contoh, wilayah kerja Balai Arkeologi Palembang mengandung banyak peninggalan maritim Kerajaan Sriwijaya dari abad ke VII-XIII Masehi. Oleh karena itu penelitian arkeologi maritim (maritime archaeology) sudah saatnya dikembangkan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bertujuan untuk memberitakan upaya-upaya mengembangkan arkeologi-maritim khususnya di Balai Arkeologi Palembang. Salah satu upaya pengembangan tersebut antara lain diselenggarakannya kegiatan Ekspedisi Sriwijaya pada tanggal 6-10 Oktober 2009 oleh Balai Arkeologi Palembang dan Direktorat Peninggalan Bawah Air, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Arkeologi Maritim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninggalan bawah air berupa sisa-sisa kapal kuno dan barang muatannya merupakan bagian dari sumberdaya arkeologi (archaeological resources). Sebagaimana sumberdaya arkeologi yang terdapat di darat, peninggalan bawah air merupakan data arkeologi yang perlu dikaji oleh arkeologi sebagai disiplin ilmu. Cabang disiplin arkeologi yang menangani peninggalan bawah air di Indonesia dikenal dengan istilah arkeologi bawah air (underwater archaeology). Selain arkeologi bawah air ada beberapa istilah dari cabang disiplin arkeologi untuk menggambarkan lingkup kajian peninggalan bawah air, antara lain marine archaeology, maritime archaeology, nautical archaeology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeremy Green (2004) menggunakan istilah arkeologi-maritim (maritime archaeology). Menurut Green (2004:4) arkeologi- maritim berkenaan dengan aspek-aspek arkeologi dan teknik-teknik yang digunakan untuk menangani arkeologi dalam lingkungan bawah air. Istilah arkeologi maritim digunakan untuk menangani peninggalan arkeologi yang berhubungan dengan kebudayaan maritim baik peninggalan arkeologi di darat (misalnya penemuan sisa-sisa perahu di darat) maupun peninggalan arkeologi di bawah air. Istilah arkeologi bawah air (underwater archaeology) digunakan semata-mata untuk penyederhanaan istilah dari arkeologi-maritim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian arkeologi maritim di bawah air memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan kegiatan di darat. Diperlukan rencana yang matang meliputi studi arsip, persiapan lapangan, penyusunan tim, perlengkapan dan logistik, dan keselamatan dalam pelaksanaan. Diakui penelitian secara sistematis pada peninggalan bawah air yang meliputi survey, ekskavasi, perekaman data, penggambaran temuan, dan analisis temuan, terbentur oleh kendala keterbatasan alat dan teknologi, tenaga professional dan dana. Penelitian arkeologi bawah air merupakan penelitian interdisipliner sehingga memerlukan kerjasama dengan berbagai fihak yang terkait. Oleh karena itu proposal-proposal penelitian arkeologi maritim perlu disusun bersama dan diperlukan sharing alat, tenaga profesional dan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap integrasi dan sintesa data diperlukan studi eksperimen dan analogi etnografi. Eksperimen arkeologi antara lain berupa pembuatan replika kapal kuno berdasarkan hasil penelitian yang memerlukan tenaga-tenaga ahli dan dana yang memadai. Pembuata replika kapal kuno dianggap penting karena salah satu bentuk publikasi arkeologi-maritim kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi etnografi pada suku-suku laut (sea nomad) perlu dilakukan untuk menjelaskan teknologi dan cara hidup masyarakat maritim pada masa lalu. Dampak pembangunan modern menyebabkan banyak perahu dan teknologi tradisional yang telah punah, serta perubahan cara hidup pada masyarakat lokal. Hal ini menjadi salah satu kendala dalam studi etnografi untuk memahami kehidupan masyarakat maritim masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Ekspedisi Sriwijaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspedisi Sriwijaya merupakan satu kegiatan arkeologi-maritim yang berupaya mengintegrasikan peninggalan-peninggalan arkeologi di bawah perairan dan peninggalan arkeologi di darat dalam konteks budaya maritim. Peserta ekspedisi terdiri dari para arkeolog, antropolog, ahli kelautan, penyelam, polisi air dan wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspedisi Sriwijaya bertujuan untuk menelusuri jalur pelayaran masa lampau dari Situs Kota Kapur (Bangka) menuju Palembang melalui Air Sugihan, Sungai Upang dan Sungai Musi dengan naik perahu kayu. Rute ekspedisi dipilih dengan mempertimbangkan data prasasti masa Sriwijaya, serta data persebaran situs arkeologi di Kota Kapur, Air Sugihan dan di Palembang. Prasasti yang menjadi acuan adalah Prasasti Kota Kapur dan Prasasti Kedukan Bukit yang berbahasa Melayu Kuna, ditulis dengan huruf Pallawa. Kedua prasasti tersebut dibuat pada masa pemerintahan Dapunta Hiyan Sri Jayanasa, raja Sriwijaya pada abad VII Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs Kota Kapur yang terletak di Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, adalah tempat ditemukannya prasasti batu berbentuk tugu pada tahun 1892. Prasasti setinggi 177 cm dan lebar 32 cm itu diterbitkan pada 28 Februari 686 Masehi, memuat kutukan bagi siapa saja yang tidak setia dan berkhianat kepada Kedatuan Sriwijaya. Pembuatan prasasti berlangsung pada saat bala tentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang Bumi Jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun sebelum Prasasti Kota Kapur ditulis, Dapunta Hiyan datang ke Palembang bersama dua puluh ribu serdadu naik perahu menyusuri Sungai Musi dengan perbekalan 200 peti. Rombongan yang berjalan kaki 1.312 tentara. Mereka berangkat dari suatu tempat yang bernama Minanga melakukan perjalanan menuju Mukha Upang selama 29 hari. Sampai di tempat tujuan, Dapunta Hiyan kemudian membangun kampung (wanua). Sang raja menyebut ekspedisi itu sebagai jaya siddayatra, yaitu perjalanan suci untuk kejayaan Sriwijaya. Boechari (1993), ahli epigrafi, menyatakan wanua yang dibangun Dapunta Hiyan kemudian berkembang jadi pusat kerajaan Sriwijaya di Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ekspedisi itu terukir dalam prasasti batu yang ditemukan oleh seorang bangsa Belanda tahun 1920 di Desa Kedukan Bukit di bagian barat Kota Palembang. Prasasti Kedukan Bukit dipahat pada tanggal 16 Juni 682 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.1. Metode dan teknik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan ekspedisi dilakukan pengumpulan data arkeologis, keadaan lingkungan dan kondisi sosial-budaya pada tempat-tempat yang disinggahi dalam ekspedisi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survey dan wawancara. Kegiatan arkeologi bawah air dilakukan di perairan Selat Bangka tepatnya di sekitar Pulau Pelepas yang terletak di sebelah selatan Situs Kota Kapur. Dalam kegiatan tersebut dilakukan survey dan penyelaman untuk mengidentifikasi tinggalan arkeologis di bawah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi (situs dan obyek lainnya) dan jalur ekspedisi dilakukan dengan menggunakan Global Position System (GPS). Data yang direkam dengan GPS itu kemudian dipetakan dengan aplikasi Geographic Information System (GIS) dengan program Arc view 3.2. Pemetaan menggunakan peta digital (basemap) yang diterbitkan oleh Bakosurtanal. Hasil ekspedisi berupa jalur pelayaran masa lamapu dikaji dengan memperhatikan data arkeologi dan sumber-sumber sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.2 Hasil Kegiatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Situs Kota Kapur, tim ekspedisi mengadakan survey arkeologi, lingkungan dan pengamatan sosial budaya. Berdasarkan pengamatan lingkungan, Situs Kota Kapur mulai terancam oleh aktivitas penambang timah yang areanya mendekati zona inti situs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang sama tim arkeologi bawah air melakukan survey laut dengan perahu dari Dermaga Kota Kapur menuju pulau-pulau kecil (Pulau Pelepas, Pulau Pegadung dan Pulau Nangka), dekat Tanjung Tedung yang berada di selatan Kota Kapur. Sebuah mercusuar Belanda masih berdiri kokoh di Pulau Pelepas. Mercusuar yang pernah dipugar oleh Ratu Wilhelmina pada tahun 1893 itu digunakan sebagai pemandu navigasi kapal-kapal yang ramai melintasi perairan Bangka-Belitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelayan setempat menunjukkan di sebelah barat Pulau Pelepas terdapat bangkai kapal tenggelam di dasar laut. Penyelaman arkeologi bawah air pun di lakukan pada saat permukaan laut tenang, namun arus di bawahnya sangat kencang dan jarak pandang hanya 1 – 3 meter. Sebuah kapal perang Belanda ditemukan terbenam di dasar laut pada kedalaman 17-25 meter. Kapal besi berukuran panjang 70 meter itu tenggelam dalam kondisi terbelah dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar Selat Bangka dan perarian Kepulauan Bangka-Belitung memang banyak ditemukan bangkai kapal tenggelam (shipwrecks) oleh karena banyaknya gosong karang di perairan ini. Namun perahu-perahu kayu zaman Sriwijaya malah seringkali ditemukan di rawa-rawa. Di Situs Kota Kapur ditemukan kepingan-kepingan papan perahu kuna dari dasar rawa pada saat penelitian tahun 2007 (Rangkuti 2007). Teknik rancang bangun perahu dibuat dengan teknik papan ikat dan kupingan pengikat (sewn plank and lushed technique). Sisa-sisa perahu dari teknik pembuatan dan masa yang sama ditemukan pula di rawa-rawa Mariana dan Sungai Buah (Palembang), Tulung Selapan (Kabupaten Ogan Komering Ilir), Situs Karangagung Tengah (Kabupaten Musi Banyuasin) dan di Lambur (Jambi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan survey dan penyelaman selama dua hari di Bangka, tim kemudian menyeberangi selat Bangka dengan speedboat kayu yang ditempuh dalam waktu tiga puluh menit. Sampai di muara Air Sugihan tim langsung menelusuri Air Sugihan yang semakin ke hulu semakin sempit dan hutan mangrove pun semakin berkurang. Di belakang hutan mangrove, terbentang lahan-lahan transmigrasi yang disekat oleh jalur-jalur irigasi sekaligus untuk jalur transportasi air. Sebagian daerah lahan basah itu direklamasi untuk kawasan transmigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speedboat masuk ke Jalur 27 dan merapat di dermaga Desa Kertamukti, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir . Desa ini kaya dengan tinggalan arkeologis berupa manik-manik berbahan kaca dan batuan, fragmen-fragmen tembikar dan keramik kuno, benda-benda emas dan logam lainnnya, serta sisa tiang rumah kuno dari batang pohon nibung (oncosperma filamentosa). Tim mengunjungi Situs Kertamukti 1 yang pernah diteliti melalui ekskavasi oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Situs berada pada lahan bekas sungai kecil (alur) dan rawa yang kini telah direklamasi untuk lahan transmigrasi. Dalam ekskavasi ditemukan sisa-sisa bangunan rumah panggung bertiang nibung. Selain itu ditemukan pula tali ijuk (arrenga pinnata), pecahan-pecahan tembikar dan keramik Cina, manik-manik, sudip dari kayu dan fosil kayu. Di kawasan Air Sugihan keramik dari Cina yang paling banyak ditemukan berasal dari abad IX-X Masehi dari Dinasti Tang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya tim berangkat ke Palembang dengan kembali menelusuri Air Sugihan. Untuk masuk ke Sungai Musi, speedboat melewati Jalur 21. Jalur itu menghubungkan Air Sugihan dengan Sungai Saleh kemudian melewati satu jalur lainnya yang menghubungkan Sungai Saleh dengan Sungai Upang. Pada masa sekarang, sulit sekali mencari cabang dan anak sungai alamiah yang dulu menghubungkan Air Sugihan, Sungai Saleh dan Sungai Upang yang akhirnya bertemu dengan Sungai Musi di Delta Upang. Sungai-sungai alam itu telah hilang, digantikan oleh jalur-jalur irigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim mampir di Desa Upang, Kecamatan Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin, yang terletak di Delta Upang. Desa ini menjadi terkenal di kalangan ahli-ahli Sriwijaya, ketika Boechari (1993) mengidentikasi lokasi Desa Upang ini pernah dikunjungi oleh Dapunta Hiyan dan ribuan tentara dengan naik perahu. Mukha Upang yang teridentifikasi dalam Prasasti Kedukan Bukit disamakan dengan Upang, desa yang terdapat di Delta Upang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalan dari Desa Upang ke Palembang menempuh waktu sekitar satu jam. Di Palembang, tim merapat di Benteng Kuto Besak. Jalur ekspedisi berakhir di tempat itu. Rute Ekspedisi Sriwijaya 2009 dapat dilihat pada gambar 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.3 Pembahasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu para pelaut asing yang berlayar dari Selat Malaka dan Laut China Selatan ketika memasuki Selat Bangka mendapat petunjuk tentang Pulau Bangka dari tanda-tanda geografis: bukit, tanjung dan pulau kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit Menumbing, yang terletak di Pulau Bangka telah dikenal oleh para pelaut asing sebagai pedoman untuk masuk menuju ibukota kerajaan di Palembang. Bukit ini letaknya berhadapan dengan mulut Sungai Musi, jalur transportasi ke ibukota Sriwijaya. Pada abad XV-XVI Masehi pelaut-pelaut China menyebut Bukit Menumbing dengan nama Peng-chia shan (Peng-chia = Bangka, shan = gunung) menurut penafsiran OW Wolters (Bambang Budi utomo, 2003:65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelaut Portugis menggunakan Roteiros (Buku Panduan Laut) dari masa-masa yang sama untuk melayari Selat Bangka. Bukit Menumbing disebut sebagai Monopim. “Berlayar dari baratlaut ke tenggara, setelah melihat Monopim di Bangka, kapal-kapal mendekati Sumatera sampai garis hijau rendah hutan-hutan bakau kelihatan. Di sebelah barat Monopim pelayaran harus mengitari sebuah tanjung berkarang yang menjorok ke laut”. (P.Y. Manguin 1984:18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa jalan masuk ke kota Palembang dari Selat Bangka . Berhadapan dengan Pulau Bangka terdapat muara-muara sungai, yaitu Sungai Banyuasin, Sungai Musi (Sungsang), Sungai Upang (bertemu dengan Musi di Delta Upang), Sungai Saleh dan Air (sungai) Sugihan. Berita China Shun-feng hsiang-sung (abad XV Masehi) memberi petunjuk tentang jalan yang benar ke ibukota kerajaan :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ketika buritan kapal diarahkan ke Niu-t’ui-ch’in (pusat bukit pada rangkaian perbukitan Menumbing), anda dapat terus berlayar memasuki Terusan Lama (= Musi). Garis daratan di hadapan Bangka terdapat tiga buah terusan. Terusan yang di tengah (Terusan Lama) adalah jalan yang benar. Di situ ada sebuah pulau kecil” (Wolters tanpa tahun dalam Bambang Budi Utomo, 2003:65).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Berita China itu merekomendasikan kalau mau ke Palembang sebaiknya melalui jalur Sungai Musi (Sungsang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspedisi Sriwijaya 2009 memilih jalur Air Sugihan dalam perjalanan menuju Palembang dari Situs Kota Kapur di Pulau Bangka. Selain lebih dekat, di daerah aliran Air Sugihan para arkeolog menemukan situs-situs arkeologi dari masa pra Sriwijaya sampai abad XVI Masehi. Balai Arkeologi Palembang mencatat 26 lokasi situs di kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur ekspedisi yang dipilih itu antara lain untuk menjajaki kemungkinan adanya hubungan antara Situs Kota Kapur dan situs-situs yang tersebar di kawasan Air Sugihan. Sebelum Dapunta Hiyan dan bala tentaranya mengadakan ekspedisi ke Kota Kapur, kawasan itu merupakan daerah bermukim komuniti yang menganut agama Hindu. Ditemukannya arca Wisnu dari abad V-VI Masehi di Situs Kota Kapur merupakan bukti arkeologis yang terbantahkan. Berhadapan dengan Kota Kapur yang dipisahkan oleh Selat Bangka, terdapat permukiman masyarakat pantai timur Sumatera dari masa awal abad-abad Masehi hingga abad XVI Masehi, terutama terkonsentrasi di Kawasan Air Sugihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rute Kota Kapur - Air Sugihan masih dimanfaatkan pada masa-masa berikutnya. Pada zaman Sriwijaya Bukit Besar di Kota kapur, Pulau Nangka dan tanjung-tanjung di pantai Sumatera dan Bangka-Belitung menjadi pedoman navigasi pelayaran. Pada abad XIX Masehi Belanda membangun mercusuar di Pulau Pelepas juga untuk pedoman pelayaran. Pada masa sekarang jalur Bangka – Air Sugihan masih digunakan untuk membawa penumpang dan barang dengan speedboat kayu dan tongkang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu jalur dari Air Sugihan – Palembang pada masa sekarang harus melalui kanal-kanal buatan yang menghubungkan Sungai Musi, Sungai Saleh dan Air Sugihan. Dalam ekspedisi tidak dapat dilacak jalur alamiah yang menghubungkan Palembang – Air Sugihan pada masa lampau. Banyak sungai-sungai yang telah hilang karena adanya reklamasi dan pengendapan material sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian arkeologi-maritim merupakan penelitian interdisipliner yang memerlukan berbagai tenaga ahli di bidang maritim dan arkeologi. Diperlukan peralatan dan teknologi yang memadai dalam kegiatan penyelaman, ekskavasi bawah air, dan perekaman data. Semua itu mengharuskan perencanaan dan rancangan penelitian arkeologi maritim yang jelas dan berkesinambungan didukung sumber dana yang memadai. Oleh karena itu pengembangan arkeologi-maritim di Indonesia memerlukan kolaborasi dengan berbagai fihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup yang lebih luas, pengembangan arkeologi-maritim tidak semata di bidang penelitian saja tetapi juga ditindaklanjuti oleh kegiatan pelestarian dan pemanfaatan peninggalan bawah air. Ekspedisi Sriwijaya yang diselenggarakan oleh Balai Arkeologi Palembang dan Direktorat Peninggalan Bawah Air berupaya untuk mengintegrasikan kegiatan penelitian, pelestarian dan pemanfaatan dalam konsep dan pelaksanaannya. Diharapkan di masa mendatang dapat disusun kebijakan menteri dalam pengelolaan peninggalan arkeologi bawah air yang meliputi bidang penelitian, pelestarian dan pemanfaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bambang Budi Utomo, 2003, Masalah Sekitar Penaklukan Sriwijaya Atas Bumi Jawa, dalam Siddhayatra vol 8 No 2 November 2003. Palembang: Balai Arkeologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bowens, Amanda (ed), 2009, Underwater Archaeology. The NAS Guide to Principles and Practice. Nautical Archaeology Society ISBN: 978-1-405-17592-0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Wiyana, 2008, Laporan Pelatihan Arkeologi Bawah Air di Selat Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Palembang: Balai Arkeologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Green, Jeremy, 2004, Maritime Archaeology. A Technical Handbook. Elsevier Academic Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manguin, P.Y., 1984, “Garis Pantai di Selat Bangka: Sebuah bukti baru tentang keadaan yang permanen pada masa sejarah” dalam Amerta 8, hal. 17-24. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuti, Nurhadi, 2007, Jejak Bahari Kota Kapur, Kompas tanggal 5 November 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-545382005765963088?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/545382005765963088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/02/ekspedisi-sriwijaya-pengembangan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/545382005765963088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/545382005765963088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/02/ekspedisi-sriwijaya-pengembangan.html' title='Ekspedisi Sriwijaya: Pengembangan Arkeologi Maritim di Balai Arkeologi Palembang'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5801231913708063890</id><published>2010-01-23T08:08:00.008+07:00</published><updated>2010-02-12T15:00:48.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>Arkeologi UI -  Angkatan '82</title><content type='html'> &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1pMZUe_EpI/AAAAAAAAAnU/DIunhDV9Z24/s1600-h/terbaru82.psd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 237px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1pMZUe_EpI/AAAAAAAAAnU/DIunhDV9Z24/s400/terbaru82.psd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429736298627666578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Angkatan '82&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aloysius Febrian (Dedy)&lt;br /&gt;2. Aryanto B.&lt;br /&gt;3. Asmara Jaya&lt;br /&gt;4. Barli Nurbudi (Budi)&lt;br /&gt;5. Desi Indrati&lt;br /&gt;6. Dien Ahdiani&lt;br /&gt;7. Ganefi&lt;br /&gt;8. Gathut Dwi Hastoro (Gepeng)&lt;br /&gt;9. Isman Pratama Nasution&lt;br /&gt;10. Kristianto V.&lt;br /&gt;11. Laurentia MND (Djodja Djajadiningrat)&lt;br /&gt;12. Mariani Rachmiati (Ibuy)&lt;br /&gt;13. M. Arief&lt;br /&gt;14. M. Shodiq Firdaus&lt;br /&gt;15. Nurwahdini&lt;br /&gt;16. Punto Argari Sidarto&lt;br /&gt;17. Riani Listyowati (Riri)&lt;br /&gt;18. Rita Fitriati S.&lt;br /&gt;19. Sahurdi Zaini (Didi Busuk)&lt;br /&gt;20. Sri Patmiarsi (Aning)&lt;br /&gt;21. Stefan Sihombing (Ucok)&lt;br /&gt;22. Suryo Kusumanto&lt;br /&gt;23. Toni Utama&lt;br /&gt;24. Widhiana Laneza (Anez, alm)&lt;br /&gt;25. Endang Setyawati Soekmono&lt;/div&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5801231913708063890?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5801231913708063890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/arkeologi-ui-angkatan-82.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5801231913708063890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5801231913708063890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/arkeologi-ui-angkatan-82.html' title='Arkeologi UI -  Angkatan &apos;82'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1pMZUe_EpI/AAAAAAAAAnU/DIunhDV9Z24/s72-c/terbaru82.psd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-6880112658536794183</id><published>2010-01-23T08:06:00.006+07:00</published><updated>2010-02-12T15:01:08.918+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>Arkeologi UI - Angkatan '81</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1pL7W8b8iI/AAAAAAAAAnM/My8qJj9IXPw/s1600-h/terbaru-81.psd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 195px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1pL7W8b8iI/AAAAAAAAAnM/My8qJj9IXPw/s400/terbaru-81.psd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429735783891989026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Angkatan '81&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adjat Sudradjat&lt;br /&gt;2. Agam Radjawali (Bondol)&lt;br /&gt;3. Agi Ginanjar&lt;br /&gt;4. Agus Subroto&lt;br /&gt;5. Albert Ronny Vetter&lt;br /&gt;6. Boyke Indra Sakti&lt;br /&gt;7. Budhi Teguh Prasetyo (Tyo)&lt;br /&gt;8. Chaksana Abdul Hamid Said (Nana)&lt;br /&gt;9. Didiek Samsu Wahyu T. (alm)&lt;br /&gt;10. Ellen Rosawita Tunggono&lt;br /&gt;11. Fatchan H. (Kakan)&lt;br /&gt;12. Hartono (Tongki)&lt;br /&gt;13. Ida Andiani&lt;br /&gt;14. Quendangen Ign. Loyola (Ace)&lt;br /&gt;15. Rita Lestari&lt;br /&gt;16. Rr Triwuryani (Demplon)&lt;br /&gt;17. Sari Ramayanti&lt;br /&gt;18. Siti Nurbaity&lt;br /&gt;19. Tom Sukaryadi (Tom, alm)&lt;br /&gt;20. Petrus Priyo Sigit&lt;br /&gt;21. Eri Sudewo&lt;br /&gt;22. Indra Riawan&lt;br /&gt;23. Sorta Marlina Situmorang&lt;br /&gt;24. Lenny S. Toeslan&lt;br /&gt;25. Abd. Rahman&lt;br /&gt;26. Leo Karyadi&lt;br /&gt;27. Hidayat Solichin&lt;br /&gt;28. Ismawan&lt;br /&gt;29. Isak Purba&lt;br /&gt;30. Wiyati (Wiwied)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-6880112658536794183?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/6880112658536794183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/arkeo-angkatan-81.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6880112658536794183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6880112658536794183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/arkeo-angkatan-81.html' title='Arkeologi UI - Angkatan &apos;81'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1pL7W8b8iI/AAAAAAAAAnM/My8qJj9IXPw/s72-c/terbaru-81.psd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-154458618963472316</id><published>2010-01-20T06:45:00.003+07:00</published><updated>2010-01-20T06:53:15.333+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Kamboja Tingkatkan Perlindungan Atas Angkor Wat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Angkor Wat yang terletak di Kota Siem Reap, Kamboja, terkenal di seluruh dunia, dan dicantumkan dalam daftar warisan budaya dunia PBB. Baru-baru ini, rombongan liputan bersama CRI dan Radio Rakyat Guangxi mengunjungi Angkor Wat, mengenal sepenuhnya perhatian besar pemerintah Kamboja dan masyarakat internasional terhadap perlindungan atas peninggalan sejarah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Biro Perjalanan Propinsi Siem Reap, Kamboja, Koy Sang Selasa lalu memperkenalkan keadaan pengembangan industri pariwisata di Angkor Wat serta renovasi dan perlindungan atas benda budaya selama tahun-tahun belakangan ini kepada wartawan-wartawan rombongan liputan besama "Perjalanan Kerja Sama Tiongkok-ASEAN".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya, " Kini, jumlah wisatawan ke Angkor Wat sedang bertambah dengan kecepatan 30% sampai 35%, pada triwulan pertama tahun ini, telah diterima 530 ribu wisatawan, 380 ribu orang di antaranya berasal dari luar negari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koy Sang mengatakan, kompleks bangunan Angkor Wat telah menjadi tempat wisata dan arkeologi Kamboja yang terkenal, dengan mengundang sejumlah besar wisatawan dari berbagai pelosok dunia. Tapi akibat erosi angin dan hujan serta peperangan selama beberapa tahun, banyak peninggalan sejarah telah menjadi reruntuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus pengunjung yang mengalir tak henti-hentinya juga menyusahkan perlindungan atas Angkor Wat. Untuk merenovasi dan melindungi Angkor Wat dengan sebaik-baiknya, pemerintah Kamboja menyempurnakan mekanisme pariwisata, sementara aktif mengupayakan bantuan dari luar negari. Kini, tim kerja dari 10 negara, antara lain Perancis, India, Jepang, Jerman, dan Italia ambil bagian dalam pekerjaan perlindungan Angkor Wat dalam aneka bentuk. Tim kerja Tiongkok juga mengirim pakar-pakar terampil untuk berpartisipasi dalam proyek renovasi yang penting itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1990-an, atas permintaan UNESCO, pemerintah Tiongkok mengalokasi dana khusus dan mengirim arkeolog untuk berpartisipasi dalam pekerjaan perlindungan dan pemugaran Angkor Wat, sementara menetapkan Kuil Wihara Chau Say Tevoda yang mengalami kerusakan serius dalam Angkor Wat sebagai proyek pemugaran bantuan tahap pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan bangunan kuno Tiongkok yang kebanyakan berstruktur kayu, Kuil Wihara Chau Say Tevoda dibangun dengan batu-batu besar. Karena mengalami kerusakan serius, maka sangat sulit pemugarannya. Melalui penyelidikan dan persiapan awal selama 1 tahun, pakar perlindungan benda budaya Tiongkok secara resmi memulai proyek pemugaran Kuil Wihara Chau Say Tevoda. Pakar Perlindungan Benda Budaya, Jiang Huaiying yang juga kepala tim kerja Tiongkok memperkenalkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika kami datang ke lokasi, kuil ini pada pokoknya adalah reruntuhan. Kebanyakan bangunan telah runtuh, hampir 4,000 komponen bertebaran di sekitar bangunan runtuh. Tidak ada bahan referensi asli dan juga tidak ada foto-foto terkait, bahkan bentuk bangunan juga tidak jelas, semuanya sudah runtuh, maka kami perlu mempelajari bentuk Angkor Wat dan strukturnya untuk diadakan renovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan selanjutnya adalah pencocokan komponen. Melalui upaya selama 10 tahun, proyek perlindungan dan pemugaran Kuil Wihara Chau Say Tevoda di Angkor Wat Kamboja akan segera dirampungkan. Pekerjaan pakar perlindungan benda budaya Tiongkok mendapat penilaian tinggi UNESCO, pemerintah Kerajaan Kamboja menganugrahkan bintang tanda jasa tinggi nasional kepada Kepala Tim Kerja, Jiang Huaiying dan Wakil Kepala, Liu Jiang. Untuk pertama kali pemerintah Kerajaan Kamboja menganugerahkan bintang serupa kepada pakar asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Tim kerja Tiongkok sedang mulai melakukan renovasi terhadap peninggalan sejarah lain di Angkor Wat. Dengan mendapat bantuan berbagai negara, Angkor Wat sedang tampil di depan rakyat seluruh dunia dengan wajah yang lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(indonesian.cri.cn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-154458618963472316?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/154458618963472316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/kamboja-tingkatkan-perlindungan-atas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/154458618963472316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/154458618963472316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/kamboja-tingkatkan-perlindungan-atas.html' title='Kamboja Tingkatkan Perlindungan Atas Angkor Wat'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-1743207360449238186</id><published>2010-01-20T06:00:00.004+07:00</published><updated>2010-01-20T06:27:28.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Sejumlah Artefak Irak Dipamerkan di Leiden</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Menteri Kebudayaan Belanda, Ronald Plasterk, mengembalikan tablet tanah liat purba pada Irak. Tablet yang besarnya 7x4 centimeter itu berumur empat ribu tahun dan berasal dari kota Ur, Irak. Artefak itu adalah bagian dari pameran Retour Irak di Rijksmusem van Oudheden Leiden, atau Museum Purbakala Leiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1Y_gJvi2PI/AAAAAAAAAnE/tRNkauqk8HU/s1600-h/irak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1Y_gJvi2PI/AAAAAAAAAnE/tRNkauqk8HU/s200/irak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428596222445410546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam pameran ini 69 obyek, yang secara ilegal sampai di Belanda, dipertunjukkan. Obyek-obyek ini dicuri oleh gerombolan pencuri Irak dari situs-situs arkeologi lalu diselundupkan ke luar negeri. Para kolektor barang antik memesan barang-barang seperti itu lewat internet, misalnya di situs jual-beli Belanda, Marktplaats. Dengan cara inilah polisi akhirnya menemukan transaksi penyelundupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar pembeli tidak tahu barang antik yang mereka beli adalah curian. Pemerintah Belanda nantinya akan menyerahkan ke-69 obyek pameran itu ke Irak. Pemerintah Irak meminjamkannya untuk Belanda sampai tanggal 14 Februari mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(ranesi.nl)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-1743207360449238186?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/1743207360449238186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/sejumlah-artefak-irak-dipamerkan-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1743207360449238186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1743207360449238186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/sejumlah-artefak-irak-dipamerkan-di.html' title='Sejumlah Artefak Irak Dipamerkan di Leiden'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1Y_gJvi2PI/AAAAAAAAAnE/tRNkauqk8HU/s72-c/irak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-5234648626572805128</id><published>2010-01-20T05:37:00.001+07:00</published><updated>2010-01-20T05:40:44.802+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Keadaan darurat di Pompeii</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Italia menyatakan situs arkeologi Pompei dalam keadaan darurat, setelah selama puluhan tahun salah satu warisan budaya dunia tersebut tidak diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1Y0ZzRvkdI/AAAAAAAAAm8/nBkH5e_ZOlw/s1600-h/pompeii.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1Y0ZzRvkdI/AAAAAAAAAm8/nBkH5e_ZOlw/s200/pompeii.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428584018707714514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Rumah dan gedung penuh dekorasi rusak oleh cuaca&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dua juta wisatawan mendatangi situs tersebut setiap tahun, tetapi sejumlah bagian Pompei rusak, tertutup bagi umum karena perbaikan yang tidak pernah selesai, atau tertutup semak semak, sampah dan grafiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota kuno Romawi Pompeii bersama-sama dengan Herculaneum terkubur dalam debu dan lumpur, ketika terjadi ledakan gunung berapi Vesuvius sekitar 2 ribu tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berabad-abad, semua ingatan mengenai kota kembar itu hilang. Kemudian di awal abad ke-18, seorang petani setempat menggali sebuah terowongan dan dia menemukan reruntuhan teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pompeii langung menjadi tujuan wisata terkenal di dunia, yang memberikan kesempatan bagi para pengunjung melihat dunia pada masa kuno dulu seperti dibungkus oleh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bertahun-tahun, banyak dari rumah-rumah pribadi yang penuh dekorasi dan gedung-gedung umum yang terlihat setelah digali, sekarang mulai hancur karena cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, duapertiga kota Pompeii sudah tergali. Para pejabat mengatakan, paling tidak 150 meter persegi lukisan dinding kuno dan mosaik hilang setiap tahun karena buruknya pemeliharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pompeii adalah kota kuno yang sudah mati dan tadinya memiliki populasi sekitar 30 ribu orang. Tetapi kota ini tidak memiliki pasokan air seperti saat ini, ataupun sistem pembuangan limbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kota kuno yang sekarang menjadi tujuan wisata ini sangat kekurangan fasilitas umum termasuk kamar mandi, kios-kios makanan dan restauran untuk 2 juta pengunjung yang mengelilingi reruntuhan ini setiap tahun&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(bbcindonesia.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-5234648626572805128?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/5234648626572805128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/keadaan-darurat-di-pompeii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5234648626572805128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/5234648626572805128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/keadaan-darurat-di-pompeii.html' title='Keadaan darurat di Pompeii'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1Y0ZzRvkdI/AAAAAAAAAm8/nBkH5e_ZOlw/s72-c/pompeii.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-8549862890677539326</id><published>2010-01-20T05:34:00.001+07:00</published><updated>2010-01-20T05:37:12.441+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Makam kuno Peru digali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok arkeolog menggali sebuah makam kuno di Peru Utara, yang dapat memberi gambaran mengenai budaya suku Indian Moche sebelum Christopher Columbus datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1YzolC1nqI/AAAAAAAAAm0/hlLhGoFiNrA/s1600-h/peru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1YzolC1nqI/AAAAAAAAAm0/hlLhGoFiNrA/s200/peru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428583173073510050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Jenazah di dalam sarkofagus dari kayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Makam yang ditemukan di Ucupe, 670km dari ibukota Peru, Lima, terdiri dari sisa-sisa jenazah, perhiasan dan benda-benda keramik yang masih terjaga baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan ini menunjukkan bahwa mayat itu memiliki kaitan kebangsawanan, kata para pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Indian Moche hidup di tahun 100-800 sebelum Masehi dan terkenal ahli membuat keramik, aristektur dan irigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai utara Peru menjadi lokasi tempat ditemukannya banyak peninggalan arkeologi mengagumkan dalam beberapa dasawarsa terakhir, kata wartawan BBC Dan Collyns di Peru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklim padang pasir yang kering di kawasan itu membantu mengawetkan peninggalan-peninggalan dari kebudayaan Indian Moche ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para arkeolog mengatakan, jenazah dalam kuburan yang ditemukan di dalam sebuah sarkofagus atau peti jenazah kayu itu mengenakan topeng pemakaman berwarna emas dan dikelilingi oleh mahkota, anting-anting, hiasan hidng dan kuping dari tembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninggalan-peninggalan lain, seperti mayat seorang laki-laki muda dan binatang seperti llamas juga ditemukan tidak jauh dari makam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arkeolog Peru Walter Alva, yang menjadi pemimpin penggalian bersama putranya, Bruno, mengatakan kepada kantor berita AP: "Sejumlah elemen seperti tongkat kerajaan dan mahkota dari emas merupakan pertanda seseorang berada dalam tingkat hirarki tertinggi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para arkeolog yakin makam ini memiliki kaitan dengan reruntuhan-reruntuhan suku Indian Moche lain di daerah itu.&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(bbcindonesia.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-8549862890677539326?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/8549862890677539326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/makam-kuno-peru-digali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8549862890677539326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/8549862890677539326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/makam-kuno-peru-digali.html' title='Makam kuno Peru digali'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1YzolC1nqI/AAAAAAAAAm0/hlLhGoFiNrA/s72-c/peru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-6161497154320636326</id><published>2010-01-20T05:27:00.004+07:00</published><updated>2010-01-20T05:33:15.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Kuburan gladiator ditemukan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Makam seorang jenderal yang diduga menjadi inspirasi tokoh utama film The Gladiator berhasil ditemukan di kota Roma, Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1YyEgb1UyI/AAAAAAAAAms/KalyWMArEEs/s1600-h/gladiator.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1YyEgb1UyI/AAAAAAAAAms/KalyWMArEEs/s200/gladiator.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428581453849252642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Para pakar arkeologi terus bekerja di lokasi makam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam Maracus Nonius Macrinus adalah satu dari beberapa penemuan arkeologi yang berhasil dilakukan di kota itu baru baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marcus Nonius Macrinus dulu merupakan jenderal kesayangan Raja Marcus Aurelius, dan membantunya memenangkan peperangan di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diyakini merupakan salah satu inspirasi dalam menggambarkan tokoh Maximus Decimus Meridius yang diperankan oleh Russel Crowe dalam film Gladiator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meski dalam film tokoh itu juga menjadi kesayanagan Marcus Aurelius dan turun ke medan perang di abad ke dua setelah Masehi, hanya itu kesamaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenderal Romawi yang sebenarnya ini tidak tercatat telah dijual sebagai budak dan kembali ke Roma sebagai gladiator yang hendak membalas dendam seperti dalam film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;'Kuburan 'besar'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuburan ini ditemukan di lokasi pembangunan di Via Flamina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar balok marmer, tulisan dan dekorasi masih terpelihara dengan baik karena terlindung oleh lumpur yang meluap saat terjadi banjir Sungai Tiber satu abad lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah "monumen Romawi kuno paling penting yang ditemukan dalam 20 atau 30 tahun ini". ujar ahli arkeologi senior Daniela Rossi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 10 tulisan di makam itu merinci kehidupan Marcus Nonius Macrinus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenderal ini berasal dari Brescia, Italia utara, menjabat sebagai komisaris polisi, hakim, wakil di Asia dan tangan kanan Raja Marcus Aurelius, yang memintanya berperang melawan suku Jerman di Eropa Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;blockquote&gt;monumen Romawi kuno paling penting yang ditemukan dalam 20 atau 30 tahun in&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniela Rossi, pakar arkeologi&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tokoh di film yang dimainkan Russel Crowe pergi dan turun dalam perang-perang itu. Dan dia merupakan teman dekat Marcus Aurelius, secara kronologis keduanya berada dalam periode yang sama. Namun tokoh di film itu memiliki cerita yang sedih dan berakhir dengan kepiluanm, sementara Jenderal kami ini menjadi orang kaya dan terkenal," ujar Profesor Rossi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar makam itu tertutup lumpur, dan Profesor Rossi mengatakan para pakar arekeologi bekerja siang malam untuk menggalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin kami juga akan menemukan peti mayat dari batu. Terlalu cepat untuk mengatakan besaran peti mayat itu, namun terlihat ada jajaran kotak sepanjang 15 m, jadi cukup bear," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor berita Associated Press melaporkan pakar pekerja bangunan sedang terlibat dalam proyek renovasi sebuah stadion rugby saat menemukan satu kompleks pemakaman yang teratur seperti preumahan, blok dan jalan sebuah kota sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu menurut kantor berita AP, para pakar arkeologi yang sedang merestorasi tempat tinggal keluarga kerajaan di jantung kota Romawi kuno juga melorkan telah menemukan tempat yang diduga merupakan besar jalan bawah tanah tempat pembunuhan Kaisar Caligula oleh pengawalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(bbcindonesia.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-6161497154320636326?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/6161497154320636326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/kuburan-gladiator-ditemukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6161497154320636326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6161497154320636326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/kuburan-gladiator-ditemukan.html' title='Kuburan gladiator ditemukan'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/S1YyEgb1UyI/AAAAAAAAAms/KalyWMArEEs/s72-c/gladiator.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3602649146509526390</id><published>2010-01-12T06:50:00.005+07:00</published><updated>2010-01-16T07:46:56.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prasejarah'/><title type='text'>Lukisan Prasejarah di Pedalaman Sumatera</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Truman Simanjuntak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ini sangat spektakuler dan akan mengubah paradigma lukisan goa di Indonesia. Itu tanggapan saya ketika Wahyu Saptomo, Ketua Tim Penelitian Gua Harimau 2009, menginformasikan penemuan lukisan di goa tersebut. Selama ini sudah tertancap di benak para arkeolog bahwa lukisan goa (rock painting) prasejarah tidak dikenal di Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu saya benar-benar penasaran dengan informasi sepotong tersebut. Kebetulan hari itu saya mengeksplorasi goa-goa lain di sekitarnya. Benarkah ada lukisan? Pertanyaan itu baru terjawab ketika dalam briefing sehabis makan malam, Wahyu memperlihatkan foto-foto lukisan itu. Dia pun bercerita tentang penemuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi istirahat siang di goa, Wahyu tertarik melihat-lihat pojok timur goa. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada gambar-gambar yang terlukis di dinding dan langit-langit goa. Segera dia memberi tahu anggota tim lainnya yang sedang ngobrol di dekat kotak ekskavasi hingga semuanya bergegas menuju lokasi lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua Harimau, begitu penduduk menyebutnya, sekitar 2 kilometer di selatan Desa Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Konon, goa ini tempat kediaman harimau sehingga tidak seorang pun berani memasukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi goa cukup tersembunyi di lereng perbukitan karst sehingga untuk mencapainya harus memanjat tebing yang cukup terjal. Pepohonan besar dan semak belukar yang menutupi lereng bukit semakin menyembunyikan goa hingga tak seorang pun mengira jika di atas Kali Aman Basa yang sering dilewati penduduk menuju kebun itu terdapat sebuah goa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Bapak Ferdinata (50), penduduk Padang Bindu, yang pertama kali menginformasikan keberadaan goa ini, tahun 2008, ketika kami melakukan penelitian di Gua Karang Pelaluan, tidak jauh dari obyek wisata Gua Putri. Ceritanya yang sungguh-sungguh membuat kami tertarik untuk meninjaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui jalan setapak yang licin dan berlumpur di tengah hutan, dengan terengah- engah kami pun sampai di goa yang diceritakan. Benar, goa sangat besar dengan pintu masuk yang lebar dan tinggi, memiliki ruang depan dan belakang yang sangat luas. Kondisi ruang depan terlindung oleh bukit yang memayungi di atasnya, beserta pecahan-pecahan tembikar dan alat-alat batu di permukaannya, meyakinkan kami akan keberadaan sebuah goa hunian prasejarah yang ideal sehingga kami pun merencanakan penelitian intensif pada tahun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Figuratif dan nonfiguratif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan di Gua Harimau terpusat di pojok timur goa dengan sebagian besar pada permukaan dinding yang agak rata. Warna lukisan yang merah-kecoklatan membuatnya cukup menonjol di permukaan dinding goa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lukisan terbesar menyerupai anyaman tikar berbentuk segi empat segera menarik perhatian. Di sampingnya terdapat gambar anyaman lagi berukuran lebih kecil yang sedang dilintasi gambar hewan melata dengan moncong ke atas (ular?). Gambar serupa juga dijumpai di bagian lain. Di bawahnya lagi terlihat seekor hewan berkaki empat menyerupai rusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lukisan lain di sekitarnya yang tampak lebih jelas berupa hewan menyerupai rusa dan ayam dengan ekor yang memanjang miring ke atas. Lukisan-lukisan lainnya sudah terputus-putus karena sudah terhapus. Di bagian langit-langit goa masih terdapat lukisan lain, baik yang agak utuh maupun yang sudah rusak. Beberapa di antaranya menggambarkan hewan menyerupai anjing dan hewan lain yang sulit dikenali. Ada juga gambar kumpulan garis-garis lurus sejajar vertikal, belah ketupat, dan lingkaran konsentris bersusun tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain terdapat gambar yang kelihatannya sekadar olesan cat memanjang pada bagian permukaan yang menonjol sehingga memfantasikan hewan melata. Tampak pula coretan- coretan berjejer menyerupai tulisan dan masih terdapat gambar-gambar lain yang sulit dikenali karena sudah terhapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan lukisan tersebut dapat dibedakan dalam kelompok figuratif dan nonfiguratif. Kelompok pertama terkait dengan benda (tikar) atau makhluk nyata (hewan) yang mungkin dimaksudkan menggambarkan kondisi di sekitar lingkungan kala itu. Kelompok kedua diekspresikan dalam bentuk-bentuk geometris dan garis-garis. Belum jelas makna dari gambar-gambar itu, tetapi bisa jadi merupakan simbol yang terkait nilai-nilai atau alam pikir si pembuat dan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Paradigma baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan lukisan di Gua Harimau mengisyaratkan keberadaan lukisan lain di daerah Padang Bindu. Memang, dari sekitar 20 goa yang telah dieksplorasi tim kerja sama Puslitbang Arkeologi Nasional (Arkenas) dan IRD Perancis pada awal 2000-an, tidak satu pun menyimpan lukisan goa, kecuali jejak-jejak hunian manusia dari rentang 9000-2000 tahun lalu. Kondisi inilah yang selama ini memperkuat anggapan bahwa lukisan prasejarah tidak ada di wilayah karst Padang Bindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, penemuan terakhir ini telah membalikkan anggapan itu, bahkan mengubah pandangan lama atas zona sebaran lukisan. Belasan tahun lalu, para arkeolog meyakini Indonesia bagian barat tidak tersentuh lukisan goa. Namun, lewat penemuan-penemuan baru di Kalimantan, anggapan itu direduksi menjadi Sumatera dan Jawa. Sekarang, melalui penemuan di Gua Harimau, Sumatera (dan barangkali Jawa), anggapan itu minta direvisi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks regional, budaya seni karang (rock art) yang terdiri atas seni lukis (rock painting), seni pahat (rock carving), dan seni gores (rock engraving) tersebar luas di kawasan Indonesia timur, Filipina dan Asia Tenggara daratan, hingga Melanesia barat dan Australia. Di wilayah Kakadu di bagian utara Australia, lukisan goa sudah dikenal sejak sekitar 30.000 tahun lalu. Ada dugaan, wilayah ini merupakan salah satu pusat sebaran lukisan goa di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat lukisan goa lainnya terdapat di kawasan Eropa Barat, khususnya di wilayah Perancis dan Spanyol. Kita masih ingat masterpiece lukisan-lukisan goa yang mendunia di Goa Lascaux, Perancis barat daya, dan di Goa Altamira, Spanyol, dari budaya Magdalenian, paleolitik atas dengan pertanggalan 17.000-15.000 tahun lalu. Namun, harus diingat penemuan belum lama ini di Goa Chavet dan Cosquer di Perancis Selatan memperlihatkan lukisan goa sudah dikenal sejak 32.000 tahun lalu dalam rentang perkembangan budaya Aurignacian di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kedudukan lukisan goa di Indonesia? Sepengetahuan saya, kita belum memiliki pertanggalan absolut tentangnya. Sejauh ini pertanggalannya baru didasarkan pada analisis kontekstual di mana lukisan-lukisan umumnya terdapat di goa-goa yang mengonservasi jejak-jejak hunian dari paruh pertama Holosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diduga lukisan goa merupakan bagian dari budaya preneolitik yang berkembang sejak akhir Zaman Es sekitar 12.000 tahun lalu hingga kemunculan penutur Austronesia di sekitar 4.000 tahun lalu. Goa dan ceruk alam menjadi pusat aktivitas manusia kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai lokasi hunian, goa juga dimanfaatkan sebagai lokasi perbengkelan pembuatan alat-alat dari batu dan tulang serta lokasi penguburan. Sisa aktivitas dijumpai dalam bentuk alat-alat serpih, alat tulang, sisa tulang hewan buruan, perapian, alat-alat perhiasan, dan kubur-kubur manusia pendukung budaya tersebut. Bagaimana dengan lukisan Gua Harimau, apakah kontemporer atau bagian yang tidak terpisahkan dari kompleks lukisan goa di Indonesia timur atau berasal dari budaya yang lebih kemudian? Jawaban pertanyaan ini masih sangat hipotetis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, lukisan-lukisan itu berada pada goa yang mengonservasi tinggalan dari kehidupan berburu dan meramu (preneolitik) dan kehidupan menetap (neolitik), yang ditampakkan oleh tinggalan kubur-kubur manusia yang sangat menonjol. Pembuatan lukisan ini boleh jadi bagian dari salah satu budaya tersebut. Jika identifikasi anjing dan ayam benar ada dalam lukisan, data ini merujuk pada budaya neolitik yang telah mendomestikasikan hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, lukisan-lukisan di Gua Harimau juga memiliki kesamaan dengan lukisan goa preneolitik pada umumnya. Cat tunggal yang berwarna merah- kecoklatan mengingatkan bahan yang umum pada lukisan di Indonesia timur, walaupun ada juga bahan dari pigmen hitam dan putih. Keberadaan lukisan figuratif bersama nonfiguratif juga sangat umum dijumpai pada lukisan-lukisan goa. Perbedaan-perbedaan yang ada lebih mengacu pada penonjolan figur (hewan dan lain-lain) serta motif-motif yang berbeda-beda di setiap wilayah, disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan pemikiran komunitas setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silang argumen di atas menunjukkan masih banyak yang belum dapat dijelaskan tentang lukisan goa dari Gua Harimau. Penemuan ini baru raihan awal yang membuka perspektif baru bagi penelitian yang lebih luas. Kini sebuah tantangan dihadapkan kepada kita untuk menelusuri arti dan fungsinya, tidak hanya dalam konteks budaya lokal, tetapi juga dalam budaya regional masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Truman Simanjuntak &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahli Peneliti pada Puslitbang Arkeologi Nasional; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Direktur Center for Prehistoric and Austronesian Studies (CPAS)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Kompas, Jumat, 30 Oktober 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3602649146509526390?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3602649146509526390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/lukisan-prasejarah-di-pedalaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3602649146509526390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3602649146509526390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2010/01/lukisan-prasejarah-di-pedalaman.html' title='Lukisan Prasejarah di Pedalaman Sumatera'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-6854642131416283132</id><published>2009-12-10T06:25:00.013+07:00</published><updated>2010-01-16T07:46:35.682+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Titi Surti Nastiti'/><title type='text'>Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad Ke-8--15 Masehi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh: Titi Surti Nastiti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data prasasti masa Jawa Kuna diperoleh gambaran bahwa sejak berdirinya kerajaan Matarām Kuna, tahun 717 M. sampai dengan runtuhnya kerajaan Majapahit pada awal abad ke-16 Masehi, sering terjadi peperangan, baik peperangan yang terjadi antar kerajaan, peperangan antara kerajaan pusat dengan kerajaan vasal, maupun peperangan di dalam kerajaan itu sendiri. Adapun motivasi terjadinya peperangan dapat saja karena perebutan takhta, perluasan wilayah (ekspansi), maupun karena balas dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengertian populer, perang ialah suatu konflik antara beberapa kelompok politik yang terlibat dalam suatu permusuhan yang lama dan dalam skala besar, sedangkan menurut Carl von Clausewitz (1780-1831) perang ialah perkembangan social dan tindakan politik. Perang bukan hanya tindakan politik melainkan juga sebuah alat politik yang konkrit, suatu kelanjutan kebijaksanaan yang dilanjutkan ke yang lain (Lapian t.t.:1, 20). Dilihat dari beberapa teori tentang perang, dalam dua aliran pemikiran, yaitu teori yang menghubungkan perang dengan faktor biologis dan psikologis tertentu yang melekat pada manusia, dan teori yang menghubungkan perang dengan hubungan sosial dan pranata sosial tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai perang maka  tidak terlepas dari strategi perang yang dipakai dalam suatu peperangan. Kata strategi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani strategos, yang secara sempit dirumuskan sebagai “seni seorang jenderal”. Istilah itu muncul karena pada mulana strategi berkaitan dengan siasat militer bagaimana seorang jenderal berusaha mengelabui musuh, dan membagi-bagi pasukannya dalam perang. Dalam teori perang, strategi dan taktik umumnya ditempatkan dalam dua kategori yang berbeda. Dua bidang ini secara tradisional dirumuskan menurut dimensi yang berbeda. Strategi berkenaan dengan raung yang luas, jangka waktu yang lama, serta gerak militer besar-besaran; sedangkan tatktik merupakan aplikasi dari strategi. Dengan demikian strategi diartikan prelude (pendahuluan) sebelum terjun ke medan pertempuran, sedangkan taktik adalah kegiatan di medan perang. Oleh karena itu, lanjut Lapian (t.t.:12--14), kebanyakan pustaka dan teori mengenai strategi di masa lampau memusatkan perhatian kepada persiapan yang sebaik-baiknya sebelum berangkat ke medan perang, bagaimana memimpin pasukan sampai saatnya bertemu musuh. Keadaan ini menjelaskan mengapa lebih banyak perhatian diberikan kepada manuver strategis, yang ditujukan untuk menempatkan pasukan sendiri dalam posisi yang menguntungkan agar memaksa musuh berada dalam posisi yang merugikan dan membatasi musuh untuk bergerak secara bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kesusateraan Jawa Kuna terdapat bukti bahwa orang pada masa itu telah mengenal strategi perang, antara lain dari kakawin Bhāratayūddha, yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada masa pemerintahan Jayabhaya dari kerajaan Kadiri pada tahun 1019 Śaka (1157 M.)&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*1&lt;/span&gt;.  Kakawin ini menuliskan tentang bermacam-macam jenis byūha/wyūha (strategi perang) yang dilakukan oleh Pandawa dan Kaurawa dalam peperangan yang langsung berhadapan dengan musuh atau serangan frontal (lihat gambar di bawah ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*1&lt;/span&gt;. Angka tahun dalam kakawin Bhāratayūddha  ditulis dalam bentuk candra sangkala yang berbunyi śāka kāla ri sanga kuda śuddha candrama (Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja 1957:24; Wirjosuparro 1968:41).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan strategi perang, Wirjosuparto (1968:21--22) berpendapat bahwa di Indonesia telah dikenal strategi perang sāma-bheda-dańůa yang bersumber dari kesusateraan India yang berjudul Arthaśāstra antara lain menuliskan tentang pengetahuan politik, termasuk politik menghancurkan musuh, yang juga merupakan kitab pegangan keluarga raja-raja Gupta yang pernah mempersatukan sebagian besar India. Selanjutya Wirjosuparto menjelaskan bahwa meskipun sāma-bheda-dańůa diambil dari kitab Arthaśāstra, akan tetapi pengertian strategi tersebut dituliskan dalam kakawin Arjunawiwāha yang digubah oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan raja Airlangga (1019--1049) dan kakawin nitiśāstra yang diperkirakan berasal dari akhir masa Majapahit&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*2&lt;/span&gt;,  maka strategi perang sāma-bheda-dańůa itu dikenal dan dipelajari di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*2&lt;/span&gt;. Penggubah kakawin Nitiśāstra tidak diketahui, tetapi dari gaya bahasa dan susunan katanya diperkirakan berasal dari masa Majapahit akhir.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun inti ajaran yang dikemukakan dalam sāma-bheda-dańůa adalah: pertama bahwa setiap raja yang ingin membinasakan musuh-musuhnya wajib mencari sekutu (sāma) di antara kerajaan-kerajaan yang berhubungan baik, dengan perhitungan bahwa jika terjadi perang maka kerajaan yang menjadi sekutunya diharapkan memberikan bantuan atau setidak-tidaknya bersikap netral; kedua ialah dengan memecah belah (bheda); dan terakhir apabila memecah belah kerajaan-kerajaan musuh telah tercapai maka yang dilakukan ialah memukul (dańůa) musuhnya yang telah lemah (Wirjosuparto 1968:22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masa lebih kemudian kita mendapatkan keterangan mengenai beberapa strategi perang dari Dagh-Register VOC antara strategi militer Jawa dalam berperang, yaitu: (1) penyerbuan secara tiba-tiba (surprises attack); (2) merubuhkan pohon-pohon ke jalan raya sehingga jalan tertutup dan menghalangi serangan musuh, terutama menghalangi konvoi kereta barang; (3) memutuskan suplai makanan yang merupakan titik lemah sehingga dapat memaksa musuh menyerah karena kelaparab; dan (4) memutuskan suplai air dari bendungan sungai (Schrieke 1957:132--135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, maka dalam tulisan makalah ini akan dicoba membuktikan asumsi Wirjosuparto yang menyebutkan bahwa strategi dan taktik perang sāma-bheda-dańůa telah dikenal dan dipelajari di Jawa, yang dalam kasus ini akan diterapkan pada raja-raja Jawa pada abad ke-8--15 Masehi. Di samping itu juga akan dibicarakan mengenai beberapa strategi perang yang dipakai pada masa Jawa Kuna. Untuk keperluan tersebut dipakai data tekstual berupa prasasti, karya sastera, dan berita Cina dari masa yang sezaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad ke-8--15 Masehi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah diutarakan sebelumnya, dari data prasasti diketahui adanya peperangan, baik karena perebutan takhta, perluasan wilayah, atau balas dendam. Dalam peperangan-peperangan tersebut dapat dilihat strategi-strategi perang yang dipakai pada masa Jawa Kuna. Pertama, strategi yang dipakai adalah serangan yang mendadak atau surprise attack. Sebagai contoh ialah peperangan yang terjadi antara Śrī Dharmmawangśa Těguh Anantawikramottunggadewa (991--1016 M.) dari kerajaan Matarām Kuna dengan raja Wurawari&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*3&lt;/span&gt;  yang merupakan salah satu raja bawahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*3. &lt;/span&gt;Daerah Wurawari diperkirakan di sebelah selatan Karang Kobar, Banyumas (Schrieke 1959:215, 294).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan raja Wurawari terjadi tidak lama setelah perkawinan puteri Dharmmawangśa Těguh dengan Airlangga, sehingga para pakar Sejarah Kuna memperkirakan bahwa raja Wurari tadinya mempunyai ambisi untuk menikah dengan puteri mahkota dan menggantikan Dharmmawangśa Těguh. Akan tetapi yang dipilih oleh Dharmmawangśa Těguh sebagai menantu adalah kemenakannya yang berasal dari Bali.  Seperti disebutkan dalam sumber tertulis, Airlangga adalah putera Mahendradattā Guńapriyadharmmapatnī, adik Dharmmawangśa Těguh yang menikah dengan raja Udāyana dari wangsa Warmmadewa di Bali. Oleh karena tidak berhasil menikahi puteri Dharmmawangśa Těguh, raja Wurawari merasa kecewa dan dalam melampiaskan kekecewaannya, ia melakukan serangan mendadak ke istana Dharmmawangśa Těguh. Adanya serangan mendadak menyebabkan Dharmmawangśa Těguh tidak berdaya dan menemukan ajalnya dalam peperangan itu, sedangkan Airlangga berhasil melarikan diri ke hutan ditemani pelayannya yang setia bernama Narottama&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*4&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh serangan mendadak lainnya ialah peperangan yang terjadi antara Kěrtanagara (1268--1292 M.), raja kerajaan Singhasāri yang terakhir, dengan Jayakatwang  (1271--1293 M.) dari kerajaan Gělang-gělang atau Gěgělang&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*5&lt;/span&gt;.  Kěrtanagara tidak menyangka akan adanya serangan mendadak dari raja Jayakatwang yang merupakan raja bawahannya dan juga masih iparnya. Pada saat adanya serangan, Kěrtanagara sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman Kubhilai Khan dari Mongol. Adapun sebabnya ia berseteru dengan Mongol ialah ketika utusan Kubhilai Khan bernama Meng-ch’i datang ke Singhasāri pada tahun 1298 M untuk minta pengakuan tunduk kepada kerajaan Kubhilai Khan, permintaan itu ditolak dan Meng-ch’i dilukai mukanya. Penganiayaan terhadap utusannya itu oleh Kubhilai Khan dianggap sebagai penghinaan besar dan pernyataan perang dari Kěrtanagara. Maka pada awal tahun 1292 M. berangkatlah tentara Mongol untuk menaklukkan Jawa yang dipimpin tiga panglima perang, yaitu Shih-pi, Ike Mese (Iseh-mi-shih), dan Kao-hsing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*4&lt;/span&gt;. Setelah Airlangga menjadi raja, Narottama diangkat sebagai rakryān kanuruhan dengan gelar Mpu Dharmmamurti Narottama Danasura.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*5&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dalam Sěrat Pararaton, Kaůiri disebut sebagai Gěgělang yang beribukota di Daha, padahal dalam prasasti Mūla Malurung yang berangka tahun 1177 Śaka (1255 M.), Gělang-gělang adalah ibukota dari kerajaan Wurawan. Nama Kadiri sendiri telah dikenal sejak masa Airlangga. Pada masa Airlangga Daha merupakan ibukota kerajaan Pangjalu yang kemudian dikenal dengan nama Kadiri (Djafar 1978:112).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah Jayakatwang menyerang Kěrtanagara. Atas hasutan patihnya, Aryya Wiraraja, yang mengatakan bahwa kewajiban seorang ksatrya adalah menghapus aib seperti yang diderita oleh leluhurnya. Seperti ditulis dalam Sěrat Pararaton&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*6 &lt;/span&gt;,  Kěrtajaya   atau Dandang Gěndis, raja Kadiri terakhir, dikalahkan oleh Ken Angrok dari Tumapel pada tahun 1144 Śaka (1222 M.). Pada tahun itu juga Ken Angrok mendirikan kerajaan Singhasāri dan Kadiri menjadi bagian dari kerajaan Singhasāri. Dengan adanya hasutan Aryya Wiraraja, Jayakatwang, bertekad membalas dendam kematian leluhurnya (Kěrtajaya) oleh leluhur raja Kěrtanagara (Ken Angrok). Sebenarnya Jayakatwang adalah salah satu  raja daerah kerajaan Singhasāri yang berkuasa di Wurawan. Ia juga adik ipar Kěrtanagara karena ia menikah dengan puteri dari Wisnuwarddhana yang bernama Turuk Balī.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*6&lt;/span&gt;. Sěrat Pararaton atau Katutunira Ken Angrok ditulis dalam bentuk gancaran (prosa) berbahasa Jawa Tengahan, berasal dari masa Majapahit akhir. Hasan Djafar (1978:25) berpendapat bahwa Sěrat Pararaton ditulis tidak lama setelah tahun 1481 M., pada masa pemerintahan raja Girīndrawarddhana Dyah Rańawijaya. Pendapatnya ini dilandaskan pada peristiwa terakhir yang disebutkan yaitu gunung meletus yang terjadi pada tahun 1403 Śaka (1481 M.). Adapun isi Sěrat Pararton ialah tentang kronik raja-raja sejak kerajaan Singhasāri sampai kerajaan Majapahit.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sěrat Pararaton, dalam usaha meruntuhkan kerajaan Singhasāri, Aryya Wiraraja atau Banyak Wide tadinya adalah pejabat tinggi yang berkedudukan di pusat, akan tetapi karena ie mempunyai pandangan politik yang berbeda dengan Kěrtanagara, oleh Kěrtanagara ia dipindahkan menjadi asipati di Sumenep, Madura. Ia merasa sakit hati oleh perlakuan Kěrtanagara tersebut sehingga ia menghasut Jayakatwang untuk membalas dendam kepada Kěrtanagara dan berjanji akan memberitahu Jayakatwang saat yang tepat untuk menyerang Singhasāri. Pada waktu sebagian kekuatan tentara Singhasāri sedang berada di Malayu, Aryya Wiraraja menulis surat kepada Jayakatwang sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Pukulun, patih aji matur ing paduka aji, aněnggěh paduka aji ayun abuburu maring těgal lama, mangke ta paduka aji abuburua, duwěg kaladeçanipun tambontěn wontěn baya, tambontěn macanipun, tambontěn bańőengipun, muwah ulanipun, rinipun, wontěn macanipun anging guguh” (Brandes 1826:18).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamba, patih Yang Mulia, memberitahukan Paduka Raja, apabila Paduka ingin berburu ke tegal lama, sekaranglah saat yang tepat Paduka berburu, pada saat ada kesempatan baik. Tidak ada bahaya, tidak ada harimau, tidak ada banteng, juga ular (dan) musuh, ada harimau tapi giginya sudah ompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jayakatwang tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dalam penyerangannya ia memakai siasat makara wyūha  (Sumadio 1993:418, cat. no, 89) yaitu dengan melancarkan serangan dari dua arah, dari utara dan selatan. Pasukan yang menyerang dari utara hanya merupakan siasat yang memancing agar pasukan kerajaan Singhasāri keluar dari keraton.  Siasatnya ini berhasil, karena dengan adanya serangan dari utara, maka pasukan Singhasāri di bawah pimpinan Raden Wijaya&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*7&lt;/span&gt;  dan Arddharaja, anak Jayakatwang yang juga menantu Kěrtanagara, menyerbu ke utara dan mengejar musuh yang selalu bergerak mundur. Pada waktu kekuatan di keraton Singhasāri lemah lalu pasukan. Jayakatwang yang berada di selatan menyerang keraton dan dapat membunuh Kěrtanagara yang sedang melakukan upacara keagamaan&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*8&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:85%;" &gt;*7&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;. Raden Wijaya atau Narāryya Sanggramawijaya adalah nama anak Dyah Lěmbu Tal. Ia adalah pendiri kerajaan Majapahit yang naik takhta pada tahun 1293. Setelah ia menjadi raja bergelar Śrī Kěrtarājasa Jayawarddhana.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:85%;" &gt;*8&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;. Dalam Sěrat Pararaton (Brandes 1897:19), ketika ada serangan dari Jayakatwang, Kěrtanagara disebutkan sedang bermabuk-mabukan (sira bhaőāra çiwa buddha pijěr anadah sajöng = Beliau Bhatara Siwa Buddha terus menerus meminum tuak). Sebenarnya pada saat itu ia sedang melakukan upacara keagamaan. Oleh karena ia adalah penganut agama Buddha Tantrayana yang telah mencapai tingkatan sūnyaparamānanda atau tingkatan hidup sebagai Adibuddha yang abadi, yang mengecap kebahagiaan tertinggi. Dalam tingkatan ini tidak ada lagi yang terlarang baginya, juga menikmati pañcamakara, yaitu maithuna (hubungan seksual), madya (minuman keras), mamsa (daging), matsya (ikan), dan mudra (sikap tangan yang menimbulkan kekuatan gaib) (Sumadio dkk. 1993:416--417). &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Kěrtanagara tidak menyangka dapat serangan mendadak dari Jayakatwang, terlihat dari ketidakpercayaannya ketika diberitahu ada serangan dari Daha, ia malah berkata: “kadi pira sirāji Jaya Katong mangkonon ring isun, apan sira huwus apakenak lawan isun, artinya betapa tega Jayakatong berbuat begitu kepadaku, padahal ia bersaudara denganku (Brandes 1896:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain strategi yang melakukan serangan secara tiba-tiba, juga ada strategi perang yang dilakukans secara frontal, yaitu serangan yang dilakukan dengan berhadap-hadapan dan terbuka. Dari kesusateraan Jawa Kuna didapatkan gambaran bahwa dalam perang frontal, pasukan yang maju ke medan perang diiringi oleh tetabuhan. Sebagai contoh dalam kakawin Arjunawiwāha pupuh 23.2--3 digambarkan situasi bagaimana di antara ramainya suara barisan tentara yang bersorak-sorak terdengar bunyi gendang, ketipung (terompet), gong, dan gemuruh tambur (Poerbatjaraka 1926:45--46; Wiryamartana 1990:104, 160).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama peperangan, tabuh-tabuhan tersebut terus dibunyikan, ini terlihat dari kalimat pada pupuh 25.5 yang menggambarkan bagaimana bunyi gong dan riuh genderang tidak lagi terdengar karena terkalahkan oleh oleh bunyi perisai berdentang-dentang, gemerincingnya golok, dan gelegar konta mengenai gajah. Ditambah dengan lenguhan orang yang menghembuskan nyawa, yang mengaduh, dan pekikan orang yang menyerang (Poerbatjaraka 1926:49; Wiryamartana 1990:107, 164).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran adanya pasukan perang yang sedang berjalan menuju medan perang dengan membawa tetabuhan digambarkan pada Candi Panataran (abad 12--14 M.). Dalam relief yang menceritakan kisah Rāmayana terdapat adegan pasukan kera yang akan berperang dengan pasukan raksasa dari Alengka, di antara pasukan kera itu ada dua ekor  kera yang membawa  tetabuhan yang berupa gong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyA1crAUrvI/AAAAAAAAAk0/VtLBJxY59lo/s1600-h/perang-1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 249px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyA1crAUrvI/AAAAAAAAAk0/VtLBJxY59lo/s320/perang-1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413385518796025586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;J.L.A. Brandes (1904)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Foto 1. Pasukan kera yang membawa gong&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Peperangan secara frontal ini dapat dilihat dalam perebutan takhta kerajaan Matarām yang terjadi sekitar abad ke-9 M. antara Rakai Pikatan (850--856 M.) dan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Menurut prasasti Siwagěrha  yang berangka tahun 778 (856 M.), peperangan ini berjalan selama satu tahun. Dalam peperangan ini, anak bungsu Rakai Pikatan yang bernama Rakai Kayuwangi Dyah Lokapāla (856--882) sebagai pemimpin pasukan yang gagah berani berhadapan dengan pasukan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Sekali waktu Rakai Kayuwangi berhasil memukul mundur Rakai Walaing yang menyebabkan Rakai Walaing mengungsi sampai ke atas bukit Ratu Baka dan membuat benteng di sana. Lokasi bukit ini sangat strategis sehingga Rakai Kayuwangi mengalami kesulitan untuk menggempurnya, tetapi berkat keuletannya, akhirnya ia berhasil menggempur pertahanan Rakai Walaing di bukit Ratu Baka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyA1c_jCWBI/AAAAAAAAAk8/WfpZ3zjSYE8/s1600-h/perang-2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 93px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyA1c_jCWBI/AAAAAAAAAk8/WfpZ3zjSYE8/s320/perang-2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413385524310333458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Relief Candi Borobudur panil I.b. 47 yang menggambarkan perang frontal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Contoh perang frontal lainnya ialah perang antar saudara yang dikenal dengan peristiwa parěgrěg. Peperangan ini terjadi antara Wikramawarddhana atau Bhra Hyang Wiśesa (1389--1400 M.) yaitu keponakan sekaligus menantu raja Hayam Wuruk (1350--1389 M.) yang berkuasa di kedaton kulon dengan Bhre Wirabhūmi, anak Hayam Wuruk dari selir yang berkuasa di kedaton wetan. Menurut Sěrat Pararaton, persengketaan antar keduanya mulai terjadi pada tahun 1323 Śaka (1401 M.), dan tiga tahun kemudian persengketaan makin memuncak sehingga terjadi peperangan. Pada awalnya Wikramawarddhana dapat dikalahkan oleh Bhre Wirabhūmi, tetapi setelah mendapat sokongan dari Bhre Tumapel Bhra Hyang Parameśwara, peperangan ini diahiri oleh kekalahan Bhre Wirabhūmi pada tahun1328 Śaka (1406 M.). Bertepatan dengan peristiwa tersebut, kaisar Ch’ěng-tsu dari Cina mengirimkan utusannya, Laksamana Chěng-Ho, ke Jawa pada tahun 1405 M. Setahun kemudian Chěng-ho menyaksikan kedua raja di Jawa sedang berperang, kerajaan bagian Timur kalah dan keratonnya dirusak. Pada saat terjadi pertempuran, utusan Cina sedang berada di kerajaan bagian Timur dan 170 tentara Cina tewas karenanya. Kaisar Cina sangat marah atas kejadian tersebut, dan ia menuntut Wikramawarddhana agar membaya denda sebanyak 60 ribu tail emas. Pada tahun 1408 M.,  ketika Chěng-ho diutus lagi ke Jawa, ia menerima pembayaran denda 10 ribu tail emas. Meskipun jumlah yang diberikan oleh Wikramawarddhana tidak sesuai dengan tuntutannya, Kaisar Cina tidak marah malah mengembalikan uang tersebut, karena bagian yang penting bukan uangnya melainkan Wikramawarddhana mengetahui kesalahannya (Groeneveldt 1960:36--37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesusasteraan Jawa Kuna disebutkan adanya strategi perang frontal yang disebut wyūha. Misalnya kakawin Bhāratayūddha menyebutkan adanya 10 macam wyūha, yaitu (1)  wukir sagara wyūha (susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera), (2) wajratikśna wyūha (susunan pasukan berbentuk wajra), (3) kagapati/garuda wyūha (susunan pasukan berbentuk garuda), (4) gajendramatta/gajamatta wyūha (susunan pasukan berbentuk gajah ngamuk), (5)  cakra wyūha (susunan tentara berbentuk cakra), (6) makara wyūha (susunan pasukan berbentuk makara),  (7) sūcimukha wyūha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum), (8) padma wyūha (susunan pasukan berbentuk bunga teratai), (9) ardhacandra wyūha (susunan pasukan berbentuk bulan sabit), dan (10) kānannya wyūha (susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis) (Wiryosuparto 1968:30--40). Menurut Kats dan Wirjosuparto,  jumlah wyūha  yang disebutkan dalam kakawin Bhāratayūddha berbeda dengan yang disebutkan  dalam karya sastera Kamandaka yang hanya menyebutkan  8 macam wyūha, yaitu (1) garuda wyūha, (2) singha wyūha (susunan pasukan berbentuk singa), (3) makara wyūha, (4) cakra wyūha, (5) padma wyūha, (6) wukir sagara wyūha, (7) arddhacandra wyūha, dan (8) wajratikśna wyūha (Wirjosuparto 1968:29; Kats 1923:240)&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*9&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil perbandingan, ternyata hanya ada empat jenis wyūha yang telah disebutkan di muka yang sama dengan kitab Arthaśāstra, yaitu kitab tentang strategi perang yang berasal dari India&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*10&lt;/span&gt;.  Keempat strategi perang itu adalah garuda wyūha, sūcimukha wyūha, wajra(tikśna) wyūha, dan ardhacandrika wyūha; sedangkan jenis-jenis wyūha lainnya, yaitu wukir sagara wyūha, gajendramatta/gajamatta wyūha, padma wyūha, cakra wyūha, makara wyūha, dan kānannya wyūha tidak terrdapat dalam kitab Arthaśāstra (lihat tabel 1). Bisa saja jenis-jenis wyūha tersebut merupakan strategi perang asli Jawa yang kemudian namanya diubah ke dalam bahasa Sanskerta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*9&lt;/span&gt;. Ternyata dalam karya sastera Kamandaka yang dikemukakan oleh Kats tentang strategi perang tidak ditemukan.  Dalam hal ini , Wiryosuparto agaknya  hanya mengutip Kats tanpa menelusuri ke naskah aslinya lagi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*10&lt;/span&gt;. Jenis-jenis strategi perang yang disebutkan dalam Arthaśāstra adalah: dańůa (susunan pasukan seperti alat pemukul), (2) bhoga (susunan pasukan seperti ular), (3) mańůala (susunan pasukan seperti lingkaran), (4) asamhata (susunan pasukan yang bagian-bagiannya terpisah), (5) pradara (susunan pasukan untuk menggempur musuh), (6) ůŕůhaka (susunan pasukan dengan sayap dan lambung tertarik ke belakang), (7) asahya (susunan pasukan yang tidak dapat ditembus), (8) garuůa (susunan pasukan berbentuk garuda), (9) sañjaya (susunan pasukan berbentuk busur), (10) wijaya (susunan pasukan menyerupai busur dengan bagian depan menjolok), (11) sthūlakarńna (susunan pasukan yang berbentuk telinga besar), (12) wiśālawijaya (susunan pasukan yang disebut kemenangan mutlak, susunannnya sama dengan sthūlakarńna, hanya bagian depan disusun dua kali lebih kuat), (13) camūmukha (susunan pasukan dengan bentuk dua sayap yang berhadapan muka dengan musuh), (14) jhashāsya (susunan pasukan seperti camūmukha, hanya sayapnya ditarik ke belakang), (15) sūcimukha (susunan pasukan yang ujungnya seperti jarum), (16) walaya (susunan pasukan seperti sūcimukha hanya barisannya terdiri dari dua lapis), (17) ajaya (susunan pasukan yang tidak terkalahkan), (18) sarpāsarīi  (susunan pasukan seperti ular yang bergerak), (19) gomūtrika (susunan pasukan yang berbentuk arah terbuangnya air seni sapi), (20) syandana (susunan pasukan yang menyerupai kereta), (21) godha (susunan pasukan berbentuk buaya), (22) wāripatantaka (susunan pasukan sama degan syandana, hanya semua pasukannya terdiri dari barisan gajah, kuda, dan kereta perang), (23) sarwatomukha (susunan tentara berbentuk lingkaran), (24) sarwatobhadra (susunan pasukan yang serba menguntungkan), (25) ashőānīkā (susunan pasukan yang terdiri dari 8 divisi), (26) wajra (susunan pasukan berbentuk wajra), (27) udyānaka (susunan pasukan berbentuk taman yang terdiri dari 4 divisi), (28) ardhacandrika (susunan pasukan berbentuk bulan sabit yang terdiri dari 3 divisi), (29) karkāőakaśrěnggi (susunan pasukan berbentuk kepala udang), (30) ariśőa (susunan pasukan dengan garis depan ditempati pasukan kereta perang, pasukan gajah, sedangkan pasukan berkuda  menempati baris belakang), (31) acala (susunan pasukan yang menempatkan barisan infanteri, pasukan gajah, pasukan kuda,  dan pasukan kereta perang, berbaris ke belakang), (32) śyena (susunan pasukannya sama dengan garuda), (33) apratihata (pasukan kuda, pasukan kereta perang, dan pasukan infanteri berbaris ke belakang), (34) chāpa (susunan pasukan berbentuk busur), dan (35) madhya chāpa (susunan pasukan berbentuk busur dengan inti kekuatan berada di bagian tengah) (Sharmasastry 1923:434--435; Wirjosuparto 1968:27--29).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tabel 1. Jenis-jenis Wyūha&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;center&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;No&lt;/td&gt;&lt;th&gt;Arthaśāstra&lt;/th&gt;&lt;th&gt;Bhārātayūddha&lt;/th&gt;&lt;th&gt;Kamandaka&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;1&lt;/th&gt;&lt;td&gt;dańůa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;2&lt;/th&gt;&lt;td&gt;bhoga&lt;/td&gt;&lt;td&gt; &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;3&lt;/th&gt;&lt;td&gt;mańůala&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;4&lt;/th&gt;&lt;td&gt;asamhata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;5&lt;/th&gt;&lt;td&gt;pradara&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;6&lt;/th&gt;&lt;td&gt;ůŕůhaka&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;7&lt;/th&gt;&lt;td&gt;asahya&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;8&lt;/th&gt;&lt;td&gt;garuůa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;garuůa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;garuůa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;9&lt;/th&gt;&lt;td&gt;sañjaya&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;10&lt;/th&gt;&lt;td&gt;wijaya&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;11&lt;/th&gt;&lt;td&gt;sthūlakarńna&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;12&lt;/th&gt;&lt;td&gt;wiśālawijaya&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;13&lt;/th&gt;&lt;td&gt;camūmukha&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;14&lt;/th&gt;&lt;td&gt;jhashāsya&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;15&lt;/th&gt;&lt;td&gt;sūcimukha&lt;/td&gt;&lt;td&gt;sūcimukha&lt;/td&gt;&lt;td&gt;sūcimukha&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;16&lt;/th&gt;&lt;td&gt;walaya&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;17&lt;/th&gt;&lt;td&gt;ajaya&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;18&lt;/th&gt;&lt;td&gt;sarpāsarīi&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;19&lt;/th&gt;&lt;td&gt;gomūtrika&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;20&lt;/th&gt;&lt;td&gt;syandana&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;21&lt;/th&gt;&lt;td&gt;godha&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;22&lt;/th&gt;&lt;td&gt;wāripatantaka&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;23&lt;/th&gt;&lt;td&gt;sarwatomukha&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;24&lt;/th&lt;td&gt;sarwatobhadra&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;25&lt;/th&gt;&lt;td&gt;ashőānīkā&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;26&lt;/th&gt;&lt;td&gt;wajra&lt;/td&gt;&lt;td&gt;wajratikśna&lt;/td&gt;&lt;td&gt;wajratikśna&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;27&lt;/th&gt;&lt;td&gt;udyānaka&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;28&lt;/th&gt;&lt;td&gt;ardhacandrika&lt;/td&gt;&lt;td&gt;ardhacandra&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;29&lt;/th&gt;&lt;td&gt;karkāőakaśrěnggi&lt;/td&gt;&lt;td&gt; &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;30&lt;/th&gt;&lt;td&gt;ariśőa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;31&lt;/th&gt;&lt;td&gt;acala&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;32&lt;/th&gt;&lt;td&gt;śyena&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;33&lt;/th&gt;&lt;td&gt;apratihata&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;34&lt;/th&gt;&lt;td&gt;chāpa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;35&lt;/th&gt;&lt;td&gt;madhya chāpa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;36&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;wukir sagara&lt;/td&gt;&lt;td&gt;wukir sagara&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;37&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;gajendramatta&lt;/td&gt;&lt;td&gt;-&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;38&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;padma&lt;/td&gt;&lt;td&gt;padma&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;39&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;cakra&lt;/td&gt;&lt;td&gt;cakra&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;40&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;makara&lt;/td&gt;&lt;td&gt;makara&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;41&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;kānannya&lt;/td&gt;&lt;td&gt;-&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th&gt;42&lt;/th&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;singha&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut disayangkan, karena terbatasnya data tekstual (prasasti dan karya sastera), kita tidak dapat mengetahui strtaegi serangan frontal yang dilakukan Rakai Kayuwangi terhadap Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Demikian pula strategi perang yang dijalankan oleh Wikramawarddhana  dalam menghadapi Bhre Wirabhūmi. Hanya satu hal yang dapat dipastikan bahwa dalam peperangan tersebut mereka menggunakan strategi perang tertentu, dan bisa saja memakai salah satu wyūha yang telah disebutkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi perang lainnya ialah strategi perang yang dilakukan oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya ialah kemenakan sekaligus menantu Kěrtanagara, karena ia menikahi keempat puteri Kěrtanagara. Setelah Kěrtanagara berhasil dibunuh oleh Jayakatwang, atas saran Aryya Wiraraja, ia berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang. Setelah mendapatkan kepercayaan penuh dari Jayakatwang, ia meminta hutan di daerah Trik&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*11&lt;/span&gt;  sebagai pertahanan dalam menghadapi musuh yang menyerang melalui Sungai Brantas. Kemudian, setelah permohonannya dikabulkan ia membuka daerah itu dengan bantuan Aryya Wiraraja menjadi desa yang dinamakan Majapahit. Di tempat itu, ia secara diam-diam memperkuat diri sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang Kadiri. Di Madura, Aryya Wiraraja sudah bersiap-siap pula dengan pasukannya untuk membantu Majapahit melawan Jayakatwang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*11&lt;/span&gt;. Daerah Trik diidentfikasikan dengan  Desa Tarik, Kecamatan Tarik, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan selesainya persiapan-persiapan untuk mengadakan perlawanan terhadap Jayakatwang pada awal tahun 1293, datanglah tentara Kubhilai Khan yang akan membalas perlakuan Kěrtanagara terhadap utusannya. Mereka tidak mengetahui jika kerajaan Singhasāri telah hancur dan rajanya, Kěrtanagara telah gugur. Bagi Raden Wijaya kedatangan pasukan Cina merupakan kesempatan yang baik untuk menyusun suatu strategi. Oleh karena itu dengan segera ia mengirimkan utusan kepada panglima pasukan Cina yang membawa pesan bahwa ia bersedia tunduk dan bergabung dengan pasukan Cina untuk menggempur Daha. Selain itu ia pun mengirimkan pengikut yang dipercayainya untuk memberikan informasi kepada pasukan Cina tentang jalan, sungai, dan sumber-sumber yang ada di negeri itu (Groeneveldt 1960:33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Cina menyerang Daha yang menjadi ibukota Kadiri dalam tiga gelombang. Gelombang pertama dilakukan pada awal bulan ketiga (April-Mei) di muara Kali Mas (Pa-tsieh), pasukan Cina menyerang pasukan Daha yang selalu siap menghadapi musuh dari luar. Dalam pertempuran ini pasukan Daha dapat dikalahkan. Setelah mendapatkan kemenangan, pasukan Cina dibagi menjadi dua: sebagian berjaga-jaga di muara Kali Mas dan sebagian lagi menyerang Daha. Akan tetapi sebelum mereka berangkat ke Daha, datang utusan Raden Wijaya yang meminta bantuan karena Majapahit akan diserang oleh pasukan Daha. Pada tanggal delapan bulan ketiga, terjadi pertempuran di Majapahit yang berakhir dengan kekalahan pasukan Daha. Tidak puas dengan kesuksesan yang dicapainya, pasukan Cina bergerak menuju Daha, dan pada tanggal 19 bulan yang sama mereka menyerang Daha. Jayakatwang telah siap menghadapi musuh dengan pasukan yang terdiri dari seratus ribu orang. Setelah pertempuran berjalan dengan dahsyatnya, akhirnya Jayakatwang menyerahkan diri dan ditawan bersama semua anggota keluarganya serta para pejabat tinggi kerajaan (Groeneveldt 1960:33--4; Sumadio dkk. 1993:425).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyA1dZE5ydI/AAAAAAAAAlE/hdFVhqUoLjE/s1600-h/perang-3.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 91px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyA1dZE5ydI/AAAAAAAAAlE/hdFVhqUoLjE/s320/perang-3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413385531163265490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salah satu adegan pada relief Borobudur panil Ib 44 yang menggambarkan prajurit  yang terdiri dari tiga pasukan, yaitu pasukan berkendaraan gajah, pasukan berkendaraan kuda, dan  pasukan berjalan kaki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setelah pertempuran antara pasukan Kadiri dengan Cina berakhir, Raden wijaya kembali ke Majapahit dengan alasan mengambil upeti yang akan dipersembahkan kepada Kaisar Cina. Dalam perjalanannya ke Majapahit ia dikawal oleh dua opsir dan duaratus tentara Cina. Di tengah perjalanan, ia berhasil mengelabui dan membunuh kedua opsir, kemudian menyerang pengawal-pengawalnya. Setelah mengalahkan pengawal-pengawal Cina, pasukan Raden Wijaya kembali ke Daha untuk menyerang tentara Cina. Dalam peperangan ini, tentara Cina mengalami kekalahan dan sisanya terpaksa melarikan diri meninggalkan Pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data tekstual, tidak pernah ada keterangan yang menyebutkan Raden Wijaya melakukan strategi perang sāma-bheda-dańůa, akan tetapi dari tahapan-tahapan perang yang dilakukan oleh Raden Wijaya, ia menjalankan strategi itu. Dalam menjalankan strateginya, pertama kali yang dilakukan oleh Raden Wijaya ialah berteman dengan Aryya Wiraraja, dalam hal ini strategi yang dijalankan ialah mencari pendukung agar ada yang membantu ketika ia menyerang Jayakatwang (sāma). Lalu ia menghasut tentara Cina dengan mengatakan bahwa Jayakatwanglah musuh yang dicari oleh balatentara tersebuut (bheda), dan setelah terjadi peperangan antara Jayakatwang dengan pasukan Cina yang diakhiri dengan kekalahan Jayakatwang, tindakannya yang terakhir adalah memukul balatentara Cina (dańůa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa contoh peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diambil kesimpulan bahwa strategi perang yang berupa serangan mendadak pada umumnya dilakukan oleh raja-raja yang mempunyai motivasi balas dendam, seperti yang dilakukan oleh raja Wurari terhadap Dharmmawangsa Těguh atau Jayakatwang terhadap Kěrtanagara. Tampaknya alasan mereka melakukan serangan mendadak adalah karena jika memakai strategi perang frontal, mereka pasti kalah sebab musuh yang dihadapinya jauh lebih kuat. Adapun strategi serangan frontal biasanya terjadi dalam perang saudara yang kekuatannya seimbang, seperti peperangan yang terjadi antara Rakai Kayuwangi an Rakai Walaing Pu Kumbhayoni atau Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhūmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai strategi perang sāma-bheda-dańůa, seperti telah diutarakan sebelumnya mungkin dilakukan oleh Raden Wijaya. Akan tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah Raden Wijaya melakukan strategi itu karena dia mempelajari strategi tersebut ataukah hanya kebetulan tahapan-tahapan dalam menjalankan strategi perangnya sesuai dengan sāma-bheda-dańůa. Karena jika kita teliti kembali kakawin Arjunawiwāha dan Nitiśāstra maka dapat diketahui bahwa dalam kedua kakawin tersebut, sāma-bheda-dańůa tidak khusus menjelaskan mengenai strategi perang. Dalam Arjunawiwāha pupuh 21.1 terdapat kata sāma-bheda-dańůa dan bukan sāma-bheda-dańůa yang menjelaskan Niwatakawaca yang sudah tidak mau lagi mau berdamai, yaitu perdamaian yang didamaikan dengan uang, akan tetapi hanya mau menyelesaikan masalahnya dengan perang; sedangkan Nitiśāstra, menekankan pentingnya uang/harta benda (dhana) dalam menjalankan sāma-bheda-dańůa, tanpa dhana maka sāma-bheda-dańůa tidak berhasil. Oleh karena itu asumsi Wirjosuparto yang menyebutkan sāma-bheda-dańůa telah dikenal dan dipelajari di Indonesia harus diuji kembali dan harus dicari bukti-bukti yang lebih kuat dan akurat untuk mendukung asumsi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat faktor-faktor yang menjadi pemicu perang, maka dapat disebutkan terjadinya perang pada masa Jawa Kuna terutama disebabkan oleh faktor-faktor biologis dan psikologis. Faktor-faktor biologis ini dapat disebabkan oleh persaingan untuk memiliki sesuatu, pelanggaran oleh orang luar, atau frustasi dalam kegiatan tertentu; sedangkan faktor psikologis didasarkan oleh sifat manusia yang secara lahiriah agresif (Lapian t.t.:5--6). Faktor-faktor itulah maka Kěrtanagara untuk menyatukan Nusantara melakukan ekspansi dengan peperangan. Atau perang antar sudara karena memperebutkan takhta kerajaan, seperti peperangan yang terjadi antara Rakai Kayuwangi yang dipimpin oleh anaknya, Rakai Kayuwangi dengan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni, atau antara Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhūmi; sedangkan faktor psikologisnya lebih menyangkut pada balas dendam, seperti yang dilakukan oleh raja Wurari terhadap Dharmmawangsa Těguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik faktor biologis maupun psikologis tersebut menunjukkan bahwa kehidupan pada masa Jawa Kuna menggambarkan adanya interest (kepentingan) yang tidak dapat diselesaikan melalui kompromi yang bersifat konsensus. Oleh karena itu terlihat adanya unsur pemaksaan kepentingan dari satu pihak terhadap pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kondisi seperti itu, perang yang menjadi salah satu bentuk penyaluran kepentingan dari satu pihak terhadap pihak lain, adalah juga merupakan bentuk konflik yang termasuk dalam kriteria yang paling tinggi dan fatal. Dengan demikian esensi konflik yang diimplementasikan melalui perang agaknya sejak masa lalu merupakan gejala yang paling efektif, daripada mengandalkan cara-cara perundingan atau pencapaian kesepakatan antara dua pihak yang bermusuhan, dan menyangkut persoalan di antara mereka yang berseteru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembahasan mengenai peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diambil kesimpulan bahwa perang yang terjadi karena dorongan psikologi maupun biologis mengandung suatu interaksi yang tidak selalu menguntungkan antara aspek kekuasaan (realitas) dan moral (idealis). Seharusnya aspek moral dapat mengawasi ambisi yang terlalu berlebihan dari kekuasaan. Tetapi ternyata aspek moral itu agak terabaikan. Secara argumentatif memang harus diakui bahwa aspek moral selalu menghadapi banyak persoalan, termasuk persoalan sangsi atau ganjaran yang tidak pernah jelas jika kita membicarakan efektifitas moral dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia. Akhirnya, masih lebih efektif bagi manusia atau sekelompok manusia untuk menyelesaikan persoalan-persoalannya melalui jalan kekerasan, yaitu perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brandes, J. 1986. “Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. Uitgegeven en Toeglicht door J. Brandes”, VBG XLIX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djafar, Hasan. 1978. Girīndrawarddhana. Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Groeneveldt, W.P. 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Jakarta: Bhratara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartoatmodjo, M.M. Soekarto. 1984. “Sekitar Masalah Sejarah Kadiri Kuna”, dalam Simposium Sejarah Kadiri Kuna, Yogyakarta, 28—29 September.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kats, J. 1923. Het Javaansche Tooneel I. Wayang Poerwa. Weltevreden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapian, A.B. t.t. “Perihal Perang”. Tidak terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magetsari, Nurhadi dkk. 1979. Kamus Arkeologi Indonesia 2. Jakarta: Proyek Penelitian Bahsa dan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1926. Arjuna-wiwāha. Teks en Vertaling. s’-Gravenhage: Martinus Nijhoff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poerbatjaraka, R.M.Ng. dan Tardjan Hadidjaja. 1957. Kepustakaan Djawa. Djakarta: Penerbit Djambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schrieke, B. 1959. Indonesian Sosiological Studies. Jilid II. Brussel: Uitgevermaatschappij A. Manteau N.V.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shamasastry, R. 1923. Kauttilya’s Arthaçāstra. Mysore. Cetakan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumadio, Bambang dkk. 1993. “Jaman Kuna”, dalam Marwati Djoened Poesponegoro dkk (ed.), Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: P.N. Balai Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirjosuparto, Sutjipto. 1968. Kakawin Bharata-Yuddha. Jakarta: Bharata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiryamartana, I. Kuntara. 1990. Arjunawiwāha. Seri ILDEP. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abstrak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari karya-karya sastera masa Jawa Kuna terdapat gambaran bahwa pada masa itu telah dikenal strategi perang yang  disebut byūha atau wyūha. Strategi perang yang disebutkan dalam karya-karya sastera itu hanya empat berasal dari  Arthaśāstra (India) dan sisanya adalah strategi perang Jawa asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa kasus peperangan yang terjadi pada masa Jawa Kuna dapat diketahui bahwa strategi perang berupa serangan mendadak merupakan strategi yang paling banyak dipakai oleh raja-raja Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunci: perang, wyūha, Jawa Kuna, Kadiri, Singhasāri, Majapahit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Abstract&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Old Javanese manuscripts had depicted about the war strategies which were  known as byūha or wyūha.  Old Javanese people had known around ten byūhas,  four of them derived from Arthaśāstra (India) and   the rest  were Old Javanese original tactics of war.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Based on  the cases of war which were happened in the past, we had known that the frontal strategy was the most used by the kings of Old Javanese kingdoms.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;           Keywords: war, wyūha, Old Javanese, Kadiri, Singhasāri, Majapahit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis wyūha yang terdapat dalam kakawin Bhāratayūddha (Wiryosuparto 1968:31--40):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyA1dtR0fwI/AAAAAAAAAlM/jqHj2bvRNSI/s1600-h/perang-4.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 144px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyA1dtR0fwI/AAAAAAAAAlM/jqHj2bvRNSI/s320/perang-4.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413385536586153730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Wajratiksna wyūha (kiri) dan wukir sagara wyūha (kanan)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBRz-MUFMI/AAAAAAAAAlU/XJyo79wTUxA/s1600-h/perang-5.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 162px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBRz-MUFMI/AAAAAAAAAlU/XJyo79wTUxA/s320/perang-5.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413416705409160386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Garuda wyūha&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBR0Fvfe5I/AAAAAAAAAlc/4DzPWPm1SQY/s1600-h/perang-6.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBR0Fvfe5I/AAAAAAAAAlc/4DzPWPm1SQY/s320/perang-6.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413416707435756434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Makara wyūha &amp;amp; Cakra wyūha&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBR0Y2P0YI/AAAAAAAAAlk/vO4MTcHVjVk/s1600-h/perang-7.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 111px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBR0Y2P0YI/AAAAAAAAAlk/vO4MTcHVjVk/s320/perang-7.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413416712564363650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Padma wyūha&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBR0y2geQI/AAAAAAAAAls/IS5fqJ61VVg/s1600-h/perang-8.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 250px; height: 126px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBR0y2geQI/AAAAAAAAAls/IS5fqJ61VVg/s320/perang-8.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413416719544776962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ardhacandra wyūha&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBR1BXIEKI/AAAAAAAAAl0/WUeXy0vKTr8/s1600-h/perang-9.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 150px; height: 141px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyBR1BXIEKI/AAAAAAAAAl0/WUeXy0vKTr8/s320/perang-9.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413416723439685794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kānana wyūha&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-6854642131416283132?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/6854642131416283132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/strategi-perang-raja-raja-jawa-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6854642131416283132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/6854642131416283132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/strategi-perang-raja-raja-jawa-pada.html' title='Strategi Perang Raja-raja Jawa pada Abad Ke-8--15 Masehi'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/SyA1crAUrvI/AAAAAAAAAk0/VtLBJxY59lo/s72-c/perang-1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-7425971924261340541</id><published>2009-12-09T14:35:00.009+07:00</published><updated>2010-01-16T07:47:35.207+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Titi Surti Nastiti'/><title type='text'>Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuna (Abad VIII - XV Masehi): Ringkasan Disertasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Titi Surti Nastiti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.  Bidang Ilmu dan Pokok Bahasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.1 Bidang Ilmu: Sejarah Kebudayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang ilmu dari kajian ini adalah sejarah kebudayaan. Sejarah kebudayaan Indonesia meliputi masa prasejarah dan masa sejarah. Masa sejarah dibagi lagi atas sejarah kuna dan sejarah modern. Sejarah kuna ialah masa sejarah yang dimulai sejak adanya pengaruh India yang berupa tulisan sampai masa kolonial, sedangkan sejarah modern mengacu pada masa kolonial yang ditandai dengan datangnya bangsa Eropa ke Nusantara sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bersentuhan dengan kebudayaan India, masyarakat Jawa pra Hindu-Buddha diperkirakan telah terorganisasi dalam suatu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wanua&lt;/span&gt; (desa) yang dipimpin oleh para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rāma&lt;/span&gt;  (pejabat desa). Setelah struktur sosial dan ekonomi berkembang ke tingkat yang lebih besar, maka terdapat kerja sama antara beberapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wanua&lt;/span&gt; yang dipimpin oleh seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rakai&lt;/span&gt; (van Naerssen dan de Iongh 1977:37; de Casparis 1981:45--6), yang memimpin suatu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kadatwan &lt;/span&gt;(keraton), yang merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat kebudayaan (Sedyawati 1996:5). Sepanjang sejarah kebudayaan Indonesia, terdapat tiga gelombang kebudayaan besar yang datang ke Indonesia yaitu kebudayaan India, kebudayaan Islam, dan kebudayaan Eropa. Kedatangan ketiga kebudayaan tersebut  menyebabkan terjadinya akulturasi antara kebudayaan Indonesia dengan ketiga kebudayaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.2 Pokok Bahasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok bahasan dalam kajian ini adalah kedudukan dan peranan perempuan pada masa Jawa Kuna. Sesuai dengan pokok bahasan maka yang menjadi pengamatan dalam penelitian ini adalah segala kegiatan perempuan yang didapatkan dari data tekstual maupun data artefaktual  dengan memakai kategori analisis gender. Gender adalah prinsip dasar dari hubungan sosial manusia yang didasarkan pada perbedaan dan persamaan laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara kultural (Conkey dan Gero 1994:8; Preucel dan Hodder 1996:418; Gilrischt 1997:8; Hays-Gilpin dan Whitley 1998:xv).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentangan masa dalam kajian yang cukup panjang (kurang lebih 7 abad) yaitu mulai dari masa Matarām Kuna sampai akhir Majapahit karena data tekstual (prasasti, teks sastra/hukum, berita asing) yang menuliskan mengenai perempuan sangat sedikit dan fragmentaris, sehingga apabila hanya mengkaji dalam satu masa saja  sangat sulit untuk mendapat gambaran mengenai kedudukan dan peranan perempuan pada masa Jawa Kuna yang utuh. Berkaitan dengan hal tersebut maka dalam membicarakan pokok bahasan akan dilihat bagaimana kedudukan dan peranan perempuan dalam  bidang politik, sosial, ekonomi, hukum, agama,  dan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Latar Belakang Permasalahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian terhadap masalah perempuan dalam disiplin arkeologi telah dimulai sejak tahun 1970-an pada saat feminisme merasuk ke dalam dunia ilmu pengetahuan, dan karena pengaruh feminisme tersebut gender mulai menjadi topik bahasan dalam arkeologi. Dalam perkembangannya, studi gender dalam arkeologi menjadi sub disiplin sendiri, yaitu arkeologi gender yang mulai dikenal sekitar tahun 1980-an (Johnson 2000:118) yang fokus penelitiannya kepada klasifikasi peranan, aktivitas, ideologi, serta identitas laki-laki dan perempuan pada masa lalu, serta perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka  berdasarkan pembagian sosial dan biologis suatu masyarakat (Renfew dan Bahn 2005:127; Gilrischt 1997:2).  Arkeologi gender mencakup tema-tema yang berbeda, yaitu koreksi terhadap bias laki-laki dalam arkeologi; kritikan terhadap struktur yang ada dalam praktek-praktek arkeologi; penafsiran kembali dari sejarah arkeologi; menguji gender dengan data arkeologi; dan kritikan terhadap apa yang dilihat sebagai bias laki-laki dianggap lazim dalam pengetahuan akademik dan dunia akademik secara umum (Johnson 2000:118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Conkey dan Spector dalam karyanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Archaeology and the Study of Gender&lt;/span&gt; (1984:14--24), bias gender dalam arkeologi terjadi karena paham androsentris. Androsentris ini merupakan konstruksi patriarki, yaitu sistem yang melalui tatanan politik dan ekonomi memberikan prioritas dan kekuasaan terhadap laki-laki dan dengan demikian secara langsung maupun tidak secara langsung, dengan kasat mata atau tersamar, melakukan penindasan atau subordinasi terhadap perempuan (Budianta 2005:207). Dominasi laki-laki terhadap perempuan menyebabkan adanya pembagian kerja secara seksual (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;division of labour&lt;/span&gt;), yang intinya adalah perbedaan jenis kelamin membawa dampak pada perbedaan jenis pekerjaan, jenis pekerjaan apa yang sepantasnya dilakukan oleh perempuan dan jenis pekerjaan apa yang memang merupakan pekerjaan laki-laki yang memunculkan konsep domestik dan publik. Laki-laki secara kodrati dianggap mempunyai fisik lebih kuat daripada perempuan maka terjadi pembidangan peran secara seksual yang menganggap bahwa perempuan lebih cocok berperan di sektor dalam lingkungan rumah tangga  dan laki-laki berperan di luar lingkungan rumah tangga. Pembagian peran ini ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akses kaum perempuan dalam proses pengambilan keputusan di sektor publik. Konsep domestik dan publik yang mendikotomikan  peranan laki-laki dan perempuan ini dikenal  sebagai oposisi biner (b&lt;span style="font-style: italic;"&gt;inary opposition&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya gambaran stereotip mengenai pembagian peranan antara laki-laki dan perempuan seperti disebutkan di atas adalah karena konstruksi patriarki. Padahal kedudukan dan peranan laki-laki dan perempuan tidak selalu sama dalam setiap kebudayaan, seperti disebutkan oleh Gero dan Conkey (1994:10) bahwa gender tidak selalu konsisten dalam setiap kebudayaan, selalu berubah, bisa berlaku di mana saja, dan tidak semata-mata hanya ada di suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana peranan gender di dalam kehidupan  masyarakat Jawa Kuna dapat dilihat dari data tekstual maupun data artefaktual. Data prasasti banyak menuliskan kegiatan gender di berbagai aspek kehidupan. Misalnya disebutkannya laki-laki maupun perempuan yang menduduki jabatan tertentu dalam pemerintahan,  contohnya dapat dilihat pada prasasti Juruűan (876 M.) dan prasasti Wariűin Pitu (1477 M.) yang menyebutkan nama-nama pejabat desa dan penguasa daerah. Atau  disebutkannya laki-laki maupun perempuan melakukan kegiatan dalam bidang sosial dengan menghadiri peresmian upacara śīma. Demikian pula kegiatan di bidang ekonomi dan kesenian, serta kegiatan-kegiatan  lainnya. Selain prasasti, teks-teks sastra pun banyak menuliskan kegiatan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan terutama dari kalangan bangsawan. Misalnya bagaimana kaum perempuan menghabiskan waktunya untuk menulis puisi atau kegiatan lainnya, dan bagaimana gambaran laki-laki yang berangkat ke medan perang, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data artefaktual, terutama pada relief-relief candi, baik candi-candi di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur banyak adegan yang menggambarkan kegiatan laki-laki maupun perempuan baik di lingkungan kerajaan maupun di lingkungan masyarakat biasa. Kegiatan di lingkungan istana biasanya digambarkan dalam adegan-adegan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;paseban&lt;/span&gt;, sedangkan kegiatan di lingkungan masyarakat pada umumnya menggambarkan kehidupan sehari-hari, seperti bertani dan berladang sebagaimana yang terdapat di beberapa relief di Candi Borobudur. Di samping itu ada beberapa relief yang menggambarkan laki-laki dan perempuan yang sedang melakukan upacara keagamaan atau ada juga yang menggambarkan mereka sedang menari atau memainkan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik untuk diungkapkan adalah adanya perbedaaan gambaran mengenai kedudukan dan peranan perempuan dalam masyarakat Jawa Kuna antara apa yang ditulis dalam prasasti dan teks-teks sastra terutama kakawin.  Data prasasti menunjukkan bahwa perempuan telah  memegang peranan penting dalam masyarakat (van Setten van der Meer 1979, Ayatrohaédi 1986; Lombard 1990; Nastiti 1998, 2001). Sebaliknya dengan kakawin yang menggambarkan perempuan masa lalu stereotip sebagai orang yang lemah dan subordinat dari laki-laki. Apabila diamati adanya perbedaan perspektif itu dikarenakan sumber-sumber yang dipakai berbeda. Sarjana yang menulis bahwa kedudukan dan peranan perempuan setara dengan laki-laki berdasarkan cerita rakyat yang asli Indonesia dan prasasti yang tentunya menulis peristiwa yang pernah terjadi di Jawa, sementara Helen Creese, sarjana yang menyebutkan bahwa perempuan adalah subordinat laki-laki menulis berlandaskan kakawin yang ceritanya berasal dari India yang budayanya sangat androsentris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jelas bahwa meskipun prasasti maupun kakawin sama-sama ditulis di Jawa, akan tetapi karena latar budaya yang berbeda maka penggambaran mengenai kedudukan dan peranan perempuan pun berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Permasalahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan apa yang telah dikemukakan dalam latar belakang permasalahan, bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak selalu sama dalam kebudayaan, merupakan latar dari kerangka pemikiran yang melandasi gagasan untuk mengangkat masalah mengenai  kedudukan dan peranan perempuan dalam masyarakat Jawa Kuna  pada abad ke-8 sampai abad ke-15 Masehi. Atas dasar apa yang telah dijelaskan dalam latar belakang permasalahan, muncul beberapa pertanyaan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Bagaimana sebenarnya pembagian pekerjaan dalam masyarakat Jawa Kuna? Apakah dalam masyarakat Jawa Kuna dikenal pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan serta menerapkan konsep domestik dan publik yang mengacu pada adanya dominasi laki-laki terhadap perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Apabila konsep domestik dan publik diterapkan berarti adanya  kesetaraan dan ketidaksetaraan dalam kedudukan dan peranan laki-laki dan perempuan. Kedudukan dan peranan dalam bidang apa saja yang mencerminkan adanya kesetaraan dan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Bagaimana masyarakat yang telah dikonstruksi secara sosial menganggap  kedudukan dan peranan perempuan secara biologis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut merupakan masalah-masalah yang akan dikaji dalam kaitannya dengan kedudukan dan peranan perempuan dalam masyarakat Jawa Kuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Kerangka Konseptual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam proses perkembangan manusia terdapat konsep-konsep mengenai pembedaan laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan dibedakan secara biologis dan secara sosial-budaya, perbedaan secara biologis di antara keduanya dianggap sebagai hal yang natural sedangkan perbedaan secara sosial dianggap kultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sherry B. Ortner, seorang antropolog terkemuka di Amerika, dalam makalahnya yang berjudul “Is female to male as nature is to culture”, berpendapat bahwa  perempuan secara universal tidak pernah bisa setara dengan laki-laki karena adanya dikotomi yang berlaku di semua masyarakat antara perempuan (yang dikaitkan dengan alam) dan laki-laki (yang dikaitkan dengan budaya). Menurut Ortner mengapa perempuan dikaitkan dengan alam karena selain fisiologi perempuan dan fungsi reproduksinya membuat perempuan lebih dekat kepada alam, juga karena keterlibatan perempuan dalam kegiatan reproduksi cenderung membatasi mereka pada fungsi-fungsi sosial tertentu yang juga dipandang dekat dengan alam, seperti menyusui dan mengasuh anak, termasuk sebagai orang pertama yang mengajarkan  si anak pada usia dini untuk bersosialisasi. Sementara laki-laki dikaitkan dengan budaya karena harus mencari sarana penciptaan budaya yaitu dengan teknologi dan simbol-simbol (Ortner 2005:27--37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya konsep budaya  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;culture&lt;/span&gt;) dan alam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nature&lt;/span&gt;) terkait satu sama lain. Sebagai contoh,  karena faktor biologis perempuan dapat melahirkan, akan tetapi ketika setelah melahirkan ada upacara-upacara tertentu untuk perempuan dan bayinya, maka hal itu sudah tidak ada sangkut pautnya dengan biologis si perempuan. Bayi yang baru lahir itu mulai berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Secara disadari atau tidak, bayi tersebut sudah menjalani proses enkulturasi (proses pembelajaran budaya seseorang). Melalui proses ini  seorang bayi belajar tentang peranan gender untuk masing-masing jenis kelamin, yaitu apa yang pantas dilakukan oleh laki-laki dan apa yang pantas dilakukan oleh perempuan sesuai dengan budaya di mana ia tumbuh dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara biologis tidak ada yang perlu dipersoalkan. Bukan  persoalan pula kalau perempuan karena kodratnya harus melahirkan dan menyusui, serta memelihara anak. Persoalan muncul jika faktor biologis tersebut dikonstruksi secara sosial dan budaya dengan konstruksi patriarki sehingga menimbulkan perbedaan gender dan peran gender dalam masyarakat yang melahirkan ketidakadilan gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya konstruksi sosial dan budaya menyebabkan  terjadinya pergeseran yang mendasar bagi pengertian gender, dari yang asalnya dianggap natural menjadi kultural.  Kesadaran akan perbedaan pendefinisian maskulinitas dan feminitas di setiap masyarakat membawa kesadaran akan adanya bentuk-bentuk pembagian kerja secara seksual (Saptari dan Holzner 1997:21). Untuk pengertian gender yang dikonstruksi secara sosial dan budaya maka pembagian kerja secara seksual dianggap wajar, seperti tugas kaum perempuan  adalah bekerja di lingkungan rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengasuh anak; sedangkan kaum lelaki mempunyai tugas yang berbeda dengan kaum perempuan, yaitu pergi ke luar rumah untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Pembagian tugas tersebut karena secara fisik laki-laki dianggap lebih kuat dari perempuan, dan dari segi psikologis laki-laki dianggap lebih rasional, lebih aktif, lebih agresif sedangkan perempuan  lebih emosional, pasif, dan submisif.  Menurut Davis et al. (1997:14) bagaimanapun hubungan gender adalah tipikal hubungan  laki-laki dan perempuan di mana kekuasaan dijalankan melalui ideologi hegemoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gender yang merupakan hasil  konstruksi sosial budaya terdiri dari sifat, sikap, dan perilaku seseorang yang dapat dipelajari sesuai dengan lingkungan sosial-budayanya, sehingga seseorang akan menyesuaikan diri sesuai dengan jenis kelaminnya. Seperti seorang laki-laki belajar bagaimana harus bersikap dan berperilaku sesuai dengan apa yang dikatakan pantas untuk laki-laki dan seorang perempuan belajar bagaimana harus bersikap dan berperilaku sesuai dengan apa yang dikatakan  pantas  untuk perempuan.  Dengan demikian sifat feminin bagi perempuan dan maskulin bagi laki-laki ditentukan oleh lingkungan sosial-budayanya. Gender diperoleh melalui proses panjang yang harus dipelajari sejak seseorang berusia dini. Apa yang pantas dan tidak pantas yang dilakukan oleh seorang laki-laki atau seorang perempuan tidak selalu sama antara satu budaya dengan budaya lainnya, dari satu waktu dengan waktu lainnya (Sadli 2000:4--5; Gero dan Conkey 1994:10; Johnson 2000:123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang menjadi kerangka pemikiran peranan gender adalah peranan mengacu pada apa yang diperankan laki-laki dan perempuan dalam institusi sosial, ekonomi, politik, hukum, dan agama di dalam lingkungan budaya tertentu. Peranan tersebut  harus disesuaikan dengan sistem nilai, norma, dan stereotip tentang laki-laki dan perempuan yang dilihat sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi posisi maupun hubungan perempuan dengan laki-laki atau dengan lingkungannya dalam struktur sosial yang ada. Sistem nilai tersebut ditanamkan pada laki-laki dan perempuan pada saat sosialisasi mereka di masa kecil, antara lain adalah maskulinitas dan feminitas. Untuk menentukan feminitas dan maskulinitas seseorang diperlukan sejumlah tatanan nilai yang diperlukan sebagai tuntunan berperilaku dalam masyarakat. Maskulinitas adalah ciri yang harus dimiliki setiap laki-laki  yang mencerminkan dengan kekuatan fisik, keberanian, agresif, dan kepemimpinan; sedangkan feminitas ciri yang dimiliki setiap perempuan yang mencerminkan kelemahlembutan, keengganan untuk menampilkan diri, dan kehalusan (Saptari dan Holzner 1997:50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas gender adalah sejauh mana seseorang menganggap dirinya sebagai laki-laki atau perempuan sebagaimana ditentukan oleh  jenis kelaminnya (Saptari dan Holzner 1997:202; Gilchrist 1997:16; Hays-Gilpin dan Whitley 1998:xv). Identitas gender mulai berkembang sejak usia dini karena berinteraksi dengan sejumlah orang dewasa yang sikap dan perilakunya telah terbentuk di dalam masyarakat. Ideologi gender adalah segala aturan, nilai, stereotip yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Saptari dan Holzner 1997:202; Hays-Gilpin dan Whitley 1998:xv).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep-konsep lainnya yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep-konsep yang diambil dari ilmu-ilmu sosial untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan politik, sosial, ekonomi, hukum, agama, seni, kedudukan dan peranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Tujuan dan Manfaat Penelitian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan tentang  perempuan pada masa Jawa Kuna pada umumnya bersifat fragmentaris, sehingga dapat disebutkan bahwa  sampai sekarang belum ada tulisan yang mengkaji perempuan secara mendalam  dan komprehensif.  Sehubungan dengan itu maka tujuan dari penelitian ini adalah membuat rekonstruksi bagaimana kedudukan dan peranan perempuan pada masa Jawa Kuna. Adapun tujuan lainnya adalah  untuk  menjelaskan bagaimana memaknai nilai-nilai budaya yang ada dalam  hubungan gender, peranan gender, dan ideologi gender yang telah direkonstruksi di dalam  masyarakat Jawa Kuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi  dalam studi tentang kedudukan dan peranan perempuan, khususnya  di dalam masyarakat pada masa Jawa Kuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Metode Penelitian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif karena sifat datanya  mempunyai latar belakang dan sejarah masing-masing sehingga tidak dapat digeneralisasikan. Oleh karena itu untuk penggarapan data memerlukan pengerjaan yang khusus.  Langkah pertama dalam penelitian ini akan dimulai dengan penentuan data dilanjutkan dengan pengumpulan data dan langkah berikutnya adalah analisis dan penafsiran data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data tekstual dan data artefaktual. Data tekstual terdiri dari  prasasti, teks sastra/hukum, dan sumber asing, sedangkan data artefaktual berupa arca, figurin, dan  relief. Setelah menentukan jenis data yang akan dipakai, maka langkah selanjutnya adalah pengumpulan data tekstual dan data artefaktual. Data  tekstual berupa prasasti dan teks-teks sastra/hukum. Prasasti yang dikumpulkan adalah prasasti-prasasti dari masa Matarām Kuna sampai masa Majapahit (abad ke-8 sampai ke-15 M.). Teks-teks sastra yang dikumpulkan  mulai dari teks tertua, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rāmāyańa&lt;/span&gt; dari masa Rakai Watukura Dyah Balitung sampai teks sastra/hukum dari masa Majapahit. Demikian pula dengan data artefaktual yang berupa arca, relief, figurin dikumpulkan dari masa yang sezaman dengan data tekstual,  yang berasal dari abad ke-8 M. sampai akhir abad ke-15 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan pokok kajian dalam penelitian ini adalah gender maka penentuan jenis kelamin laki-laki dan perempuan  harus jelas. Berlainan dengan data teks-teks sastra, berita asing, dan data artefaktual yang jelas sekali membedakan antara tokoh laki-laki dan perempuan, di dalam prasasti kadang-kadang tidak jelas apakah tokoh yang dimaksud itu laki-laki atau perempuan. Untuk dapat membedakan mana tokoh laki-laki dan mana tokoh perempuan dalam suatu prasasti, maka harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Nama, untuk nama berakhiran vokal panjang (ā, ī, ū) adalah nama perempuan, misalnya suhitā, kŕśńī, dhyanī, salaůū. (2) Nama yang didahului oleh sebutan kekerabatan yang jelas sekali menunjukkan karakter laki-laki atau perempuan, misalnya rama/bapa (ayah) dan rai/ibu (ibu dari) atau kaki  (kakek) dan nini (nenek). (3) Kata anakwi dan wadwan,  kedua kata itu dipakai untuk menyebut nama  pejabat perempuan  atau  istri seorang pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menganalisis figurin dan relief meskipun sama-sama merupakan data artefaktual akan tetapi dalam cara menganalisisnya memakai prosedur yang berbeda. Dalam menganalisis arca, yang perlu dianalisis adalah ukuran tokoh untuk mengetahui proporsi antropomorfis suatu arca karena dari ukuran dapat mendudukkan arca tersebut masuk dewa utama atau dewa dalam tingkat yang lebih rendah. Kemudian analisis secara ikonografi untuk mengetahui identitas arca dengan memperhatikan atribut-atribut yang dipakai seperti benda yang dipegang, tatanan rambut, mahkota, pakaian, dan perhiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Figurin yang berupa patung terakota biasanya menggambarkan tokoh baik laki-laki maupun perempuan. Pada umumnya figurin berasal dari masa Majapahit dan sebagian besar merupakan temuan lepas yang sudah tidak diketahui konteksnya lagi.  Dalam menganalisis figurin yang perlu diperhatikan antara lain adalah raut muka, posisi, pakaian, perhiasan, tatanan rambut. Pengamatan terhadap raut muka harus dilakukan dengan seksama, karena banyak figurin yang menggambarkan raut muka orang asing seperti raut muka bangsa Cina dan bangsa India. Figurin-figurin yang tidak jelas jenis kelaminnya tidak digunakan di dalam penelitian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relief umumnya dipahatkan pada unsur bangunan seperti umpak atau bangunan seperti candi, petirtaan, gua, punden berundak, dan lain-lain. Dalam menganalisis relief yang pertama diperhatikan adalah apakah relief itu masih terdapat dalam bangunan atau sudah lepas sehingga tidak mempunyai konteks lagi. Setelah itu dianalisis secara morfologi yaitu menganalisis figur relief  untuk dapat mengidentifikasikan tokoh-tokoh yang digambarkan apakah tokoh-tokoh tersebut adalah dewa-dewi, makhluk kayangan, dan manusia. Di samping itu, karena deskripsi ini termasuk dalam tipe adegan maka harus diperhatikan pula unsur-unsur penyerta yang memberikan sumbangan pada keutuhan gambaran mengenai tokoh yang bersangkutan (Sedyawati 1983:1). Apabila yang diteliti itu figur manusia maka yang harus diamati adalah  apakah figur itu laki-laki atau perempuan,  kemudian bagaimana tatanan rambut, pakaian dan perhiasan yang dikenakan, dan lain-lain untuk dapat mengidentifikasi tokoh. Selain itu yang perlu dianalisis adalah posisi dari tokoh tersebut, apakah tokoh tersebut digambarkan sedang berdiri, duduk, atau tidur.  Juga hubungan laki-laki dan perempuan dalam adegan-adegan yang digambarkan dalam satu panil atau antar panil, aktivitas apa yang mereka lakukan, dan latar belakang adegan, apakah adegan itu ada di dalam bangunan atau di luar bangunan.  Apabila relief tersebut itu berupa cerita maka harus diamati pula cerita yang digambarkan dari panil ke panil. Pembacaannya bisa searah dengan jarum jam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pradaksina&lt;/span&gt;) atau berlawanan dengan arah jarum jam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;prasawya&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menganalisis data relief ada dua tokoh yang masih diragukan laki-laki atau perempuan. Pertama, adalah tokoh yang digambarkan di Candi Mendut yang menggambarkan orang yang sedang memasak. Tokoh yang digambarkan di  relief tersebut sukar untuk ditentukan jenis kelaminnya. Untuk mengatasi kesulitan ini maka harus dilihat adegan apa yang digambarkan dalam relief ini dan disesuaikan dengan konteks cerita dari teks-teks sastra. Kedua, adalah tokoh yang sedang memasak yang digambarkan di relief umpak yang ditemukan di Trowulan, untuk mengetahui jenis kelaminnya maka dicari perbandingannya dengan penggambaran laki-laki dan perempuan yang dipahatkan di relief-relief candi di Jawa Timur yang dianggap sezaman dengan umpak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data tekstual dan artefaktual tersebut di atas, setelah dianalisis kemudian diintegrasikan. Apabila dalam proses interpretasi terdapat masalah-masalah yang tidak bisa dijawab atau tidak dapat dijelaskan oleh data tekstual maupun data artefaktual maka dalam penelitian ini akan dipakai pendekatan etnoarkeologi, yaitu pendekatan yang dalam penelitiannya mengamati tingkah-laku dan benda-benda budaya yang masih hidup sekarang (Bahn 1992:162). Adapun pendekatan etnoarkeologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan  kesinambungan sejarah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;direct historical approach&lt;/span&gt;), dan data etnografi yang dipakai sebagai analogi adalah masyarakat Jawa dan Bali yang dianggap masih ada kesinambungan dengan masyarakat Jawa Kuna. Karena seperti yang dikatakan Sharer dan Ashmore (2002:436), dalam melakukan analogi, makin besar tingkat kesinambungan budaya antara masyarakat masa lalu dengan masyarakat sekarang, makin dapat dipercaya keabsahannya. Dengan dipakainya analogi etnografi dalam penelitian ini diharapkan perilaku dan kebiasaan masyarakat masa lalu yang tidak tergambar dalam data tekstual maupun data artefaktual dapat direkonstruksi kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Ruang Lingkup Periode dan Wilayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan sebelumnya, yang akan diteliti di sini adalah mengenai peranan dan kedudukan perempuan  pada abad ke-8 sampai dengan ke 15 M. yang dalam Sejarah Indonesia masuk dalam  masa Klasik atau masa Hindu-Buddha, karena pada masa inilah berkembangnya agama Hindu dan Buddha di Indonesia yang berasal dari India. Masa Klasik sendiri mengacu pada rentangan waktu antara abad ke-4--5 M. yang merupakan mulainya masa sejarah di Indonesia sampai runtuhnya kerajaan Majapahit dan mulai berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa pada awal abad ke-16 Masehi. Rentangan waktu dalam penelitian ini dimulai dengan didirikannya Kerajaan Matarām Kuna oleh Raja Sañjaya pada tahun 717 M. sampai dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit pada awal abad ke-16 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Hasil Penelitian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Jawa Kuna, kesetaraan kedudukan dan peranan perempuan hampir mencakup di dalam pelbagai aspek kehidupan. Di bidang politik, perempuan dapat menduduki jabatan mulai dari jabatan pada struktur birokrasi yang paling rendah di pedesaan sampai kepada jabatan tertinggi. Meskipun dari segi kuantitas tidak sebanyak laki-laki, akan tetapi berdasarkan fakta ini dapat disimpulkan bahwa laki-laki maupun perempuan pada masa Jawa Kuna mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih jabatan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang sosial, kaum perempuan pada masa Jawa Kuna sudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, baik sebagai pendamping suami maupun sebagai diri sendiri. Data tekstual menggambarkan adanya istri-istri yang mendampingi suaminya pergi ke tempat upacara peresmian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sīma&lt;/span&gt;. Atau seperti yang disebutkan dalam beberapa prasasti yang menuliskan perempuan meresmikan suatu wilayah sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sīma&lt;/span&gt;. Sebagai contoh adalah prasasti Wulig (935 M.), Rakai Mangibil, selir dari Pu Sińůok meresmikan tiga bendungan di Desa Kahulunan,  Desa Wuatan Wulas, dan Desa Wuatan. Tugas seorang istri sebagai pendamping suami dapat pula dilihat dari data artefaktual. Pada relief-relief candi sering ditampilkan seorang raja atau seorang bangsawan laki-laki yang ditemani oleh perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kedudukan dan peranannya sebagai istri, terutama di kalangan bangsawan, kaum perempuan mempersiapkan dirinya untuk mendapat suami yang sesuai melalui pendidikan etika, seni, satra dan bahasa, seperti tercermin dalam teks-teks sastra Jawa Kuna. Teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mānawadharmaśāstra&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agastyaparwa&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kŕśńayana&lt;/span&gt; menuliskan bahwa perkawinan yang baik adalah perkawinan di antara orang yang sederajat. Pada masa Jawa Kuna, terutama masa Majapahit banyak perkawinan yang dilakukan di antara saudara sepupu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan dan peranan perempuan pada masa Jawa Kuna dalam bidang ekonomi tidak perlu diragukan lagi, terutama perempuan dari kalangan rakyat biasa. Mereka membantu perekonomian keluarga dengan membantu suami menggarap sawah atau  ladang. Di sela-sela kesibukan bekerja di sawah/ladang, menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga, mereka membuat barang-barang kerajinan seperti kain, barang-barang anyaman, barang-barang dari tanah liat, gula, minyak, dan sebagainya, yang digunakan untuk keperluan sendiri dan dijual. Selain itu, kaum perempuan pun handal dalam berniaga, yang dibuktikan dengan adanya pedagang-pedagang di tingkat eceran sampai saudagar (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bańigramī&lt;/span&gt;) yang melakukan perdagangan tidak hanya di tingkat desa tapi mungkin sampai tingkat regional dan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Jawa Kuna, masalah-masalah hukum diselesaikan oleh pejabat-pejabat kehakiman. Tidak banyak data tekstual yang menuliskan tentang masalah hukum. Satu-satunya prasasti yang isinya berkaitan dengan perempuan yang mempunyai kaitan dengan hukum adalah prasasti Guntur (907 M.). Prasasti ini menyebutkan adanya perempuan yang menjadi saksi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tatra sākśī&lt;/span&gt;) dan pemutus suatu perkara (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pinariccheda guńadośa&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Majapahit selain pejabat kehakiman yang  disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dharmmopapatti&lt;/span&gt;,  ada semacam Dewan Pertimbangan Kerajaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bhattāra saptaprabhu&lt;/span&gt;) yang beranggotakan keluarga kerajaan. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk memerintah yang menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Kerajaan adalah raja, permaisuri, ayah-bunda raja paman raja, dua adik perempuan raja beserta suaminya. Apabila anggota Dewan Pertimbangan Kerajaan ini terdiri dari laki-laki dan perempuan, maka pejabat kehakiman di tingkat pusat tidak pernah dijabat oleh perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak pernah disebutkan adanya pejabat  keagamaan perempuan, tidak berarti bahwa kaum perempuan tidak mempunyai peranan dalam bidang agama. Dalam beberapa prasasti disebutkan adanya pasangan suami istri yang membebaskan atau membeli tanah untuk keperluan suatu bangunan suci sebagai dharmma mereka. Selain itu prasasti Taji (901 M.) menyebutkan adanya warga desa laki-laki dan perempuan yang membeli tanah bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sīma&lt;/span&gt;  suatu bangunan suci. Data artefaktual pun memperlihatkan hal yang sama, pada relief-relief candi banyak adegan yang memahatkan adegan-adegan orang yang sedang memuja candi, baik perseorangan, pasangan suami istri maupun kelompok. Satu di antaranya dipahatkan di Candi Borobudur yang menggambarkan  pasangan suami-istri dari kalangan bangsawan yang memuja stūpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam dunia seni, terutama seni pertunjukan,  kaum perempuan pada masa Jawa Kuna telah mempertunjukkan keahliannya di depan penonton. Dari data artefaktual diketahui bahwa keahliannya ini tidak hanya dipertunjukkan di dalam ruangan seperti yang dilakukan dalam pesta-pesta yang dilakukan oleh kaum bangsawan, tetapi juga ada kesenian yang dipertunjukkan di jalan. Bentuk-bentuk pertunjukan yang dipertontonkan selain tari-tarian juga sulap seperti yang digambarkan dalam relief Candi Borobudur.  Bagi perempuan pada Jawa Kuna, seni bukan  hanya sebagai alat hiburan saja akan tetapi juga sebagai sumber penghasilan. Pada masa itu telah ada kaum perempuan profesional dalam bidang seni pertunjukan. Mereka dibayar untuk keahliannya dan mereka pun mempunyai kewajiban membayar pajak dari penghasilannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetaraan kedudukan dan peranan antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat Jawa Kuna berakar pada budaya yang tidak membedakan hak waris bagi laki-laki maupun perempuan di semua kalangan. Budaya ini tidak berubah  dari masa ke masa, mulai dari masa Matarām Kuna sampai masa Majapahit. Hanya mungkin ada aturan-aturan tertentu yang harus diikuti, misalnya untuk menduduki posisi putra/putri mahkota adalah anak pertama dari permaisuri. Contoh yang paling konkret adalah Śri Rājasawarddhanī yang dalam prasasti Kañcana/Buűur B yang menyebutkan bahwa ia anak bungsu Hayam Wuruk, dan dari kakawin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nāgarakŕtāgama&lt;/span&gt; diketahui bahwa ia yang disebut sebagai Kusumawarddhanī adalah putri mahkota. Adapun putra pertama Hayam Wuruk seperti yang disebutkan dalam teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pararaton&lt;/span&gt; adalah Bhre Wirabhūmi, tetapi karena ia bukan putra dari permasisuri maka ia tidak dapat menduduki jabatan sebagai putra mahkota. Tidak adanya perbedaan hak waris bagi laki-laki dan perempuan mempengaruhi konsep domestik dan publik di dalam masyarakat. Dalam masyarakat Jawa Kuna seorang laki-laki maupun perempuan dapat menjabat jabatan-jabatan publik asal mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan seperti yang dicontohkan di muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembagian pekerjaan berdasarkan jenis kelamin yang didasarkan pada maskulinitas dan feminitas seseorang sesuai dengan jenis kelaminnya,  dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari mayarakat Jawa Kuna. Pertama  adalah pekerjaan-pekerjaan yang membedakan pekerjaan antara laki-laki dan perempuan, terutama pekerjaan yang menyangkut fisik dan umumnya terdapat di dalam masyarakat kalangan bawah. Kedua, pekerjaan-pekerjaan yang tidak membedakan laki-laki atau perempuan, terutama berlaku pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak memakai kekuatan fisik. Jenis pekerjaan seperti itu didapatkan di setiap lapisan masyarakat, seperti jabatan-jabatan yang ada di desa maupun di pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian kerja secara fisik dapat diamati dari data artefaktual yang berupa relief. Pekerjaan yang dilakukan di sawah/ladang  misalnya, digambarkan perempuan menanam padi dan memanen hasil pertanian, sedang laki-laki mencangkul dan membajak. Selain itu ada pekerjaan-pekerjaan lain yang tampaknya dibedakan atas fisik mereka seperti yang tergambar dalam relief-relief yang menggambarkan pekerjaan laki-laki keluar rumah untuk menangkap ikan, berburu, menggembala, dan sebagainya sementara perempuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mengasuh anak, memasak, serta membuat produksi rumah tangga seperti menenun dan membuat barang-barang dari tanah liat. Tetapi tidak berarti bahwa laki-laki tidak bisa memasak, karena ada beberapa relief yang menggambarkan laki-laki yang sedang memasak dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Pekerjaan-pekerjaan seperti telah disebutkan di atas masih dapat ditemukan di dalam kehidupan masyarakat Jawa dan Bali sekarang, meskipun ada beberapa pekerjaan yang sudah mulai berangsur-angsur hilang bahkan ada yang sudah lenyap sama sekali. Adanya pembagian pekerjaan tersebut bukan berarti kelompok yang satu mendominasi yang lain, akan tetapi justru saling melengkapi karena mereka sadar akan adanya perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua peranan dan kedudukan perempuan dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuna setara dengan laki-laki. Ada beberapa aspek yang tidak setara, baik ketidaksetaraan itu lebih tinggi atau lebih rendah dari laki-laki. Dapat dikemukakan di sini bahwa dalam percaturan politik, perempuan  tidak saja dapat tampil di ranah publik karena ia memegang suatu jabatan, tetapi juga berperan secara tidak langsung di belakang suaminya. Berdasarkan data tekstual dapat diketahui ada beberapa raja yang diduga menjadi raja karena perkawinan. Sebagai contoh adalah Rakai Watukura Dyah Balitung yang diasumsikan menikah dengan putri mahkota. Seperti diketahui bahwa ayah Balitung hanyalah seorang raja bawahan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;haji&lt;/span&gt;). Demikian pula dengan Airlangga dan Raden Wijaya, keduanya menikahi putri mahkota dan putri-putri raja pendahulunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang istri yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi dari suaminya dapat dilihat juga dalam kasus Wikramawarddhana ketika ia mengeluarkan prasasti Patapan II  (1385 M.) dan prasasti Tirah atau Karaŋ Bogěm (1387 M.). Pada saat itu ia belum ia menjadi  raja, dan dalam kedua prasastinya itu ia memakai lambang daerah Lasěm yang merupakan daerah kekuasaan Kusumawarddhanī, istrinya. Hal ini mencerminkan bahwa kekuasaan Kusumawarddhanī  lebih besar dari Wikramawarddhana. Hal yang sama juga terjadi pada Bhre Wirabhūmi yang mendapat gelar dari istrinya, Nāgarawarddhanī.  Nāgarawarddhanī sebelum menjabat sebagai penguasa daerah Lasěm, ia terlebih dahulu menjabat sebagai penguasa daerah Wirabhūmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun peranan perempuan yang lebih rendah dari laki-laki adalah bela atau sati, tukon, perempuan yang tidak dapat menjabat sebagai pejabat-pejabat tertinggi keagamaan atau perempuan tidak dapat menjadi seorang kawi. Apabila ditelusuri asal mula dari adat istiadat yang menyebabkan adanya ketidaksetaraan maka dapat diketahui bahwa semua itu berasal dari kebudayaan India. Meskipun demikian dalam mengadopsi kebudayaan India, masyarakat Jawa Kuna tidak menerapkan langsung ke dalam budayanya, tetapi ada hal-hal yang disesuaikan dengan budayanya. Seperti yang disebutkan oleh berita Portugis yang melakukan bela atau sati ini tidak hanya dilakukan oleh perempuan tetapi juga oleh laki-laki bangsawan yang bunuh diri sebagai tanda setia kepada rajanya. Adanya laki-laki yang ikut bela  atau sati  tidak didapatkan di negara asalnya. Selain itu dalam melakukan bela atau sati, perempuan tidak langsung menerjunkan diri langsung ke dalam api yang berkobar seperti yang terjadi di India, tetapi menikam dirinya dulu sebelum jatuh ke dalam api. Hal ini mungkin dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dari perempuan yang melakukan bela  atau sati dan lebih manusiawi daripada yang dilakukan di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah hukum pun, hukuman yang dijatuhkan kepada laki-laki yang melakukan pelecehan seksual (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;paradāra&lt;/span&gt;) lebih berat daripada aturan-aturan yang terdapat dalam perundang-undangan di India, meskipun  seperti telah dikemukakan bahwa kitab-kitab perundangan-undangan yang ada di Jawa bersumber kepada kitab-kitab perundang-undangan India. Perbedaan ini karena seperti yang disebutkan dalam prasasti Bendosari dan Paruŋ adalah karena masyarakat Jawa Kuna telah mempunyai hukum adat yang dijadikan dasar pertimbangan selain kitab-kitab hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya anugerah raja kepada pejabat yang telah berjasa seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;angjamah rare, angjamah kawula, &lt;/span&gt;dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; menikahi ůayang&lt;/span&gt;, meskipun hal ini tampaknya merendahkan derajat kaum perempuan,  tetapi apabila diteliti secara seksama sebenarnya hal ini merupakan bentuk perlindungan terhadap perempuan. Karena dengan adanya hak-hak istimewa sebagai anugerah raja, maka tidak sembarang laki-laki terutama dari kalangan bangsawan yang dapat  melakukan hal-hal yang melecehkan kaum perempuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam masyarakat Jawa Kuna, ada kedudukan dan peranan khusus perempuan yaitu sebagai ibu, dan nenek.  Peranan seorang ibu selain juga ada hubungan biologis juga secara sosial. Dalam masyarakat Jawa Kuna, kedudukan dan peranan ibu sebagai orang sangat dihormati, baik peranan ibu dalam arti biologis maupun peranan ibu dalam arti sosial. Peranan ibu secara biologis tentunya karena ia telah melahirkan anaknya, sedangkan dalam arti sosial seorang ibu yang membimbing putra-putrinya dan terutama di kalangan elit dapat mewariskan kedudukan yang dijabatnya itu kepada putra-putrinya. Demikian pula peranan seorang nenek, selain aktif di bidang sosial, ia juga masih dibutuhkan sebagai pembimbing anak dan cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9. Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan dan peranan perempuan di dalam masyarakat Jawa Kuna dapat dibagi atas tiga kelompok, yaitu kedudukan dan peranan perempuan yang setara dengan laki-laki, kedudukan dan peranan perempuan yang tidak setara dengan laki-laki, serta kedudukan dan peranan khusus sebagai perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada kedudukan dan peranan perempuan yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari laki-laki, akan tetapi hampir di semua aspek kehidupan masyarakat kedudukan dan peranan perempuan telah setara dengan laki-laki. Perempuan pada masa itu telah menjadi mitra yang sejajar dengan laki-laki. Mereka dapat bergerak di ranah domestik sekaligus di ranah publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata,  apa yang baru diperjuangkan oleh perempuan-perempuan di Eropa dan Amerika Serikat untuk bisa setara dengan laki-laki pada tahun 1960-an dengan gerakan-gerakan feminisnya, bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan oleh kaum perempuan dalam masyarakat Jawa Kuna karena kedudukan dan peranan mereka di berbagai bidang telah setara dengan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Abdullah, Irwan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seks, Gender &amp;amp; Reproduksi Kekuasaan&lt;/span&gt;. Yogyakarta: Tarawang, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aburidho dan Sumarah Adhyatman. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;White Kendis&lt;/span&gt;. Jakarta: Himpunan Keramik Indonesia, 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adiwimarta, Sri Sukesi. “Unsur-unsur Ajaran dalam Kakawin Pārthayajña”. Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia, 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adhyatman, Sumarah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keramik Kuna yang ditemukan di Indonesia&lt;/span&gt;. Jakarta: Himpunan Keramik Indonesia, 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Archer, Léoni J, Susan Fischler, and Maria Wyke, ed. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Women in Ancient Societies. An Illusion of the Night&lt;/span&gt;. London: McMillan, 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardika, I Wayan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perajin pada masa Bali Kuna Abad IX-XI.&lt;/span&gt; Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana, 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Altekar, A.S. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;State and Government in Ancient India&lt;/span&gt;. Delhi: motilal Banarsidass, 1958.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayatrohaédi, ed. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kepribadian Budaya Bangsa&lt;/span&gt;. Jakarta: Pustaka Jaya, 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahn, Paul, ed. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dictionary of Archaeology&lt;/span&gt;. Glasgow: HarperCollins Publisher, 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banerjea, Jitendra Nath. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Development of Hindu Iconography&lt;/span&gt;. Calcutta: The University of Calcutta, 1941.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barret Jones, Antoinette. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Early Tenth Century Java from the Inscriptions: A Study of Economic, Social and Administrative Conditions in the First Quarter of the Century&lt;/span&gt;. Dordrecht: Foris, 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basset, Catherine. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bali Abianse. Côte cour,  Côté jardin&lt;/span&gt;. Jakarta: Total Indonesia, 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berg, C.C. “De Arjunawiwaha: Erlangga’s Levensloot en Bruinloftslici?”. BKI 97 (1938):19--94.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernet-Kempers, A.J. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ancient Indonesian Art&lt;/span&gt;. Amsterdam: C.P.J. van der Peet, 1959.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . Borobudur. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mysteriebeuren in steen Verval en restauratie Oudjavaans volksleven&lt;/span&gt;. Wassenaar: Servire B.V, 1973.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boechari, M. “Epigraphy and Indonesian Historiography”, Soedjatmoko et al., ed. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;An Introduction to Indonesia Historiography&lt;/span&gt;. Itacha/New York: Cornell University Press. 1965a:47--73.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “Rakryān Mahāmantri i Hino Śrī Sanggrāmawijaya Dharmmaprasado-ttunggadewi”.  Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Kedua 1962, VI, Seksi D  (Seksi Sastra dan Budaya). Jakarta: Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1965b:53--84.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “Preliminary Report on the Discovery of an Old-Malay Inscription at Sojomerto”. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Majalah Ilmu-ilmu Sastra&lt;/span&gt;  3:2--3 ( 1966):241--56.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Rakryān Mahāmantri I Hino. A Study on the highest court dignitari of Ancient Java up to the 13th Century”. JHS (1967-1968):7--20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  .  “Śrī Mahārāja Mapañji Garasakan”. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Majalah Ilmu-ilmu Sastra&lt;/span&gt; 4:1--2 (1968):1--26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----    . “Transkripsi Prasasti-prasasti”. Tidak diterbitkan, 1971&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “Jayapatra. Sekelumit tentang Pelaksanaan Hukum dalam Masyarakat Jawa Kuno”, Simposium Sejarah Hukum. Jakarta: Binacipta, 1975a:79--88&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “Ken Aŋrok Bastard of Tuűgul Amětuŋ”. Majalah Ilmu-ilmu Sastra 4:1 (1975b):15--33.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “Manfaat Studi dan Bahasa dan Sastra Jawa ditinjau dari Segi Sejarah dan Arkeologi”. Majalah Arkeologi 1:1(1977a):5--30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Epigrafi dan Sejarah Indonesia”.  Majalah Arkeologi 1:2 (1977b):1--39.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  .  “Candi dan Lingkungannya”. Majalah Ilmu-ilmu Sastra 7:2 (1977c):89--114.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Aneka Catatan Epigrafi dan Sejarah Kuna Indonesia”. Majalah Arkeologi 5:1--2 (1982.):15--38.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . Prasasti Koleksi Museum Nasional, volume 1. Jakarta: Proyek Pengembangan Museum Nasional, 1985/1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . ”Kerajaan Matarām sebagaimana terbayang dari data prasasti”, makalah dalam ceramah di Museum Nasional, Jakarta 1 November1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “The Inscription of Garamān, Dated 975 Çaka. The New Evidence on Airlangga’s Partition of His Kingdom”, Edi Sedyawati et al., ed. Monumen. Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1990:125--142.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosch, F.D.K. “Een koperen plaat uit 848 Çaka”. OV 1917.:88-98.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Oorkonde van Trawoelan II-IV”. OV Bijlage Q1918:169--74.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Oorkonde van Sendang Sedati”. OV  Bijlage B1922:22--7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Oorkonde van Kembang Aroem”. OV  Bijlage B1925.:41--9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brandes, J.L.A. Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en  Majapahit. Batavia: Albrecht &amp;amp; Rusche, 1886.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Een Jayapatra of Acte van Eene Rechterlijke Uitspraak van Çaka 849”. TBG 32 (1889):98--149.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Beschrijving van de ruïne bij de Desa Toempang genaamd Tjandi Djago in de Residentie Pasoeroean”. Archaeologisch Onderzoek op Java en Madura I. ‘s-Gravenhage, Mart. Nijhoof; Batavia: Albercht &amp;amp; Co, 1904.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Beschrijving van Tjandi Singasari; en de Wolkentooneelen van Panataran”. Archaeologisch Onderzoek op Java en Madura II. ‘s-Graven-hage, Mart. Nijhoof; Batavia: Albercht &amp;amp; Co, 1909.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  .  “Oud-Javaansche Oorkonde, nagelaten transcripties van wijlen Dr. J.L.A. Brandes, uitgegeven door N.J. Krom. VBG, 60. 1913.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budianta, Melani.  “Pendekatan Feminis terhadap Wacana”, Animuddin et al., ed. Analisis Wacana dari Linguistik sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiman, Arief. Pembagian Kerja Secara Seksual. Sebuah Pembahasan Sosiologis  tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia, 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiman, Kris. “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia”. Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa). Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1992:72--80.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahyono, Dwi M. “Urgensi Kajian Fungsi Seni dalam Studi Sejarah Kesenian. Telaah Fungsi Pertunjukan Jawa Abad ke-9-11 Masehi”. Kebudayaan 3:6 (1993/1994):83--97.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;de Casparis, J.G. “Inscriptie uit de Çailendra-tijd”, Prasasti Indonesia I. Bandung: A.C. Nix &amp;amp; Co, 1950.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Sedikit tentang golongan2 di dalam masjarakat Djawa Kuno”,  Amerta, 2 (1954):44--7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . “Selected Inscriptions from the 7th  to 9th Century A.D.”, Prasasti Indonesia II. Bandung: Masa Baru, 1956.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . “Short Inscription from Candi Plaosan Lor”, Berita Dinas Purbakala, No. 4. Jakarta: Dinas Purbakala, 1958a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . Airlangga. Pidato inaugurasi penerimaan jabatan Guru Besar dalam Sejarah Indonesia Lama dan Bahasa Sanskerta pada Perguruan Tinggi Pendidikan Guru  Universitas Airlangga di  Malang pada tanggal 26 April. Surabaya: Penerbitan Universitas, 1958b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Indonesian Palaeography. A History of Writing in Indonesia from the   Beginnings to C. A.D. 1500. Leiden/Köln: E.J. Brill, 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . ”Pour une Histoire Sociale de l’Ancienne Java Principalement au Xème s”, Archipel, 21 (1981):125--51.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----    . ”The Evolution of the Socio-economic Status of the East-Javanese Village and Its Inhabitans”. Sartono Kartodirdjo, ed. Agrarian History. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1986:3--24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Where Was Pu Sińůok’s Capital Situated”, H.I.R. Hinzler, ed. Studies in South and Southeast Asia Archaeology. Jilid 2. Leiden: Koentji Press, 1988:39--52.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Some Notes on Transfer of Capitals in Ancient Srilangka and Southeast Asia”. PIA VII. Jakarta: IAAI, 1993/1994:367--86.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chandler, Glen. “Wanita Pedagang di Pasar Desa di Jawa”, Prisma, 10 (1985):50--8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christie, Jan Wisseman. Patterns of Trade in Western Indonesia: Ninth through Thirteenth Centuries A.D., 2 jilid. Disertasi SOAS, 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Javanese Markets and the Asian Trade Boom of the Tenth to Thirteenth Centuries A.D.”. Journal of the Economic and Social History of the Orient 40:4 (1998):1--38.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----    . “Asian Sea Trade between the Tenth and Thirteenth Centuries and Its Impacts on the States of Java and Bali”, Himansu B. Prabhalay, ed. The Indian Ocean in the Ancient Period. Delhi: Pragati Publications, 1999:221--70.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cohen Stuart, A.B. Kawi Oorkonden in Facsimile, met inleiding en transcriptie. Leiden:  E.J. Brill, 1875.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conkey, M.W. dan J. M. Gero. “Tensions, Pluralities, and Engendering Archaeology: An Introduction to Women and Prehistory”. Joan M. Gero and Margaret W. Conkey, ed. Engendeing Archaeology. Women and Prehistory. Oxford UK &amp;amp; Cambridge USA: Blackwell, 1994:3--30. Cetak ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conkey, Margaret W. dan Janet D. Spector. “Archaeology and the Study of Gender”. Kelley Hays-Gilpin and David S. Whitley, ed. Reader in Gender Archaeology. London and New York: Routledge, 1998:11--45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cortesão, Armando. The Suma Oriental of Tome Pirés. An Account of the East, from Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515. Translated from Portuguese MS. In the Bibliothèque de la Chambre des Députés, Paris, and edited by Armando Cortesão.Nendeln/Liechtenstein:Kraus Reprint Limited, volume I, 1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Creese, Helen. “Images of Women and Embodiment in Kakawin Literature”, dalam Intersections: Gender, History and Culture in the Asian Context, Issue 5, May 2001, URL: http:/wwwsshe.murdoch.edu.au/intersection/issue 5/creese. html, accessed 22 May 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Women of the Kakawin World. Mariage and Sexuality in the Indic Courts of Java and Bali. New York dan London: M.E. Sharpe, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damais, Louis-Charles. “Études d’Épigraphie Indonésienne: III. Liste de Principales Inscription datées de l’Indonésie”. BÉFEO 16 (1952):1--105.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “Études Javanaises: IV. Discussion de la date des Inscription”. BÉFEO 17:1 (1955):7--290.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  .  “Études Javanaises: I. Les tombes musulmanes datées de Tralåyå”. BÉFEO 18:2 (1957):354--415.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . ”Études Javanaises, III. A Propos des Coleurs Symboliques des Points Cardinaux”. BÉFEO 56 (1969):75--118.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . “Répertoire Onomastique. De l’épigrahphie Javanaise (Jusqu’a Pu Sińůok Śrī Iśānawikrama Dharmmotuűgadewa”. PÉFEO 66, 1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . Epigrafi dan Sejarah Nusantara. Seri Terjemahan Arkeologi No. 3. Jakarta: Pusat  Penelitian Arkeologi Nasional-ÉFEO, 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Davis, Kathy et al. The Gender of Power. London: Sage Publication, 1977.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djafar, Hasan. Girīndrawarddhana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Jakarta: Yayasan  Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   .   ”Historiografi dalam Prasasti”.  Majalah Arkeologi 6:1 (1990):3--50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fontein, Jan, R. Soekmono, dan Satyawati Suleiman. Kesenian Indonesia Purba Zaman2 Djawa Tengah dan Djawa Timur. New York: The Asia Society Inc., 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geertz, Hildred. Keluarga Jawa. Jakarta: PT Grafiti Pers. Cetakan ketiga. 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gero, J. dan M. Conkey, ed. Engendering Archaeology. Oxford: Blackwell, 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gilchrist, Roberta. Gender and Material Culture. The Archaeology of Religious Women. London dan New York: Routledge, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Girard-Geslan, Maud, ed. Indonesian Gold. Treasure from the National Museum, Jakarta. Brisbane: Queensland Art Galery, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gonda, J.. “Agastyaparwa: Uitgegeven, Gecommentarieerd en Vertaald”. BKI 90 (1933):329--419.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goris, R. “De Inscriptie van Koeboeran Tjandi”. TBG 70 (1930):157--83.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Trans. Noegroho Notosusanto. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1975. Trans. Understanding History: A primer of Historical Method, 1969.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Groeneveldt, W.P. Historical Notes on Indonesia and Malaya, Compiled from Chinese Sources. Jakarta: Bhratara, 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gupte, R.S. 1972. Iconography of the Hindus, Buddhist and Jains. Bombay: B.D. Taraporevala sons &amp;amp; co. Private Ltd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handayani, Christina S. dan Ardhian Novianto. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LKiS, 2004.&lt;br /&gt;Hardjowardojo R. Pitono. Pararaton. Djakarta: Bhratara, 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harris, Marvin. Cultural Materialism. The Struggle for a Science of Culture. New York; Random House, 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hays-Gilpin, Kelley dan David S. Whitley. Reader in Gender Archaeology. London: Routledge, 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;von Heine-Geldern, Robert. Konsepsi tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara. Trans. Deliar Noer. Jakarta: C.V. Rajawali, 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hinzler, H.I.R. “The book in ancient Java. Books, writing, writing material, and reading in written and visual evidence”, Marijke J. Klokke &amp;amp; Karel R. van Kooij, ed. Fruits of  Inspiration Studies in Honour of   Prof.  J.G. de Casparis.  Groningen: Egbert Fosten, 2001:158--91.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hirth, F. dan  W.W. Rockhill. Chau Ju-kua: on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi. Translated from the Chinese and Annotated. Amsterdam: Oriental Press, 1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hooykas, C. “Tantri Kāmandaka, een Oudjavaansche Pañcatantra”. Bibliothica Javanica, 2. Bandoeng, 1931.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irianto, Sulistyowati. Perempuan di Antara Berbagai Pilihan Hukum (edisi kedua). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istari, T.M. Rita. “Tokoh Wanita di Jawa sekitar  Abad VII- XIV Masehi”. Berkala Arkeologi 24:1 (2004):47--55. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jones, Antoinette M. Barret. Early Tenth Century Java from the Inscriptions. Dodrecht-Holland: Foris Publications, 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jonker, J.C.G. Een Oud-Javaansch Wetboek vergeleken met Indische Rechtsbronnen.    Disertasi. Leiden, 1885.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johnson, Matthew. Archaeological Theory. An Introduction. Oxford dan Massachusets: Blackwell Publisher Ltd. Reprinted, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juynboll,  Th.W. “De datum Maandag 12 Rabi’I op een grafsteen van Malik Ibrāhim”. TBG 53 (1911):605.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartakusuma, Richardiana. “Prasasti Mula Malurung Koleksi Puslit Arkeologi (C.82): Tinjauan Awal atas Pahatan Aksara Prasasti-prasasti Mula Malurung”. Seminar Nasional Sejarah Kediri. Kediri dalam Panggung Peristiwa Sejarah Indonesia, 12 Januari 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartoatmodjo, M. Soekarto. “The Discovery of Three New Inscriptions in the District of Klaten (South Central Java)”. Bulletin of the Archaeological Institute of the Republic of Indonesia, No. 8. Djakarta: Jajasan Purbakala, 1969.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----    . “Wanita Padmanagara”, Majalah Arkeologi 2:2 (1978):3--14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kern, H. Vespreide Geschriften VII. Inscripties van den Indischen Archipel, slot de Nāgarakrtāgama, erstee gedeelte.  ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1917.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinney, Ann R., Marijke Klokke, and Lydia Kieven. Worshipping Siva and Buddha. The Temple Art of East Java. Honolulu: University of Hawai’i Press, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klokke, Marijke Jacomina.. “On the Indentification of a Mendut Relief”, H.I.R. Hinzler, ed. Studies in South and Southeast Asian Archaeology, No. 2. Leiden: Koentji Press, 1988: 9--22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . The Tantri Relief on Ancient Javanese Candi. Disertasi Rijkuniversiteit te Leiden, 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN Balai Pustaka, 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komda Jabotabek. ”Dinamika Perempuan Nusantara”, Diskusi Ilmiah Arkeologi ke-16,  Museum Nasional Jakarta, 8 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korn, V.E. Hukum Adat Waris di Bali. Trans. I Gde Wayan Pangkat. Denpasar: Fakultas Hukum &amp;amp; Pengetahuan Masyarakat Universitas Udayana, 1972. Trans. dari “Het Adatrecht van Bali”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krom, N.J. “De familie van Hayam Wuruk”. TBG 52 (1910):158--68.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  .”L’art Javanaise dans les Musees de Hollande et de Java”. Ars Asiatica 8. Paris et Bruxelles: Librairie Nationale d’art et d’histoire, 1926.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Barabudur. Archaeological Description, 2 jilid. The Hague: Martinus Nijhoff, 1927&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . Het Karmawibhangga op Barabudur. Amsterdam: Mededeelingen der Konenklijke Akademie van Wetenschappen. Afdeeling Letterkunde, jilid 76, seri B, 1933a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “De Saptopapatti. Naar anleiding van een tekstverbetering in den Nāgara-kŕtāgama”. BKI  90 (1933b):239--58.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Inscripties van het Rijksmuseum voor Volkenkunde te Leiden”. BKI 97 (1938):501--14.&lt;br /&gt;Kunst, Jaap. 1968. Hindu Javanese Musical Instruments, transaltion series no. 12 KITLV. The Hague: Martinus Nijhoff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liebert, Gösta. “Iconographic Dictionary of the Indian Relogion”, dalam J.E. van Lohuizen-de Leeuw, Studies in South Asian Culture, vol. 5. Leiden: E.J. Brill, 1976.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Locher-Scholten, Elsbeth  dan Anke Noehof. Indonesian Women in Focus. Leiden: KITLV Press, 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya. Penelitian Sejarah Terpadu Bagian 3: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris. Jakarta: Gramedia, 1996.  Trans. dari Le Carrefour Javanais.  Essai d”histore globale. III: L’heritage des royaumes concentriques, 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma Huan. Ying-yai Sheng-lan. ‘The overall survey of the Ocean’s Shores’ [1433]. Translated from the Chinese text edited by Feng-Ch’eng-Chün with introduction, notes and appendices by J.V.G. Mills, 1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mcdonell, Arthur Anthony. A Practical Sanskrit Dictionary with Transliteration, Accantuation, and Etymological Analysis Throughout. London: Oxford University Press, 1954.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van der Meer, N.C. van Setten. Sawah Cultivation in Ancient Java: Aspects of Development in the Indo-Javanese Period,  5th  to 15th Century. Canberra: Australian National University Press, 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meilink-Roelofsz. Asia Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago betwen 1500 and about 1630. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoof, 1962.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merton, Robert K. Social Theory and Social Structure. New York: The Free Press. Enlarged Edition, 1968.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikami, Tsugio. “Chinese Ceramics in Southeast Asia in the 9th-10th Century”, Ho Chuimei, ed. Ancient Ceramic Kiln Technology in Asia. 1990:119--25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miksic, John dan Endang Sri Hardiati Soekatno. The Legacy of Majapahit. Catalogue of an Exhabition at the Natinonal of Singapore 10 November 1994 – 26 March 1995. Singapore: The National Heritage Board, 1994--1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moertono, Soemarsaid. Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau. Studi tentang masa Mataram II, Abad XVI sampai XIX. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monier-Williams, Sir Monier. A Sanskrit English Dictionary. Oxford: The Clarendon   Press, 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morley, Grace. Indian Sculpture. New Delhi: Roli Books, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moquette, J.P. “De datum op de grafsteen van Malik Ibrāhīm te Grisse”. TBG LIV (1912):208--214.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munandar, Agus Aris. “Pertemuan antara Dunia Manusia dan alam Kadewatan: Bangunan Suci, Arca dan Relief Candi Masa Singhasari-Majapahit”. Pantheisme – Manunggaling Kawula lan Gusti dalam Naskah Nusantara. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2007:1--17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mundardjito. “Etnoarkeologi: Peranannya dalam Pengembangan Arkeologi Indonesia”, Majalah Arkeologi, 4:1--2 (1981):17--29.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murniati, A.P. Citra Perempuan  dan  Kekuasaan  (Jawa). Yogyakarta: Penerbit Kanisius-Lembaga Studi Realino, 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muttalib, Jang Aisjah. “Pemberdayaan Wanita: Antara Harapan dan Kenyataan”, E.K.M. Masinambow, ed.  Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta: Asosiasi Antropologi Indonesia dan Yayasan Obor Indonesia, 1997:201--14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van Naerssen, F.H. “Twee Koperen Oorkonden van Balitung in het Kolonial Instituut te Amsterdam”. BKI  95 (1937):441--61.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  .  “De Aśtadasawyāwahāra in het Oudjavaansch”. BKI 100 (1941a):357--76.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Oudjavansche Oorkonden in Duitsche en Deensche Verzamelingen. Disertasi. Leiden, 1941b.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van Naerssen, F.H. dan R.C. de Iongh. The Economic Administrative History of Early Indonesia. Leiden/Köln: E.J. Brill, 1977.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakada, Kōzō. A Palaeographical Study of Indonesian Inscription (I-VI). Kagoshima: Kagoshima University, 1988--93&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nastiti, Titi Surti. “Wanita pada Masa Jawa Abad IX-XV Masehi”. Kongres Nasional Sejarah 1996. Subtema Pemikiran dan Analisis Teks Sejarah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1998:107--26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Role and status of women in ancient Javanese”. Marijke  J. Klokke &amp;amp; Karel  R. van Kooij, ed. Fruits of Inspiration Studies in Honour of Prof.  J.G. de Casparis. Groningen: Egbert Fosten, 2001:341--59.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna. Abad VIII-XI Masehi. Jakarta: Pustaka Jaya, 2002.&lt;br /&gt;Nastiti, Titi Surti et al. Tiga Prasasti pada Masa Balitung. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noorduyn, J. “ Majapahit in the Fifteenth Century”. BKI 134 (1978):207--74.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurlambang, Rita Fitriati. “The Old Javanese Women: Their Status and Activities Based  on the 9th to Early 10th Century Inscription”. Hariani Santiko et al., ed. Kirana. Persembahan untuk Prof. Dr. Haryati Soebadio.  Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia – Intermasa, 1995:88--107.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurlambang, Rita Fitriati. “Perempuan Dalam Kehidupan Beragama Masyarakat Jawa Kuna Pada Abad 11--15 Masehi”. Seminar Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van Ossenbruggen, F.D.E.”Asal-usul Konsep Jawa Tentang Mencapat dalam Hubungannya dengan Sistem-sistem Klasifikasi Primitif”, seri terjemahan KITLV LIPI no. 49, 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ortner, B. Sherry. Making Gender. The Politics and Erotics of Culture. Boston: Beacon Press, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patil, Devendrakumar Rajaram.  Cultural History from the Vāyu Purāńa. Poona: Deccan College Postgraduate and Research Institute, 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul, Debjani. “Deity or Deified King? Reflections on a Unique Vaiśńavite Sclupture from Java”. Atribus Asiae  XL (1978):311--323.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pigeaud, Th.G.Th. Java in the Fourteenth Century: A Study in Cultural History.  The Nagara-Kertagama by Rakawi Prapañca of Majapahit, 1365 A.D., 5 vols. The Hague: Martinus Nijhoff, 1960-1963.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pojoh, Ingrid H.E.. 1990. “Terakota dari Situs Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur”,  Monumen. Karya Persembahan untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia:219--46.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poerbatjaraka, R.Ng. “De Calon Arang”. BKI 82 (1926):110--80.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  .  “De Inscriptie van het Rijksmuseum van het Mahākśobhya-beeld te Simpang (Soerabaya)”. BKI 78 (1922):426--62.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Arjunawiwaha: Teks and Vertaling”. BKI 82 (1926):181--305.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Het Oud-Javaavsche Rāmāyańa”. TBG 73 (1932):151--214.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Oorkonde van Kŕtarājasa uit 1296 A.D. (Penanggoengan)”. INI I (1940):33--49.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Riwajat Indonesia I. Djakarta: Pembangunan, 1952.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Agastya di Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poerbatjaraka, R.M.Ng dan Tardjan Hadiwidjaja. Kepustakaan Djawa. Djakarta: Djambatan. Cetakan kedua. 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preucel, Robert dan Ian Hodder. Contemporary Archaeology in Theory, ed. Oxford; Cambridge, Massachusetts: Blackwell Publisher Ltd, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pudja, G. dan Tjokorda Rai Sudharta. Manawa Dharmaçastra (Manu Dharmaçastra) atau Weda Smŕti. Compendium Hukum Hindu. Jakarta: CV. Junasco, 1977-1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raffles, Sir Stamford. History of Java. 2 volume. London: Cox Baylis, 1817.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahardjo, Supratikno. Peradaban Jawa. Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno. Jakarta: Komunitas Bambu, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ravaisse, Paul. “L’inscription coufique de Léran à Java”. TBG LXV (1925.):668--703.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renfew, Collin dan Paul Bahn, ed. Archaeology. The Key Concept. London dan New York: Routledgel, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robson, S.O. Desawarnana (Nagarakretagama) by Mpu Prapanca. Leiden: KITLV, 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van Ronkel, PH. “bij de afbeelding van het graf van Malik Ibrāhim te Gresik”. TBG LII (1910):596--600.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rouffaer, G.P. dan J.W. Ijzerman. De Eerste Schipvaart der Nederlanders naar Oost Indië onder Cornelis de Houtman, 1995-1597, 3 jilid. The Hague: Nijhoff, 1915--29.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadli, Saparinah. “Pemberdayaan Perempuan dalam Perspektif Hak Asasi Manusia”. Tapi Omas Ihromi, Sulistyowati Irianto, dan Achie Sudiarti Luhulima,  ed. Penghapusan Diskriminasi terhadap Wanita. Jakarta: Penerbit Alumni, 2000:3--23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santiko, Hariani. “Kedudukan Bhatārī  Durgā di Jawa pada Abad X – XV Masehi”. Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia, 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “Kehidupan Beragama Golongan Rsi di Jawa”, Edi Sedyawati et al., ed. Monumen. Karya Persembahan untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1990:156--71.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Dinamika Perempuan Nusantara”, Diskusi Ilmiah Arkeologi ke-16 IAAI Komda Jabotabek, Museum Nasional Jakarta, 8 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Agama Hindu pada Jaman Singasari dan Majapahit (Abad XII-XVI Masehi), Hari-Hara. Kumpulan Tulisan tentang Agama Veda dan Hindu di Indonesia abad IV-XVI Masehi. Jakarta: Universitas Indonesia, 2005:71--80.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Pantheisme pada Masa Majapahit”.  Pantheisme – Manunggaling Kawula lan Gusti dalam Naskah Nusantara. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2007:18--30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Gender dan Seksualitas dalam Penelitian Arkeologi. Pidato Ilmiah Purnabakti Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Depok, 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santoso, Soewito. Sutasoma. A Study in Javanese Wajrayana. New Delhi: International Academy of Indian Culture, 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Ramayana Kakawin, 3 jilid. Singapore: The Institute of South Asian Studies; New Delhi: International Academy of Indian Culture, 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Kresnāyana. The Kresna Legend in Indonesia. New Delhi: International Academy of Indian Culture, 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saptari, Ratna dan Brigitta Holzner. Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial. Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarkar, Himansu Bhusan. Corpus of the inscription of Java (Corpus Inscriptionum Javanicum) (up to 928 A.D.), Vol. II. Calcutta: Firma K.L. Mukhopadhyay, 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satari, Sri Soejatmi. “Kendi di Indonesia”. Edi Sedyawati et al., ed. Monumen. Karya Persembahan untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1990:191--202.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scheurleer, Pauline Lunsingh and Marijke J. Klokke. Divine Bronze. Ancient Indonesian Bronzes from A.D. 600 to 1600. Leiden: E.J. Brill, 1988.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schrieke, B. Het Boek van Bonang. Bijdrage tot de kennis van de Islamiseering van Java. Utrecht: P. Den Boer (Proefschrift, Rijksuniversiteit leiden), 1916.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  “Varium: Javanen als zee-en handelsvolk”, TBG LVIII (1919.):424--8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Indonesian Sociological Studies II. Ruler and Realm in Early Java. s’Gravenhage: W. van Hoeve, 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scott, Joan W. “Gender: A Useful Category of Historical Analysis”, The American Historical Review, 91:5 Dec.1986:1053--75.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedyawati, Edi. “The Question of the Indian Influence on Ancient Javanese Dance”. RIMA ( Review of Indonesian and Malayan Affairs), 1982: 59--82.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . Model Deskripsi Arca Tipe Tokoh. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1983&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Keadaan Masyarakat Jawa Kuno,  Masa Kadiri dan Masalah  Penafsirannya”, dalam PIA III. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985:639--50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Peran Laki-laki dan Perempuan dalam Beberapa Cerita Daerah”,  Prisma, 7 (1991): 24--35.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Images of  Old Java”, Wanita. The Dynamics and Achievements of Indonesian Women. Jakarta: Etnodata, 1992:36--43.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . Pengarcaan Gańeśa Masa Kaůiri dan Siŋhasāri. Sebuah Tinjuan Sejarah Kesenian. Jakarta: LIPI-RUL, 1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Transformasi Budaya Jawa dalam Kerangka Dinamika Antar Pusat”, Kongres Nasional Sejarah, Jakarta, 12--15 November 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  .“Quantitative analysis on the problem of ‘local genius’”. Marijke J. Klokke &amp;amp; Karel R. van Kooij, ed. Fruits of  Inspiration Studies in Honour of   Prof.  J.G. de Casparis. Groningen: Egbert Fosten, 2001:435--46.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . Budaya Indonesia. Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van Setten van der Meer, N.C. Sawah Cultivation in Ancient Java: Aspect of Development on the Indo-Javanese Period. Canberra: Australian National University Press, 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slametmulyana. Perundang-undangan Majapahit. Jakarta: Bhratara, 1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sharer, Robert J. dan Wendy Ashmore. Archaeology: Discovering Our  Past. New York: The Mc Graw-Hill  Companies Inc. Edisi ketiga. 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sjahrir, Kartini. “Wanita:Beberapa Catatan Antropologis”, Prisma 10:XIV (1985.):3--15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soedarsono. Wayang Wong. The State Ritual Dance in the Court of Yogyakarta. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soegondho, Santoso. Tradisi Gerabah di Indonesia. Dari Masa Prasejarah Hingga Masa Kini. Jakarta: Himpunan Keramik Indonesia, 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soejono, R.P., ed. Jaman Prasejarah Indonesia (edisi pemutakhiran). Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto, ed. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekatno, Endang Sri Hardiati. Arca Tidak Beratribut Dewa di Bali. Sebuah Kajian Ikonografis dan Fungsional. Disertasi Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Jakarta, 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soepraptiningsih. “Beberapa Masalah di dalam Prasasti Tihang 198 Sañjaya: 836 Çaka (Suatu Studi Pendahuluan)”, Kegiatan Ilmiah Arkeologi IAAI Komisariat Yogyakarta Jawa Tengah, Yogyakarta, 30 November 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soewito, Santoso. Calon Arang si Janda dari Girah. Jakarta: Balai Pustaka, 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van Stein Callenfels, P.V. “Stuken betreking hebbend op Oud-Javaansche opschriften in de Bibliotheque Nationale te Parijs”. OV Bijlage B 1924:23--7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stoller, Ann. “Class Structure and Female Autonomy in Rural Java”, Journal of Women in Culture and Society 3:1 (1977):74--89.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stutterheim, W.F. ”Een Oorkonde op Koper uit het Singasarische”. TBG 65 (1925):208--81.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . ”Een Belangrijke Oorkonde uit de Kědoe”. TBG 67 (1927):172--215.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . ”Een Vrij Overzetveer te Wanagiri (M.N.) in 903 A.D.”. TBG 74 (1934):269-95.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- . “ De Dateering van Eenige Oost-Javaansche Beeldengroepen”. TBG 76 (1936):249--320.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . ”Oorkonde van Balitung uit 905 A.D. (Randoesari I)”. INI I (1940):3--32.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   .  Rāma-Legends and Rāma-Reliefs in Indonesia, 2 vols. Trans. C.D. Paliwal and R.P. Jain. New Delhi: Indira Gandhi National Center for Arts, 1989. Trans. dari Rāma-Legenden und Rāma-Reliefs in Indonesien, 2 vols, 1925.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhadi, Machi. “Prasasti Rumwiga”, Berkala Arkeologi 4:1 (1983):37--47.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Kemandirian Wanita pada Masa Jawa Kuna dari Tinjauan Jender”.  Edi Sedyawati dan Susanto Zuhdi, ed. Arung Samudera. Persembahan Menperingati Sembilan Windu A.B. Lapian. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 2001:575--90.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukardi K., Heru. “Hujunggaluh Pendahulu Surabaya”, Bulletin Yaperna 6:2 (1975): 25--37.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suleiman, Satyawati. “The Pendopo Terrace of Panataran”, Pictorial Number 2. Jakarta: Proyek Penerbitan Purbakala Jakarta, 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Peranan wanita pada Masa Klasik sebagaimana terlihat pada pahatan-pahatan kuno di Jawa Tengah dan Jawa Timur”. REHPA II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional,1985:289--303.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumadio, Bambang et al., ed. Zaman Kuna (edisi pemutakhiran). Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto, ed. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supomo, S. Arjunawijaya: A Kakawin of Mpu Tantular, 2 jilid. The Hague: Martinus Nijhoff, 1977.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suyono, Ariyono. Kamus Antropologi. Jakarta: Akademika Pressindo, 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarawiguna, I.G.N. et al. Himpunan Prasasti-prasasti Bali pada masa Pemerintahan Jayapangus. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   Transkripsi dan Transliterasi Prasasti-prasasti Bali abad XI-XII. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teeuw, A. “Hariwaűśa. Vertaling en Aantekeningen”. VKI  9 (1950.):1--2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teeuw, A. dan S.O. Robson. “Kuñjarakarńa Dharmakathana. Liberation through the law of the Buddha. An Old Javanese Poem by Mpu Dusun”, Bibliotheca Indonesia, 21. The Hague – Martinus Nijhoff: KITLV, 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tejowasono, N. Susanti. “Pelapisan Masyarakat dan Mobilitas Vertikal pada Masa Balitung”. Majalah Ilmu-ilmu Sastra 11:1 (1981):41--7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . “Airlangga. Raja Pembaharuan di Jawa pada Abad ke-11 Masehi”, Disertasi pada Program Pasca Sarjana, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theodorson, George A. dan Achiles G. Theodorson. Modern Dictionary of Sociology. The Concept and Terminology of Sociology and Related Diciplines. New York: Thomas Y. Crowell Company, 1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Treffry, Diana, et al., ed. Collins English Dictionary &amp;amp; Thesaurus. 21st Century Edition.  Great Britain: HarperCollins Publishers, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trigangga. “Prasasti Raja Daksa Tahun 198 Sañjaya”, Romantika Arkeologi, Edisi Khusus 11 (1987):32--50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . Tiga Prasasti Batu Jaman Raja  Sindok. Jakarta: Museum Nasional, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjiptoatmodjo, Sutjipto. Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura Abad XVII sampai Medio Abad XIX. Disertasi Universitas Gajah Mada, 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis (edisi kedua). Trans. Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra. Trans. dari Feminist  Thought: A More Comprehensive Introduction,1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vreede-de Stuers. Sejarah Perempuan Indonesia. Gerakan &amp;amp; Pencapaian. Jakarta: Komunitas Bambu, 2008. Trans. The Indonesian Women: Struggles and Achievement, 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajong, P. Adat Upacara Perkawinan Jawa di Yogyakarta. Lembaga Sejarah dan Antropologi Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen P &amp;amp; K, 1974.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wheatley, Paul. “Geographical Notes on Some Commodities involved in Sung Maritime Trade”. JMBRAS  32, 1959.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widianto, Harry. “Unité et Diversités des Hominidés Fossiles de Java: Présentation des Restes Humains Fossilés Inédits”. Disertasi pada Institut de Paléontologie Humaine, Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, Perancis, 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wibowo, A.S. “Bhre Wīrabhūmi dan sebab terjadinya Parěgrěg”. Majalah Arkeologi 1:4 (1978):23--37.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . ”Prasasti Alasantan Tahun 861 Śaka”. Majalah Arkeologi 2:3  (1979):3--51.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirjosuparto, Raden Mas Sutjipto. “Kakawin Ghatotkacaśraya. Tjerita Lakon dalam Bahasa Kawi”. Disertasi pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta, 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiryamartana, I. Kuntara. Arjunawiwaha: Transformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yamin, Mohammad. Tatanegara Majapahit, jilid I. Djakarta: Prapantja, 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  . Tatanegara Majapahit, jilid II. Djakarta: Prapantja, 1962.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zoetmulder, P.J. “Sumanasāntaka”. Tidak terbit, 1951.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----  .  Kalangwan.   Sastra   Jawa  Kuno  Selayang   Pandang.  Jakarta:  Penerbit  Djambatan, 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----   . Kamus Jawa Kuna. Jakarta: PT Gramedia. Cetakan keempat. 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RIWAYAT HIDUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Nama                                 :  Titi Surti Nastiti&lt;br /&gt;Tempat &amp;amp; Tanggal Lahir  :  Jakarta, 2 September 1957&lt;br /&gt;Agama                               :  Islam&lt;br /&gt;Pekerjaan                           :  Peneliti Madya pada Puslitbang Arkenas&lt;br /&gt;Suami                                :  Zainuddin Djafar, Ph.D.&lt;br /&gt;Anak                                  :  1. Riksa Atma Waluya&lt;br /&gt;                                       2. Wimala Sukma&lt;br /&gt;Alamat Instansi                 :  Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional&lt;br /&gt;                                       Jl. Raya Condet Pejaten No. 4, Jakarta Selatan 12510&lt;br /&gt;Alamat Rumah                  :  Jl. Rawa Bambu No. 38, Pasar Minggu,&lt;br /&gt;                                        Jakarta Selatan 12520&lt;br /&gt;Pendidikan                         :  - SDN IV Bandung, 1969&lt;br /&gt;                                        - SMP XVIII Jakarta, 1972&lt;br /&gt;                                        - SMA IV Jakarta, 1975&lt;br /&gt;                                        - Sarjana Sastra FSUI, Jurusan Arkeologi, 1981&lt;br /&gt;                                        - Program Pascasarjana FIB (Program Studi Arkeologi),&lt;br /&gt;                                           1995&lt;br /&gt;Riwayat Pekerjaan             :  1981 -- 1982     : tenaga volunteer di PusPAN&lt;br /&gt;                                        1982                  : Staf Bidang Arkeologi Klasik PusPAN&lt;br /&gt;                                        1982 -- sekarang: Peneliti pada Pusat Penelitian dan&lt;br /&gt;                                                                     Pengembangan Arkeologi&lt;br /&gt;Keanggotaan Organisasi&lt;br /&gt;Profesi                                :  Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) dari tahun 1977 --&lt;br /&gt;                                        sekarang (Anggota)&lt;br /&gt;                                        Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) dari tahun 1977--&lt;br /&gt;                                        sekarang (Anggota)&lt;br /&gt;                                        Yayasan Kebudayaan “Rancagé” dari tahun 1977 --&lt;br /&gt;                                        sekarang (Sekretaris/Bendahara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian:&lt;br /&gt;1. Ekskavasi di Candi Barong, Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 1982&lt;br /&gt;2. Ekskavasi di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, tahun 1982&lt;br /&gt;3. Ekskavasi Muara Jambi, Jambi, tahun 1982&lt;br /&gt;4. Ekskavasi di Candi Kepung, Kediri, Jawa Timur tahun 1984&lt;br /&gt;5. Ekskavasi di Muara Jambi, Jambi, tahun 1984&lt;br /&gt;6. Ekskavasi di Palembang, tahun 1984&lt;br /&gt;7. Ekskavasi di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, tahun 1984--5&lt;br /&gt;8. Penelitian Naskah 1985 di DIY, Jawa Timur, dan Bali, tahun1985&lt;br /&gt;9. Ekskavasi di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, tahun 1985—8&lt;br /&gt;10. Penelitian Naskah di DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali, tahun 1985&lt;br /&gt;11.Ekskavasi di Situs Batu Kalde, Ciamis, Jawa Barat, tahun 1986&lt;br /&gt;12. Penelitian di Situs Batu Kalde, Pangandaran, Jawa Barat, tahun 1987&lt;br /&gt;13. Penelitian Arkeologi Palembang Tahap V, tahun 1989&lt;br /&gt;14. Survei di Kabupaten Lumajang, Propinsi Jawa Timur, tahun 1990&lt;br /&gt;15. Survei di Daerah Perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, tahun 1990&lt;br /&gt;16. Penelitian Epigrafi di Museum Mangkunegaran, Surakarta, tahun 1992&lt;br /&gt;17. Penelitian Arkeologi di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, tahun 1993&lt;br /&gt;18. Arkeologi di Situs Kutogirang Tahap II, Mojokerto, Jawa Timur, tahun 1993&lt;br /&gt;19. Penelitian Situs Batujaya, Karawang, Jawa Barat, tahun 1993--4&lt;br /&gt;20. Penelitian Arkeologi Situs Cibuaya, Karawang, Jawa Barat, tahun 1993--4&lt;br /&gt;21. Penelitian Etnoarkeologi Pasar Tradisional di Temanggung, Jawa Tengah, tahun 1994&lt;br /&gt;22. Survei di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tahun 1994&lt;br /&gt;23. Penelitian Epigrafi Jawa Barat, tahun 1995&lt;br /&gt;24. Penelitian Etnoarkeologi Pasar Tradisional di Turen, Malang, Jawa Timur, tahun 1995&lt;br /&gt;25. Ekskavasi di Muara Takus, Riau, tahun 1995&lt;br /&gt;26. Ekskavasi di Kutai, Kalimantan Timur, tahun 1996&lt;br /&gt;27. Penelitian Epigrafi di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ponogoro, Jawa Timur, tahun 1996&lt;br /&gt;28. Ekskavasi di Candi Agung, Kalimantan Selatan, tahun 1997&lt;br /&gt;29. Ekskavasi di Situs Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, tahun 1996--7&lt;br /&gt;30. Penelitian di Situs Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo, Kediri, Jawa Timur, tahun 2004&lt;br /&gt;31. Penelitian Perkembangan Agama Buddha di Jawa Tengah Abad ke-8--10 Masehi. Studi Kasus Candi Kedulan, Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 2005&lt;br /&gt;32. Penelitian Arkeologi di Kec. Cluwak Kab. Pati dan Kec. Keling, Kab.  Jepara, Jawa Tengah, tahun 2005&lt;br /&gt;33. Penelitian Strategi Adaptasi Masyarakat terhadap Bangunan Upacara Kegamaan Situs Bojongmenje, Cicalengka, Jawa Barat, tahun 2006&lt;br /&gt;34. Ekskavasi di Situs Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, tahun 2006--7&lt;br /&gt;35. Melacak Lokasi Pusat Kerajaan Mataram Kuna di Jawa Tengah Tahap I, tahun 2007&lt;br /&gt;36. Penelitian di Daerah Provinsi Kepulauan Riau, tahun 2007&lt;br /&gt;37. Penelitian di Dusun Nglempong, Desa Tirto, Jawa Tengah, tahun 2007&lt;br /&gt;38. Penelitian di DAS Bengawan Solo, Jawa Tengah, tahun 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikutsertaan dalam Seminar dan Lokakarya&lt;br /&gt;1. Pertemuan Ilmiah Arkeologi III, Ciloto, tahun 1983, peserta&lt;br /&gt;2. Rapat Evaluasi Metode Penelitian Arkeologi II, Pandeglang, tahun 1985, pemra-saran&lt;br /&gt;3. Diskusi Ilmiah Arkeologi II, Jakarta, tahun 1985, peserta&lt;br /&gt;4. Seminar Kebudayaan Sunda, Bandung, tahun 1986, peserta&lt;br /&gt;5. Rapat Analisis Hasil Penelitian Arkeologi, Trowulan,  tahun 1988, pemrasaran&lt;br /&gt;6. Diskusi Ilmiah Arkeologi VII AAI Komda Jakarta dan Jawa Barat, Jakarta, tahun 1988, pemrasaran&lt;br /&gt;7. Seminar Kebudayaan Aceh ’88, Jakarta, tahun 1988, peserta&lt;br /&gt;8. Panel Diskusi Naskah Sumber Sejarah Tarumanagara, Jakarta, tahun 1988, peserta&lt;br /&gt;9. Pertemuan Imiah Arkeologi V, Yogyakarta, tahun 1989, pemrasaran&lt;br /&gt;10. Monumen dan Masyarakat, Museum Fatahilah Jakarta, tahun 1989, peserta&lt;br /&gt;11. Gotra Sawala Pengkajian Naskah-naskah Sunda Jawa Barat sebagai Sumbangan pada Sejarah Nasional, Bandung, tahun 1989, peserta&lt;br /&gt;12. Seminar Pengelolaan dan Pengembangan Warisan Budaya Kota, Gedung Erasmus Huis Jakarta, tahun 1990, peserta&lt;br /&gt;13. Lahirnya Suatu Bangsa, Jakarta, tahun 1990, peserta&lt;br /&gt;14. Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi Klasik, Trowulan, tahun 1991, pemrasaran&lt;br /&gt;15. Analisis Hasil Penelitian Arkeologi, Kuningan, tahun 1991, pemrasaran&lt;br /&gt;16. Diskusi Ilmiah Arkeologi VIII IAAI Komda Jakarta dan Jawa Barat, tahun 1992,    premasaran&lt;br /&gt;17. Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI dan Kongres IAAI ke-6, Malang, tahun 1992, pemrasaran&lt;br /&gt;18. International Association of Historians of Asia 13th Conference, Tokyo, tahun 1994, pemrasaran&lt;br /&gt;19. Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Palembang, tahun 1994,  pemrasaran&lt;br /&gt;20. Promoting Relationship between Indonesia-South Korea for the 21st Century,  Jakarta, tahun 1994, peserta&lt;br /&gt;21. Seminar Pernaskahan dalam rangka Dies Natalis FSUI ke-54 dan Purnabakti  Dr. Sri Sukesi Adiwimarta, FSUI Depok, tahun 1994, peserta&lt;br /&gt;22. Metodologi Riset Arkeologi, FSUI-Depok, tahun 1995, pemrasaran&lt;br /&gt;23. Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII, Cipanas, tahun 1996, peserta&lt;br /&gt;24. Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, tahun 1996, peserta&lt;br /&gt;25. The 7th International Conference of the European Association of Southeast Asian Archaeologists, Berlin, Jerman, tahun 1998, pemrasaran&lt;br /&gt;26. Rancangan Induk Penelitian Arkeologi: Kebijakan Strategis untuk Pengembangan  Wawasan Arkeologi, Cisarua, tahun 2004, pemrasaran&lt;br /&gt;27. Buku Langka sebagai Sumber Kajian Kebudayaan Indonesia, Perpusnas Jakarta, tahun 2004, peserta&lt;br /&gt;28. Ramayana di India dan di Indonesia dalam kaitan dengan Candi Prambanan, FIB-Depok, tahun 2005, peserta&lt;br /&gt;29. Pengaruh Budaya Cina pada Tekstil Tradisional dan Busana Indonesia, Jakarta, tahun 2005, peserta&lt;br /&gt;30. Penelusuran Jejak Ki Sunda dari Masa ke Masa, Bogor, tahun 2005, peserta&lt;br /&gt;31. Diskusi Ilmiah Arkeologi XXI  IAAI Komda Jabotabek, FIB Depok, tahun 2005, peserta&lt;br /&gt;32. Naskah Kuno Nusantara sebagai Warisan Bernilai Luhur, Perpusnas Jakarta, tahun 2005, peserta &lt;br /&gt;33. The International Seminar on Museum Development Significance of the  Singhasari Period and Significance of Collection, Jakarta, tahun 2005, peserta&lt;br /&gt;34. Aspek Pengembangan dalam Penelitian Arkeologi (EHPA 2006), Bandung, tahun 2005, pemrasaran&lt;br /&gt;35. Uncovering the Meaning of the Hidden Base of Chandi Borobudur, Borobudur, Jawa Tengah, tahun 2008 peserta&lt;br /&gt;36. Pertemuan Ilmiah Arkeologi XI, Solo, Jawa Tengah, tahun 2008, pemrasaran&lt;br /&gt;37. Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Manado,  tahun 2008, pemrasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Tulis&lt;br /&gt;1. “Masalah Hak Milik Atas Tanah Abad 9 dan 10 Masehi”, Amerta, No. 6:7--12, 1982&lt;br /&gt;2. “Hak Milik Atas Tanah”, Majalah Ilmu-ilmu Sastra,  XI (01):13--24, 1982&lt;br /&gt;3. “Peranan Adat dalam Masalah Hukum pada Masa Majapahit”, Analisis Kebudayaan, No. IV (1):54--9, 1983/1984&lt;br /&gt;4. “Pemakaian Hukum Adat pada Majapahit berdasarkan Prasasti Bendosari dan Prasasti Parung”, PIA, III:559--70. Jakarta; Pusat Penelitian arkeologi Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985&lt;br /&gt;5. “Metode Analisis Naskah”, makalah dalam Rapat Evaluasi Metode Penelitian Arkeologi II yang diselenggarakan di Pandeglang pada tanggal 6--12 Mei, 1985&lt;br /&gt;6. “Tradisi bercocok Tanam Masyarakat Sunda”, PIA, IV:405--19. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1986&lt;br /&gt;7. “Kedudukan dan Peranan Wanita pada Masyarakat Jawa Kuna”, makalah dalam DIA, IV yang diselenggarakan oleh IAAI Komda Jakarta dan Jawa Barat pada tanggal 11 – 12 Februari di Jakarta, 1988&lt;br /&gt;8. “Minuman pada Masyarakat Jawa Kuna”, PIA, V:83--98. Jakarta: IAAI, 1989&lt;br /&gt;9. “Prasasti Katiden”, Monumen. Karya Persembahan untuk Prof. Dr. Soekmono. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia: 257--266, 1990&lt;br /&gt;10. “Perdagangan pada Masa Majapahit”, EHPA II  (Kehidupan Ekonomi Masa Lampau Berdasarkan Data Arkeologi, Jilid I:181--90. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991&lt;br /&gt;11. “Religious Tolerance among Indonesian People”, Indonesian Magazine, XXIII (5):10--12, 1992&lt;br /&gt;12.   Pasar: Studi Pendahuluan Kegiatan Ekonomi Masyarakat Desa di Jawa pada Abad IX-XV Masehi”, dalam PIA,  VI di Malang tanggal 26--30 Juli, 1992&lt;br /&gt;13. “Pandai Logam dalam Kehidupan Masyarakat Jawa Kuno”, dalam AHPA, IV, jilid I:269--78, 1993&lt;br /&gt;14. “Theisme dalam Bhagawadgita”, dalam Berkala Arkeologi, No. XIII (1):22--34, 1993&lt;br /&gt;15. “The Art of Wayang. The Acculturation of a Culture”, Indonesian Magazine, No. XXIV (3):8--11, 1993&lt;br /&gt;16.   “Pola Metrum Kakawin Ramayana”, Lembaran Sastra Universitas Indonesia, Seri Penerbitan Ilmiah 19 Februari:69--121, 1993&lt;br /&gt;17. “Pasar: Studi Pendahuluan Kegiatan Ekonomi Masyarakat Jawa Kuno”, dalam PIA, VI:257--78, 1993/1994&lt;br /&gt;18. “The Rural Market in Early Java (IX-XI Centuries A.D.)”, makalah dalam International Association of Historians of Asia 13th Conference, Tokyo, pada tanggal 5--9 September, 1994&lt;br /&gt;19. “Etnoarkeologi Pasar-pasar Tradisional di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah”, Laporan Penelitian Arkeologi, 1994&lt;br /&gt;20. “Pertanian Masa Jawa Kuna: Usaha Komersial atau Usaha pelengkap?”, Proceedings AHPA (Analisis Sumber Tertulis Masa Klasik). Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994/5&lt;br /&gt;21. “Arjunawijaya (Edisi Teks Suntingan S. Supomo), Kebudayaan, IV (7):20--4, 1994/5&lt;br /&gt;22. “Etnoarkeologi di Pasar Turen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur”, Laporan Penelitian Arkeologi, 1995&lt;br /&gt;23. “Metodologi Riset: Bidang  Epigrafi dan Sejarah Kuna”, makalah dalam Seminar Nasional “Metodologi Riset Arkeolog” di FSUI Depok pada tanggal 23--24 Januari, 1995&lt;br /&gt;24. “Wayang: Contoh Proses Akulturasi pada Masa Jawa Kuna, Kirana. Persembahan untuk Prof. Dr. Haryati Soebadio: 380--95. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1995&lt;br /&gt;25. “Commerce during the Majapahit Period’, dalam John N. Micksic dan Endang Sri Hardiati Soekatno (eds.) The Legacy of Majapahit. Singapore: The National Museum of Singapore, 1995&lt;br /&gt;26. “Eksistensi Kekuasaan Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910 Masehi)”, dalam   Amerta, No. 17:29--41, 1996&lt;br /&gt;27.  “Prasasti Kawali”, Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung, No. 4:19--37, 1996&lt;br /&gt;28.  “Seputar Periodisasi Arkeologi Indonesia”, Berkala Arkeologi “Sangkhakala”, No. I:48--54, 1997/8&lt;br /&gt;29.  “Wanita pada Masa Jawa Abad IX-XV Masehi”, Kongres Nasional Sejarah 1996. Subtema Pemikiran dan Analisis Teks Sejarah:107--26. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1998&lt;br /&gt;30.   “Role and status of women in ancient Javanese”, dalam Marijke  J. Klokke &amp;amp; Karel  R. van Kooij (eds,) Fruits of Inspiration Studies in Honour of Prof.  J.G. de Casparis,:341--59. Groningen: Egbert Fosten, 2001&lt;br /&gt;31. Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna. Abad VIII-XI Masehi. Jakarta: Pustaka Jaya, 2002&lt;br /&gt;32. “Old Sundanese Community”, dalam Harry Truman Simanjuntak (eds) Archaeology: Indonesian Perspective. R.P. Soejono’s Festschrift:420--33. Jakarta: Indonesian Institute of Sciences (LIPI), 2006&lt;br /&gt;33.Prasasti Sobhāmŕta. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, 2007&lt;br /&gt;34. “Epigrafi sebagai Ilmu”, PIA, XI:623--31. Jakarta: Ikatan Ahli-Ahli Arkeologi, 2008&lt;br /&gt;35. “Rancangan untuk Penelitian Arkeologi: Kebijakan Strategis untuk Pengembangan Wawasan Arkeologi”, makalah dalam EHPA yang dilaksanakan di Menado, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titi Surti Nastiti et al.&lt;br /&gt;1. Tiga Prasasti pada Masa Balitung. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1982&lt;br /&gt;2. “Laporan Candi Sari, Prambanan, Yogyakarta”, BPA, No. 32. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1985&lt;br /&gt;3. “Laporan Penelitian Ekskavasi Caruban, Lasem, Jawa Tengah”, BPA, No. 38. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1988&lt;br /&gt;4. “Laporan Survei di Kabupaten Lumajang, Propinsi Jawa Timur 1990”, BPA, No. 44. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1995&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-7425971924261340541?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/7425971924261340541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/kedudukan-dan-peranan-perempuan-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7425971924261340541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/7425971924261340541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/kedudukan-dan-peranan-perempuan-dalam.html' title='Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuna (Abad VIII - XV Masehi): Ringkasan Disertasi'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2690397248026978139</id><published>2009-12-09T06:40:00.003+07:00</published><updated>2009-12-09T06:46:01.095+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Jalur migrasi lain manusia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7kPVUBgKI/AAAAAAAAAkk/YQt9y29b7G0/s1600-h/rusia.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 203px; height: 203px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7kPVUBgKI/AAAAAAAAAkk/YQt9y29b7G0/s320/rusia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413014754216214690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Fosil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Para ilmuwan meneliti fosil tulang dan gading dari Kostenki&lt;br /&gt;Penggalian arkeologi di Rusia menemukan petunjuk baru tentang migrasi manusia modern ke Eropa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Artefak yang ditemukan di Kostenki, di selatan Moskow, mengisyaratkan manusia modern hidup di lokasi itu sekitar 45.000 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia modern pertama diduga masuk ke Eropa melalui jalur yang berbeda dari yang diperkirakan sebelumnya, menurut studi tim internasional ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini diterbitkan di jurnal Science.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai saat ini, manusia modern paling tua di Eropa diperkirakan hidup di Eropa tangah seperti di Bulgaria dan Yunani," kata John Hoffecker, peneliti dari University of Colorado at Boulder, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini menandakan rute perjalanan ke Eropa dari pantai timur Laut Tengah sebelum 44.000 tahun lalu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Neandertal jarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tim yakin mereka telah menemukan jalur alternatif masuk ke benua Eropa yang diduga lebih awal dari rute lewat Laut Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan meneliti alat, perhiasan dan gading yang dipahat, yang ditemukan di bawah lapisan debu vulkanik kuno di Kostenki, yang terletak di sepanjang Sungai Don.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Artefak-artefak itu kemungkinan besar adalah milik manusia modern dan diperkirakan berasal dari 45.000 tahun lalu, kata Professor Hoffecker. Namun temuan ini berbeda dengan artefak yang ditemukan di situs-situs lainnya di Eropa, tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini berarti kelompok manusia yang bermukim di Kostenki berbeda dengan kelompok yang masuk ke Eropa dari Laut Tengah, yang menandakan setidaknya ada satu lagi jalur masuk ke Eropa yang dijalani manusia modern - mungkin rute ini justru lebih tua," katanya kepada BBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Hoffecker mengatakan dia terkejut dapat menemukan bukti keberadaan manusia modern di Kostenki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tempat ini adalah daerah terdingin dan terkering di Eropa. Kami tidak memperkirakan mereka pertama kali datang ke daerah ini," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan mengapa kelompok manusia modern ini memilih untuk bermigrasi ke daerah beriklim dingin dan kering mungkin karena di daerah itu pada masa itu tidak terlalu banyak terdapat manusia Neandertal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sediktinya jumlah manusia Neandertal di tempat itu berarti manusia modern tidak menghadapi banyak persaingan dalam mencari makanan," kata Profesor Hoffecker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rute lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian atas fosil-fosil yang ditemukan selama ini menyatakan manusia modern muncul di Afrika sub Sahara sekitar 200.000 tahun lalu, namun antara 60.000 dan 50.000 tahun lalu manusia modern mulai berpencar dan meninggalkan benua Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7kPucJFCI/AAAAAAAAAks/2ru3NpGKbuQ/s1600-h/tengkorak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 203px; height: 203px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7kPucJFCI/AAAAAAAAAks/2ru3NpGKbuQ/s320/tengkorak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413014760961152034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Fosil tengkorak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tengkorak yang ditemukan di Afrika Selatan diperkirakan terkait dengan manusia modern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukti tertua dari manusia modern di luar Afrika ditemukan di Australia, dari sekitar 50.000 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Hoffecker mengatakan sulit untuk mengatakan dengan pasti dari mana manusia modern yang ditemukan di Kostenki berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kemungkinan, menurut para peneliti, mereka datang dari Asia barat melalui Pegunungan Kaukasia, yang terletak antara Laut Kaspia dan Laut Hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan manusia modern mungkin bermigrasi ke Asia tengah namun kemudian memutuskan untuk menuju Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah makalah lain, yang diterbitkan di jurnal yang sama, mengungkapkan bahwa tengkorak kepala yang ditemukan di Afrika Selatan tampaknya berasal dari nenek moyang manusia modern yang akhirnya bermigrasi ke Eropa dan Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Chris Stringer dari departemen paleontologi di Musium Sejarah Alam London mengatakan: "Makalah ini menarik dari sudut pandang antropologi dan arkeologi, dan mengukuhkan beberapa hal yang kita ketahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut saya, kita akan menemukan semakin banyak bukti tentang nenek moyang manusia modern dan tindak-tanduk mereka di Asia barat, dan bahkan sebelum mereka keluar dari Afrika."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber: bbcindonesia.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2690397248026978139?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2690397248026978139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/jalur-migrasi-lain-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2690397248026978139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2690397248026978139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/jalur-migrasi-lain-manusia.html' title='Jalur migrasi lain manusia'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7kPVUBgKI/AAAAAAAAAkk/YQt9y29b7G0/s72-c/rusia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3117268655311269385</id><published>2009-12-09T06:36:00.002+07:00</published><updated>2010-01-16T07:48:12.112+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konservasi'/><title type='text'>Situs arkeologi Yogyakarta rusak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Gempa di Yogyakarta merusakkan sejumlah situs purbakala yang dilindungi sehingga harus ditutup sementara untuk perbaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan menurut Dra Surayati Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan pada Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala DIY, antara lain terjadi di kompleks Keraton Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling parah kerusakannya adalah bangsal Trajumas atau Traju Kencana, sebuah ruang yang biasa dipakai Sultan untuk mengangkat pejabat tinggi seperti Patih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsal yang dipakai juga untuk menyimpan dua gamelan milik keraton yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo ini, hancur akibat goncangan gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kompleks yang sama, juga terjadi kerusakan pada Gedong Jene, sebauah bangunan berwarna kuning didalam Keraton yang pada tahun 2000 pernah menjadi lokasi pertemuan bersejarah tokoh-tokoh reformasi termasuk Sri Sultan Hamengku Buwono X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs lain yang mengalami kerusakan adalah tempat pemandian para kerabat raja Yogyakarta tempo dulu, Taman Sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di komplek Taman Sari yang baru dipugar sejumlah bangunan juga rusak, paling parah disitus Pulau Cemeti yang atap dan dindingnya runtuh hingga menyebabkan dua orang warga yang tinggal didekat lokasi tewas tertimpa reruntuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan lain disitus arkeologi Yogyakarta terjadi pada Museum Hamengku Buwono IX yang kaca-kaca bangunannya pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Museum Kereta dinding juga mengalami keretakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dimakam kerabat keraton Imogiri terutama bagian Panggung Krapyak bagian atap dan dinding rusak, demikian pula dengan situs makam Kota Gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai kerusakan ini, bangunan keraton dan sejumlah situs sementara ditutup untuk umum namun belum diketahui sampai kapan proses perbaikan akan berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutupan juga diberlakukan terhadap komplek situs candi hindu Prambanan yang terletak diperbatasan antara wilayah propinsi Jawa Tengah dan DIY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks candi Prambanan ditutup selama sepekan karena sebagian bangunan candi dinilai membahayakan keamanan pengunjung setelah gempa Sabtu pagi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;(Sumber: bbcindonesia.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3117268655311269385?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3117268655311269385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/situs-arkeologi-yogyakarta-rusak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3117268655311269385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3117268655311269385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/situs-arkeologi-yogyakarta-rusak.html' title='Situs arkeologi Yogyakarta rusak'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-1089749753405793916</id><published>2009-12-09T06:31:00.004+07:00</published><updated>2009-12-09T06:35:14.719+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Pencuri temukan makam kuno</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7h-pEGfLI/AAAAAAAAAkc/LN8At5Bnvcw/s1600-h/pencuri.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 203px; height: 152px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7h-pEGfLI/AAAAAAAAAkc/LN8At5Bnvcw/s320/pencuri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413012268437109938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tembok makam dibangun dari balok batu bata dan batu gamping&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pencuri makam di Mesir secara tidak sengaja membantu para arkeolog menemukan makam tiga dokter gigi firaun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pencuri ditahan setelah mereka mulai menggali di lokasi piramid yang diduga tertua di Mesir, yang terletak di Saqqara di dekat Cairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalian mereka membuat para arkeolog menemukan beberapa makam berusia 4.200 tahun, yang salah satunya memiliki tulisan yang memperingatkan akan keberadaan kutukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tulisan hieroglyphs Mesir kuno yang tertulis di makam-makam itu menunjukkan bahwa mereka adalah para dokter gigi yang merawat firaun, kata para pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zahi Hawass, kepala dinas arkeologi Mesir, mengatakan lokasi makam ketiga pria itu yang terletak di dekat piramid di Saqqara menunjukkan bahwa ketiga orang itu mendapat penghargaan dari raja-raja Mesir kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mereka diduga bukan orang-orang kaya karena makam mereka dibuat dengan menggabungkan balok tanah liat dan batu gamping, bahan dasar yang lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kegiatan sehari-hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam dokter gigi kepala, yang namanya ditulis sebagai Iy Mry, dilindungi oleh kutukan yang tertulis di pintu masuk ke makam tersebut, kata Dr Zahi Hawass.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tulisan kutukan itu adalah: 'Barang siapa yang masuk ke dalam makam saya akan dimakan oleh buaya dan ular.'"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar-gambar cantik yang terpampang di tembok dan tiang-tiang di makam itu juga bercerita tentang kegiatan sehari-hari dokter gigi kepala itu, kata Hawass.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dan keluarganya digambarkan melakukan ritual seperti menyembelih hewan, memberikan persembahan dan melakukan permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua dokter gigi yang lainnya, yang namanya tertulis sebagai Kem Msw dan Sekhem Ka, diperkirakan adalah mitra atau rekan kerja yang dimakamkan bersama dengan Iy Mry, tambah Dr Hawass.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber: bbcindonesia.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-1089749753405793916?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/1089749753405793916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/pencuri-temukan-makam-kuno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1089749753405793916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/1089749753405793916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/pencuri-temukan-makam-kuno.html' title='Pencuri temukan makam kuno'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7h-pEGfLI/AAAAAAAAAkc/LN8At5Bnvcw/s72-c/pencuri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-3155919563527018208</id><published>2009-12-09T06:24:00.003+07:00</published><updated>2009-12-09T06:29:54.593+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Temuan otak tertua di Inggris</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7giOB9dLI/AAAAAAAAAkU/dHmZrRDxrx4/s1600-h/otak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 203px; height: 220px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7giOB9dLI/AAAAAAAAAkU/dHmZrRDxrx4/s320/otak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413010680632407218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Otak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para arkeolog menemukan peninggalan arkeologis yang diperkirakan merupakan otak manusia tertua yang pernah ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim yang melakukan penggalian di situs penelitian Universitas York itu menemukan satu tengkorak dengan kandungan kuning yang tampaknya mengecil tapi masih tetap berbentuk otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak itu terdiri dari lapisan lemak yang diserap oleh mikroba di dalam tanah, sehingga para neuorologis, atau ahli syaraf, yakin temuan itu adalah fosil otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengkorak itu ditemukan di kawasan yang merupakan kawasan pertanian sekitar 2.000 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah tes masih harus dilakukan untuk memastikan kandungan dari fosil otak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Temuan menakjubkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Otak secara umum tidak akan bertahan. Lapisan lemak akan dimakan oleh mikroba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Duffey&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim York Archaeological Trust melakukan penggalian di Heslington East, kawasan yang akan dibangun untuk perluasan kampus Universitas York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para arkeologi yakin bahwa tengkorak itu --yang ditemukan di sebuah lubang penuh lumpur-- mungkin untuk kepentingan sebuah acara ritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tengkorak tersebut sudah dibawa ke Universitas York untuk CT Scan guna memastikan kandungan yang terdapat dalam tengkorak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Duffey, ahli syaraf yang menjadi konsultan, mengatakan temuan itu menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Amat menakjibkan ketika scan memperlihatkan struktur yang tidak diragukan lagi tampak berasal dari otak,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kira amat penting untuk memastikan bagaimana struktur ini bisa bertahan, apakah ada jejak materi biologi di dalamnya, dan jika tidak ada maka apa saja komposisinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Duffey menambahkan bahwa temuan itu sama dengan fosil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Otak secara umum tidak akan bertahan. Lapisan lemak akan dimakan oleh mikroba," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Korban TBC&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dr. Sonia O'Connor, anngota tim peneliti dari Universitas Bradford, mengatakan bahwa bertahannya sisa otak ini amat jarang karena biasanya lapisan tipis tidak bisa bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Temuan otak ini amat menggembirakan karena terpelihara dengan baik, walaupun merupakan temuan tertua di Inggris dan juga salah satu yang tertua di dunia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan otak ini merupakan temuan penting kedua di lokasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, tim dari Departemen Arkeologi Universitas York, menemukan sebuah kuburan yang berisi kerangka manusia yang mungkin merupakan salah satu manusia pertama yang diserang TBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran radiokarbon memperkirakan pria itu tewas di abad ke-4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini temuan terbaru berupa otak ini masih akan dikaji untuk mendapatkan penjelasan kenapa bisa bertahan lama, dan mungkin juga tentang siapa orang yang memiliki otak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber: bbcindonesia.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-3155919563527018208?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/3155919563527018208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/temuan-otak-tertua-di-inggris.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3155919563527018208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/3155919563527018208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/temuan-otak-tertua-di-inggris.html' title='Temuan otak tertua di Inggris'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7giOB9dLI/AAAAAAAAAkU/dHmZrRDxrx4/s72-c/otak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-4509897084329188593</id><published>2009-12-09T06:17:00.001+07:00</published><updated>2009-12-09T06:20:14.130+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Warisan Budaya Dunia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Samba dari Brazil, kelestarian dan keasliannya harus tetap dijaga. UNESCO menetapkan konvensi warisan budaya non materi. Ada kecemasan bahwa gelar warisan budaya dunia akan menghilangkan keaslian budaya itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan UNESCO memiliki program warisan budaya dunia. Berkaitan dengan program itu sudah pernah dipertanyakan, apa sajakah yang bisa diakui sebagai warisan budaya dunia. Apakah hanya bangunan kuno, istana-istana atau benda-benda bersejarah seperti misalnya keris? Tentunya tidak, karena bukan hal-hal yang kongkret saja, yang bisa dibilang hasil budaya manusia. Bagaimana dengan lagu-lagu? Atau tarian? Atau upacara adat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perlindungan terhadap Warisan Budaya Non Material&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang sering diprotes negara-negara di Amerika Latin, Afrika serta Asia. Di negara-negara tersebut cerita, adat serta seni sering disampaikan hanya dari mulut ke mulut. Sehingga warisan budayanya sering bersifat non material. Tetapi tahun 2003 lalu UNESCO akhirnya mengeluarkan konvensi untuk melindungi warisan budaya yang bersifat nonmaterial. Setelah 30 negara menandatanganinya, tanggal 20 April lalu konvensi itu mulai berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Samba de Roda' adalah ritme yang khas dari Brazil. Inilah contoh musik yang kemungkinan besar akan masuk daftar warisan budaya dunia dari UNESCO. Daftar itu tidak hanya memuat adikarya di bidang musik, tetapi juga teater, adat istiadat seperti dalam upacara tradisional atau juga pengetahuan tentang teknik pertukangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, dibanding dengan sejumlah negara lain, kebudayaan Indonesia sudah mencatat sejarah baru. 7 November 2003 wayang Indonesia adalah salah satu adikarya budaya yang ditetapkan menjadi warisan budaya dunia yang bersifat nonmateri. Piagamnya diserahkan di kantor pusat UNESCO di Paris, 21 April 2004 lalu. Penghargaan ini adalah yang pertama untuk ekspresi seni Indonesia yang bersifat non bendawi. Dan ini tentunya melengkapi kebanggaan Indonesia, setelah Candi Borobudur dan Prambanan diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang bersifat bendawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banyak Bahasa Asli Terancam Punah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Warisan budaya yang juga patut dilestarikan adalah bahasa. Namun seperti warisan budaya non materi lainnya, kelestarian bahasa sulit dijaga. Dengan mengikutsertakan bahasa dalam daftarnya, UNESCO mengusahakan agar tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi dapat terjaga dan terus terbina. Tetapi pada kenyataannya, badan PBB itu tidak dapat mencegah punahnya suatu warisan budaya. Ini terlihat jelas dalam bidang bahasa. Di seluruh dunia, diperkirakan terdapat 6.800 bahasa. Dan 90% darinya terancam punah. Dieter Offenhäußer dari komisi UNESCO di Jerman memandang situasi ini dengan realistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahasa memang bisa timbul dan menghilang begitu saja. Itu memang wajar. Tetapi ada bahasa-bahasa tertentu yang patut dijaga. Misalnya bahasa penduduk asli hutan-hutan di Amerika Latin. Bahasa mereka mengandung sejumlah besar pengetahuan dan kearifan. Semua ini tentunya dapat dijaga kelestariannya melalui dokumentasi. Tetapi saya rasa kita terlalu berharap banyak, jika beranggapan dengan cara itu bahasa tersebut bisa langgeng. Kepunahan sebuah bahasa tidak bisa dihalangi, karena konteks masyarakatnya bisa berubah. Dan sebenarnya sangat normal  jika sebuah bahasa suatu waktu punah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak Hanya Bahasa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya tidak bisa dipaksakan, jika orang tua memilih agar anaknya tidak dididik dengan bahasa ibunya, melainkan dengan bahasa lain, terutama dalam bahasa yang banyak dipergunakan di dunia internasional, seperti Inggris, Prancis atau Spanyol. Ketiga bahasa itu kerap menggeser bahasa-bahasa lokal baik di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Tetapi UNESCO setidaknya ingin mendorong masyarakat pengguna bahasa lokal untuk tetap melestarikannya. Kelestarian warisan budaya dunia juga diharapkan bagi bagian-bagian lain kebudayaan. Contohnya tarian penyembuhan Vimbuza dari Malawi, atau juga musik Duduk dari Armenia, yang dicalonkan untuk daftar UNESCO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjaga Keaslian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Disamping tujuan positif diadakannya daftar untuk warisan budaya yang non material, Offenhäuser dari UNESCO Jerman juga berpendapat kritis terhadap pencantuman gelar  'warisan budaya dunia'. Ia mengkhawatirkan hilangnya autentisitas warisan budaya yang non material ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kita memberikan gelar seperti itu, tentunya kita menciptakan situasi khusus bagi warisan budaya tertentu. Sehingga kita bisa seolah menempatkannya di museum, dan memberikan hak istimewa yang membedakannya dari warisan budaya lain yang hampir serupa. Dan bahaya yang terbesar adalah penyalahgunaannya untuk turisme."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membicarakan masalah ini, sebuah komite UNESCO akan berunding September mendatang. Kepada negara-negara yang sudah menandatangani terutama akan ditekankan, bahwa warisan budaya itu harus dijaga dalam bentuk aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kendala bagi Jerman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi sejumlah negara penandatanganan konvensi UNESCO tidaklah mudah. Dari negara-negara Eropa, sejauh ini hanya Eslandia yang sudah meratifikasi. Jerman contohnya, menghadapi masalah rumit jika ingin menandatangani. Penyebabnya, kebudayaan bukanlah wewenang pemerintah Jerman, melainkan wewenang masing-masing negara bagian. Dengan demikian, semua negara bagian harus menyetujui konvensi, dan proses ini sangat rumit serta berlangsung lama. Di samping itu sejumlah pertanyaan masih harus terjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, perjalanannya masih panjang. Tetapi Dieter Offenhäußer yakin, akhirnya pemerintah Jerman pasti memberikan jawaban positif. Beberapa tahun pasti masih akan berlalu, tetapi itu tidak masalah, jika pada akhirnya kelestarian warisan budaya dapat terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Sumber: Deutsche Welle)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-4509897084329188593?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/4509897084329188593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/warisan-budaya-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4509897084329188593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/4509897084329188593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/warisan-budaya-dunia.html' title='Warisan Budaya Dunia'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2122358025888367335</id><published>2009-12-09T06:09:00.002+07:00</published><updated>2009-12-09T06:13:51.572+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mancanegara'/><title type='text'>Peninggalan Kuno Irak Hancur Akibat Perang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7c8cAfMpI/AAAAAAAAAkM/FD3j8qfUdqg/s1600-h/babel.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 194px; height: 143px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7c8cAfMpI/AAAAAAAAAkM/FD3j8qfUdqg/s320/babel.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413006733014413970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Menara Babel, salah satu peninggalan kuno yang tersisa di Babylon, Irak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan antara Sungai Euphrat dan Tigris telah menjadi pusat peradaban, ketika umat manusia di Eropa dan Amerika Utara masih tinggal di dalam gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan arkeologi Irak ini, menarik perhatian para ilmuwan di seluruh dunia untuk  menilitinya. Sejak invasi tentara Amerika Serikat, semua usaha ini terhenti sama sekali. Terjadi penjarahan besar-besaran di museum nasional Irak, setelah Bagdad direbut. Dan terus bermunculan laporan dilakukannya penggalian tanpa ijin dan benda benda antik diseludupkan keluar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara Amerika Serikat tidak peduli dengan tempat-tempat arkeologi dan  peninggalan sejarah. Dengan demikian mengancam keberadaannya. Margarethe van Ess, pakar Irak dari Lembaga Arkeologi Jerman mencemaskan keadaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pikir masalahnya menyangkut keperluan militer. Dan ini selalu merupakan diskusi di seluruh dunia. Ini berlaku di seluruh negara yang mengalami, perang saudara atau sesuatu, yang mengakibatkan benda-benda budaya menjadi korban.  Hal ini sangat mudah terjadi, karena jarang sekali pihak yang berwenang diberi informasi atau ditanyai. Dan dari orang-orang awam, dalam hal ini pihak militer, tidak diharapkan dapat mengetahui apa yang mereka lakukan.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  melakukan invasi, tentara Amerika Serikat ditempatkan di tengah kota antik Babylon, dan tentu saja ini menimbulkan kerugian dan kerusakan. Tidak hanya akibat tindakan yang semborono, melainkan juga akibat guncangan yang ditimbulkan  oleh kendaraan truk dan panser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat Irak mengumumkan sebuah peraturan yang menyatakan kawasan Mesopotamia dengan radius satu sampai dua kilometer, sebagai kota bersejarah, dan melarang dilakukan aksi militer di kawasan itu. Tapi kerusakan tetap terjadi. Margarethe von Ess mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di dekat  Ur, pembangunan pangkalan udara militer menimbulkan kerusakan dikawasan bersejarah  dan juga dikawasan pinggirannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkalan udara itu merupakan yang terbesar di kawasan Timur Tengah. Karena merupakan daerah militer yang terlarang, pihak dari Jawatan Arkeologi Irak tidak dapat memasuki kawasan ini. Juga situasi keamanan di Irak merintangi  para arkeolog asing untuk mengunjunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, pakar Irak dari British Museum, John Curtis, tahun lalu mengunjungi kawasan Ur. Ia memang tidak dapat bertemu dengan rekan-rekanya dari Irak, tapi dapat menuliskan kerusakan yang terjadi akibat penggalian dan pembuatan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu  John Curtis mengungkapkan satu kabar yang menggembirakan, bahwa  tempat bersejarah dan cagar budaya terletak dalam wilayah militer yang terlarang. Dengan demikian dapat dilindungi dari aksi penjarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Margarethe van Ess menyerukan kepada pihak Amerika Serikat untuk melindunginya, dan melakukan serta meningkatkan kerjasama dengan pihak berwenang Irak. Selain itu ia juga mengharapkan agar situasi di Irak segera membaik, agar pakar internasional dapat kembali melakukan penelitian dan risetnya di Irak. (ar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber: Deutsche Welle)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2122358025888367335?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2122358025888367335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/peninggalan-kuno-irak-hancur-akibat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2122358025888367335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2122358025888367335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/peninggalan-kuno-irak-hancur-akibat.html' title='Peninggalan Kuno Irak Hancur Akibat Perang'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx7c8cAfMpI/AAAAAAAAAkM/FD3j8qfUdqg/s72-c/babel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-2043683046264747514</id><published>2009-12-08T08:11:00.007+07:00</published><updated>2010-01-16T07:41:55.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>30 Tahun Angkatan 79 dalam Berbagai Pertemuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2rwXyyCsI/AAAAAAAAAkE/1BHRbi8U4QY/s1600-h/reuni-plus79.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 284px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2rwXyyCsI/AAAAAAAAAkE/1BHRbi8U4QY/s320/reuni-plus79.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412671174678284994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Depok, 18 Oktober 2009, dalam Reuni Akbar Arkeologi UI (Koleksi Anton)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2rwHC0oYI/AAAAAAAAAj8/asaJtbRmitU/s1600-h/rame79-e.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2rwHC0oYI/AAAAAAAAAj8/asaJtbRmitU/s320/rame79-e.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412671170182160770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Depok, 18 Oktober 2009, dalam Reuni Akbar Arkeologi UI (Koleksi Anton)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2rv3Oae0I/AAAAAAAAAj0/kY7tg-GgDZk/s1600-h/ekowati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2rv3Oae0I/AAAAAAAAAj0/kY7tg-GgDZk/s320/ekowati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412671165935811394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Nasional, 8 Juni 2009, Pembukaan Pameran Sumatera (Koleksi Gangga)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2rvRv2ZII/AAAAAAAAAjs/6slawRXroyQ/s1600-h/berty-a-2009.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 238px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2rvRv2ZII/AAAAAAAAAjs/6slawRXroyQ/s320/berty-a-2009.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412671155875505282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Depok, 18 Oktober 2009, dalam Reuni Akbar Arkeologi UI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2on4L1s1I/AAAAAAAAAjk/nokpuWI-f5g/s1600-h/museum-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2on4L1s1I/AAAAAAAAAjk/nokpuWI-f5g/s320/museum-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412667730219610962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Nasional, 4 Desember 2009, "30 Tahun Arkeologi 79" (Koleksi Berty)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2onKekIaI/AAAAAAAAAjU/SVaBBRsagmU/s1600-h/arkeo79-museum.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2onKekIaI/AAAAAAAAAjU/SVaBBRsagmU/s320/arkeo79-museum.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412667717950120354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Nasional, 4 Desember 2009, "30 Tahun Arkeologi 79" (Koleksi Gangga)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2om3UurJI/AAAAAAAAAjM/y2qfExlZtSk/s1600-h/79-reuni.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 265px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2om3UurJI/AAAAAAAAAjM/y2qfExlZtSk/s320/79-reuni.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412667712808594578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Depok, 18 Oktober 2009, dalam Reuni Akbar Arkeologi UI (Koleksi Anton)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;SILAKAN KLIK, UNTUK MEMPERBESAR GAMBAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6455672321056116192-2043683046264747514?l=djuliantosusantio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/feeds/2043683046264747514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/30-tahun-angkatan-79-dalam-berbagai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2043683046264747514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6455672321056116192/posts/default/2043683046264747514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djuliantosusantio.blogspot.com/2009/12/30-tahun-angkatan-79-dalam-berbagai.html' title='30 Tahun Angkatan 79 dalam Berbagai Pertemuan'/><author><name>DJULIANTO SUSANTIO</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/StEfO1pHIRI/AAAAAAAAAfk/bXIyg4IEi50/S220/djul2009-a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fCVln3kcD9I/Sx2rwXyyCsI/AAAAAAAAAkE/1BHRbi8U4QY/s72-c/reuni-plus79.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6455672321056116192.post-9132516841275115052</id><published>2009-11-26T11:30:00.001+07:00</published><updated>2009-11-26T17:20:14.271+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Djulianto Susantio'/><title type='text'>“Arkeologi Kok Meneliti Sampah?”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Djulianto Susantio&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arkeolog, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bagi sementara orang, sampah merupakan sesuatu yang bernilai negatif, karena menjijikkan dan menimbulkan bau tidak sedap. Namun di mata segelintir masyarakat lain, sampah bagaikan “harta karun” yang bernilai positif. Ini karena beberapa jenis sampah dapat diolah menjadi barang-barang daur ulang, kompos, bahkan sumber energi listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lama, sampah sering diteliti banyak pakar dari berbagai bidang keilmuan, tidak terkecuali pakar-pakar arkeologi
