Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net
Tampilkan postingan dengan label Djulianto Susantio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Djulianto Susantio. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 September 2010

Kasus “Homo Floresiensis” dan Kode Etik Penelitian


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO


Penemuan fosil manusia purba dari Flores, Homo Floresiensis, beberapa tahun lalu yang kemudian dipublikasikan majalah Nature, menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia kurang sekali memberikan perhatian pada sektor kebudayaan. Padahal selain memiliki ladang penelitian sangat luas, kita pun mempunyai tenaga peneliti relatif banyak. Hanya dana penelitian yang dialokasikan untuk bidang arkeologi memang masih sangat terbatas.

Merunut ke masa lalu, masa kritis terjadi pada 1980-an ketika anggaran penelitian untuk bidang arkeologi dikurangi secara drastis. Pemerintah memotong sekitar separuh dari anggaran yang diterima sebelumnya. Dampaknya antara lain adalah penelitian arkeologi tak pernah tuntas sekali jalan.

Banyak candi, umpamanya, hanya sempat dilakukan pemugaran parsial, bukan menyeluruh. Akibatnya bangunan yang sudah berbentuk itu, nyaris runtuh kembali diterpa hujan dan gejala alam lain. Bahkan batu-batunya yang masih berserakan di halaman, sering diambili penduduk untuk berbagai keperluan rumah tangga.

Banyak penelitian baru juga urung terlaksana karena skala prioritas bukan untuk itu, tetapi untuk meneruskan penelitian lama yang belum selesai. Padahal penelitian baru sangat penting, dalam rangka mencari kesinambungan dengan penelitian sejenis yang lain. Anggaran menjadi semakin kecil ketika bidang arkeologi dialihkan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke dalam Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata. Dengan demikian anggaran yang ada harus dibagi-bagi lagi kepada banyak direktorat. Entah sekarang di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.


“Surga”

Sejak dulu Indonesia merupakan “surga” bagi peneliti-peneliti asing. Pada zaman Hindia-Belanda, peneliti Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Australia, dll mulai menjejakkan kaki di Indonesia. Konyolnya, sebagian besar benda arkeologi, seperti naskah kuno, prasasti, dan fosil dibawa ke negara si peneliti. Bahkan ada yang tidak dikembalikan ke Indonesia sampai sekarang.

Tiga puluh tahun terakhir ini banyak peneliti Indonesia bekerja sama dengan peneliti asing, baik untuk melakukan ekskavasi maupun pemeliharaan benda-benda kuno. Bangsa Barat menjadikan Indonesia sebagai “surga” penelitian karena keingintahuan mereka terhadap kebudayaan luar sangat tinggi. Hal serupa juga dialami sejumlah negara di Dunia Ketiga seperti Mesir, Irak, Iran, dan India. Berbagai ekskavasi di sana sering dibiayai pihak Barat, antara lain British Museum di Mesir dan Irak. British Museum mempunyai dana riset yang amat besar. Sebaliknya ladang penelitian yang tersedia di negara mereka sangat sedikit. Itu alasan mengapa mereka giat melakukan ekspansi penelitian ke mancanegara, khususnya Asia dan Afrika.

Sejumlah arkeolog ternama, antara lain Howard Carter, T.E. Lawrence, dan Herry Layard rata-rata memusatkan perhatiannya pada Dunia Ketiga. Berkat Dunia Ketigalah Howard Carter, misalnya, dikenal sebagai penemu makam emas Tutankhamunh di Mesir. Namun semua temuan Carter digarap dan dipamerkan di museum-museum Inggris. Bukan di Mesir, tempat asal temuan-temuan arkeologi itu. Pameran Tutankhamunh pernah pula berlangsung di Indonesia sekitar tahun 1980.

Sesungguhnya pihak Baratlah yang lebih memetik keuntungan dari program kerja sama. Orang lebih mengenal Carter sebagai penemu harta karun dari piramida Mesir. Padahal Carter mendapat laporan dari penduduk Mesir asli.


Dana

Berbagai negara Dunia Ketiga sampai kini masih memiliki dana penelitian arkeologi yang amat minim. Sebagian besar anggaran masih diperuntukan bagi pembangunan ekonomi dan pembangunan fisik. Sebaliknya banyak negara maju mempunyai perhatian serius terhadap masalah kebudayaan ditopang dana riset memadai.

Prancis, misalnya, sejak lama memiliki anggaran penelitian arkeologi relatif sama besar dengan anggaran pembangunannya. Masyarakat Prancis dikenal berapresiasi sekali terhadap peninggalan masa lampau. Ini terjadi sejak zaman Renaisans.

Pertanyaan mendasar yang masih membuat mereka penasaran adalah apakah mereka keturunan manusia purba Cro-magnon? Karena rasa penasaran yang begitu besar, mereka bukan saja meneliti di tanah airnya, tetapi juga meluas ke seluruh dunia, terutama di negara-negara bekas jajahannya. Sebagai bentuk kepedulian, mereka mendirikan lembaga ilmiah EFEO (Lembaga Prancis untuk Kajian Timur Jauh). Selama bertahun-tahun Prancis berhasil menggarap segala penelitian tentang negara-negara yang pernah dijajahnya di kawasan Indocina. Karenanya segala literatur tentang Indocina yang lengkap harus dicari di Prancis, bukan di Vietnam, Laos, atau Kamboja.

Di Indonesia EFEO banyak melakukan penelitian prasejarah dan arkeologi maritim. EFEO juga banyak membantu penerjemahan naskah Islam dan naskah Sunda, termasuk penerbitannya.

Bantuan besar juga diberikan oleh KITLV atau Institut Kerajaan untuk Bahasa, Budaya, dan Sejarah. Lembaga ini memusatkan perhatian pada negara-negara bekas jajahan Belanda di Asia Pasifik dan Karibia, termasuk Indonesia.

Selain kepada lembaga-lembaga ilmiah internasional, para peneliti arkeologi Indonesia juga sering “menodong” yayasan-yayasan asing, seperti Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Prince Claus Foundation, dan Caltex Foundation. Ironisnya, jarang ada perusahaan swasta Indonesia yang berkenan memberikan sponsor kepada peneliti arkeologi. Kalaupun ada, tak lebih berkat hubungan antarpersonal yang sudah terjalin.

Melakukan penelitian lapangan merupakan keharusan seorang arkeolog. Selain untuk menguji teori, hal ini untuk mengasah keterampilan ilmiah. Tapi karena anggaran penelitian begitu terbatas, maka para arkeolog jarang melakukan ekskavasi. Padahal penelitian merupakan jalan untuk menapak karir. Bagi arkeolog peneliti, kerja lapangan beserta hasil publikasinya menghasilkan poin penting untuk memperoleh angka kredit dalam jenjang kepangkatan.

Tidak dimungkiri kalau para peneliti Indonesia sering menerima tawaran penyandang dana untuk melakukan penelitian bersama tanpa mempertimbangkan MoU. Karena tanpa perjanjian, maka apa hak dan kewajiban kita tidak jelas. Bagi peneliti Indonesia, yang penting bisa meneliti. Itu saja.


Kode Etik

Indonesia punya situs, pihak asing punya duit sekaligus punya nama. Kasus seperti itulah yang dialami peneliti Indonesia ketika menemukan fosil manusia Flores. Berhari-hari penemuan tersebut mengisi gegap gempita pemberitaan media cetak dan media elektronik Indonesia dan mancanegara.

Nama peneliti Australia pun terangkat karenanya. Orang lebih mengenal Peter Brown dan Michael Morwood daripada R.P. Soejono dan Teuku Jacob. Karena itu dalam sebuah konperensi pers, peneliti Indonesia menuding pihak Australia sebagai “teroris ilmiah”. Lagi pula, menurut Jacob, temuan tersebut tidak istimewa karena temuan serupa pernah diperoleh dari sejumlah situs arkeologi. Kalau ditelusuri, sebenarnya publikasi tentang manusia-manusia prasejarah, sudah sering diungkapkan dalam penerbitan lokal Berita Penelitian Arkeologi. Namun karena berskala kecil, gaungnya tidak sehebat di majalah Nature.

Meskipun dirugikan, ada beberapa hal yang pantas dijadikan pelajaran dari kasus Flores itu. Pertama, kita jangan menjadi “pengemis ilmiah” kepada dunia internasional. Kalaupun terpaksa, harus ada kode etik penelitian, misalnya siapa pemilik hak publikasi atau hak siar, apa hak dan kewajiban kita, serta apa hak dan kewajiban mereka.

Kedua, berbagai pihak (pemerintah dan swasta) harus bekerja sama memajukan dunia arkeologi Indonesia. Salah satu langkah, misalnya menerbitkan publikasi bergengsi macam majalah Nature atau Science. Semoga kasus seperti Homo Floresiensis tidak menimpa lagi dunia arkeologi Indonesia.***

Read More......

Sabtu, 06 Maret 2010

Pemerasan oleh Petugas Pajak Digagalkan Hakim


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO



Dari ribuan koleksi benda kuno yang ada di Museum Nasional Jakarta, ada satu artefak yang patut mendapat perhatian kita. Benda kuno itu berupa sepotong lempengan logam berukuran 27 cm x 23 cm, dengan kode inventaris E 63. Kondisi koleksi memang sudah berkarat di sana-sini sehingga terkesan “amburadul”. Dilihat dari bentuknya tak ada yang bernilai seni, kecuali berupa tatahan aksara. Tidak sembarang orang mampu membaca benda ini.

Namun bagi arkeolog yang menggeluti bidang epigrafi (aksara dan tulisan kuno), benda itu sangat berarti karena informasi di dalamnya sangat bermanfaat untuk kajian masa kini. Koleksi tersebut adalah prasasti Wurudu Kidul, ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Pertama kali isi prasasti Wurudu Kidul diulas oleh W.F. Stutterheim pada 1935.

Pada intinya prasasti Wurudu Kidul menguraikan bagaimana susahnya seseorang menjadi warga keturunan dalam menghadapi petugas pajak. Kemungkinan, sebelum ini pemerasan pajak hampir selalu dilakukan terhadap orang asing. Hukum Jawa kuno memang mengatur bahwa pajak orang asing lebih tinggi daripada pajak orang pribumi. Namun kalau sudah keterlaluan, jelas-jelas akan menimbulkan citra buruk bagi penguasa kerajaan.

Konon, menurut bagian awal prasasti ini—disebut Prasasti Wurudu Kidul A—ada seorang pria bernama Sang Dhanadi. Dia berdomisili di desa Wurudu Kidul. Suatu hari Dhanadi kedatangan tamu bernama Wukajana. Orang ini menjabat sebagai Samgat Manghuri, yang bertugas memungut pajak dari rumah ke rumah.

Begitu melihat Dhanadi, Samgat Manghuri langsung menuduh Dhanadi bahwa dia adalah anak orang asing. “Anda termasuk golongan warga atau wka kilalang (orang asing),” mungkin begitu katanya. Sebagai orang asing tentu saja Dhanadi harus membayar pajak lebih besar daripada warga pribumi.

Spontan Dhanadi tidak terima dengan sangkaan tersebut. Dia lantas mengadu ke pengadilan. Untungnya hakim tidak mengulur-ulur waktu perkara seperti zaman sekarang. Tak berapa lama, hakim segera mengusut tuduhan terhadap Dhanadi itu.

Pertama kali, keluarga Dhanadi dipanggil satu per satu ke persidangan. Mulai dari kakek nenek hingga ayah ibu di-screening secara ketat di pengadilan. Dari garis kakek dirunut-runut apakah ada unsur asing yang mengalir dalam darah Dhanadi. Begitu pula dari garis nenek. Bukan cuma itu. Warga di desa Grih, Kahuripan, dan Paninglaran yang berada di sekitar desa tempat Dhanadi tinggal, ikut dimintai keterangan sebagai saksi.

Setelah melakukan pemeriksaan yang ketat dan seksama, dengan tegas dan berwibawa hakim segera memutuskan bahwa Dhanadi dan keluarganya benar-benar orang pribumi asli. Istilahnya menurut prasasti wwang yukti. Dengan demikian besarnya pajak yang harus dibayarkan Dhanadi tidak setinggi seperti yang diminta petugas pajak itu.

Sebagai pegangan, hakim itu Sang Pamget Padang pu Bhadra, memberikan “Surat Sakti” tertanggal 6 Kresnapaksa bulan Baisakha tahun 844 Saka atau identik dengan 20 April 922 Masehi. Waktu itu pula (922 Masehi) yang dijadikan tarikh prasasti Wurudu Kidul.

Namun sudah plong-kah hati Dhanadi? Mungkin karena sudah “mental Melayu”, rupa-rupanya petugas pajak tersebut tidak puas atas keputusan hakim. Akibatnya kali ini ketenangan Dhanadi terusik kembali oleh petugas pajak lain, Pamariwa. Ternyata Pamariwa adalah orang suruhan Samgat Manghuri, petugas pajak yang coba memeras Dhanadi tadi.

Begitu bertemu muka dengan Dhanadi, demikian menurut Prasasti Wurudu Kidul B, Pamariwa langsung menuduhnya anak keturunan Khmer atau Kamboja. Dibilang wka kmir, tentu saja Dhanadi sangat tersinggung. Dia mengadu lagi ke pengadilan.

Sesuai prosedur hukum, hakim mengirim surat panggilan pertama ke rumah Pamariwa agar menghadiri sidang gugatan. Namun pada panggilan pertama, Pamariwa tidak datang.

Hakim mengirim lagi surat panggilan kedua. Kali ini Pamariwa juga tetap tidak datang. Akhirnya Samget Juru i Madandar memenangkan Dhanadi. Rupa-rupanya pada waktu itu belum dikenal istilah “pemanggilan paksa” seperti pada zaman sekarang. Jadi cukup pemanggilan dua kali berturut-turut. Jika tidak datang, berarti kalah perkara.

Sekali lagi, Dhanadi menerima “Surat Sakti” tertanggal 7 Suklapaksa bulan Jyaistha tahun 844 Saka atau 6 Mei 922 Masehi. Jelas sekali dari kedua kasus itu, ada upaya pemerasan yang coba dilakukan petugas pajak. Di pihak lain, upaya negatif itu digagalkan hakim yang jujur.

Sayang, proses pengadilan itu terjadi di masa lampau, tepatnya di Kerajaan Mataram. Kalau saja terjadi di masa kini, mungkin penjara kita sudah dipenuhi koruptor-koruptor pajak.

Terhadap ulah Pamariwa yang dua kali mangkir, tentu saja dikenakan sanksi berdasarkan hukum Jawa kuno. Dikatakan di dalam berbagai kitab hukum, perbuatan menuduh yang tidak berdasar (duhilatan) adalah tindak pidana yang patut dikenai hukuman. Namun belum jelas hukuman apa yang dijatuhkan kepada Pamariwa itu. Juga kepada atasan Pamariwa, Samgat Manghuri.

Sebenarnya gambaran penerapan hukum di Indonesia banyak sekali terdapat dalam prasasti-prasasti yang berkategori jayapattra, jayasong, suddhapattra, dan sukhadukha (prasasti mengenai persoalan hukum). Sayang, pakar-pakar kita yang mampu menerjemahkan dan menafsirkan prasasti-prasasti demikian, masih bisa dihitung jari tangan. Akibatnya, banyak data masih tersimpan di berbagai museum di seluruh Indonesia. Juga di tempat-tempat lainnya seperti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala dan Balai Arkeologi.

(Naskah asli. Dimuat dalam majalah Intisari, Maret 2010)

Read More......

Dicari: Ahli Baca Prasasti


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO



swasti sakawarsatita 824 posa masa tithi dasami kresnapaksa. tunglai. kaliwuan. soma wara. daksinastha jaista naksatra. mitra dewata. sukarmma yoga...

Apa arti tulisan di atas? Sudah dialihaksarakan ke dalam aksara Latin saja, banyak yang tidak paham. Apalagi kalau masih tertulis dalam aksara aslinya, lebih tidak tahu. Tidak dimungkiri, sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa awam terhadap tulisan di atas. Nah, bagaimana kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kata demi kata, seperti berikut:

Selamat! Tahun Saka telah berlangsung 824 tahun, bulan Posa, tanggal 10 paro gelap, pada hari tunglai, kaliwuan dan hari senin, kedudukan planet di selatan, bintang Jaista: dewa Mitra, yoga...
(Sumber: Tiga Prasasti dari Masa Balitung, 1982)

Memang kata-kata itu masih agak sulit dimengerti. Jangankan masyarakat awam, pakar bahasa pun mungkin merasa “kewalahan” dengan terjemahan seperti itu. Karena aksara dan bahasanya berasal dari belasan abad yang lampau, tentu berbagai kendala dihadapi para peneliti zaman sekarang.

Penggalan baris pertama dari puluhan baris yang ada pada Prasasti Panggumulan itu memang masih terasa asing di telinga kita. Tidak sembarang orang mampu mengalihaksarakan dan membacanya. Apalagi menerjemahkan dan menafsirkannya sekaligus ke dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Hanya segelintir orang yang mampu melakukannya, yakni para arkeolog. Itupun tidak seluruh arkeolog, melainkan mereka yang mendalami bidang epigrafi. Epigrafi adalah subdisiplin dari arkeologi yang memelajari segala aksara dan bahasa kuna beserta seluk-beluknya. Berdasarkan hasil kajian para epigraflah, maka penulisan sejarah kuno Indonesia seperti yang dikenal sekarang, bisa tersusun dengan baik.

Kalau tidak ada epigraf, kita tidak mungkin mengenal Kerajaan Majapahit dengan Rajanya Hayam Wuruk dan Patihnya Gajah Mada. Kita pun mungkin tidak tahu akan kebesaran tokoh Jayabaya, Airlangga, dan Ken Arok atau Kerajaan Tarumanagara, Sriwijaya, dan Singhasari. Tentu tak terbayangkan jadinya bila sejarah kuno Indonesia begitu gelap. Dari mana kita akan berkaca, kalau tidak mempunyai masa lampau yang cemerlang?


Akhir prasejarah

Ditemukannya prasasti tertua pada sejumlah situs arkeologi, dianggap menandai berakhirnya masa prasejarah, yakni babakan dalam sejarah kuno Indonesia yang masyarakatnya belum mengenal tradisi tulisan. Kata prasasti sendiri berasal dari bahasa Sansekerta. Arti sebenarnya adalah pujian. Namun kemudian diangggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang, dan tulisan”. Di kalangan ilmuwan, prasasti disebut inskripsi. Sementara orang awam mengenalnya sebagai batu bertulis atau batu bersurat.

Meskipun berarti pujian, tidak semua prasasti mengandung puji-pujian kepada raja. Sebagian besar prasasti justru diketahui memuat keputusan mengenai penetapan sebuah desa atau daerah menjadi perdikan atau sima (tanah yang dilindungi). Sebagian lagi berupa keputusan pengadilan tentang perkara-perkara perdata (disebut prasasti jayapattra atau jayasong), sebagai tanda kemenangan (jayacikna), tentang utang-piutang (suddhapattra), dan kutukan atau sumpah.

Prasasti tertua Indonesia yang pernah ditemukan bertarikh abad ke-5 M. Periode terbanyak pengeluaran prasasti terjadi pada abad ke-8 hingga ke-14 M, ketika yang berkuasa di Nusantara adalah kerajaan-kerajaan bercorak Hindu dan Buddha (dikenal sebagai masa klasik), seperti Mataram Hindu, Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit.

Selain kerajaan Hindu dan Buddha, di negara kita juga pernah berkuasa kerajaan atau kesultanan Islam, seperti Samudra Pasai, Demak, Gresik, dan Cirebon. Prasasti dari periode Islam pun cukup banyak tersebar di Nusantara. Begitu pula prasasti dari masa pendudukan (kolonial).

Sesuai etnisitas atau pengaruh kebudayaan, tentu saja aksara dan bahasa yang digunakan dalam prasasti amat beragam. Pada masa klasik, yang terbanyak adalah Sansekerta atau Jawa kuno, kemudian Melayu kuno, Sunda kuno, dan Bali kuno. Pada masa selanjutnya aksara-aksara ini berkembang menjadi Jawa tengahan dan Jawa baru.

Pada masa Islam digunakan aksara dan bahasa Tamil (India) dan Arab. Prasasti-prasasti dari masa ini umumnya berupa tulisan pada batu nisan yang memuat keterangan tentang nama, tanggal wafat seseorang, kutipan ayat suci Al-Qur’an, serta berkenaan dengan pendirian masjid, kraton, dan gapura.

Prasasti-prasasti dari masa kolonial relatif lebih mudah dibaca karena beraksara Latin. Bahasa yang digunakan antara lain Portugis, Belanda, dan Inggris. Prasasti Latin umumnya dijumpai pada batu makam, tugu peringatan, gereja, rumah tinggal, benteng, dan pergudangan. Selain itu, ada pula prasasti-prasasti beraksara dan berbahasa Mandarin yang sebagian terbesar terdapat pada batu makam.

Uniknya, di negara kita pernah ditemukan sejumlah prasasti yang menggunakan dua bahasa sekaligus. Mungkin ini karena di kerajaan tersebut bermukim dua komunitas besar. Prasasti-prasasti dwibahasa itu antara lain Kayumwungan atau Karangtengah (824 M) yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Jawa kuno serta Amogaphasa (1286 M) dengan bahasa Melayu kuno dan Jawa kuno.


Bahan

Budaya tulis rupanya sudah dikenal sejak lama. Namun sarana menulis bukanlah tinta dan kertas, melainkan batu dan pahat. Batu merupakan bahan yang mudah didapat, sekaligus tahan lama. Selain andesit, yang digunakan sebagai sarana penulisan prasasti adalah batu kapur atau basalt. Di kalangan arkeologi, prasasti batu disebut upala prasasti.

Namun sesungguhnya di luar batu ada juga bahan yang tak kalah awetnya, yakni logam. Prasasti berbahan tembaga atau perunggu disebut tamra prasasti. Selain itu ada ripta prasasti, yakni prasasti yang ditulis di atas lontar atau daun tal. Prasasti logam dan lontar juga relatif banyak ditemukan di Nusantara.

Yang sedikit jumlahnya tapi tergolong unik adalah prasasti berbahan tanah liat atau tablet. Isi tablet adalah mantra-mantra agama Buddha. Sebenarnya, ada juga prasasti yang dituliskan di atas lembaran perak atau emas. Namun jumlahnya tidak banyak dan itu pun lebih cenderung menunjukkan nama orang/raja.

Di antara sekian jenis prasasti, rupanya hanya prasasti batu yang memiliki berbagai variasi bentuk. Mungkin disesuaikan dengan batu yang ada atau karena keterampilan sang pemahat. Yang terbanyak adalah berbentuk balok (segiempat), lingga (bulat panjang), dan yupa (tiang batu). Prasasti berbentuk stele, dengan bagian atas bulat atau lancip, juga banyak ditemukan. Demikian halnya dengan prasasti berbentuk wadah (jambangan, gentong, peti batu, lumbung) dan alamiah (batu alam). Sejumlah prasasti malah dipahatkan pada bagian candi dan badan arca (Hari Untoro Drajat, 1992).

Dari berbagai bentuk itu, ada yang polos dan ada yang berhiasan, termasuk ukiran, simbol kerajaan, dan simbol keagamaan. Salah satu prasasti yang tergolong megah dan unik adalah Prasasti Telaga Batu dari masa Kerajaan Sriwijaya. Bentuk fisik prasasti tersebut sangat istimewa. Bagian atas prasasti itu dihias dengan tujuh kepala ular kobra berbentuk pipih dengan mahkota berupa permata bulat, sementara leher ularnya mengembang dengan hiasan kalung.

Di antara berbagai sumber sejarah kuno Indonesia, seperti naskah dan berita asing, prasasti dipandang merupakan sumber terpenting karena mampu memberikan kronologis suatu peristiwa. Ada banyak hal yang membuat prasasti sangat menguntungkan dunia penelitian masa lampau. Selain mengandung unsur penanggalan, prasasti juga mengungkapkan sejumlah nama dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan.

Hingga kini prasasti telah banyak membantu penyusunan buku-buku teks sejarah. Berbagai atribut negara pun, seperti bendera merah putih dan lambang burung garuda, digali berdasarkan data dari prasasti.

Disayangkan, masih banyak data belum muncul karena berbagai masalah, seperti huruf pada prasasti sudah aus, batunya pecah-pecah, sebagian tulisan hilang, dan belum terbaca karena tenaga ahlinya (pakar epigrafi atau epigraf) masih langka. Di seluruh Indonesia, mungkin kita hanya memiliki belasan pakar epigrafi yang tersisa. Itu pun sebagian besar sudah berstatus pensiunan. Bahkan ada beberapa yang sudah meninggal.

Karena kita hidup di masa kini, tentunya kita tidak bisa mengingkari masa lampau. Sebagai cermin untuk masa kini dan masa mendatang, sudah sepatutnya kita memberi perhatian kepada prasasti karena prasasti ibarat ensiklopedia tentang masa lampau kecemerlangan bangsa Indonesia.

(Naskah asli. Dimuat dalam majalah Intisari, Maret 2010)

Read More......

Kamis, 26 November 2009

“Arkeologi Kok Meneliti Sampah?”


Oleh: Djulianto Susantio
Arkeolog, tinggal di Jakarta

Bagi sementara orang, sampah merupakan sesuatu yang bernilai negatif, karena menjijikkan dan menimbulkan bau tidak sedap. Namun di mata segelintir masyarakat lain, sampah bagaikan “harta karun” yang bernilai positif. Ini karena beberapa jenis sampah dapat diolah menjadi barang-barang daur ulang, kompos, bahkan sumber energi listrik.

Sejak lama, sampah sering diteliti banyak pakar dari berbagai bidang keilmuan, tidak terkecuali pakar-pakar arkeologi. “Arkeologi kok meneliti sampah, untuk apa?” begitulah cemoohan orang-orang pada awalnya.

Pada dasarnya, studi arkeologi berkenaan dengan manusia masa lalu melalui benda-benda budaya yang mereka tinggalkan. Namun karena informasi dari masa lalu sangat terbatas jumlahnya, sementara ada asumsi bahwa pola tingkah laku manusia masa kini merupakan kelanjutan dari masa lalu, maka kemudian berkembang studi analogi etnografi atau etno-arkeologi. Subdisiplin arkeologi ini ingin memahami proses budaya yang terjadi pada masa lalu melalui manusia masa kini.

Salah satu objek penelitian yang dianggap universal adalah sampah. Sampah ada di segala penjuru dunia dan selalu dihasilkan oleh setiap individu dari dulu hingga sekarang, oleh tua dan muda serta oleh segala lapisan masyarakat. Mula pertama memang penelitian sampah dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Namun begitu hasil riset dipublikasikan, sambutan positif banyak berdatangan. Maka kemudian studi tentang sampah dikembangkan ke arah penerapan yang lebih luas.


Garbology

Di sejumlah negara, penelitian ilmiah terhadap sampah berhasil memecahkan masalah sosial budaya terhadap masyarakatnya. Bahkan di AS sejak lama berkembang cabang arkeologi yang disebut Arkeologi Persampahan (Garbage Archaeology) atau disingkat Garbology.

Pelopor Garbology adalah Dr. William Rathje dari Universitas Arizona. Ketika itu bersama timnya, Rathje meneliti ribuan ton sampah. Dia memakai teknik arkeologi untuk mempelajari sampah masyarakat modern dalam rangka memperoleh gambaran yang lebih pasti tentang masyarakat masa sekarang.

Prosedur kerja Garbology adalah memilah-milah sampah berdasarkan susunan klasifikasi yang telah dibuat, yakni fungsi, bahan, komposisi, dan model-model tertentu yang telah dikenal masih berlaku pada masyarakat tersebut. Pada awalnya, usaha penelitian ditekankan pada sampah jenis tertentu. Namun dalam perkembangannya, penelitian diterapkan pada jenis sampah apa saja. Rathje dan timnya berhasil mengumpulkan fakta yang luar biasa mengenai susunan makanan, materi yang dipakai, serta perbedaan sosial antara si kaya dan si miskin (Chaksana AHS, Buletin Romantika Arkeologia dan Paul Devereux, Arkeologi).

Metode Rathje kemudian banyak dicontoh oleh ilmuwan-ilmuwan dari disiplin lain. Bahkan metode tersebut telah memberi masukan penting kepada pakar sosiologi AS. Sebagai contoh, ketika meneliti sekelompok masyarakat imigran Meksiko dari “kelas bawah” dibandingkan dengan “kelas menengah ke atas” didapat hasil yang sungguh mencengangkan. Tidak disangka-sangka, ternyata “kelas bawah” lebih memerhatikan perkembangan anak-anak mereka dengan memberikan asupan makanan bergizi tinggi. Sebaliknya, masyarakat “kelas menengah ke atas” banyak mengonsumsi makanan dengan variasi lebih besar, namun kurang memerhatikan gizi.


Situs Permukiman

Menurut arkeolog AS Brian M. Fagan, memelajari pola perilaku manusia atau masyarakat sebagai salah satu aspek dalam kehidupan berbudaya umat manusia, selalu menggairahkan. Bahkan usaha untuk dapat merekonstruksi pola perilaku kehidupan masa lalu sudah menjadi bagian atau salah satu tujuan utama yang ingin dicapai para arkeolog (In the Beginning: An Introduction to Archaeology, 1975).

Dalam mencapai upaya di atas, arkeologi banyak berurusan dengan data berupa sisa-sisa peninggalan masyarakat masa lalu. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui kronologi atau pertanggalan suatu benda. Selain itu untuk memberi gambaran tentang tingkah laku pembuat dan pemakai benda tersebut.

Pola tingkah laku yang pertama-tama dipelajari, tentunya yang langsung berkaitan dengan temuan-temuan yang didapatkan di lapangan. Setelah itu dikaitkan dengan pola tingkah laku buat – pakai – buang. Melalui pola ini arkeologi memelajari perlakuan yang dialami oleh suatu artefak mulai dari saat dibuat, dipakai, hingga dibuang. Dasar pengamatannya adalah teknologi semata.

Arkeologi yang menggunakan pandangan seperti itu berlangsung selama puluhan tahun. Baru sekitar 1950-an berkembang pandangan yang menuntut agar kajian terhadap temuan-temuan arkeologi mempertimbangkan aspek-aspek yang lebih luas, misalnya menggunakan pendekatan konjungtif seperti yang diungkapkan Taylor (1948).

Schiffer (1976) kemudian berusaha meluaskan wawasan teori-teori sebelumnya dengan berusaha melacak perlakuan yang dialami oleh suatu artefak dari saat dibuat hingga ditemukan oleh manusia masa kini, termasuk seluruh rangkaian prosesnya. Selanjutnya dia memperkenalkan suatu studi proses pembentukan budaya.

Menurut pendapatnya, arkeologi harus mulai mempertimbangkan faktor-faktor yang terjadi sesudah benda dibuang hingga ditemukan kembali. Arkeologi, katanya, perlu pula mengetahui konteks apa atau di mana artefak yang ditemukan itu berada. Apakah berada dalam konteks arkeologis, artinya benda tersebut tidak berperan lagi dalam kegiatan masyarakat yang berlangsung saat ini ataukah masih berada dalam konteks sistem, artinya benda masih berperan pada masyarakat masa kini.

Dalam arkeologi, penemuan lubang sampah merupakan hal yang amat berguna karena sampah selalu dihubungkan dengan situs permukiman. Penemuan situs permukiman akan mengungkapkan banyak hal seperti luas kota (planologi), jumlah penduduk (demografi), dan mata pencarian hidup (ekonomi). Sampai kini penemuan situs permukiman masih amat langka.

Di Indonesia dampak sosial budaya sampah, pernah diteliti oleh sejumlah arkeolog dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional pada 1980-an lalu. Cara penelitian yang mereka lakukan adalah mendatangi rumah-rumah penduduk dari berbagai lapisan sosial. Mereka juga memeriksa tempat-tempat pembuangan sampah di depan rumah hingga TPA. Untuk mendukung penelitian, selama berhari-hari mereka mengamati tingkah laku penumpang bis kota dan pengunjung Taman Impian Jaya Ancol.

Dari jenis, kualitas, dan kuantitas sampah, mereka berhasil menggambarkan status sosial dan jumlah penghuni rumah. Misalnya demikian, kalau yang ditemukan berupa bungkus mi instan, kemungkinan besar penghuninya berasal dari golongan kecil. Sebaliknya kalau berupa botol wine atau sampagne, maka penghuni rumah adalah warga asing.

Selain itu para peneliti berhasil mengidentifikasi pola tingkah laku penumpang dan pengunjung. Kesimpulan mereka antara lain pola tingkah laku membuang sampah berhubungan dengan kedisiplinan.

Penelitian terhadap sampah masa kini dan masa lalu pada dasarnya dapat membuat perkiraan tentang arah dan kecenderungan perkembangan dalam masyarakat. Bahkan sampah dapat memberi bukti yang nyata tentang apa yang dilakukan masyarakat. Kita harapkan di suatu saat para arkeolog yang bekerja di lapangan akan menemukan situs-situs persampahan. Dengan demikian sampah-sampah kuno akan menjelaskan banyak hal untuk manusia masa kini. Kita harapkan juga penanganan sampah di Indonesia pada masa sekarang akan lebih “manusiawi” dan “ilmiah”.

(Media Indonesia, Selasa, 24 November 2009)

Read More......

Kamis, 13 Agustus 2009

Delapan Perilaku Raja dan Kitab Agama


OLEH: DJULIANTO SUSANTIO

Menurut sumber-sumber kuno, Kerajaan Mataram (Hindu) dan Majapahit pernah menorehkan tinta emas dalam panggung sejarah Indonesia. Kedua kerajaan tersebut mengalami masa kecemerlangan karena selalu mendasarkan pemerintahannya kepada kitab-kitab agama. Pada masa itu kitab agama berperan sebagai kitab hukum, kitab kebijakan, dan kitab sastra. Karena itu pengertian tentang kitab agama banyak ditanamkan kepada kalangan istana. Sebelum diangkat menjadi raja, sang putra mahkota terlebih dulu harus menguasai kitab-kitab tersebut.

Karena berbagai ajaran dharmmaraja (tentang tugas dan kewajiban seorang raja) sudah dihayati seorang raja maka kepemimpinan seorang raja sangat dihormati rakyatnya. Hal ini tentu membuka jalan bagi pemerintahan yang bersih dan teratur. Ketika itu struktur pemerintahan kuno mempunyai landasan kosmogoni bahwa raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia. Sebagai seorang dewaraja maka diharapkan raja mampu mengemong dirinya dan rakyatnya, juga bertindak adil dan bijaksana.

Salah satu ajaran dari kitab-kitab kuno yang masih mempunyai relevansi dengan masa sekarang adalah ajaran astabratha (asta = delapan, bratha = perilaku). Astabratha pertama kali dikenal dalam kitab kuno Ramayana yang berasal dari India. Kitab ini ditulis dalam bahasa Sansekerta. Karena dulu kerajaan-kerajaan kuno di Jawa berciri Hindu atau Buddha (kedua agama ini berasal dari India) maka kemudian kitab Ramayana dengan astabratha-nya dibuat dalam versi Jawa Kuno. Konsep astabratha Jawa menilai seorang pemimpin antara lain harus memiliki sifat ambek adil paramarta atau watak adil merata tanpa pilih kasih.

Dalam konsep Hindu, astabratha dikaitkan dengan sifat para dewa sekaligus gejala alam. Dikatakan, di dalam diri seorang raja harus berpadu si-fat delapan dewa, yakni Indra, Yama, Surya, Soma, Wayu, Kuwera, Waruna, dan Agni.


Mengubah yang Jelek Menjadi Baik

Sebagai Indra (Dewa Hujan), diharapkan raja akan menghujankan anugerah kepada rakyatnya. Lewat hujan, yang diidentikkan dengan air, raja juga diharapkan menumpahkan rezeki sehingga rezeki tersebut selalu mengalir dinamis ibarat air. Air adalah sumber segala kehidupan karena merupakan perangkat penting dalam upacara keagamaan.

Maka raja harus pula mampu memberi penghidupan yang layak kepada rakyatnya. Sekarang justru “air” tidak mengalir dengan dinamis, banyak tersumbat oleh berbagai jenis “sampah”. Dengan demikian, banyak hambatan dalam kehidupan manusia. Korupsi adalah sampah yang paling membudaya sehingga menurunkan citra negara.

Sebagai Yama (Dewa Maut), disyaratkan raja harus menghukum para pencuri dan penjahat. Dulu di Kerajaan Mataram dan Majapahit undang-undang hukum begitu ditegakkan. Terlebih karena para penegak hukum adalah seorang pendeta sehingga pengetahuannya akan kitab sastra dan hukum adat menjadi sempurna. Kini hukum malah sering diperjualbelikan.

Bahkan, para penegak hukum sendiri banyak melakukan pelanggaran hukum. Jaksa memeras, hakim mengintimidasi, pengacara menipu, polisi menyiksa, dan para pembuat hukum menerima suap.

Sebagai Surya (Dewa Matahari), diharapkan raja menarik pajak dari rakyatnya sedikit demi sedikit sehingga tidak memberatkan. Dulu pajak merupakan penghasilan terbesar kerajaan. Petugas pajak yang disebut mangilala drawya haji adalah salah satu tokoh yang berperan penting untuk memajukan kerajaan. Kerajaan bisa maju karena banyak petugas pajak bermental jujur dan bersih. Sebaliknya di zaman modern penggunaan hasil pajak tidak sepenuhnya dinikmati masyarakat pembayarnya. Jalan-jalan raya yang masih berlubang di sana-sini merupakan salah satu contoh konkret.

Sebagai Soma (Dewa Bulan), raja harus membuat bahagia seluruh rakyatnya dengan senyumannya yang bagaikan amerta (air suci). Disyaratkan, tindak tanduk raja tidak “memabukkan” rakyatnya dan mampu mengubah sesuatu yang jelek menjadi baik sebagaimana air amerta itu. Dalam mitologi Hindu sebenarnya soma adalah sejenis minuman yang dapat memabukkan pemakainya (berkonotasi negatif). Namun, berkat Indra maka soma mampu “melapangkan pikiran” (berkonotasi positif) orang.


Masih Relevan

Sebagai Wayu (Dewa Angin), raja harus mampu menyusup ke tempat-tempat tersembunyi. Artinya raja harus senantiasa mengetahui hal-ikhwal rakyatnya dan semua gejolak di berbagai lapisan masyarakat. Banyak raja di Jawa terlebih Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit, sering melakukan perjalanan keliling ke daerah-daerah sebagaimana diberitakan Kitab Nagarakretagama. Pada zaman Hayam Wuruk inilah Majapahit mengalami masa kejayaannya. Seharusnya pemimpin sekarang pun langsung turun ke bawah, jangan hanya mendengar bisikan dari pembantunya. Dengarkan keluhan masyarakat, antisipasi yang akan terjadi, dan perbaiki yang sudah dianggap baik.

Sebagai Kuwera (Dewa Kekayaan), disyaratkan raja menikmati kekayaan duniawi, bukan kekayaan materi. Dulu berbagai kekayaan di Tanah Jawa, terutama hasil pertanian, berhasil dikelola dan dinikmati dengan baik. Selama berabad-abad Jawa mendapat sebutan gemah ripah loh jinawi. Negaranya tenteram, rakyatnya hidup makmur. Kini banyak kekayaan negara justru disedot investor luar karena kita tidak bisa mengelolanya dengan baik. Ladang emas dikuasai asing. Ladang minyak semakin tak terurus. Kita yang punya tanah dan air, mereka yang mendapat hasil.

Sebagai Waruna (Dewa Laut) yang bersenjatakan jerat, raja harus menjerat semua penjahat. Para penjahat selalu menyebabkan kemunduran negara. Dengan kitab hukum yang dijunjung tinggi ditambah para penegak hukum yang tegas dan mampu mengambil keputusan terbaik dalam pengadilan maka dulu rakyat menjadi taat hukum. Sebagai Agni (Dewa Api), raja harus membasmi semua musuhnya dengan segera. Dalam praktik kepemimpinan, api diidentikkan dengan semangat atau keberanian. Termasuk musuh raja, selain pencuri dan penjahat, adalah ketakutan, kelicikan, keragu-raguan, dan segala hal yang menghambat dinamika kehidupan bernegara.

Di masa kuno raja benar-benar berpegang teguh kepada dharmma. Raja bersikap adil, menghukum yang bersalah, memberikan anugerah kepada yang berjasa, bijaksana, tidak sewenang-wenang, waspada terhadap gejolak di masyarakat, memberikan rasa tenteram kepada rakyatnya, dan berwibawa. Bahkan, raja tidak sungkan-sungkan untuk memimpin sidang pengadilan. Padahal, menurut kitab hukum Manawadharmmasastra, raja tidak boleh menjadi hakim sendiri. Mungkin, demi rakyatlah raja terpaksa turun tangan memutus suatu perkara yang pelik. Jelas, astabratha masih mempunyai relevansi dengan masa kini.

Penulis adalah seorang arkeolog, tinggal di Jakarta

(Sinar Harapan, Selasa, 11 Agustus 2009)

Read More......

Rabu, 29 Juli 2009

Departemen Kebudayaan dan Departemen Pariwisata


OLEH: DJULIANTO SUSANTIO


Pada tahun 1994, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menyelenggarakan Forum Komunikasi Hasil Penelitian Bidang Sastra dan Seni. Di situ diutarakan orientasi kegiatan penelitian arkeologi di Indonesia hingga 25 tahun mendatang. Ada lima tema utama yang diusung, yakni (1) proses dan aliran imigrasi nenek moyang, (2) proses persentuhan budaya Nusantara dengan tradisi-tradisi besar, (3) adaptasi dan tumbuhnya bu-daya-budaya lokal, (4) diversifikasi kultural, dan (5) integrasi budaya. Kebijakan nasional itu dilengkapi dengan delapan arah kebijakan sesuai dengan paradigma arkeologi, yaitu (1) pendekatan interdisipliner, holistik, dan wawasan, (2) pemanfaatan teori-teori kesinambungan dan perubahan, (3) survei, ekskavasi, dan wawancara, (4) analisis secara interdisipliner, (5) penanganan dokumentasi, (6) manajemen dokumentasi, (7) sistem informasi manajemen, dan (8) sistem informasi arkeologi (Moendardjito, 1996).

Namun kebijakan tersebut juga mengundang pertanyaan, apakah para mahasiswa arkeologi (S1 hingga S3) harus melakukan penelitian sesuai kerangka acuan kebijakan nasional itu? Bagaimana dengan penelitian arkeologi yang sudah dirancang oleh institusi lain, seperti perguruan tinggi, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, museum, lembaga nonpemerintah, dan lembaga nonarkeologi?

Lalu, apakah kebijakan itu sudah memerhatikan dan merangkum berbagai kepentingan lembaga-lembaga arkeologi lain? Ini mengingat setiap institusi memiliki kebijakan masing-masing, seperti pelestarian (Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala), penelitian (Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional), pendidikan (perguruan tinggi), dan pemanfaatan (museum dan pariwisata).

Penelitian arkeologi boleh dibilang telah menjangkau seluruh provinsi. Pemerintah berupaya sedapat mungkin menyebarkan penelitian ke seantero negeri. Meskipun belum merata, upaya mengungkap ribuan situs kuno dari berbagai masa itu, sudah merupakan hasil maksimal di tengah keterbatasan dana. Namun tidak dimungkiri kalau sekitar 60 persen penelitian memang berlangsung di Jawa dan Bali. Alasannya, selain lebih murah, situs-situs arkeologi yang terdapat di Jawa dan Bali amat beragam, dari masa prasejarah dan pengaruh agama Hindu-Buddha hingga masa kolonial dan Islam.


Baru Mencakup Permukaan

Selain itu, banyak penelitian baru mencakup permukaan, belum mengarah kepada substansinya. Ambil contoh penelitian candi di Jawa. Ratusan situs candi yang tersebar itu memang sudah dapat diketahui lokasinya. Bahkan bangunannya sudah dipugar atau dilestarikan. Akan tetapi hingga kini masih banyak pertanggalan candi belum dapat ditentukan secara jelas karena berbagai penyebab, misalnya data pendukung belum lengkap.

Maka sejauh ini kita bertumpu pada pertanggalan re-latif, yakni atas dasar bentuk dan gaya bangunan. Oleh karena sumber informasinya masih langka, kita belum mampu mengungkapkannya dengan analisis pertanggalan mutlak. Padahal, dengan diketahuinya pertanggalan mutlak suatu candi, kemungkinan akan diketahui pula siapa raja atau penguasa yang memerintahkan pembangunan candi itu. Kelengkapan informasi akan membuat penulisan sejarah kuno Indonesia lebih tematis, kronologis, dan terarah.

Meskipun Candi Borobu-dur sudah diakui sebagai monumen dunia, ternyata sampai sekarang tahun berdirinya masih belum bisa dipastikan dengan tegas. Benarkah candi itu didirikan tahun 800-an oleh Raja Samarotungga, sebagaimana tertulis dalam buku-buku sejarah, masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog hingga kini.

Di pihak lain, banyak epigraf berhasil membaca bagian yang memuat angka tahun suatu prasasti secara cermat. Akan tetapi, lokasi di mana prasasti itu ditemukan masih belum jelas karena penemu-penemu zaman dulu tidak memerincinya dalam catatan. Hal seperti ini juga menyulitkan para arkeolog untuk menyusun informasi sejarah dalam dimensi ruang.

Yang paling menyedihkan adalah bila suatu temuan purbakala sulit ditentukan tarikhnya. Juga lokasi di mana benda tersebut pernah ditemukan, tidak terdokumentasi dengan baik. Jadi, bukan hanya dimensi ruang yang tidak diketahui, tetapi juga dimensi waktu dan dimensi bentuk masih sangat kabur.

Sejak zaman kolonial, bumi Indonesia sudah dianggap “surga” bagi penelitian arkeologi. Tidak heran banyak lembaga penelitian asing kemudian mendirikan cabang di Indonesia, seperti KITLV (Belanda) dan EFEO (Prancis). Beberapa lembaga asing juga bermitra dengan lembaga-lembaga penelitian Indonesia. Dampaknya tentu saja sangat menguntungkan para peneliti Indonesia karena bisa memeroleh kesempatan memperluas cakrawala pengetahuan mereka, di kala anggaran yang disediakan pemerintah kita kurang memadai.


Mencari dan Menghamburkan Uang

Berbagai penelitian arkeologi memang selalu dikaitkan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dalam perjalanannya telah tercipta berbagai metode penelitian arkeologi berikut perangkatnya. Selama itu pula berkembang teori-teori baru, bahkan sub-subdisiplin arkeologi, seperti arkeologi perkotaan, arkeologi permukiman, arkeologi publik, dan arkeologi sejarah.

Namun tidak dapat diingkari kalau berbagai kegiatan arkeologi selalu dihubungkan dengan kepentingan pariwisata. Ini mengingat tujuan akhir dari arkeologi memang adalah menyajikan segala temuan untuk kepentingan masyarakat umum. Temuan-temuan itu kemudian dipamerkan di dalam museum, yang selalu dicanangkan sebagai objek pariwisata sekaligus pendidikan yang bersifat rekreatif edukatif.

Di sinilah kepentingan itu tampak berbenturan, apakah arkeologi ditekankan kepada unsur pendidikan dan kebudayaan ataukah pariwisata. Selama bertahun-tahun arkeologi menjadi bagian dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kemudian Departemen Pendidikan Nasional. Kini justru arkeologi menjadi bagian dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Tidak dimungkiri kalau orang berpandangan bahwa pariwisata hanya bersifat hiburan dan glamor. Tujuan utama pariwisata adalah menjual se-gala produk kebudayaan yang sudah “matang”, dengan kata lain “mencari uang” berdasarkan pekerjaan yang dilakukan oleh arkeologi. Upaya itu antara lain dilakukan dengan cara mengomersialkan banyak candi, antara lain Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Sebaliknya kebudayaan adalah kegiatan yang dianggap “menghambur-hamburkan uang”. Berbagai kegiatan penelitian, seperti pemugaran, ekskavasi, survei, dan pendokumentasian memerlukan perlengkapan yang memadai agar hasilnya memuaskan. Dana terbesar yang dikeluarkan oleh arkeologi adalah untuk memugar bangunan-bangunan kuno yang sudah rusak, bahkan hampir runtuh.

Menjelang terbentuknya kabinet baru, perlu ada terobosan untuk memisahkan pariwisata dengan kebudayaan. Artinya, Departemen Pariwisata dan Departemen Kebudayaan harus berdiri sendiri-sendiri. Meskipun hasil akhirnya untuk pariwisata, antara kebudayaan dengan pariwisata yang berdiri terpisah itu tetap bisa saling mendukung.

Penulis adalah seorang arkeolog, tinggal di Jakarta

(Sinar Harapan, Selasa, 28 Juli 2009)

Read More......

Rabu, 08 Juli 2009

Benda-benda Budaya Indonesia di Mancanegara


OLEH: DJULIANTO SUSANTIO


Salah satu koleksi yang dikagumi bangsa asing adalah benda-benda budaya Indonesia. Itu antara lain adalah benda kuno, benda etnografi, dan benda bersejarah. Benda-benda antik memang selalu menarik perhatian orang sejak lama karena nilai komersialnya yang tinggi. Hal tersebut tentu saja mendorong segelintir masyarakat untuk melakukan perbuatan negatif, seperti mencuri dari situs-situs arkeologi, mengadakan ekskavasi secara liar, menyelundupkan barang-barang itu ke luar negeri, dan memalsukan berbagai koleksi seolah-olah asli.

Di banyak negara, termasuk Indonesia, mengoleksi benda-benda kuno, tidak dimungkiri, merupakan hobi bergengsi. Selain untuk menunjukkan status sosial yang bersangkutan, berkoleksi barang antik merupakan investasi untuk masa depan. Meskipun demikian, ada juga segelintir kolektor yang memiliki idealisme tinggi dan motivasi lain, yakni melestarikan kebudayaan sendiri. Umumnya mereka mempunyai museum pribadi.

Banyak negara lain juga pernah kecolongan artefak-artefak budayanya karena berbagai hal, seperti penjajahan, penjarahan, pencurian, dan perbuatan negatif lainnya. Salah satu negara yang gencar melacak harta karunnya adalah Italia. Selama bertahun-tahun barang-barang kuno dari Italia diselundupkan ke luar negeri. Konon, benda-benda asal Italia itu memiliki harga tinggi di pasar gelap sehingga sering mengundang terjadinya bisnis haram. Dari hasil pelacakan intensif diketahui, sebagian di antara barang-barang tersebut menjadi koleksi sejumlah museum di AS.

Karena peduli dan sudah memiliki apresiasi sekaligus kebanggaan negara maka Departemen Kebudayaan Italia turun tangan. Hasilnya adalah tahun 2006 lalu Metropolitan Museum of Art di New York mencapai kesepakatan dengan Departemen Kebudayaan Italia untuk mengembalikan enam artefak kuno, antara lain berupa sebuah vas Yunani purba berusia 2.500 tahun dan “harta karun Morgantina” yakni koleksi barang-barang perak buatan abad ke-3. Sebelumnya pada 2005 Museum J Paul Getty di Los Angeles juga telah mengembalikan tiga artefak kuno hasil curian di Italia.


Kamboja yang Kreatif

Pada 2002 pemerintah AS mengembalikan sejumlah peninggalan zaman Pharao ke Mesir. Diketahui bahwa benda-benda itu merupakan hasil curian tahun 1992, antara lain berupa sebuah plakat kerajaan tua tahun 2000 SM dan artefak-artefak kecil dari makam purba. Masih di tahun yang sama, cucu seorang kolektor AS yang telah meninggal, mengembalikan sejumlah benda antik Mesir yang sudah 150 tahun lamanya menghuni rumah keluarganya. Menurut dia, barang-barang itu merupakan hasil curian yang pernah dibeli oleh leluhurnya.

Pengembalian benda-benda seni juga pernah dilakukan oleh pemerintah Rusia pada 1999. Benda-benda tersebut milik Jerman yang dijarah tentara Uni Soviet pada Perang Dunia II. Demikian pula terhadap benda-benda milik Belanda, berupa sejumlah arsip milik organisasi politik, ekonomi, dan keagamaan. Arsip-arsip penting yang merupakan hasil rampasan perang tentara Uni Soviet itu, dikembalikan setahun kemudian.

Di Asia yang peduli terhadap masalah demikian umumnya adalah negara-negara Asia Timur. Negara penjarahnya tidak lain adalah Jepang. Pada 1965 pemerintah Jepang mengembalikan sekitar 1.300 artefak kuno kepada Korea Selatan. Benda-benda itu diambil secara ilegal oleh tentara Jepang saat menduduki Korea (1910-1945).

Tidak jarang, masalah benda-benda kuno hanya mampu diselesaikan lewat pengadilan, seperti yang terjadi di Austria. Pada 2002 sebuah pengadilan di sana memerintahkan penyitaan benda-benda seni yang pernah dirampas tentara Nazi dari kaum Yahudi. Salah satunya adalah koleksi seorang Yahudi-Austria yang meninggal di kamp konsentrasi Cekoslowakia. Banyaknya sekitar 800 lukisan, termasuk karya sejumlah pelukis Austria terkenal.

Salah satu negara di Asia yang warisan budayanya banyak dicuri adalah Kamboja. Pencurian tersebut dilakukan pada saat terjadi Perang Indocina 1940-an dan perang saudara 1970-an. Dalam pelacakan diketahui sejumlah benda antik Kamboja berada di negara penjajahnya, Prancis dan di negara tetangganya, Thailand. Sebagian terbesar merupakan benda-benda curian dari Candi Angkor.

Selama bertahun-tahun benda-benda kuno curian diselundupkan ke Thailand oleh para pemberontak lewat perbatasan. Bertahun-tahun kemudian barang-barang antik curian itu banyak beredar di sejumlah art gallery di mancanegara. Bahkan, ditawarkan melalui internet dan balai lelang ternama. Yang patut dipuji adalah pemerintah Kamboja mengambil langkah kreatif. Untuk melacak warisan arkeologinya yang hilang, mereka menerbitkan buku katalogus yang disebarkan ke seluruh dunia. Ternyata upaya mereka menuai hasil positif. Selang beberapa waktu, sejumlah artefak berhasil diketahui keberadaannya.


Perjanjian Wassenaar

Banyaknya benda kuno yang hilang dari sejumlah negara, mendapat perhatian serius dari segelintir kalangan di Barat. Mereka aktif menyebarkan katalogus ke berbagai negara, bahkan mereka membuat situs www.artloss.com. Aktivitas mereka juga dilengkapi dengan sejumlah tenaga detective art yang benar-benar terampil.

Sebagai negara yang pernah dijajah, seperti halnya Kamboja, tidak dimungkiri kalau benda-benda kuno Indonesia juga banyak diboyong ke mancanegara, baik secara legal maupun ilegal. Di antaranya adalah berbagai benda batu dari sejumlah candi di Jawa yang kini berada di Thailand dan Jepang. Benda-benda ter-sebut merupakan hadiah kepada Raja Siam Chulalongkorn, dari pemerintah Hindia Belanda. Sebagian lagi merupakan hadiah ulang tahun kepada Kaisar Jepang dari tentaranya di Hindia Belanda.

Sebagai bekas penjajah, tentu saja Belanda menjadi negara yang memiliki koleksi asal Indonesia terbanyak. Belum lagi di negara-negara sekutunya ketika itu. Totalnya hingga kini benda-benda budaya Indonesia masih terdapat di 30-an negara. Dengan Belanda, pada 1977 kita pernah menandatangani Perjanjian Wassenaar sehingga arca Prajnaparamita, naskah kuno Nagarakretagama, dan Gong Geusan Ulun berhasil dikembalikan ke Indonesia.

Bagaimana dengan warisan-warisan budaya lainnya? Karena sudah ada perjanjian bilateral, sebenarnya cukup mudah upaya ke arah itu. Hanya masalahnya, sejauh mana kita mampu menyediakan tempat penampungan di sini yang tentu saja berdampak pada anggaran pemeliharaan. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat akan tersedia APBN yang memadai, sehingga masyarakat bisa menyaksikan benda-benda adikarya (masterpiece) yang justru lebih diminati masyarakat mancanegara. Kita perlu meniru langkah Korea Selatan yang sengaja membangun museum, untuk menampung warisan-warisan budaya mereka yang pernah dijarah tentara Jepang.

Penulis adalah seorang arkeolog, tinggal di Jakarta

(Sinar Harapan, Selasa, 7 Juli 2009)

Read More......

Minggu, 12 April 2009

Penamaan Candi, Dari Nama Desa dan Binatang Hingga “Plesetan”


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO



Apalah arti sebuah nama, begitulah kata-kata bersayap yang pernah dilontarkan oleh sastrawan Inggris terkenal, Shakespeare, dalam kisah legendaris Romeo dan Juliet. Sampai sekarang kata-kata itu masih tetap fenomenal.

Bagi kita, nama tentu saja begitu penting. Selain sebagai jati diri yang spesifik, adanya nama memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengenali seseorang atau sesuatu.

Demikian halnya dengan candi-candi di Indonesia. Sejak penemuannya yang pertama kali pada abad ke-18, berbagai candi berhasil dikenali dan diingat karena namanya. Uniknya, yang memberikan nama kepada candi pada umumnya adalah mereka yang bukan arkeolog atau sejarawan, tetapi justru masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar candi baru tersebut.

Sebagai misal, untuk gampangnya mereka sering memberi nama candi berdasarkan nama desa tempat candi itu berlokasi. Hal itu memang cara yang paling mudah. Tidak disangkal, kalau Candi Plaosan terletak di Desa Plaosan atau Candi Sambisari terletak di Desa Sambisari. Belum lagi berbagai candi lainnya.

Lalu bagaimana bila di satu desa terdapat lebih dari satu candi? Sejak lama, misalnya, di Desa Plaosan terdapat dua candi. Karena itu warga menamakan yang terletak di utara sebagai Candi Plaosan Lor (Bahasa Jawa, lor = utara) dan yang di selatan dinamakan Candi Plaosan Kidul (kidul = selatan). Gitu aja kok repot.

Begitupun bila terdapat banyak candi di kompleks yang sama. Bagi warga hal ini pun bukanlah masalah besar. Contohnya adalah candi-candi di Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Karena jumlahnya banyak maka diberi nama dengan nomor urut I sampai lebih dari LXXX. Jadi jangan heran kalau mendengar nama Candi I, Candi II, dst. Barulah pada masa kemudian namanya diganti sesuai dengan bentuk candi itu, misalnya Candi Genuk atau Gentong karena berbentuk seperti gentong (tempat menampung air).

Cara termudah memberi nama candi memang bersumber dari apa-apa yang ada di sekitar kita. Yang paling penting adalah mudah diidentifikasi, seperti halnya nama binatang. Di antara sekian banyak candi, yang paling populer adalah Candi Tikus di Jawa Timur. Nama ini diberikan oleh masyarakat Trowulan, karena dulunya di sela-sela tumpukan batu candi yang masih berantakan, banyak dijumpai sarang tikus.

Candi lain yang juga cukup dikenal adalah Candi Asu (Bahasa Jawa, asu = anjing), tak jauh letaknya dari Candi Prambanan. Disebut demikian karena puluhan tahun yang lalu banyak anjing sering berkeliaran di sekitar serakan batu candi.

Uniknya, nama Candi Asu juga ada di lokasi lain. Berbeda dari yang pertama, yang ini merupakan kekeliruan penyebutan oleh penduduk setempat. Konon dulu di dekat candi tidak dikenal itu, terdapat arca Nandi, yakni arca berujud lembu. Karena penduduk masih awam, mereka menganggap arca itu berujud anjing. Meskipun demikian Candi Asu salah kaprah itu, tetap populer sampai sekarang.

Nama-nama yang berbau “plesetan” juga sering diberikan oleh penduduk, misalnya terhadap Candi Batu Miring. Konon sewaktu ditemukan batu-batu candinya berada dalam kondisi miring hampir roboh. Begitu juga Candi Watu Gudhig, karena batu-batunya terkena lumut sehingga warnanya berbintik-bintik seperti orang terkena penyakit kulit (Bahasa Jawa, watu = batu dan gudhig = sejenis penyakit kulit).

Penduduk juga yang menamakan Candi Pawon (= dapur) karena bagian dalam candi menyerupai dapur; Candi Lumbung karena dulunya dikira tempat penyimpanan padi (= lumbung); Candi Sari karena banyak dihiasi arca berbentuk molek (= sari); dan Candi Bubrah (= rusak atau berantakan) karena bangunan yang tersisa hanya berupa serakan batu.


Cerita Rakyat

Sejumlah cerita rakyat juga banyak mewarnai penamaan candi. Yang paling terkenal adalah legenda Bandung Bondowoso. Alkisah, suatu hari Raden Bandung Bondowoso berniat mengawini Puteri Loro Jonggrang, anak Prabu Ratuboko, seorang raja yang istananya terletak tidak jauh dari Prambanan.

Namun Loro Jonggrang mengajukan syarat bahwa terlebih dulu Bandung Bondowoso harus dapat membuatkan sebuah istana yang berisi seribu arca dalam waktu semalaman. Bandung Bondowoso pun bekerja keras sehingga menjelang pagi hanya tersisa satu arca yang belum selesai. Karena diperdaya, maka tiba-tiba ayam berkokok menandakan hari sudah pagi. Dengan kesal Bandung Bondowoso kemudian menenung Loro Jonggrang menjadi sebuah batu. Arca Loro Jonggrang itulah yang dianggap sebagai pelengkap arca yang kurang satu.

Sebenarnya, arca Loro Jonggrang yang menjadi ornamen Candi Prambanan sekarang melukiskan Dewi Durga, isteri Dewa Siwa. Arca ini memiliki ukiran yang artistik sehingga menarik perhatian penduduk sekitar. Dari legenda ini pula terlahir nama Candi Ratuboko, yang berlokasi beberapa kilometer dari Candi Prambanan.

Itulah sebabnya di mata penduduk setempat nama Loro Jonggrang lebih dikenal daripada nama Prambanan. Padahal, para wisatawan lebih memahami nama Prambanan karena terletak di Desa Prambanan dan juga merupakan nama formal dalam peta-peta kepariwisataan. Sampai kini Candi Prambanan merupakan sedikit dari sekian banyak candi yang memiliki nama ganda.

Lain dari itu, penamaan candi sering berdasarkan atribut utama yang terdapat pada candi. Misalnya Candi Siwa karena di dalamnya berisi arca Dewa Siwa. Begitu pula nama Candi Brahma, Candi Wisnu, dan Candi Garuda di kompleks Prambanan.

Candi juga sering dinamakan sesuai dengan apa yang disebutkan dalam prasasti atau sumber tertulis lainnya. Contohnya Prasasti Kalasan yang pada bagian intinya menyebutkan Desa Kalasa. Agar lebih enak didengar, lagi pula untuk menyebutkan tempat, maka kemudian ditambahkan huruf n. Jadi bukan Kalasa, melainkan Kalasan.

Di antara sejumlah bangunan purbakala yang disebutkan dalam kitab kuno Nagarakretagama (berasal dari abad ke-14), ada beberapa nama yang dipandang bersesuaian dengan keadaan masa sekarang. Karena itu bangunan suci Jajawa disesuaikan menjadi Candi Jawi dan Jajaghu menjadi Candi Jago.

Di antara sekian banyak candi, hingga kini nama yang masih diperdebatkan adalah Candi Borobudur. Di mata penduduk setempat, Borobudur bermakna “arca di Desa Budur”. Konon, dulu setiap hari penduduk selalu melihat banyak boro (= arca) di Desa Budur itu. Cerita lain mengatakan, nama Borobudur berasal dari pohon budur (pohon bodhi atau pohon kehidupan) yang pernah tumbuh subur di sana.

Dari kacamata ilmiah, J.L. Moens mengartikan istilah budur dengan kota Buddha karena dalam kitab kuno Nagarakretagama penyebutan budur sudah ada. Menurut pakar lain, Poerbatjaraka, nama Borobudur berasal dari kata biara (tempat suci) dan bidur (tempat tinggi), yang kemudian “diplesetkan” menjadi borobudur.

Disayangkan. sampai sekarang masih belum ada nama candi yang menggunakan nama orang, baik penemunya ataupun peneliti pertamanya. Siapa tahu nama Anda akan diabadikan.***

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, tinggal di Jakarta
Read More......

Mitos Arca-arca Candi Borobudur


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO



Serat Centhini ternyata bukan hanya menginformasikan berbagai masakan Jawa atau cara membina hubungan keluarga. Sebenarnya banyak informasi kesejarahan terdapat di dalam ensiklopedia Jawa itu. Karena dinilai bermanfaat, kini Serat Centhini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Lalu adakah hubungan antara Serat Centhini dengan Candi Borobudur?

Apa yang dilihat orang di Candi Borobudur? Sebagian orang akan menikmati ukiran pada relief candi. Sebagian lagi mungkin mengagumi arca atau ornamen lainnya. Namun kalau Anda ke sana, jangan lupa melihat dua arca yang penuh mitos.

Tidak dimungkiri memang sering kali tujuan utama para pengunjung Candi Borobudur adalah ingin meraba-raba atau menyentuh sebuah arca yang terletak hampir di bagian puncak candi, tepatnya di kuadran timur laut. Di mulut rakyat arca tersebut dikenal sebagai Kunta Bima.

Di mata arkeolog sendiri, arca Kunta Bima adalah arca Buddha biasa, seperti arca-arca lainnya yang terdapat di dalam stupa. Bagi sementara orang memang tidaklah lengkap rasanya kalau belum melihat atau menyentuh arca itu. Konon, arca Kunta Bima memiliki “nilai lebih” karena dianggap bertuah.

Sejak lama wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara kerap termakan isu akan “kehebatan” arca Kunta Bima itu. Begitu pula tamu-tamu negara yang berkunjung ke Candi Borobudur. Akibatnya kini lapik tempat arca itu berada semakin aus karena tergesek-gesek oleh jutaan alas kaki pengunjung selama puluhan tahun.

Diperkirakan, mitos tentang arca Kunta Bima muncul sekurang-kurangnya sejak 1950. A.J. Bernet Kempers dalam sebuah bukunya menulis demikian, “Banyak sekali pengunjung Borobudur yang tujuan utamanya susah payah mendaki candi itu bukan tempat suci di pusat, bukan ketenangan di atas batur-batur bundar, dan bukan pula pemandangan yang sangat indah. Tujuannya ialah sebuah arca Buddha dalam salah satu stupa yang terawang”. Ya, itulah arca Kunta Bima.

Konon, penduduk lokal percaya bahwa barang siapa yang bisa menyentuh bagian tertentu arca ini, boleh mengucapkan doa untuk memohon rezeki, berkah, jodoh, karir, dsb. Untuk para pria, dia harus bisa menyentuh tumit arca, sementara para wanitanya harus bisa menyentuh jari kaki. Ada pula yang berpendapat setiap pengunjung, baik pria maupun wanita, harus bisa menyentuh lutut arca. Sedangkan menurut Kempers, pengunjung yang ingin memperoleh rezeki harus bisa menyentuh tangan kanan arca.

Sepengetahuan arkeolog R. Soekmono—yang selama 1950-an hingga 1970-an sering mengurusi Candi Borobudur—mitos arca Kunta Bima sebenarnya hanya akal-akalan petugas candi pada 1950-an. Waktu itu di atas pangkuan arca ditaburkan bunga dan uang recehan. Dengan demikian memberi kesan seolah-olah arca tersebut sakral. Tanpa diduga, banyak pengunjung ikut-ikutan melemparkan uang recehan. Alhasil, setiap sore sang petugas mampu mengantongi berkah yang lumayan.


Stupa Induk

Selain arca Kunta Bima, arca lain yang menarik perhatian pengunjung adalah sebuah arca Buddha berujud jelek. Arca Buddha ini pernah ditempatkan di bawah pohon kenari selama puluhan tahun. Seusai purnapugar Candi Borobudur, arca tersebut diletakkan di areal taman wisata, tak jauh dari lokasi prasasti peresmiannya.

Di kalangan ilmuwan, timbul beragam penafsiran terhadap arca itu. Namun intinya adalah apakah arca itu berasal dari stupa induk Candi Borobudur? Stupa induk adalah stupa terbesar yang terletak di puncak candi.

Menurut catatan-catatan bangsa Belanda, arca itu ditemukan di dalam stupa induk ketika Th. Van Erp melaksanakan pemugaran pada 1907-1911. Namun selesai pemugaran, arca itu tidak dikembalikan ke tempatnya semula, melainkan ditaruh saja di luar candi. Tindakan tersebut konon didasarkan “atas perintah atasan” yang sangat meragukan keaslian tempatnya.

Sejak dikenalnya kembali Candi Borobudur pada 1814, rupa-rupanya tidak ada sedikit pun berita akurat mengenai arca tersebut. Akibatnya N.J. Krom menolak arca itu sebagai arca asli penghuni stupa induk. Alasannya, arca tersebut lebih mirip arca yang tidak terpakai atau barang apkiran.

Soekmono (1993) mengatakan sebelum 1853 tidak ada berita sama sekali tentang adanya arca di dalam stupa induk. Hal ini dipertegas dalam buku karya Raffles, History of Java. Di dalam buku itu terlihat gambar irisan yang dibuat berdasarkan laporan Cornelius, menampilkan stupa induk dalam keadaan kosong.

Begitu pula berita dari Crawford bahwa dalam stupa induk, satu-satunya bagian yang ada biliknya, sama sekali tidak terdapatkan arca. Bahkan landasan untuk penempatannya pun tidak ada. Informasi senada juga tergambar dari laporan Residen Yogya, Valck. Setelah berkunjung ke Borobudur pada 1840 dia mengatakan bahwa Dewa Utama yang menjadi penghuni stupa induk sudah hilang sehingga tidak diketahui lagi dewa siapa yang menjadi sasaran pemujaan.

Sebaliknya van Hoevell yang juga mengunjungi Borobudur pada 1840 menyatakan, “Mungkin di dalam stupa induk itu dulunya ada sebuah arca Buddha besar sekali, sesuai dengan ruangannya”.

Sayang, ketika Hartmann melakukan penelitian pada 1835-1842, dia tidak sedikit pun meninggalkan catatan tentang pekerjaan apa saja yang pernah dilakukannya. Juru gambar Borobudur, Wilsen (1849-1853) justru melaporkan adanya arca Buddha di dalam stupa induk.

Namun setahun kemudian Friedrich mengatakan sebaliknya, yakni di dalam stupa induk tidak pernah ditemukan arca Buddha. Dia pun bertanya-tanya, “Mungkinkah ada orang yang memasukkan arca itu ke dalam stupa?” Selanjutnya ada keterangan dari Brumund bahwa memang ada sebuah arca Buddha di dalam stupa induk yang kedua tangannya diletakkan di depan (dhyanimudra).

Pada 1864 Hoepermans, berdasarkan cerita dari penduduk setempat, mengatakan bahwa Residen Kedu, Hartmann, pernah mengambil suatu benda yang segera dia bungkus dengan saputangan. Setelah itu dia tidak lagi melepaskannya dari pangkuannya dalam perjalanan pulang ke Magelang naik kereta. Diduga, temuan itu adalah arca emas yang berasal dari stupa induk.

Maka untuk menutupi peristiwa itu Bupati Magelang memerintahkan anak buahnya untuk menempatkan sebuah arca Buddha dari batu ke dalam stupa. Arca itu diambil dari bawah, dari sekumpulan arca lepas (Soekmono, hal. 12).


Serat Centhini

Pembahasan yang amat filosofis pernah dilakukan oleh W.F. Stutterheim. Berdasarkan kitab Jawa kuno Sang Hyang Kamahayanikan, yaitu kitab tentang Buddha Mahayana, dia menyimpulkan bahwa jumlah arca Buddha pada Candi Borobudur seharusnya 505 buah. Sedangkan arca yang ada sekarang berjumlah 504 buah. Jadi karena kurang satu, maka arca yang kurang sempurna itulah sebagai pelengkapnya. Dia, menurut Stutterheim, menggambarkan manifestasi dari Sang Bhatara Buddha.

Pada 1970-an arkeolog Belanda, van Lohuizen de Leeuw, meneliti kembali naskah yang disusun oleh Sieburgh, seorang pelukis yang pernah tinggal di Borobudur pada 1837-1839. Ternyata, dalam naskah tersebut Sieburgh melaporkan bahwa di dalam stupa besar di puncak Candi Borobudur terdapat sebuah arca batu yang belum selesai.

Keterangan menarik lainnya pernah diperoleh Soekmono dari Serat Centhini yang disusun kira-kira pada 1814-1830. Dalam pupuh 105, hal. 59-60, Jilid II, Serat Centhini Latin dikatakan demikian, “Tampaklah sangkar batu yang dikerjakan halus dan rumit. Sangkar itu berisi satu buah arca besar, tetapi pengerjaannya kira-kira belum selesai...”.

Soekmono yakin kalau uraian Serat Centhini tentang Candi Borobudur menggambarkan keadaan candi itu sebelum diusik oleh Hartmann pertama kalinya. Dengan demikian arca yang kurang sempurna itu tentunya berasal dari stupa induk.

Dari ketiga pendapat, yakni pada stupa induk pernah terdapat arca emas, pada stupa induk pernah terdapat arca berbentuk kurang sempurna, dan pada stupa induk tidak pernah terdapat arca, manakah yang paling benar? Mitos tentang arca-arca di Candi Borobudur memang menarik. Ya untuk didengar, ya untuk diteliti.***

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, tinggal di Jakarta

Read More......

Selasa, 07 April 2009

Mengapa Museum Sering Kebobolan?


Oleh: Djulianto Susantio


Untuk kesekian kalinya koleksi museum dicuri orang. Terakhir yang menjadi korban adalah arca Buddha peninggalan Kerajaan Sriwijaya milik Museum Balaputra Dewa Palembang. Kabar terakhir menyebutkan koleksi tersebut telah ditemukan kembali. Kejadian serupa antara lain pernah menimpa Museum Radya Pustaka Solo. Pelakunya kemudian diketahui adalah orang museum sendiri, sementara pembeli barang-barang tersebut adalah seorang pengusaha beken, Hashim Djojohadikusumo. Kita masih belum tahu apakah motif pencurian di Museum Balaputra Dewa sama dengan motif pencurian di Museum Radya Pustaka ataukah berbeda.

Yang jelas, masalah yang sama selalu dan tetap berulang tanpa ada perbaikan. Para pengambil keputusan tidak ada bosan-bosannya mengatakan “akan menjadikan kasus itu sebagai pelajaran berharga”. Mengingat kebanyakan museum di Tanah Air kita adalah milik pemerintah, tentu saja pemerintah—baik pusat maupun daerah—yang harus bertanggung jawab.

Tidak dipungkiri, alasan klasik dan klise selalu diumbar-umbar pengelola museum: kurang dana dan kurang tenaga. Begitu juga alasan pemerintah: anggaran untuk bidang kebudayaan dalam APBN/APBD selalu diciutkan dari tahun ke tahun. Malah sering ditambah: prioritas sedang ditujukan untuk pembenahan dunia pendidikan. Bukankah museum juga merupakan sarana pendidikan dan pembelajaran untuk generasi kini dan generasi mendatang? Sejak lama museum selalu dicanangkan menjadi objek yang bersifat rekreatif edukatif. Artinya, selain ditujukan untuk kepentingan pariwisata, museum dijadikan sebagai etalase ilmu pengetahuan untuk segala lapisan masyarakat.

Konon, di Indonesia hanya terdapat kurang dari 400 museum. Itu pun 11 di antaranya telah tutup tahun 2008 karena masalah dana. Berapa banyak persentasenya dibandingkan dengan jumlah penduduk dan kekayaan budaya yang kita miliki, tentu kita bisa menerka-nerkanya sendiri. Bandingkan dengan Belanda, misalnya, yang mampu membangun ribuan museum. Bahkan, becak yang dikenal sebagai kendaraan tradisional di Indonesia, justru lebih gampang dijumpai di sana daripada di negara asalnya.


Lebih Baik Dibeli dan Dirawat Kolektor?

Pencurian berbagai koleksi museum memang ibarat “lingkaran setan”. Tahun 1970-an koleksi numismatic Museum Nasional pernah digondol penjahat besar Kusni Kasdut. Tahun 1980-an tujuh potong keramik antik dan langka, juga milik Museum Nasional, raib entah ke mana. Tahun 1990-an sejumlah lukisan, lagi-lagi milik Museum Nasional, tahu-tahu sudah berada di tangan kolektor Singapura. Pembahasan pun ramai. Berbagai pejabat berwenang dan sejumlah tokoh berbicara.

Terhadap kasus Museum Radya Pustaka. Peran Hashim Djojohadikusumo dan Hugo Krueger disorot. Karena apa? Hashim mengaku membeli barang-barang itu dari Krueger di luar negeri. Tentu yang menjadi persoalan adalah mengapa barang-barang curian itu bisa sampai di sana? Lemahnya mental pegawai museum dan aparat terkait sering disalahkan. Sampai-sampai ketidakcakapan pemerintah tak luput dari gunjingan.

Metafora selalu mengatakan bahwa benda-benda arkeologi adalah harta yang tidak ternilai harganya. Artinya, semua benda arkeologi tidak bisa diukur dengan uang karena nilai ilmu pengetahuannya jauh lebih penting dari itu.

Tanpa bermaksud mendukung pencurian yang melanggar hukum itu, kita terusik untuk bertanya, “Benarkah arca-arca tersebut dalam keadaan yang lebih baik dan aman jika berada di tangan museum dan pemerintah?” Seorang rekan arkeolog pernah merasa jengkel dan rada mengolok. “Kalau Museum Nasional dan Museum Sejarah Jakarta dijadikan patokan bagi kualitas museum-museum di Indonesia, maka bisa dipastikan museum adalah tempat yang mengerikan bagi warisan-warisan arkeologi. Betapa banyak koleksi museum berada dalam kondisi yang aus dan berjamur, terlihat seperti tak terawat sama sekali,” katanya.

Jika demikian keadaannya, tentu saja akan lebih baik bila koleksi-koleksi tersebut dicuri lalu dibeli oleh kolektor pribadi yang mampu merawat koleksi-koleksi itu dengan lebih baik. Pencurian benda-benda masa lampau yang dilindungi hukum memang salah. Namun, menelantarkan benda tersebut dengan alasan apa pun adalah tindakan yang lebih salah.


Pariwisata dan Pendidikan

Mungkin ada benarnya kalau orang mengatakan banyak gedung museum di negeri kita ibarat “kandang ayam”. Selain kondisi bangunannya yang terlihat gampang ambruk, situasi dalamnya pun tak ubahnya peribahasa “mati segan, hidup tak mau”. Pencahayaan selalu redup, lemari pajangan keropos di sana-sini, kotak-kotak informasi masih terlalu jadul, tembok dan lantai sangat kusam, begitulah yang sering dikeluhkan pengunjung. Ironisnya, kehidupan museum hanya tergantung dari karcis masuknya. Sudah jelas untuk biaya operasional sehari-hari saja tidak cukup.

Kalau kualitas museum di Jakarta saja masih banyak dipertanyakan, tentu kondisi museum di daerah jauh lebih buruk. Padahal, justru kekayaan budaya di daerah jauh lebih banyak daripada di Jakarta. Jadi, sudah saatnya pemerintah memperhatikan kondisi museum, jangan ditunda-tunda lagi. Museum harusnya menjadi tempat yang paling aman untuk menyimpan harta karun bangsa. Kondisi fisik harus benar-benar diperhatikan, misalnya melengkapi museum dengan kamera pengintai, alarm, dan pintu otomatis. Kondisi nonfisik pun tidak boleh ditinggalkan. Pegawai museum kan manusia, tentu memerlukan kehidupan yang layak.

Kita harus yakin, museum yang baik pasti akan dicari orang. Karena apa? Museum memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai objek pariwisata dan sebagai objek pendidikan. Yang kini terlihat sungguh membuat hati miris, museum hanya sebagai gudang peninggalan barang-barang kuno sehingga terkesan angker. Marilah kita mulai membenahi museum. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memperhatikan sejarahnya, tentu lewat museum. Lewat museum kita bisa berkaca tentang kecemerlangan bangsa Indonesia di masa lampau.

Mudah-mudahan, masyarakat dan pemerintah akan segera mampu memperlakukan museum kita, termasuk benda-benda koleksinya, secara lebih “manusiawi”. Jika sudah demikian, itulah saat yang paling pantas untuk mengutuk pencurian dan transaksi ilegal benda-benda cagar budaya milik negara. Jadi, kalau ada pertanyaan mengapa museum kita sering kebobolan, untuk sementara ini jawabnya adalah karena mental dan dana.

Penulis adalah seorang arkeolog, tinggal di Jakarta

(Sinar Harapan, Senin, 6 April 2009)
Read More......

Jumat, 20 Maret 2009

"Aksobhya" yang Gagal Dilelang

ARCA Buddha yang akan dilelang di New York, AS, akhir Maret lalu, masih menjadi kontroversi soal keasliannya hingga kini. Pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menganggap arca Buddha tersebut barang curian dari Candi Borobudur sehingga mengesankan arca tersebut adalah asli.

Sebaliknya, para perajin patung batu di Kampung Prumpung, Muntilan, menilai arca tersebut buatan perajin setempat. Hal ini terlihat dari pori-pori pada tubuh arca. Menurut mereka, sejak lama banyak kolektor barang antik dari dalam negeri dan mancanegara memesan arca Buddha sejenis dari para perajin. Kemudian lewat berbagai proses arca "disulap" menjadi benda seni bernilai tinggi.

Di tangan pembuatnya arca itu hanya berharga jutaan rupiah. Namun, di Balai Lelang Christie dipasang harga pembukaan Rp 2,8 miliar. Tidak tertutup kemungkinan akan mencapai Rp 5 miliar-bahkan lebih-seandainya lelang berjalan mulus.

Melihat foto saja memang agak sulit menentukan apakah arca Buddha tersebut "asli" atau "tiruan/palsu". Namun, sebenarnya itu bisa dikaji lebih dalam oleh seorang arkeolog yang mendalami ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno).

Seniman-seniman zaman dulu biasanya mendasarkan kreasinya kepada kitab-kitab kuno dari India. Kitab tersebut memuat patokan-patokan tertentu tentang skala atau perbandingan bagian-bagian wajah yang disebut dengan satuan tala. Misalnya jarak antarmata harus sekian tala. Begitu pula jarak mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan sebagainya.

Umumnya arca-arca batu yang terdapat pada candi benar-benar mengikuti aturan kitab kuno. Nah, jika ada pembuatan arca yang menyimpang dari aturan baku, tidak pelak lagi merupakan barang palsu.


"Aksobhya"

Ditilik dari atribut atau ciri-ciri arca diketahui arca Buddha yang akan dilelang itu adalah Aksobhya. Ciri utamanya adalah mempunyai mudra (sikap tangan) bhumisparsa, yaitu sikap tangan memanggil Bumi. Sikap demikian menunjukkan Aksobhya adalah saksi saat Sang Buddha digoda oleh Mara di bawah pohon bodhi. Aksobhya adalah penguasa Timur.

Dalam agama Buddha aliran Mahayana dikenal adanya lima dhyanni-Buddha. Masing-masing menguasai empat arah mata angin pokok ditambah satu di zenith (pusat). Selain Aksobhya, keempat dhyanni-Buddha itu adalah Wairocana (penguasa zenith, mudra-nya dharmacakra, yaitu sikap tangan memutar roda dharma), Amoghasidhi (penguasa Utara, mudra-nya abhaya, yaitu sikap tangan menenteramkan), Amitabha (penguasa Barat, mudra-nya dhyana, yaitu sikap tangan bersemedi), dan Ratnasambhawa (penguasa Selatan, mudra-nya wara, yaitu sikap tangan memberi anugerah).

Amitabha adalah Buddha pada dunia sekarang, sementara Ratnasambhawa adalah Buddha yang akan datang. Lainnya-Wairocana, Aksobhya, Amoghasidhi-adalah Buddha yang telah lalu.

Umumnya penggambaran arca Buddha sangat sederhana, tanpa hiasan, hanya memakai jubah. Ciri-ciri lainnya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Candi yang terbanyak memiliki arca dhyanni-Buddha adalah Borobudur. Banyaknya 504 buah yang terdapat pada tingkat arupadhatu. Sayang, lebih dari 300 di antaranya telah cacat atau tanpa kepala. Yang tragis, 43 buah telah hilang. Demikian data pada tahun 1980.

Mungkinkah Aksobhya yang gagal dilelang itu pernah bermukim di Candi Borobudur, tentu memerlukan penelitian lebih lanjut.

Pada dasarnya seni pahat patung kuno di Indonesia terbagi atas dua gaya, yakni kelompok Jawa Tengah dan kelompok Jawa Timur. Seni pahat Jawa Tengah lebih naturalistis dan dinamis, sementara seni pahat Jawa Timur agak kaku dan terikat pada soal-soal kependetaan (R Soekmono, 1971).

Namun, bukan berarti gaya Jawa Tengah lebih tinggi langgam seninya daripada gaya Jawa Timur. Arca Prajnaparamita yang pernah bertahun-tahun bermukim di Belanda merupakan peninggalan dari Candi Singasari, Jawa Timur, yang dianggap memiliki langgam seni amat indah. Jauh melebihi gaya Jawa Tengah.

Sebagai benda seni, arca termasuk barang yang banyak diburu kolektor. Statistik menunjukkan arca kuno, termasuk relief candi dan ornamen-ornamen candi lainnya, merupakan peninggalan masa lampau yang paling sering hilang.


Modus pencurian

Modus yang umumnya dilakukan pencuri adalah menggotongnya langsung dari situs candi, terlebih untuk arca lepas. Untuk arca yang menempel pada relung candi, biasanya menggunakan pahat dan dicongkel. Bahkan ada yang dipotong atau digergaji dengan alat modern.

Pencurian arca relatif mudah dilakukan karena lokasi situs berada di ruang terbuka dan jauh dari permukiman penduduk. Banyak situs arkeologi, misalnya, terletak di atas bukit, di tengah hutan, bahkan di lereng gunung. Di pihak lain, tenaga pengawas sangat minim karena alasan klasik: ketiadaan dana.

Pelaku utama biasanya penduduk desa yang masih lugu karena diiming-imingi uang banyak oleh para penadah. Para penadah kemudian menjualnya kepada calo barang antik yang menjualnya lagi langsung kepada orang asing atau kolekdol (kolektor yang merangkap pedagang).

Sebenarnya modus dan pendistribusian benda-benda kuno curian sudah terbaca oleh pihak berwenang. Namun entah mengapa pencurian terus saja terjadi setiap tahun. Mudah-mudahan kasus arca Aksobhya itu akan membuka mata kita terhadap kepurbakalaan dan bisnis barang antik.

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, Tinggal di Jakarta


(Sumber: Kompas, 25 April 2005)
Read More......

Olimpiade Yunani Purba (2): Yunani Purba Pusat Kebudayaan Dunia


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO

Salah satu masa dalam sejarah dunia yang dipandang sebagai abad besar umat manusia adalah zaman Yunani purba. Zaman ini dimulai kira-kira tahun 2000 Sebelum Masehi.

Memang kebudayaan Mesopotamia (Irak), Mesir, atau Cina dianggap sudah demikian tinggi tapi kebudayaan Yunani purba memiliki kelebihan. Yakni, adanya gambaran pribadi atau wajah seseorang dalam bentuk patung. Puluhan ribu keping artifak arkeologi dari berbagai situs, umumnya menggambarkan seorang tokoh terkenal pada masa itu.

Karena menonjolkan tokoh, maka sejarah kuno Yunani mengandung segi kemanusiaan yang abadi. Hal ini sangat menguntungkan para peneliti masa lampau yang hidup ribuan tahun kemudian (Yunani Klasik, 1985).

Bangsa Yunani purba menyebut negaranya Hellas. Mereka senang berperang, baik perang saudara maupun melawan musuh dari luar, seperti Romawi, Persia, dan Macedonia. Sampai zaman modern pun Yunani tak pernah berhenti dilanda perang. Pertikaian sering terjadi dengan negara tetangganya: Turki dan Italia. Yunani menjadi negara merdeka penuh pada 1830.


Politheisme

Masyarakat Yunani purba menganut paham politheisme. Mereka menyembah banyak dewa. Dewa-dewi itu diberi nama sesuai kekuatan dan kekuasaannya. Dewa tertinggi bangsa Yunani adalah Zeus, penguasa Gunung Olympia atau Olympus. Zeus memegang kekuasaan untuk menjaga ketertiban, keadilan, kedamaian, dan akhlak.

Dewa-dewi Yunani purba digolongkan menurut tempat tinggalnya, yaitu surga atau langit, lautan, bumi, dan alam baka Sejumlah dewa digolongkan menurut kekuasaannya, sehingga dikenal dewa-dewi inti dan dewa-dewi non inti (Ikhtisar Ringkas Dewa-dewi Yunani Purba, 1983).

Dewa-dewi surga merupakan dewa-dewi inti. Ada 12 dewa masuk ke dalam klasifikasi ini, yakni Zeus (mahadewa), Hera (dewi perkawinan/pelindung kelahiran), Ares (dewa perang), Hephaistos (dewa api dan pandai besi), Hebe (dewi masa muda yang abadi), Aphrodite (dewi kecantikan), Pallas Athena (dewi ilmu, kearifan, kebijaksanaan, kecerdasan, perdamaian, pelindung kesenian/kerajinan tangan), Phoibos Apollon (dewa matahari, ilmu gaib, ilmu pengobatan, kesenian, kebudayaan), Artemis (dewi bulan, dewi perburuan), Hermes (dewa pelindung gembala, pedagang, dan pencuri), Denieter (dewi pertanian dan kesuburan tanah), dan Hestia (dewi perapian rumah).

Di samping dewa-dewi inti, dari kelompok ini muncul pula dewa-dewi yang peranannya lebih rendah. Ibaratnya menteri atau menteri negara yang pangkatnya di bawah menteri koordinator. Mereka adalah Helios (dewa matahari), Eos (dewi fajar), Phaeton (putra Helios), Selene (dewi bulan), Nike (dewi kemenangan), Ganymedes (pelayan para dewa-dewi), Asklepios (dewa ilmu pengobatan), Eros/Amor (dewa asmara), Psyche (dewi kejiwaan), Charite/Gratiae (dewi kecantikan dan keluwesan), Aiolos/Aeolus (dewa angin), dan Iris (dewi pelangi).

Di antara dewa-dewi lautan yang paling dihormati adalah Poseidon (dewa lautan), sementara dewa-dewi bumi yatig paling berperan adalah Dionysos/Bakchos (dewa anggur), Nymphae (dewi hutan), Pan (dewa pelindung para gembala), dan Okeanos (dewa sungai besar). Sedangkan dewa-dewi alam baka yang paling disembah adalah Hades (dewa penghantar roh).


Athena

Ibukota Yunani sekarang beraama Athena Nama ini berasal dari dewi Pallas Athena Konon pada awalnya ibukota Yunani belum mempunyai nama. Kemudian Pallas Athena berlomba dengan Poseidon untuk memberi nama dan menjadi pelindung kota tersebut.

Syaratnya, barang siapa dapat memberikan hadiah yang paling berguna kepada kota tersebut akan dipilih menjadi pemenang.

Poseidon menancapkan tongkat trisulanya ke dalam tanah, maka tercipta laut dan kuda yang pertama. Sementara Pallas Athena menancapkan tombaknya ke dalam tanah sehingga tumbuh pohon zaitun.

Setelah itu Pallas Athena mengajari rakyat kota tentang kegunaan batang, daun, dan buah pohon tersebut. Itulah yang membuat Pallas Athena memenangkan persaingan karena dipilih mayoritas masyarakat kota.

Sebagai persembahan, di kota Athena dibangun sebuah kuil yang disebut Parthenon. Kuil ini terletak di atas bukit Akropolis. Di dalamnya terdapat patung Athena berbahan emas dan gading. Pembuatnya adalah pemahat terkenal Pheidias (Fidias) dibantu Iktinus dan Kalikrates sebagai arsitek-arsiteknya

Selama 900 tahun bangunan itu berfungsi sebagai kuil Athena, 1000 tahun sebagai gereja, dan 200 tahun sebagai masjid. Bangunan yang multifungsi ini menjadi peninggalan arkeologis yang unik dan langka. Saat ini Parthenon tinggal puing-puing. Pilar-pilarnya yang menarik banyak roboh akibat perang.

Di seluruh Yunani banyak peninggatan arkeologis lain juga rusak, hancur, dan raib karena perang. Bahkan ribuan artifak kuno dijarahi oleh tentara Romawi. Ratusan ribu lagi diambili tentara pendudukan pada zaman modern.


Pakar

Yunani purba banyak menghasilkan pakar yang namanya tetap dikenang hingga kini. Aristoteles, Plato, dan Socrates merupakan pakar filsafat. Pitaeoras dan Archimedes merupakan pakar ilmu pengetahuan. Hipokrates dicap sebagai ”Bapak Kedokteran Dunia” karena perannya yang sangat mengagumkan.

Secara tidak sadar orang sering menggunakan istilah politik chaos dan istilah psikologi Oudipus-complex. Chaos yang berarti kekacauan berasal dari bahasa Yunani. Demikian pula Oudipus, legenda seorang anak yang membunuh ayah kandungnya kemudian mengawini ibu kandungnya

Pengaruh Yunani telah menyebar ke seluruh dunia dalam berbagai bidang. Astrologi atau horoskop Barat, misalnya, mengenal berbagai zodiak. Zodiak-zodiak ini berasal dari mitologi Yunani (Mitologi Yunani, 1977).

Dalam satu mitologi dikisahkan Kronos dan Rhea melahirkan Zeus. Karena takut ditelan Kronos, Rhea membawa Zeus kepada seekor kambing Almatheia untuk disusui. Sebagai ucapan terima kasih kemudian Zeus menempatkannya sebagai lambang zodiak Aries (bergambar seekor kambing).

Mitologi lain mengisahkan Diskouroi, anak kembar Zeus dengan Putri Leda Diskouroi adalah penunjuk jalan dan pelindung para pelaut. Karenaberjasa, mereka berdua dianugerahi penghargaan sebagai lambang zodiak Gemini (bergambar orang kembar).

Legenda Herakles atau Herkules, si tokoh perkasa dalam wujud manusia-dewa, sangat terkenal di berbagai belahan dunia. Bahkan film-filmnya mencapai box office di banyak negara.

Legenda Kuda Troya begitu merasuk banyak orang. Legenda ini pernah mengusik seorang bankir Jerman Heinrich Schliemann untuk melakukan ekskavasi di Bukit Troya. Hasilnya sungguh mengagumkan karena dia menemukan artifak-artifak kuno yang luar biasa indahnya.

Nama benua Eropa juga berasal dari legenda Yunani. Konon Zeus sedang terpikat pada Eropa, putri Agenor, seorang manusia biasa. Kemudian Zeus menyamar menjadi seekor sapi jantan putih dan menggendong Eropa berjalan-jalan. Pada akhirnya Zeus menurunkan kekasihnya di pantai negeri baru yang kemudian diberi nama Eropa.

Abjad Yunani purba dikenal sampai kini dan masih dipakai sebagai lambang atau istilah berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Abjad Yunani banyaknya 24 buah, berturut-turut adalah alfa (a), beta (b), gamma (g), delta (d), epsilon (e), zeta (z), eta (e), theta (th), iota (i), kappa (k), lambdha (1), mu (m), nu (n), xi (x), omikron (o), pi (p), rho (r), sigma (s), tau (t), upsilon (y, u), fi (f), kfai (kh), psi (ps), dan omega (o).

Ilmu matematika dan fisika, misalnya, menggunakan alfa, beta, dan gamma sebagai nama sudut dan sinar. Satuan tahanan listrik adalah omega. Istilah untuk penjumlahan adalah sigma, dan masih banyak lagi.

Yunani merupakan pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia. Namun negerinya tergolong tandus. Penghasilan utama Yunani berasal dari pariwisata dengan memanfaatkan seluruh potensi peninggalan arkeologisnya. Dalam setahun jumlah wisatawan yang berkunjung ke Yunani mencapai belasan juta orang, lebih banyak dari jumlah penduduknya yang cuma 12 juta jiwa.

Saat ini Yunani sedang sibuk membangun berbagai fasilitas untuk Olimpiade Athena 2004. Namun banyak proyek pembangunan tertunda gara-gara para pekerja sering menemukan artifak-artifak arkeologi dari dalam tanah. Di satu pihak penemuan tidak disengaja ini semakin memperkaya khasanah kebudayaan Yunani purba, namun di sisi lain hal ini memperlambat proses persiapan Yunani sebagai tuan rumah Olimpiade 2004.

(Sumber: Sinar Harapan, 14 Agustus 2004)
Read More......

Olimpiade Yunani Purba (1): Mahkota Daun Zaitun sebagai Pengganti Medali


Oleh: Djulianto Susantio

Pengantar:
Tulisan ini merupakan tulisan pertama dari dua tulisan yang berhubungan dengan Olimpiade dan kultur bangsa Yunani. Pada bagian pertama diceritakan mengenai kultur olahraga, penghargaan terhadap olahragawan dan terbentuknya sifat sportif di kalangan olahragawan. Pada bagian kedua, penulis lebih menyoroti dewa-dewi dan mitologi Yunani Purba.

SEJAK ribuan tahun lalu bangsa Yunani sudali mengenal olahraga dalam arti yang paling sederhana. Mereka melakukannya untuk kepentingan pasukan perang atau kemiliteran. Dengan berolahraga diharapkan para prajurit akan tangkas dan sigap dalam bertempur.

Olimpiade yang paling awal konon sudah diselenggarakan bangsa Yunani purba pada 776 Sebelum Masehi.

Kegiatan itu diikuti seluruh bangsa Yunani dan dilangsungkan untuk menghormati dewa tertinggi mereka, Zeus. Zeus bermukim di Gunung Olympia atau Olympus yang kemudian dipakai sebagai nama Olimpiade hingga sekarang.

Olimpiade kuno juga diselenggarakan setiap empat tahun Olahragawan terbaik dari seluruh Yunani berdatangan ke arena di sekitar Gunung Olympia. Mereka bertanding secara perorangan, bukan atas nama tim. Para atlet yang akan bertanding terlebih dulu berlatih keras selama sepuluh bulan di daerah masing-masing.

Dulu, di Yunani sering terjadi perang saudara Namun ketika pesta olahraga berlangsung, pihak yang bertikai melakukan gencatan senjata. Siapa yang melanggar konsensus akan dikenakan denda Bangsa Sparta pernah diharuskan membayar denda karena melanggar gencatan senjata selama Perang Peloponnesus. Menjelang pesta, panitia pelaksana menyembelih babi kurban.

Saat ini di wilayah Olympia terdapat sekelompok bangunan kecil dan gelanggang di alam terbuka. Sisa-sisa puing gelanggang latihan itu merupakan peninggalan arkeologis yang dilestarikan pemerintah Yunani.

Pada pesta Olimpiade kerap terjadi perjanjian perdamaian atau persekutuan antar bangsa. Juga timbul berbagai kegiatan transaksi. Barang-barang yang dijajakan antara lain anggur, makanan, jimat, dan benda-benda ibadah.

Olimpiade kuno mempertandingkan cabang atletik, seperti lari, loncat, dan lempar. Ada juga pacuan kuda dan pacuan kereta.

Karena aturannya belum baku, banyak penonton. Ada juga pacuan kuda dan pacuan kereta. Karena aturannya belum baku, banyak penonton sering terkena lemparan batu atau ditabrak kereta kuda para peserta. Di ruang terbuka di depan altar Zeus, dulunyamerupakan gelanggang gulat dan adu tinju.


Telanjang

Di Olympia juga masih dijumpai batu-batu yang merupakan pijakan olahraga lari. Pijakan batu itu disusun sedemikian rupa agar para pelari mendapat ruang gerak ke kiri dan ke kanan. Pada saat start para pelari harus menempatkan telapak kaki pada batu-batu pijakan itu. Ada pula panel-panel tentang lomba lari khusus membawa perisai. Lomba ini banyak disukai penonton karena dianggap lucu.

Pembukaan Olimpiade selalu diwarnai lomba kereta dengan empat kuda. Sekitar 40 kereta dijajarkan dalam kandang di gerbang keluar. Jarak yang ditempuh hampir 14 km, yakni 12 kali pulang pergi antara dua tiang batu yang ditancapkan di tanah.

Berbeda dengan olimpiade modern, dulu mahkota kemenangan tidak diberikan kepada sais atau joki, melainkan kepada pemilik kereta dan kuda yang umumnya orang-orang kaya. Orang kaya yang haus kehormatan biasanya mengirim paling sedikit tujuh kereta kudauntuk mengikuti perlombaan.

Berbagai pertandingan dalam olimpiade kuno boleh dikatakan serba keras. Para pelari berpacu secepat-cepatnya tanpa memakai alas kaki. Para penunggang kuda berlomba habis-habisan tanpa pelana atau sanggurdi. Para peloncat membawa pemberat yang diayun-ayunkan untuk menambah dorongan maju.

Olahraga yang terkeras adalah pankration, yakni perpaduan antara gulat dan tinju gaya tradisional. Para atlet boleh menyepak atau mencekik lawan. Yang tidak diperbolehkan adalah memijit mata, menggigit, dan mematahkan jari. Fairplay benar-benar diperhatikan para atlet.

Beberaba artifak purba ada yang memperlihatkan adegan tiniu antara dua atlet. Pemenang adu tinju adalah pihak yang dapat memukul kepala lawan. Pihak yang kalah harus mengacungkan jari tanda mengaku kalah.

Olimpiade kuno hanya boleh ditonton dan diikuti oleh para pria. Sebab para atlet harus bertanding dengan tubuh telanjang, kecuali untuk kesempatan khusus, seperti lomba kereta kuda. Mereka berbusana aneka wania untuk menunjukkan status sosial si pemilik kereta dan kuda.

Bagi orang Yunani telanjang merupakan cara paling sesuai untuk berolahraga. Mereka bangga kalau memiliki tubuh yang atletis.

Pemenang pertandingan mendapatkan mahkota dedaunan, seperti daun zaitun liar sebagai pengganti medali. Kadang-kadang sang juara diarak masuk kota melalui sebuah lubang yang dibuat khusus pada tembok kota. Mereka dielu-elukan di jalan kota dan disambut pembacaan puisi. Penghargaan lain kepada olahragawan berprestasi berupa pembebasan dari pajak dan berbagai santapan gratis (Yunani Klasik, 1985)

Beberapa kota juga memberikan bonus uang dalam jumlah besar. Bahkan di kota kediaman pemenang didirikan patung mereka. Banyak patung batu dan perunggu masih tersisa sampai kini dan itulah hadiah paling abadi milik sang juara.

Salah satu bagian cabang atletik yang masih tetap dikenal hingga kini adalah maraton, yakni perlombaan lari sejauh kira-kira 42 km. Sebenarnya maraton merupakan nama dataran yang dikelilingi gunung dan laut.

Ceritanya, ketika Athena akan diserang musuh, Miltiades, seorang panglima yang cerdas dan tegas, menghadangnya dari Maraton. Akhirnya Miltiades berhasil mengalahkan tentara Persia. Untuk itu Miltiades mengutus seorang pelari ke Athena untuk mengumumkan kabar kemenangan. Setelah berlari sekitar 35 ktn, si pelari terjatuh dan meninggal.

Mereka yang gugur di Maraton dikuburkan dalam gundukan megah. Untuk mengenang jasa mereka, maka dipakailah istilah lari Maraton.***

Penulis adalah seorang arkeolog

(Sumber: Sinar Harapan, 13 Agustus 2004)
Read More......

Arkeologi dan Pers, Pelajaran dari ”Homo Floresiensis”


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO

PENEMUAN benda-benda arkeologi dari dalam tanah selalu menarik perhatian masyarakat. Penemuan fosil manusia purba bertubuh kerdil Homo Floresiensis baru-baru ini dari situs Liang Bua, Flores, telah mengisi gegap gempita pemberitaan pers lokal dan internasional.

Di Indonesia pers mengupasnya dalam berbagai sudut pandang. Adanya konflik kepentingan antara Indonesia yang punya situs dengan Australia yang punya duit, menjadi ladang berita hangat. Mengapa pakar Australia yang mengemukakan hasil penelitian, bukan pakar Indonesia, digarap besar-besaran.

Beberapa tahun lalu penemuan benda-benda emas kuno di situs Wonoboyo pernah pula menjadi perhatian pers. Bahkan cerita-cerita berbau mistik mewarnai berbagai tulisan tersebut.

Sesungguhnya bukan hanya penemuan yang mendapat porsi besar di mata pers. Pemugaran Candi Borobudur tahun 1970-an pernah mengisi halaman-halaman utama media cetak. Demikian pula masalah pencurian keramik langka dan antik dari Museum Nasional, pencurian arca dari berbagai candi yang kemudian arca-arcanya muncul di mancanegara, dan penjarahan harta karun laut dari perairan Indonesia oleh sindikat asing.

Kasus penggalian liar di areal situs Batutulis, Bogor, Agustus 2002 lalu, semakin menambah panjang deretan bulan-bulanan pers Indonesia. Berita itu dipandang mempunyai ”nilai jual” karena berhubungan de-ngan seorang menteri yang mendapat bisikan dari seorang paranormal. Apalagi konon seluruh harta karun yang masih terpendam itu, bisa dipakai untuk melunasi seluruh utang luar negeri Indonesia.


Spektakuler

Sejak lama banyak karangan tentang arkeologi, umumnya memuat penonjolan informasi yang berlebihan tentang penemuan baru. Pers sering menggambarkan penemuan-penemuan itu secara mengagumkan, serba unik, eksotik, fantastik, dramatik, dan spektakuler.

Tanpa disadari karangan semacam itu telah membentuk opini masyarakat bahwa arkeologi hanya berkenaan dengan hal-hal menakjubkan. Karena itu penemuan pecahan-pecahan keramik atau fondasi-fondasi bangunan kurang mendapat tempat layak di halaman pers. Padahal kenyataannya, penemuan atau kegiatan yang serba ”wah” atau ”syur” semacam itu amat jarang terjadi. Banyak arkeolog yang bekerja keras sepanjang karier profesionalnya, jarang sekali bahkan tidak pernah menemukan benda-benda arkeologi yang tergolong kelas mempesona atau mengagumkan.

Meskipun tanpa temuan yang spektakuler, para arkeolog tetap tidak akan berhenti bekerja. Masalahnya, motivasi seorang arkeolog bukanlah nilai kekaguman, ekonomis, atau keindahan, tetapi memperoleh sebanyak mungkin informasi dari warisan budaya masa lalu itu. Di mata arkeolog warisan budaya masa lalu memiliki banyak dimensi.

Arkeolog menggarap data temuan dari aspek politik, budaya, sosial, dan ekonomi. Arkeolog memperhatikan kegiatan para penguasa kerajaan dan rakyat biasa. Arkeolog meneliti keraton-keraton megah dan puing-puing permukiman penduduk.

Arkeolog bukan hanya menangani candi-candi besar, tetapi juga pecahan-pecahan keramik. Meskipun bendanya tidak agung dan tidak indah, arkeolog tetap ingin memeras informasi yang tuntas dari pecahan-pecahan keramik tersebut. Arkeolog bukan hanya menganalisis peralatan hidup, tetapi juga berbagai komponen lingkungan hidup masyarakat.

Tujuan arkeologi pun bukan hanya menemukan benda, tetapi mengungkapkan segala keterangan mengenai tingkah laku manusia yang mencakup sistem ideologi, sistem sosial, dan sistem teknologi. Ilmu arkeologi sendiri mempunyai tiga tujuan pokok, yakni merekonstruksi sejarah kebudayaan, merekonstruksi cara-cara hidup masyarakat masa lalu, dan menggambarkan proses-proses budaya. Dalam melaksanakan ketiga tujuan pokok tersebut arkeolog berusaha menemukan, mengenali, melukiskan, dan menganalisis benda-benda arkeologi yang ditemukan secara utuh maupun pecahan.

Dengan demikian para arkeolog, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Mundardjito, dapat menyusun perkembangan kebudayaan dalam dimensi bentuk-ruang-waktu dan aspek fungsi dari peninggalan budaya tersebut. Selain itu para arkeolog mampu menekankan perhatiannya bukan hanya pada pertanyaan apa, di mana, dan bilamana, tetapi juga bagaimana dan mengapa.


Menyusun Sejarah

Tak dipungkiri kalau selama ini sebagian besar masyarakat kurang berapresiasi terhadap peninggalan yang sama sekali tidak bagus. Berbagai kerusakan peninggalan-peninggalan purbakala oleh masyarakat masa kini antara lain disebabkan mereka tidak sadar dan tidak memahami betul bahwa data arkeologi sangat penting bagi usaha untuk menyusun kembali sejarah masyarakat masa lalu. Kerusakan peninggalan purbakala dan situsnya dapat menimbulkan kesulitan besar bagi usaha para arkeolog untuk menyusun sejarah bangsa.

Kerusakan besar antara lain pernah menimpa situs Trowulan, yang diduga bekas ibu kota Kerajaan Majapahit. Banyak batu bata candi diambili penduduk untuk dijadikan semen merah. Banyak bagian bangunan diboyongi masyarakat sekitar untuk dibuat bagian rumah. Banyak arca dicongkeli maling untuk dijual kepada penadah barang antik. Demikian contoh kecil.

Sejak lama tulisan-tulisan kepurbakalaan di media cetak umumnya berkenaan dengan masalah penemuan, pencurian, dan perusakan. Tulisan mengenai kegiatan ekskavasi atau pemugaran, sangat sedikit jumlahnya. Justru pers Indonesia malah cenderung menulis hal-hal sensasional dan membesar-besarkan masalah nonarkeologi. Tampaknya ada semacam keengganan untuk membuat tulisan arkeologi murni dengan segala aspeknya karena dipandang terlalu berat bobot ilmiahnya.

Sebenarnya sejumlah data arkeologi merupakan komoditas informasi yang layak jual. Banyak bangunan arkeologi, seperti candi, masjid, gereja, dan keraton, sering ditulis orang untuk konsumsi dunia pariwisata. Masalah kehidupan manusia purba, pembuatan peralatan kuno, pembangunan candi, dan teknik menempa besi, sering dibicarakan orang dalam rubrik sains atau iptek.

Selama ini orang tahu pers mempunyai beberapa fungsi, yakni informasi, komunikasi, rekreasi, dan edukasi. Karena itu permasalahan dalam arkeologi cukup ”basah” untuk memenuhi fungsi-fungsi tersebut.

Siapa sih yang tidak tertarik dengan kehidupan manusia purba, macam manusia kerdil dari Flores? Ilmuwan mana sih yang tidak kagum dengan teknologi pembuatan candi? Pelajar mana sih yang tidak ingin mengetahui kebesaran Kerajaan Kutai, Sriwijaya, atau Majapahit?

Masalah penyelewengan pajak atau hukum pidana masa purba, bisa diceritakan lewat penelusuran prasasti. Masalah teknologi kuno bisa dijejaki lewat kajian naskah dan relief candi. Demikian pula sejarah anjing sebagai hewan peliharaan, pers yang paling kuno, dan cara kerja wartawan zaman dulu, semuanya terekam dalam bentuk data arkeologi.


Peran Pers

Salah satu fungsi pers yang paling penting dari kacamata arkeologi adalah sebagai sarana informasi. Informasi yang kontinu bisa memperkecil bahkan menghilangkan jumlah kejahatan terhadap peninggalan arkeologi, seperti pencurian benda kuno, penggalian liar, corat-coret, dan penyelundupan barang antik.

Sayangnya, pemberitaan pers Indonesia tentang arkeologi masih sedikit jumlahnya. Apalagi bila dibandingkan dengan masalah politik dan ekonomi. Menurut Berthold DH Sinaulan, arkeolog yang juga wartawan dalam salah satu makalahnya, sedikitnya jumlah pemberitaan arkeologi merupakan indikasi betapa kurang pentingnya masalah kepurbakalaan di mata pers.

Sulit bagi arkeologi untuk mengharapkan para wartawan menulis hal-ihwal kepurbakalaan secara lengkap. Wartawan yang sehari-harinya sudah ditumpuki tugas dan dikejar deadline, tidak mungkin sempat bersibuk diri membolak-balik literatur di sana-sini. Kalaupun menulis, wartawan sering keliru dengar atau salah kutip karena sebagian besar dari mereka bukan sarjana atau peminat serius masalah kepurbakalaan. Banyak wartawan juga kurang memahami bedanya penggalian kabel telepon atau pipa ledeng dengan penggalian arkeologi yang disebut ekskavasi. Demikian salah satu keluhan yang pernah dilontarkan Rudi D. Badil, seorang wartawan yang berlatar antropologi.

Sebaliknya para arkeolog yang kebanyakan birokrat, selalu bersikap off the record terhadap masalah pencurian, penemuan, dan kebijakan terhadap pers. Mereka yang mampu mengeluarkan suara berbobot pun masih membingungkan para wartawan karena terlalu banyaknya instansi arkeologi.

Tentunya dari sini arkeologi dan pers perlu bekerja sama sebaik-baiknya. Percuma saja ada temuan besar kalau tidak diberitakan oleh pers. Sungguh rugi pula kalau pers tidak memberitakan penemuan besar itu. Sungguh bijak apabila pers mau menyediakan rubrik arkeologi secara periodik, taruhlah setiap minggu.

Kalangan arkeologi pun harus berani menulis, karena menulis di media cetak tidak akan menurunkan derajat seorang ilmuwan. Justru dengan menulis para arkeolog bisa menuangkan gagasan atau memberi masukan sehingga bermanfaat bagi pakar-pakar lain.
Mari kita jadikan kasus Homo Floresiensis sebagai pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama arkeologi dan pers.***

Penulis adalah seorang arkeolog

(Sumber: Sinar Harapan, 6 November 2004)
Read More......

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: