Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net
Tampilkan postingan dengan label Indoarchaeology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indoarchaeology. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2009

Situs Rambahan


Situs Rambahan merupakan sebuah “tanjung” dengan tinggi sekitar 25 meter dari permukaan tanah sekitarnya. Menurut keterangan penduduk, situs ini dulunya merupakan sebuah desa yang ditinggalkan penduduknya. Sekarang merupakan bidang tanah yang ditumbuhi ilalang dan belukar. Di sekeliling situs ditemukan sungai-sungai kecil, di antaranya Batang Nili dan Batang Lolo. Kedua sungai ini bertemu di Sungai Pangian yang selanjutnya bermuara di Batanghari. Untuk dapat mencapai lokasi situs harus menggunakan perahu menuju ke arah hulu.

Di Situs Rambahan ditemukan munggu yang dikelilingi tanggul buatan dan parit yang bermuara di Batanghari. Sebagian munggu telah digali penduduk, tetapi tidak ditemukan petun¬juk adanya sisa bangunan. Temuan yang dikenal dari situs ini adalah sebuah arca Amoghapasa dengan prasasti yang dipahatkan di bagian belakangnya. Pertama kali dilaporkan oleh Kontrolir Twiss kepada Direksi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1884 (Krom 1912: 48). Selanjutnya H Kern menerbitkannya pada tahun 1907 dan 1917 dalam bentuk transkripsi dan pembahasan. Berdasarkan keterangan prasasti yang dipahatkan pada lapik arca yang ditemukan di Padangroco tahun 1911, arca Amoghapasa ini merupakan arca yang dikirimkan oleh Raja Krtanagara pada tahun Saka 1208 untuk ditempatkan di Dharmmasraya.

Prasasti pada arca Amoghapasa ditulis dalam aksara Jawa Kuna dengan menggunakan bahasa Sansekerta, dalam 27 baris, dan berbentuk sloka 12 bait. Angka tahun yang tertera dalam bentuk candrasangkala yang menunjuk tahun 1268 Saka (1347 Masehi) dan dikeluarkan oleh Sri Maharajadhiraja Adityawarmman. Dalam prasasti itu ia menyebutkan pula dirinya dengan nama Srimat Sri Udayadityawarmman. Selanjutnya, prasasti ini menyebutkan tentang penyelenggaraan upacara yang bercorak tantrik, pentahbisan arca Buddha dengan nama Gaganaganja (namna gagana ganjasya), dan pemujaan kepada Jina (Hasan Djafar 1992: 9-12).

Adapun transkripsi lengkap prasasti tersebut sebagaimana ditranskripsikan oleh Kern (1917) adalah sebagai berikut:

(1) subhamastu + saddharmasca suvarddhanatmamahimasobhagyavan silavan +
(2) sastrajña suvisuddhayogalaharisobhaprabrddhasate + sauundaryyegirika
(3) ndaranvitagaye sandohavanipra + ma(?)yavairitimisradhikkrtamaha
(4) nadityavarmmodayah +o+ tadanugunasamrddhih ssastrasastra pravrddhih +
(5) jinasamayagunabdhih karyyasamrambha buddhih + tanumadanavisuddhih atyata
(6) sarvvasiddhih + dhanakanasamaptih + devatuhan prapatih +o+ pratisthoyam
(7) sugatanam + acaryyandharma sekarah + namna gagana ganjsya + mañju
(8) sririva sauhrdi +o+ pratishoyam hitatvaya + sarvvasa
(9) tvasukasraya + devaramoghapasesah + srimadadityvarmmanah +o+
(10) muladvausarane patangacarane nardantasake suge + bhasmat karkkatakedinai
(11) rapitayapurnnenduyogayate + tarairuttara siddhiyogahatikakarunyamurttasvara
(12) t + jirnairuddharita samabita lasatsambodha marggarthibhih +o+ svasti samas-tabhuvana
(13) dharahataka bhavasramagrhabisarada +o+ aparamahayanayogavinoda +o+ apicadha
(14) radhipapratirajabikata samkata kiritakoti sanghanitaka manidvayanakata karana +o+ srimat
(15) sri udayadityavarmma pratapaparakrama rajandramauli mali varmmadevamaha-rajadhiraja + sa bijñeya
(16) majñan karoti +o+ bihangamattanggabilasasobhite + kantara saugaganhi (baca: saughandi) surudrama-kule + surangana
(17) lakhitakañcanalaye + matanginisasuradirdighikagate + anubhavadhibisesonma-dasandohahaha
(18) akiladitisutanandeva bidyadharesah + apimadhukaragitainnarttyabhogasitinam + acalaticalati
(19) rttassobhamatanginiso +o+ hahahuhu kanena sambhramalasatlokartthabhu-myagatah + saundaryyesasi
(20) purnnavat kuslabhe hrtsobhatalankrte + namna uddhayavarmmaguptasakalak-sonitinayakah + sahtyaktvajinaru
(21) pasambhramagato matanginisunyaha +o+ raksannahksayata vasundharmidam-matanginipatraya + bhaksetsattriyavamarggaca
(22) ritasarvvasya samharakrt + sakset ksantibalabilasidamano sambhrantakulossada + patih pratyada lanane prakati
(23) takrurai palasannati + bajraprakaramaddhyastha pratimayam jinalayah + sriman-namoghapasesah + ha
(24) rih udayasundarah +o+ surutaruditapanissatyasangitavanih ripunrpajitakirttih + puspadhanvastramurtih + ma
(25) layapurahitartthah sarvvakaryyassamarttah + guna rasilavibhatih + devetuhan-napatih +o+ udayaparvvata
(26) sobhitarupatih + udayabhti naresvaranayakah + udayavairibalonnatamrddhyate + udayasundaraki
(27) rttimahitale +o+

Berdasarkan isi dari prasasti tersebut, Nik Hassan membuat ke-simpulan bahwa arca tersebut (Amoghapasa) melambangkan arca seorang raja yang menganggap dirinya sebagai seorang cakrawartin (penguasa dunia) dan menjelma sebagai dewa Amoghapasa (Shuhaimi 1992:48). [Bambang Budi Utomo]

(Sumber: indoarchaeology.com)
Read More......

Taman Sriksetra


Dua tahun setelah Dapunta Hyang? membangun perkampungan di tepi sebelah utara Sungai Musi, kemudian dia membangun sebuah taman yang diperuntukan bagi rakyat Sriwijaya. Taman yang dibangun itu terletak di sebuah lokasi yang mempunyai pemandangan indah. Lahan tempat taman itu dibangun mempunyai permukaan tanah yang berbukit-bukit dan berlembah. Di dasar lembah mengalir sungai kecil yang akhirnya bermuara di Sungai Musi.

Pembangunan taman yang diberi nama Taman Sriksetra disebutkan di dalam sebuah prasasti batu yang ditemukan di Dusun Talang Tuo, Kecamatan Talang Kelapa, Kotamadya Palembang, sekitar 10 km. ke arah baratlaut dari pusat kota Palembang.

Prasasti Talang Tuo ditemukan oleh L.C. Westenenk (Residen Palembang) pada tanggal 17 November 1920 (OV 1920:117). Keadaan fisiknya masih baik dengan bidang datar yang ditulisi berukuran 50 x 80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi), ditulis dalam aksara Pallava, berbahasa Melayu Kuno, dan terdiri dari 14 baris. Sarjana pertama yang berhasil membaca dan mentranskripsikan prasasti tersebut adalah van Ronkel dan Bosch yang dimuat dalam Acta Orientalia (van Ronkel 1924: 12). Sejak tahun 1920 prasasti tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta dengan nomor D.145.

Adapun isi dan terjemahan prasasti tersebut adalah sebagai berikut, sebagaimana diterjemahkan oleh G. Coedes (1989:56-61).

“Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Sriksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Sri Jayanasa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua mahluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka. Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak bisa tidur. Apapun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan rasi menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka. Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagi pula semoga teman-teman mereka tidak menghianati mereka dan semoga istri mereka bagi istri yang setia. Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah. Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik; semoga dalam diri mereka lahir pikiran Boddhi dan persahabatan (...) dari Tiga Ratna, dan semoga mereka tidak terpisah dari Tiga Ratna itu. Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan. Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti para mahasattwa berkekuatan tiada bertara, berjaya, dan juga ingat akan kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya, berindra lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tenang, bersuara yang menyenangkan, suara Brahma. Semoga mereka dilahirkan sebagai laki-laki, dan keberadaannya berkat mereka sendiri; semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung.”

Hingga kini belum diketahui maksud pembangunan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang? Ditilik dari lokasi dan apa saja yang dibangun dalam taman itu, diperkirakan pembangunan taman adalah untuk kesejahteraan semua mahluk. Pembangunan bendungan dan kolam mungkin dimaksudkan untuk penyediaan air bersih, yang dialirkan melalui Sungai Sekanak menuju kota Sriwijaya yang lokasinya ada di Palembang sekarang. Pohon-pohon yang ditanam di Taman Sriksetra dimaksudkan untuk peneduh dan penahan air hujan agar tidak terjadi bahaya erosi mengingat daerah Talang Tuo adalah daerah tinggi yang memungkinkan terjadinya erosi.

Prasasti Talangtuo



Prasasti Talang Tuo yang bertanggal 23 Maret 684 berisi tentang pembangunan taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang? Srijayanasa untuk kesejahteraan semua mahluk


Analisis terhadap serbuk sari (pollen analysis) yang terendap dalam tanah di Situs Talang Tuo menunjukkan bahwa lahan tersebut ditumbuhi tanaman sebagaimana disebutkan dalam prasasti. Beberapa jenis tumbuhan yang disebutkan dalam prasasti masih dapat ditelusuri kembali jejaknya. Tumbuhan tersebut antara lain dari familia Palmae, Annonaseae dan Graminae. Di samping itu juga ditemukan adanya tumbuhan paku-pakuan saprofit dari familia Lycopodiaceae. Vegetasi dasar yang ada di lahan taman ini terdiri dari tumbuhan belukar dari familia Thimelaceae, tumbuhan rumputan dari familia Cyperaceae dan tumbuhan herba dari familia Plantaginaceae. Banyaknya tumbuhan familia Annonaceae dan Palmae yang ditemukan pada taman ini mencirikan tipe ekosistem hutan non Dipterocarpaceae (Arfian 1992: 84-87). Pada saat ini daerah bekas Taman Sriksetra merupakan padang alang-alang yang cukup luas karena telah terjadi perubahan ekosistem.

Bambang Budi Utomo
Kerani rendahan pada
Puslitbang Arkeologi Nasional

(Sumber: indoarchaeology.com)
Read More......

Jumat, 24 April 2009

Tokoh-tokoh Peletak Dasar Arkeologi Indonesia


Perkembangan dunia arkeologi Indonesia tidak dapat lepas kaitannya dengan tokoh-tokoh arkeologi bangsa Belanda yang pernah malang melintang di situs-situs yang mengandung tinggalan budaya masa lampau di Nusantara, terutama di Jawa dan Sumatra. Bisa dimaklumi karena pada waktu itu Nusantara masih dijajah Belanda. Keberadaan tinggalan budaya masa lampau banyak dicatat oleh para arkeolog tersebut. Bahkan cikal bakal berdirinya Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, dirintis oleh para arkeolog Belanda tersebut Ada arkeolog yang profesional, ada yang amatir, dan ada pula yang berangkat dari kecintaannya terhadap keantikan suatu karya seni.

Dari sekian banyak yang menyatakan dirinya sebagai seorang ahli arkeologi yang tergabung dalam organisasi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) mungkin hanya sedikit yang mengetahui siapa orang itu sebenarnya, dan apa karyanya yang “monumental”. Sebagai seorang yang memproklamirkan dirinya arkeolog, sudah seharusnya mengenal orang-orang yang berjasa tersebut, mulai dari J.L.A Brandes dari abad ke-19, sampai dengan Uka Tjandrasasmita yang pernah bertualang di Sumatra Selatan dan Jambi pada tahun 1953 bersama-sama dengan R. Soekmono, R.P. Soejono, Satyawati Suleiman, dan Boechari.

Jan Laurens Andries Brandes


Tokoh ini dalam arkeologi Indonesia dikenal dengan nama Brandes atau J.L.A Brandes. Ia adalah salah seorang ahli arkeologi bangsa Belanda yang telah meletakkan dasar bagi perkembangan arkeologi Indonesia, khususnya dalam bidang epigrafi (=tulisan kuno). Ketika masih di Belanda, Brandes telah mempelajari bahasa Jawa Kuno dan prasasti. Karena itulah, setibanya di Hindia Belanda (Jawa) ia sudah tidak asing lagi dengan prasasti dan mulai menggarap prasasti-prasasti yang disimpan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional di Jakarta). Karyanya ini kemudian diterbitkan di dalam “Aanteekeningen Omtrent de op Verschillende Voorwerpen Voorkomende Inscriptie en een Voorlopigen Inventaries der Beschreven Steenen” dalam Catalogus der Archeologische Verzameling va het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, edisi W.P. Groeneveldt tahun 1887.

Pada tahun 1894 Belanda menyerbu Lombok termasuk menduduki istana Cakranegara. Dalam penyerbuan itu Brandes disertakan dengan tujuan untuk menyelamatkan benda-benda tinggalan budaya masa lampau, termasuk naskah-naskah kuno yang tersimpan di istana. Pada waktu itulah Brandes berhasil menemukan naskah Nagarakertagama yang isinya sangat penting bagi penulisan sejarah Majapahit. Naskah ini diterbitkannya pada tahun 1902 dalam bentuk asli, yaitu dalam aksara Bali. Naskah lain yang juga cukup penting bagi penulisan sejarah adalah Pararaton yang diterbitkannya lebih dahulu pada tahun 1896.

Pada tahun 1901 pemerintah Hindia Belanda membentuk sebuah komisi yang bernama Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoera. Komisi ini bertugas menangani masalah-masalah kepurbakalaan yang ditemukan di Jawa dan Madura. Oleh pemerintah Hindia Belanda, Brandes diangkat sebagai Ketua Komisi dan dibantu oleh dua orang anggota, yaitu J. Knebel dan H.L. Leydie Melville. Komisi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Dinas Purbakala yang sekarang berkembang menjadi Pusat Penelitian Arkeologi.

Brandes meninggal pada tahun 1905 ketika masih menjabat sebagai Ketua Komisi. Sebagai ketua, banyak jasanya bagi perkembangan arkeologi Indonesia dan juga penyelamatan benda-benda tinggalan budaya masa lampau terutama yang ditemukan di Jawa dan Madura.

N.J. Krom


Adalah seorang ahli kesusasteraan Klasik Latin-Yunani bangsa Belanda. Beliau datang ke Hindia Belanda pada tahun 1910 untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoera menggantikan J.L.A Brandes yang meninggal dunia.

Setelah menduduki jabatan sebagai Ketua Komisi, beliau menyadari bahwa persoalan kepurbakalaan Hindia Belanda tidak dapat ditangani hanya oleh sebuah komisi saja. Penanganannya harus dilakukan oleh sebuah badan pemerintah yang tetap dengan suatu organisasi yang baik. Berkat perjuangannya yang gigih, pada tahun 1913 berdirilah Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) dan beliau dipercaya oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai Kepala Dinas. Jabatan ini diembannya hingga tahun 1915, dan setelah itu beliau kembali ke Belanda.

Setelah selesai masa jabatannya, di Belanda beliau banyak menulis tentang arkeologi Hindia Belanda, termasuk menerbitkan naskah yang ditinggalkan Brandes Oud-Javaansche Oorkonden (OJO). Hampir seluruh karya tulis yang dibuatnya sangat mengagumkan dan monumental, di antaranya adalah monografi tentang candi Borobudur setebal 800 halaman folio dengan lampiran berupa foto-foto dan gambar-gambar relief candi Borobudur berupa tiga buah “buku raksasa” sebesar halaman surat kabar. Buku lainnya yang merupakan karya monumental adalah Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst (1919 dan 1923) dan Hindoe-Javaansche Geschiedenis (1926 dan 1931). Kedua buku ini, hingga sekarang masih dipakai sebagai pegangan dan landasan pertama bagi siapa saja yang berniat untuk bergerak dalam bidang serta pekerjaan sejarah kuno dan arkeologi Indonesia.

F.D.K. Bosch


Bosch sudah berada di Hindia Belanda sejak tahun 1914, dan pada tahun 1916 hingga tahun 1936 beliau dipercaya pemerintah kolonial untuk memimpin Oudheidkundige Dienst menggantikan pendahulunya, Krom yang kembali ke Belanda pada tahun 1915. Pekerjaan pertama yang dilakukannya adalah menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan pendahulunya dan menerbitkannya. Karya monumental yang hingga kini masih dipakai sebagai pedoman para peneliti arkeologi adalah inventaris mengenai tinggalan budaya masa lampau. Buku inventaris ini hingga saat ini merupakan satu-satunya yang ada.

Bosch menjadi terkenal di kalangan para ahli arkeologi setelah menulis “Een Hypothese Omtrent den Oorsprong der Hindoe-Javaansche Kunst” yang dimuat dalam Handelingen Eerste Congres voor Taal-, Land- en Volkenkunde van Java, tahun 1921. Dalam karyanya ini beliau mengungkapkan peranan bangsa Indonesia sebagai pencipta bangunan-bangunan candi serta kesenian lainnya. Karena peranan inilah maka tidak ada jurang yang memisahkan antara masa sekarang dari masa lampau bangsa Indonesia. Dengan landasan pemikiran itu, Bosch mengarahkan arkeologi Indonesia ke dalam dua usaha, yaitu: 1) penelitian yang mendalam terhadap unsur-unsur Indonesia dalam segala aktivitas kesenian pada masa lampau, dan 2) pengembalian kemegahan serta keindahan semua hasil kesenian masa lampau. Dari landasan pemikiran inilah maka selama masa kepemimpinan Bosch banyak candi yang dipugar, sehingga kemegahan dan keindahan candi tersebut dapat dinikmati masyarakat.

Perhatian terhadap kepurbakalaan di Hindia-Belanda tidak hanya melakukan pemugaran saja, tetapi juga memberikan perlindungan hukum. Melalui perjuangannya yang panjang, pada tahun 1931 keluar Monumenten Ordonantie (Stbl 1931 No. 238) yang kini telah menjadi Undang-undang No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Selama kepemimpinannya Bosch telah membawa arkeologi di Hindia-Belanda ke arah kedewasaan melalui pemikiran di berbagai bidang, baik prasejarah, kesenian, arsitektur, kebudayaan, maupun epigrafi sehingga arkeologi Indonesia mulai berdiri tegak sebagai ilmu dan sejajar dengan arkeologi di negara-negara lain.

W.F. Stutterheim


Sejak pertengahan tahun 1936 kepemimpinan Bosch di Oudheidkundige Dienst kemudian digantikan oleh Stutterheim. Stutterheim mulai bekerja di lembaga ini sejak tahun 1924, tetapi pada tahun 1926 ia ditugaskan untuk mendirikan dan mengepalai Algemene Middlebarre School (AMS) bagian A (setingkat Sekolah Menengah Atas jurusan Sastra Timur) di Solo. Dalam kurikulumnya, sekolah ini mencantumkan Sastra dan Sejarah Kebudayaan Indonesia sebagai mata pelajaran yang utama.

Meskipun beliau memimpin sebuah sekolah menengah, namun beliau tidak meninggalkan dunia arkeologi bahkan meningkatkan kemampuannya di bidang arkeologi. Usahanya tidak sia-sia hingga pada tahun 1936 beliau diangkat menjadi Kepala Oudheidkundige Dienst. Dalam usahanya menyelami kebudayaan Indonesia, beliau banyak bergaul dengan masyarakat Indonesia sehingga dapat menyelami pandangan orang Indonesia mengenai kebudayaannya di masa lampau. Dalam pikirannya dikemukakan bahwa kebudayaan Indonesia kuno haruslah dianggap sebagai kebudayaan Indonesia, sedangkan pengaruh kebudayaan India hanyalah sebagai tambahan. Karena itu, tidak menjadi masalah dari bagian India mana unsur kebudayaan itu datang, tetapi yang terpenting bagaimana unsur itu dapat berpadu dengan pola kebudayaan Indonesia.

Stutterheim bukan saja berjasa di dalam ilmu percandian dan kebudayaan Indonesia saja, tetapi beliau juga berjasa dalam memperhatikan keramik yang dapat dijadikan bahan kajian penelitian arkeologi. Pada tahun 1939 beliau memerintahkan penelitian keramik di Prambanan, dan pada tahun 1940 di Grobogan. Tujuan penelitiannya adalah untuk melokalisasikan Kerajaan Mda?. Dari penelitiannya itu dihasilkan suatu kesimpulan bahwa pada sekitar abad ke-9 Masehi Gunung Muria merupakan pulau tersendiri yang terpisah dari Jawa.

R. Soekmono


Bersama-sama dengan Satyawati Suleiman, Soekmono termasuk dalam arkeolog pertama bangsa Indonesia yang berhasil menyelesaikan gelar sarjananya pada tahun 1953 dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pak Soek, biasa dipanggil oleh rekan, bawahan, dan mahasiswanya, lahir di Ketanggungan (Brebes) pada tanggal 14 Juli 1922. Bersama-sama dengan Satyawati Suleiman, Soejono, Boechari, Uka Tjandrasasmita, Basoeki dan arkeolog Belanda pada tahun 1954 melakukan ekspedisi ke Sumatra. Dari ekspedisinya itu, beliau berpendapat bahwa pada masa Sriwijaya garis pantai Sumatra bagian timur terletak di daerah pedalaman. Di Jambi terdapat sebuah teluk, sedangkan kota Palembang terletak di ujung sebuah semenanjung. Pendapatnya ini terus dipertahankan hingga akhir hayatnya.

Soekmono merupakan orang Indonesia pertama yang lulus sebagai doktorandus dalam bidang studi arkeologi. Setelah lulus tahun 1953, pada tahun itu juga beliau diangkat sebagai Kepala Dinas Purbakala Republik Indonesia, suatu kedudukan yang sebelum itu dijabat oleh orang-orang Belanda. Jabatan ini terus dipangkunya hingga tahun 1973. Pada tahun 1970 beliau dipercaya pemerintah untuk memimpin Proyek Pemugaran Candi Borobudur, sebuah proyek besar yang didanai oleh pemerintah RI dan UNESCO.

Ditengah-tengah kesibukannya memimpin suatu proyek besar, pada tahun 1974 beliau sempat menyelesaikan disertasinya yang berjudul "Candi, Fungsi dan Pengertiannya" di Universitas Indonesia. Pada bidang studi inilah keahlian dan pengalaman beliau dapat diuji, terutama pengetahuannya mengenai candi-candi di Indonesia. Pengalamannya pada Proyek Pemugaran Candi Borobudur menjadikannya seorang ahli mengenai bangunan candi yang sedang ditanganinya. Di dunia internasional pengetahuan beliau mengenai konservasi bangunan monumental banyak dipakai. Beberapa jabatan yang berkaitan dengan masalah-masalah konservasi banyak disandangnya.

Kesibukannya sebagai “praktisi arkeologi” tidak menjadikannya lupa akan dunia akademis. Pengetahuannya yang luas mengenai Sejarah Kebudayaan Indonesia, diamalkannya di ruang kuliah Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Udayana, dan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar sebagai Dosen Luar Biasa (1953-1978). Pada tahun 1978 beliau dikukuhkan sebagai Gurubesar Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kemudian pada tahun 1986-1987 sebagai Gurubesar tamu di Rijksuniversiteit te Leiden, Belanda.

Satyawati Suleman


Satyawati Suleiman atau lebih dikenal dengan panggilan Ibu Leman atau Ibu Yati di kalangan sahabatnya, dilahirkan di Bogor pada tanggal 7 Oktober 1920. Lulus sebagai sarjana arkeologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1953, tetapi mulai bekerja di Dinas Purbakala sejak tahun 1948. Di kalangan para ahli arkeologi, Satyawati Suleiman dikenal sebagai ahli Ikonografi (seni arca), tetapi pengetahuannya mengenai benda-benda tinggalan budaya masa lampau sangat luas.

Pada tahun 1954, bersama-sama dengan R.P. Soejono, Uka Tjandrasasmita, Boechari, Basoeki dan para arkeolog Belanda melakukan ekspedisi ke Sumatra, terutama ke Sumatra Selatan dan Jambi. Ekspedisi yang dilakukannya itu, merupakan rintisan jalan untuk menelaah tentang Kerajaan Sriwijaya, khususnya studi tentang ikonografi arca-arca di Sumatra.

Karirnya sebagai pegawai pemerintah di bidang kebudayaan, khususnya kepurbakalaan dimulai sebagai Atase Kebudayaan di India (1958-1961) dan dilanjutkan sebagai Atase Kebudayaan di Inggris (1961-1963). Selama bertugas di India beliau banyak menimba pengetahuan tentang candi dan arca yang kelak dapat bermanfaat bagi studi ikonografi dan candi di Indonesia.

Sekembalinya bertugas sebagai duta bangsa di bidang kebudayaan, pada tahun 1963 kembali ke Indonesia dan bertugas memimpin Bidang Arkeologi Klasik pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Pada waktu itu yang memimpin Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional adalah Soekmono. Beliau menjabat sebagai Kepala Bidang Arkeologi Klasik selama hampir 10 tahun (1963-1973).

Pada tahun 1973, Soekmono yang kala itu menjabat sebagai Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN), mendapat tugas sebagai Penanggung-jawab Proyek Pemugaran Candi Borobudur. Karena kesibukannya itu, jabatannya digantikan oleh Satyawati Suleiman. Satyawati Suleiman menjabat sebagai Kepala LPPN dari tahun 1973 hingga 1977. Di akhir masa jabatannya sebagai Kepala LPPN, lembaga tersebut berubah menjadi Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Perubahan ini disebabkan karena pemisahan LPPN menjadi dua lembaga yang berbeda tugas dan wewenangnya, yaitu Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional bertugas melakukan penelitian arkeologi, dan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala bertugas melakukan perlindungan dan pemugaran.

Selesai bertugas sebagai Kepala LPPN, Satyawati Suleiman masih berkiprah di bidang arkeologi sebagai Ahli Peneliti Utama di Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. (1977-1985). Pada waktu itu beliau menjabat juga sebagai Governing Board pada SEAMEO Project on Archaeology and Fine-Arts (SPAFA).

R.P. Soejono


Raden Pandji Soejono biasa dipanggil Pak Yono atau Oom Jon di kalangan dekatnya, lahir di Mojokerto pada 27 November 1926. Lulus sebagai sarjana arkeologi dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1959, dan mendapat gelar Doktor dari fakultas tersebut pada tahun 1977. Pengalamannya dalam penelitian prasejarah telah dimulai sejak tahun 1953 ketika masih menjadi mahasiswa dengan selalu menyertai van Heekeren melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia.

Pada tahun 1954, bersama-sama dengan Satyawati Suleiman, Soekmono, Uka Tjandrasasmita, Boechari, Basoeki, dan arkeolog Belanda ikut dalam ekspedisi ke Sumatra. Dalam tim tersebut beliau bersama van Heekeren dan Basoeki melakukan penelitian di situs-situs prasejarah di daerah Lahat (Sumatra Selatan). Sejak awal hingga sekarang, minat dan keahlian beliau ada di bidang prasejarah, khususnya Paleolitik.

Pada tahun 1956 beliau secara resmi mulai bekerja pada Dinas Purbakala, dan ketika pada akhir tahun tersebut van Heekeren meninggalkan Indonesia, maka pekerjaannya dilanjutkan oleh Soejono. Penelitian yang pertama dilakukannya ialah mengadakan survei di daerah Buni (Bekasi) pada tahun 1960.

Sebagai seorang arkeolog yang bekerja di lingkungan arkeologi, pada tahun 1960-1964 beliau menjabat sebagai Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Cabang Bali. Di wilayah kerjanya beliau dapat dengan leluasa melakukan penelitian yang lebih mendalam dan terencana pada situs-situs arkeologi yang terdapat di Bali. Dalam waktu yang relatif singkat, beliau berhasil mendata seluruh situs prasejarah mulai dari masa paleolitik hingga masa perundagian.

Karirnya sebagai seorang arkeolog yang bekerja di lembaga penelitian mencapai puncaknya pada tahun 1977, yaitu ketika diangkat menjadi Kepala Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Sebelumnya, ketika lembaga tersebut dikepalai oleh Satyawati Suleiman, beliau menjabat sebagai Kepala Bidang Prasejarah hingga tahun 1977. Di bawah kepemimpinan beliau Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional mendirikan dua buah Unit Pelaksana Teknik (UPT), yaitu Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Arkeologi Denpasar. Selain itu dibangun juga dua buah laboratorium, yaitu Laboratorium Paleoekologi dan Radiometri di Bandung dan Laboratorium Bio dan Paleoantropologi di Yogyakarta.

Uka Tjandrasasmita


Uka Tjandrasasmita lahir di Subang pada tanggal 8 Oktober 1930. Dalam bidang arkeologi karirnya dimulai pada tahun 1952 dengan bekerja di Dinas Purbakala. Sebagaimana halnya dengan Satyawati Suleiman dan R.P. Soejono, beliau berkesempatan untuk ikut dalam tim ekspedisi ke Sumatra pada tahun 1954. Dalam tim itu beliau termasuk anggota yang termuda dan masih duduk di bangku universitas. Pada tahun 1960 beliau berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dengan mengambil spesialisasi di bidang arkeologi islam.

Sejak tahun 1960-an hingga tahun 1978 beliau menjabat sebagai Kepala Bidang Arkeologi Islam pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Kemudian sejak dibentuk Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, beliau dipercaya menjabat sebagai Direktur pada Direktorat tersebut hingga tahun 1990.

Sebagai ilmuwan di bidang arkeologi, Uka Tjandrasasmita lebih mengkhususkan diri pada tinggalan-tinggalan budaya masa pengaruh Islam di Indonesia. Di Indonesia, Uka Tjandrasasmita dikenal sebagai arkeolog yang mengkhususkan diri pada perkotaan masa Islam di Nusantara. Buku pertamanya tentang kota Islam yang beliau tulis berjudul Kota-kota Muslim di Indonesia. Keahliannya di bidang arkeologi Islam lebih diperdalam lagi setelah selesai menjabat sebagai Direktur. Sejak tahun 1990, beliau lebih banyak mengajar dan membuat penelitian/tulisan tentang arkeologi Islam.

[Bambang Budi Utomo]
Kerani Rendahan pada
Puslitbang Arkeologi Nasional

(Sumber: indoarchaeology.com)
Read More......

Sejarah Institusi Arkeologi di Indonesia


Jalan-jalan arah ke barat,
Bulan satu terang cahaya.
Bermula dengan batu bersurat,
Sekarang ilmu di ruang maya.

Di kalangan purbakalawan, 14 Juni diperingati sebagai Hari Purbakala karena pada tanggal tersebut di tahun 1913 lahir sebuah institusi yang bergerak di di bidang kepurbakalaan. Kini usia institusi tersebut sudah 90 tahun. Jika usia 90 tahun bagi manusia merupakan usia yang sudah lanjut dan dianggap tidak produktif lagi, lain halnya dengan sebuah institusi. Semakin tua menjadi semakin maju dan mapan. Tetapi, apa yang terjadi dengan institusi purbakala di usianya yang menginjak 90 tahun? Tragis, memang! Bukan­nya maju dan berkembang, malahan diombang-ambingkan dan “diacak-acak” oleh sistem birokrasi yang tidak jelas dan tidak mengerti akan peranan kebudayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seyogyanya institusi ini berdiri sendiri dengan tenaga arkeolog yang memadai, karena obyek yang diurusi banyak dan keberadaannya hampir di setiap pulau di wilayah Nusantara. Penelitian arkeologi, pemugaran, preservasi, dan kon­servasi bangunan purbakala memerlukan tenaga ahli di bidangnya dan tidak dapat “diotonomikan” dengan melepaskannya kepada pihak yang tidak mempunyai pendidikan khusus dan tidak paham masalah kepurbakalaan.


1. Awal Berdirinya

Kelahiran institusi purbakala tidak lepas kaitannya dengan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia yang pada waktu itu memang sangat perduli akan tinggalan budaya nenek moyang bangsa yang dijajahnya. Sebelum institusi kepurbakalaan lahir, pada tahun 1901 pemerintah Hindia Belanda membentuk sebuah komisi yang bernama Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoera. Komisi ini bertugas menangani masalah-masalah kepurbakalaan yang ditemukan di Jawa dan Madura. Oleh pemerintah Hindia Belanda, Brandes diangkat sebagai Ketua Komisi dan dibantu oleh dua orang anggota, yaitu J. Knebel dan H.L. Leydie Melville. Brandes tidak lama menduduki jabatan Ketua Komisi. Pada tahun 1905, ia meninggal dunia dan jabatannya baru diisi pada tahun 1910 oleh Dr. N.J. Krom.

Pada awal menduduki jabatan sebagai Ketua Komisi, Krom menyadari bahwa tugas yang diembannya cukup berat. Karena itu harus dibentuk suatu lembaga oleh pemerintah. Atas perjuangannya, dengan surat keputusan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda No. 13 tanggal 14 Juni 1913 berdirilah Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indie sebagai badan tetap yang bertugas dalam bidang kepurbakalaan. Tugas dinas ini adalah (a) menyusun, mendaftar dan mengawasi peninggalan-peninggalan purbakala yang berada dalam wilayah Hindia-Belanda, (b) membuat rencana dan tindakan penyelamatan bangunan purbakala dari keruntuhan, (c) pengukuran dan penggambaran peninggalan purbakala serta menelitinya lebih dalam. Sebagai Kepala Oudheidkundige Dienst yang pertama adalah Dr. N.J. Krom yang menduduki jabatan ini hingga tahun 1915 karena harus kembali ke Belanda.

Dengan kembalinya Krom ke Belanda, diangkat Dr. F.D.K Bosch sebagai Kepala Oudheidkundige Dienst pada tahun 1916. Bosch memimpin lembaga ini selama sekitar 20 tahun. Selama kepemimpinannya banyak hal yang dilakukan untuk kemajuan ke­arkeo­logi­an di Hindia-Belanda ke arah kedewasaan melalui pemikiran di berbagai bidang, baik prasejarah, kesenian, arsitektur, kebudayaan, maupun epigrafi sehingga arkeologi Indone­sia mulai berdiri tegak sebagai ilmu dan sejajar dengan arkeologi di negara-negara lain.

Hasil pemikiran Bosch untuk arkeologi Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengetahuan tentang pening­galan purbakala untuk diajarkan kepada murid-murid sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Tingkat Atas.
  2. Merintis ke arah perkembangan baru dari arkeologi Indonesia
  3. Mendekatkan institusi purbakala kepada masyarakat, terutama kepada aparat Pamong Praja. Dikenalnya tinggalan purbakala di Pasemah (Sumatra Selatan), di Jambi, dan di Bali adalah berkat peran-serta masyarakat dalam membantu pekerjaan Oudheidkundige Dienst.
  4. Memberikan dan membangkitkan motivasi masyarakat akan pentingnya pening­galan purbakala. Misalnya, atas prakarsa Ir. H. Maclaine Pont dan dengan persetujuan sepenuhnya dari Oudheidkundige Dienst didirikan Oud­heid­kundige Vereeniging Majapahit (1924) yang berkedudukan di Trowulan (Jawa Timur) dengan pekerjaannya khusus melakukan penelitian di bekas ibukota kerajaan Majapahit.
  5. Melakukan usaha rekonstruksi dan restorasi bangunan-bangunan purbakala untuk dikembalikan seperti bentuknya semula, misalnya rekonstruksi Candi Naga dan Candi Angka Tahun dari kompleks Panataran (1917), dan Candi Plumbangan (1921). Sementara itu pekerjaan rekonstruksi sedang dilakukan di Candi Ngawen, Candi Merak, dan Candi Induk Lorojonggrang.
  6. Diundangkannya Monumenten Ordonantie 1931 (Staatsblad 1931 No. 238) yang menjamin pengawasan dan perlindungan peninggalan-peninggalan pur­ba­­­kala (pada tahun 1992 peraturan ini menjadi Undang-undang No. 5 tentang Benda Cagar Budaya).


2. Masa Peralihan

Dalam perjalanan sejarahnya, Oudheidkundige Dienst mengalami pasang-surut tergantung dari pemerintah yang berkuasa, tetapi tugasnya tetap mengurusi barang-barang purbakala. Pada waktu pendudukan Jepang, Oudheidkundige Dienst namanya berubah dan lebih menjurus kepada mengurusi barang purbakala, yaitu Kantor Urusan Barang-barang Purbakala. Nama dan tugasnya berlangsung selama masa pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan (1942-1947).

Pada tahun 1946 terjadi dualisme instansi, satu di bawah pemerintah Indonesia yang tetap memakai nama Kantor Urusan Barang-barang Purbakala, dan satu di bawah pemerintah Belanda yang masih ingin berkuasa di Indonesia. Di bawah Belanda namanya tetap Oudheidkundige Dienst dengan dikepalai oleh Ir. J.L. van Romondt. Karena tidak mempunyai arsip sebagai akibat peperangan, van Romondt membuka kantor cabang di Makassar.

Setelah keadaan pergolakan agak mereda, pada tahun 1947 nasib kepurbakalaan Indonesia diurus oleh Oudheidkundige Dienst dengan pimpinannya Dr. A.J. Bernet Kempers. Masa tenang berlangsung hingga tahun 1950. Kemudian pada tahun ini namanya berubah lagi menjadi Bahagian Purbakala dari Jawatan Kebudayaan Republik Indonesia Serikat. Keadaan ini tidak berlangsung lama. Kemudian pada tahun 1951 organisasi sudah lebih mantap, dan namanya kembali lagi menjadi Oudheidkundige Dienst (Dinas Purba­kala). Lembaga ini dipimpin oleh Kempers hingga tahun 1953. Setelah itu digantikan oleh tenaga Indonesia, yaitu Drs. R. Soekmono yang telah lulus dari Universitas Indonesia.

Dinas Purbakala berada di bawah Jawatan Kebudayaan, Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Nama instansi ini di bawah kepemimpinan Drs. Soekmono terus disandang hingga tahun 1958. Setelah itu kembali diubah menjadi Dinas Purbakala dan Peninggalan Nasional (DPPN) hingga tahun 1963/1964. Pada masa ini terdapat tiga buah kantor cabang, yaitu DPPN cabang Prambanan, DPPN cabang Gianyar, dan DPPN cabang Mojokerto.


3. Lembaga Penelitian

Masih di bawah kepemimpinan Soekmono, setelah tahun 1963/1964, DPPN kembali berubah menjadi Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN). Nama ini terus disandang hingga tahun 1975. Di akhhir masa jabatan Drs. Soekmono, di bawah kepemimpinan Dra. Ny. Satyawati Suleiman terjadi re-strukturisasi organisasi yang meng­akibatkan perubahan nama. Sesuai dengan tuntutan perkembangan penelitian, LPPN fung­sinya dipecah menjadi dua bagian, yaitu Direktorat Sejarah dan Purbakala (DSP) yang menangani masalah-masalah administratif dan perlindungan kepurbakalaan di Indonesia dan Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (Pus. P3N). Pada tahun 1975 dengan terbitnya Surat Keputuan Mendikbud No. 079/0/1975 mengenai pembentukan Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan penelitian arkeologi.

Perubahan nama menjadi Pus. P3N tidak berlangsung lama. Pada tahun 1978, ketika dipimpin oleh Dr. R.P. Soejono nama lembaga berubah lagi menjadi Pusat Pene­litian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Secara organisasi berada di bawah Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Identitas sebagai lembaga penelitian arkeologi menjadi lebih jelas. Pada saat itu dibuka dua Unit Pelaksana Teknis (UPT) (Balai Arkeologi Denpasar dan Balai Arkeologi Yogyakarta) dan dua laboratorium (Lab. Paleo-ekologi dan Radiometri di Bandung dan Lab. Bio-antropologi dan Paleo-antropologi di Yogyakarta). Kerjasama dengan luar negeri yang telah dirintis oleh Dra. Ny. Satyawati Suleiman lebih diperluas lagi pada masa Dr. R.P. Soejono.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dipimpin oleh Kepala Pusat dalam jenjang eselon IIA. Sebagai pelaksana tugas dalam bidang penelitian arkeologi nasional, Puslit Arkenas, mempunyai kedudukan langsung di bawah Menteri, namun dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Kebudayaan.

Puslit Arkenas mempunyai tugas melaksanakan kegiatan dan membina penelitian dalam bidang arkeologi nasional, dan mempunyai fungsi:
  1. Merumuskan kebijakan menteri dan kebijakan teknis dalam bidang penelitian arkeologi nasional;
  2. Melaksanakan dan membina penelitian arkeologi nasional;
  3. Melaksanakan urusan tata usaha pusat.
Sementara itu, Direktorat Sejarah dan Purbakala pada tahun 1978 ketika dipim­pin oleh Drs. Uka Tjandrasasmita, nama lembaga berubah menjadi Direktorat Perlin­dungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (Ditlinbinjarah). Lembaga ini secara organisasi berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendi­dikan dan Kebudayaan. Sebelum tahun 1978 lembaga ini mempunyai UPT yang bernama Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) di Prambanan (Jawa Tengah), Bogem (D.I. Yogyakarta), Trowulan (Jawa Timur), Gianyar (Bali), dan Makassar (Sulawesi Selatan). Kemudian pada tahun 1989 ditambah lagi dengan UPT di Banda Aceh (Nangroe Aceh Darussalam), Batusangkar (Sumatra Barat), Jambi (Jambi), dan Banten (Banten).

Sejak masa kepemimpinan Dra. Ny. Satyawati Suleiman dan dilanjutkan Dr. R.P. Soejono dilakukan kerjasama penelitian arkeologi, antara lain dengan Ecole franςaise d’Extrê-Orient (EFEO, Perancis), SEAMEO Project in Arcaheology and Fine Arts (SPAFA, Proyek kerjasama Mentri-mentri Pendidikan dan Kebudayaan Asia Tenggara di bidang arkeologi dan kesenian), Toyota Foundation, Japan Foundation, dan Ford Foundation. Melalui kerja­sama ini bidang penelitian arkeologi maju pesat. Kerjasama masih terus berlanjut sampai dengan masa kepemimpinan Dr. Hasan Muarif Ambary.

Puslit Arkenas di bawah kepemimpinan Dr. Hasan Muarif Ambari berkembang lebih luas lagi. Pada saat ini dibuka delapan UPT, yaitu Balai Arkeologi Palembang, Balai Arkeologi Medan, Balai Arkeologi Bandung (Lab, Palrad terpaksa dilikuidasi dan diga­bungkan dengan Balai), Balai Arkeologi Banjarmasin, Balai Arkeologi Manado, Balai Arkeologi Ambon, dan Balai Arkeologi Jayapura. Lab. Bio-antropologi dan Paleo-antro­pologi dilepas dan dikembalikan ke Universitas Gajah Mada.


4. Masa Sekarat

Krisis moneter yang berkepanjangan yang mengakibatkan pergolakan politik, terjadi perubahan kekuasaan dan perubahan dalam organisasi pemerintahan. Pada tahun 2000 Puslit Arkenas yang semula berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kemudian berada dalam struktur di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Namanya berubah menjadi Pusat Arkeologi. Sementara itu, Ditlinbinjarah yang juga berada di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, dan namanya berubah menjadi Direktorat Purbakala.

Pada tahun 2001 terjadi lagi perubahan kekuasaan yang disusul dengan perubah­an struktur organisasi pemerintahan. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata berubah men­­jadi Mentri Negara Kebudayaan dan Pariwisata. Pusat Arkeologi juga berubah menjadi Pusat Penelitian Arkeologi, dan Direktorat Purbakala berubah menjadi Direktorat Purba­kala dan Permuseuman. Kedua instansi tersebut berada dalam struktur Deputi Bidang Peles­tarian dan Pengembangan Kebudayaan, Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata. UPT dari Direktorat Purbakala dan Permuseuman yang semula bernama Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala kemudian berubah menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.

Dimulai dengan kabar burung yang beredar pada bulan April-Mei 2003, menga­barkan bahwa akan terjadi penghapusan Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata dan digabungkan kepada Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata. Kabar burung ini ternyata menjadi kenyataan setelah turun Keputusan Presiden No. 29, 30, 31, dan 32 tertanggal 26 Mei 2003 yang isinya tentang pembubaran Badan Pengembangan Kebudaya­an dan Pariwisata dan dilebur pada Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata. Pada struktur yang baru ini nasib Pusat Penelitian Arkeologi berubah menjadi Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional dan saudaranya Direktorat Purbakala dan Permuseuman menjadi Asisten Deputi Urusan Purbakala dan Permuseuman berada di bawah Deputi Bidang Sejarah dan Purbakala. Balai Arkeologi dan Balai Pelestarian Peninggalan Purba­kala merupakan UPT dari Deputi Bidang Bidang Sejarah dan Purbakala. Kata “Urusan” mengingatkan kita pada Kantor Urusan Barang-barang Purbakala ketika Zaman Jepang (1942-1947). Hanya karena negara menjelang pailit, haruskah kita kembali seperti pada Zaman Jepang?

Sebagai sebuah institusi penelitian, Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional dan Unit Pelaksana Teknisnya mempunyai tenaga peneliti yang cukup memadai sebagai­mana tercantum dalam tabel berikut ini. Peneliti-peneliti tersebut, selain berlatar belakang pendidikan arkeologi, juga ada yang berlatar belakang pendidikan geologi, biologi, sejarah, dan antropologi. Seluruhnya tersebar dalam berbagai jenjang Jabatan Fungsional, mulai dari Asisten Peneliti, Ajun Peneliti, Peneliti, dan Ahli Peneliti.

Akhirnya, dengan menyandang nama Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional, dapatkah institusi tersebut mengembangkan penelitian arkeologi sehingga dapat sejajar dengan institusi penelitian arkeologi di negara lain? Saya khawatir tidak dapat berbuat banyak, apalagi di dalam Tugas dan Fungsinya (Tupoksi) tidak ada kata “penelitian”. Kerjasama dengan institusi penelitian asing, seperti dengan EFEO (Perancis) dan SPAFA (negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN), perlu diperbarui dengan format yang baru. Sementara Bosch pada tahun 1916 telah berhasil memperkenalkan pentingnya tinggalan budaya masa lampau bagi perkembangan budaya dan jatidiri bangsa, mengapa pada saat Negara Kesatuan Republik Indonesia menghadapi rongrongan dis-integrasi, institusi penelitian arkeologi Indonesia menjadi terpuruk?

Bambang Budi Utomo
Kerani Rendahan pada
Puslitbang Arkeologi Nasional

(Sumber: indoarchaeology.com)

Read More......

Kamis, 19 Maret 2009

Kalau Negara di Nusantara Ini Bernama Indonesia Raya atau Melayu Raya


Keris bertuah keris pusaka,

Keris ditempa berkeluk empat.
Susur sejarah kita merdeka,
Hormat bersama janji sepakat.

Lebih dari 1324 tahun yang lalu, di belahan barat Nusantara ada sebuah kerajaan bangsa Melayu yang cukup disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangganya, yaitu Sriwijaya. Kerajaan ini menguasai jalur-jalur perdagangan penting di Nusantara. Armadanya berlalu-lalang di wilayah perairan Asia Tenggara. Terinspirasi dengan kejayaan kerajaan tersebut, pada tahun 1930-an Abdul Hadi Hassan seorang pengajar Maktab Melayu Melaka, dalam bukunya yang berjudul Sejarah Alam Melayu mencetuskan ide terbentuknya Negara Melayu Raya atau Negara Indonesia Raya. Ide ini kemudian diteruskan oleh kelompok politikus muda Ibrahim Haji Yaacob, Pemimpin Kesatuan Muda Melayu.

Janiji Perdana Menteri Jepang Koiso, pada 7 September 1944 untuk memberi kemerdekaan kepada Indonesia, telah memberi peluang kepada Ibrahim dan kawan-kawannya untuk merdeka bersama-sama dengan Indonesia. Keinginan ini belum disetujui oleh pemerintah pendudukan Jepang. Namun pada akhirnya disetujui karena kemerdekaan Tanah Melayu bukan sebagai satu unit negara yang tersendiri, tetapi merupakan bagian dari Indonesia Raya dengan Indonesia sebagai pemimpinnya.

Indonesia Raya atau Melayu Raya menurut konsep Ibrahim dkk merupakan satu negara rumpun bangsa Melayu yang meliputi seluruh daerah Kepulauan Melayu (Nusantara) dan Asia Tenggara termasuk Filipina. Alasannya, karena ada persamaan yang jelas dalam empat aspek, yaitu daerah, darah, kebudayaan, dan bahasa. Persamaan-persamaan inilah yang menjadikan bangsa ini menjadi bangsa Melayu


Pertemuan Taiping

Mungkin banyak orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa pada tanggal 13 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta singgah di Taiping (Perak, Malaysia) dalam perjalanannya kembali ke tanah air dari lawatannya ke Saigon (Vietnam). Mereka ke Taiping untuk “bertemu” dengan tokoh pemuda Melayu Ibrahim Haji Yaacob dan Dr. Burhanuddin. Pertemuan yang diatur oleh pejabat administrasi militer Jepang untuk daerah jajahannya, dihadiri oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mayor Jenderal Umezu, Dr. Burhanuddin, dan Ibrahim Haji Yaacob.

Apa yang dibicarakan dalam pertemuan itu, adalah mengenai pembentukan negara Indonesia Raya atau Melayu Raya. Ibrahim menganggap penting pertemuannya dengan Soekarno karena sesuai dengan rencana Jepang untuk memerdekakan Tanah Melayu di bawah Indonesia. Dalam pertemuan yang berlangsung selama 45 menit di bandara Taiping, Ibrahim menjelaskan bahwa Soekarno sangat gembira dengan kehendaknya. Dengan menggenggam erat tangan Ibrahim, Soekarno mau supaya mereka “membentuk sebuah negara ibu pertiwi bagi rumpun bangsa Indonesia”. Benarkah?


Puak Melayu

Melayu dalam perwujudannya mempunyai tiga konsep yang masing-masing mengacu pada bentuk yang berbeda, yakni ras sebagai suatu ciri-ciri fisik secara biologi yang membedakannya dengan ras lain dengan ciri-ciri fisik dari kelompok lain; suku- bangsa sebagai suatu jatidiri yang lebih mengacu pada ciri-ciri fisik, gaya bicara yang pada akhirnya sebagai perwujudan dalam tingkat sosial dengan dasar askriptif dan kemudian kebudayaan yang mengacu pada model-model dan cara memahami serta menginterpretasi lingkungan yang kemudian dipakai untuk mendorong terwujudnya kelakuan dan benda-benda budaya.

Ketiga konsep ini menjadi satu dalam memahami apa yang disebut sebagai orang Melayu, dan tentunya penjabaran masing-masing konsep serta keterkaitannya satu dengan lainnya akan sangat berbeda-beda keluasannya. Seperti bila bicara Melayu secara ras, maka yang terjadi akan melewati areal kesuku-bangsaan Melayu itu sendiri karena melibatkan suku-suku bangsa lainnya seperti Minangkabau, Batak, Jawa, Sunda sebagai paparan daerah ras. Sedangkan bila mengacu atau berbicara Melayu secara suku-bangsa maka yang terdeteksi adalah adanya pengelompokan-pengelompokan jatidiri Melayu ini yang didasari pada informasi yang didapat dari interaksi kelompok-kelompok tersebut dengan suku bangsa lainnya, seperti adanya suku-bangsa Melayu di Sumatera dan Kalimantan. Kesemua informasi tersebut didapat dari serentetan hubungan dengan suku-bangsa lainnya di daerah-daerah setempat. Apabila berbicara Melayu secara kebudayaan maka akan tampak perbedaan-perbedaan yang besar antara satu kelompok Melayu dengan kelompok Melayu lainnya, karena masing-masing kelompok berada dan hidup dalam lingkungan alam, sosial dan binaan yang berbeda-beda.

Kelompok Melayu yang berada di daerah Jambi, lebih banyak bersentuhan dengan kelompok Kubu, sehingga mempunyai model-model yang berbeda dengan kelompok-kelompok Melayu yang bersentuhan dengan kelompok Sakai, atau kelompok Minangkabau, dsb. Pada umumnya kelompok-kelompok Melayu ini dimana pun mereka tinggal akan selalu diidentikkan dengan Islam. Seperti Melayu sama dengan Islam di daerah Sakai, atau Islam sama dengan Melayu di daerah Kubu (Warsi), Islam sama dengan Melayu di Kalimantan Timur dst.

Bila ditelusuri persebaran orang Melayu secara suku-bangsa maka akan dapat dilihat dari model-model mitologi yang menyertainya yang dapat dijadikan acuan kesuku-bangsaan tentang penguasaan wilayah dimana kelompok tersebut menetap dan tinggal. Dari mitologi yang ada maka bisa tergambarkan kapan dan sampai dimana batas-batas kesuku-bangsaan Melayu tersebut ada dan kelompok mana yang menjadi ‘tetangga’nya. Mitos dan kosmos merupakan fokus dalam suatu kegiatan ritus yang dilakukan oleh anggota masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia sebagai mahluk sosial, bagaimana cara manusia memahami diri mereka, keberadaannya sebagai anggota masyarakat dan di dunia sebagai satu kesatuan. Hasil pemahaman manusia terhadap alam sekitarnya dimanifestasikan kedalam kehidupan sosial dan berusaha menjelaskan dan menciptakan pembenaran keadaannya sebagai masyarakat, baik bentuk asal maupun cara kehidupannya. Hasil pemahaman tersebut biasanya dimanifestasikan dalam bentuk cerita yang diinformasikan dari orang ke orang.

Kalau ditelusuri persebaran puak Melayu dengan ras Mongoloid dari sisi rumpun bahasa di Nusantara, maka cakupannya seluruh Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Khusus untuk Irian, cakupan puak Melayu hanya ada di daerah pesisir pantai utara di bekas wilayah Kesultanan Tidore. Sementara itu di kawasan pedalaman Irian didiami oleh suku-suku bangsa dari ras Austromelanesid.


Wilayah Rumpun Bahasa Austronesia

Memang, kalau kita memandang Republik Indonesia dari sisi ras, maka Irian tidak termasuk dalam Republik Indonesia. Isu inilah yang dihembuskan Belanda untuk memecah belah. Dalam usahanya mempertahankan Irian, Belanda menyatakan bahwa suku-suku di Irian bukan suku Melayu yang menjadi asal usul orang Indonesia. Secara etnik dan budaya suku-suku di Irian berasal dari suku Melanesia. Karena itu Irian tidak bisa diserahkan kepada Republik Indonesia.

Alasan tersebut dapat dikatakan mengada-ada karena sejak 1828 Irian yang pada waktu itu bernama Nieuw Guinea sudah menjadi bagian dari Nederlansch Indië dengan nama Residentie Nieuw Guinea. Apalagi sejak tahun 1927 Boven Digoel (kawasan berawa-rawa di Nieuw Guinea) dijadikan tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan.

Angan-angan Abdul Hadi Hasan yang kemudian diteruskan oleh Ibrahim Haji Yaacob dkk kalau sampai terjadi sangat merugikan Indonesia. Di satu pihak memang wilayah Indonesia sampai ke wilayah yang sekarang menjadi Malaysia dan Filipina, tetapi boleh jadi Nusatenggara, sebagian Maluku, dan Irian Jaya tidak termasuk Indonesia. Ketiga wilayah tersebut tidak dimukimi oleh orang-orang Melayu ras Mongoloid. Padahal Irian Jaya merupakan wilayah yang kaya akan sumberdaya alam, baik tambang maupun hutan. Untunglah para pendiri bangsa Indonesia tidak merespon keinginan mereka, dan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 beberapa hari kemudian setelah pertemuan Taiping dengan wilayahnya bekas wilayah Nederlansch Indië.

Bambang Budi Utomo
Kerani Rendahan pada
Puslitbang Arkeologi Nasional

(Sumber: indoarchaeology.com)

Read More......

Dari Timur Dekat ke Asia Tenggara, Tenggelam di Perairan Cirebon


Oleh: Bambang Budi Utomo


Samudera luas tepiannya indah.
Semangat bahari menentang maut.
Pabila nafsu menguasai kaidah.
Habis sudah kekayaan laut

Pengantar

Harta Karun, demikian populernya untuk menyebut Benda Berharga Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT). Kedua sebutan ini salah, setidaknya menurut pandangan para purbakalawan atau kalangan ilmuwan arkeologi dan sejarah. Sebutan yang sudah kadung “merakyat” ini seharusnya “Benda Cagar Budaya”, sebutan untuk benda tinggalan budaya masa lampau yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Selama dipandang sebagai Harta Karun atau BMKT (Sunken Treasures), maka penjualan melalui proses pelelangan akan terus berlangsung dengan tidak mengacuhkannya nilai-nilai ilmu pengetahuan. Itulah yang akan dan sedang terjadi pada Benda Cagar Budaya yang ditemukan di wilayah perairan Cirebon!

Pekerjaan pengangkatan kargo kapal yang tenggelam dilakukan oleh PT Paradigma Putra Sejahtera bekerjasama dengan Cosmix (Belgia) dimulai pada April 2004 dan berakhir pada Oktober 2005. Kargo kapal yang tenggelam di perairan sekitar 70 km dari pantai Cirebon jumlahnya 490.000 buah, terdiri dari keramik, glassware, stoneware, perhiasan, dan barang-barang dari logam. Artefak-artefak tersebut dua bulan lagi akan dilelang dengan nilai jualnya ditaksir sekitar US $ 40.000.000,-


Pedagang Islam

Ada suatu hipotesa bahwa Islam berkembang di Nusantara (Indonesia) melalui jalur-jalur perdagangan. Para saudagar Islam berniaga ke Nusantara sambil menyebarkan agama Islam. Dalam pandangan agama Islam, setiap insan termasuk para pedagang Muslim mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ajaran Islam kepada siapapun sesuai dengan cara yang baik dan persuasif.

Sumber-sumber sejarah yang merupakan catatan harian dari orang-orang Tionghoa, Arab, India, dan Persia menginformasikan bahwa tumbuh dan berkembangnya perdagangan melalui laut antara Teluk Persia dengan Tiongkok sejak abad ke-7 Masehi, disebabkan karena dorongan pertumbuhan dan perkembangan imporium-imporium besar di ujung barat dan ujung timur benua Asia. Di ujung barat terdapat emporium Islam di bawah kekuasaan Khalifah Bani Umayyah (660-749 Masehi) kemudian Bani Abbasiyah (750-870 Masehi). Di ujung timur Asia terdapat kekaisaran Tiongkok di bawah kekuasaan Dinasti T’ang (618-907 Masehi). Kedua emporium itu mungkin yang mendo¬rong majunya perdagangan Asia, tetapi jangan dilupakan peranan Śrīwijaya sebagai sebuah emporium yang menguasai Selat Melaka pada abad ke-7-11 Masehi. Emporium ini merupakan kerajaan maritim yang menitik beratkan pada pengembangan pelayaran dan perdagangan.

Nama Persia yang sekarang disebut Iran, menurut catatan harian Tionghoa adalah Po-sse atau Po-ssu yang biasa diidentifikasikan dengan kapal-kapal Persi. Sering pula diceriterakan sama-sama dengan sebutan Ta-shih atau Ta-shih K’uo yang biasa diidentifikasikan dengan Arab. Po-sse dapat juga dimaksud¬kan dengan orang-orang Persia, yaitu orang-orang Zoroaster yang berbicara dalam bahasa Persi, orang-orang Muslim asli Iran. Mereka dapat juga digolongkan pada orang-orang yang disebut Ta-shih atau orang-orang Arab. Orang Zoroaster dikenal oleh orang Arab sebagai orang Majus yang merupakan mayoritas penduduk Iran setelah pengislaman.

Kehadiran orang-orang Po-ssu dan Ta-shih di bandar-bandar sepanjang tepian Selat Melaka, pantai barat Sumatera, dan pantai timur Semenanjung Tanah Melayu sampai ke pesisir Laut Tiongkok Selatan diketahui sejak abad ke-7 Masehi. Mereka dikenal sebagai pedagang dan pelaut ulung. Sebuah catatan harian Tionghoa yang men¬ce¬riterakan perjalanan pendeta Buddha I-tsing tahun 671 Masehi dengan menum¬pang kapal Po-sse dari Kanton ke arah selatan, yaitu ke Fo-shih (Śrīwijaya). Kemudian pada tahun 717 Masehi diberitakan pula tentang kapal-kapal India yang berlayar dari Srilanka ke Śrīwijaya dengan diiringi 35 kapal Po-sse.

Hubungan pelayaran dan perdagangan antara bangsa Arab, Persia, dan Śrīwijaya rupa-rupanya dibarengi dengan hubungan persahabatan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya beberapa surat dari Mahārāja Śrīwijaya yang dikirim¬kan melalui utusan kepada Khalifah Umar ibn ‘Abd. Al-Aziz (717-720 Masehi). Isi surat tersebut antara lain tentang pemberian hadiah sebagai tanda persahabatan.

Muatan kapal yang tenggelam di perairan Cirebon dapat menunjukan asalnya, genta, wajra, dan arca dewi mungkin dari India.

Bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan kehadiran pedagang Po-sse di Śrīwijaya dan Mālayu adalah ditemukannya artefak dari gelas dan kaca berbentuk vas, botol, jambangan dll di Situs Barus (pantai barat Sumatra Utara) dan situs-situs di pantai timur Jambi (Muara Jambi, Muara Sabak, Lambur). Barang-barang tersebut merupakan komoditi penting yang didatangkan dari Persia atau Timur Tengah dengan pelabuhan-pelabuhannya antara lain Siraf, Musqat, Basra, Kufah, Wasit, al-Ubulla, Kish, dan Oman. Dari Nusantara para pedagang tersebut membawa hasil bumi dan hasil hutan. Hasil hutan yang sangat digemari pada masa itu adalah kemenyan dan kapur barus.

Hubungan politik bahkan hubungan keluarga antara Śrīwijaya dan Matarām di Jawa agknya cukup erat. Pada sekitar abad ke-8-9 Masehi di kedua kerajaan itu berkuasa dinasti Śailendra. Tidak mustahil hubungan perdagangan melalui laut juga berlangsung. Hingga saat ini belum diketahui pelabuhan-pelabuhan di Pulau Jawa ketika dinasti Śailandra berkuasa. Pada relief Candi Borobudur digambarkan jenis-jenis alat angkutan air, mulai dari sampan sampai kapal samudra. Penggambaran ini jelas menunjukkan bahwa Matarām sebagai kerajaan agraris juga memperhatikan perdagangan melalui laut.

Jauh sebelum Matarām, sebuah berita Tionghoa menyebutkan: Jawa atau Holing pada tahun 674 diperintah oleh seorang ratu yang bernama Simo. Pemerintahannya sangat tegas. Barang yang jatuh di jalan tidak ada yang berani mengambil. Berita tentang Ratu Simo terdengar oleh seorang Pangeran Ta-shih (Arab). Ia dengan sengaja menjatuhkan sekantung emas di jalan. Beberapa lama sekantung emas tersebut masih ada, sampai akhirnya secara tidak sengaja putra sang Ratu menendangnya. Oleh sang Ratu putranya kemudian dihukum dengan memotong ibu jari kakinya. Mendengar berita itu, Pangeran dari Ta-shih menjadi takut dan tidak jadi menyerang Holing.

Dari berita itu dapat diketahui bahwa di Jawa pada abad ke-7 Masehi sudah ada orang Arab. Kedatangan mereka sejalan dengan aktivitas perdagangan pada masa itu. Meskipun demikian, hingga kini belum diketahui di mana lokasi pelabuhan Matarām pada masa itu. Ada yang menduga di daerah sekitar Pekalongan, karena di daerah itu ditemukan prasasti keluarga Śailendra tertua yang berbahasa Melayu kuna.

Keberadaan kerajaan Matarām di Jawa Tengah berlangsung hingga abad ke-10 Masehi. Sebagai akibat bencana alam meletusnya Gunung Merapi, pusat pemerintahan Matarām dipindahkan ke Jawa Timur. Pada masa pemerintahan di Jawa Timur, Dinasti Śailendra tidak berkuasa lagi. Sebagai gantinya yang berkuasa adalah Dinasti Iśana dengan pendirinya Sindok. Pada masa sebelum pemerintahan Airlangga, di Jawa Timur telah dikenal pembagian fungsi pelabuhan sesuai dengan kedatangan kapal. Pelabuhan Hujunggaluh yang merupakan pelabuhan sungai (Sungai Brantas) letaknya di sekitar Mojo¬kerto diatur untuk pelabuhan antar pulau, sedangkan pelabuhan Kambangputih yang letaknya di pesisir Tuban diatur untuk pelabuhan antarbangsa.


Jalur Pelayaran

Aktivitas niaga dari orang-orang Timur Dekat diketahui sejak sekitar abad ke-6-7 Masehi. Mereka angkat sauh dari pelabuhan-pelabuhan di Siraf, Musqat, Basra, Kufah, Wasit, al-Ubulla, Kish, dan Oman dengan membawa barang dagangan dari tempat asalnya, misalnya gelas/kaca Persia serta manik-manik kaca dan batu.

Di sepanjang jalur pelayaran menuju Asia Tenggara, mereka singgah di pelabuhan-pelabuhan Gujarat, Arikamedu (Pondicherry, India Selatan), Kalah (Kedah, Malaysia), dan terus menuju perairan Nusantara. Pada pelabuhan yang disinggahi mereka menjual barang-barang dari tempat asalnya. Dari pelabuhan yang disinggahi mereka juga membeli produk setempat untuk dijual di pelabuhan berikutnya. Ada juga muatan yang bukan barang dagangan, misalnya barang-barang untuk keperluan upacara keagamaan. Karena itulah kargo kapal isinya bermacam-macam termasuk keramik sebagai barang dagangan.

Persia dikenal sebagai negeri yang banyak menghasilkan produk dari bahan kaca, seperti wadah dan manik-manik kaca. Barang-barang wadah yang dibuat dari kaca dapat dikatakan langka. Mungkin karena mudah pecah (fragile) jumlahnya sangat terbatas. Di beberapa situs arkeologis, barang-barang kaca Persia sangat jarang ditemukan. Pada kargo kapal yang ditemukan di perairan Cirebon, barang-barang kaca ini jumlahnya cukup banyak, terdiri dari bentuk-bentuk vas, botol, dan jambangan kecil. Sebagian besar ditemukan dalam keadaan pecah.

Pada salah satu pelabuhan di India agaknya kapal tersebut memuat manik-manik, batu permata, dan benda-benda upacara agama Hindu (arca, lonceng, dan wajra). India juga merupakan tempat penghasil manik-manik, baik manik-manik kaca maupun manik-manik batu (agate dan carnelian). Kota pelabuhannya antara lain Cambay dan Arikamedu (Pondicherry). Manik-manik carnelian banyak ditemukan di situs-situs arkeologi di pantai barat Semenanjung Malaysia (Situs Sungai Mas, Kedah) dan pantai timur Sumatra (Situs Karangangung dan Air Sugihan, Musi Banyuasin).

Mengenai manik-manik yang sebagian besar berbentuk bulat, diduga merupakan manik-manik untuk tasbih. Kawasan Timur Dekat (Irak dan Iran) juga menghasilkan manik-manik dari bahan kaca. Bentuknya bulat dan berwarna-warni. Ada juga manik-manik yang di bagian dalamnya terdapat lapisan emas.

Barang-barang tembikar yang juga termasuk muatan kapal adalah barang dagangan. Pengapalannya dilakukan di pelabuhan Arikamedu. Dari tempat ini sejak abad pertama masehi sudah dikenal sebagai pelabuhan tempat pengapalan barang-barang tembikar. Tembikar dari Arikamedu juga ditemukan di situs-situs pantai timur Sumatra, pantai utara Jawa Barat, dan pantai utara Bali.

Kekaisaran Tiongkok mulai mengeksport barang keramik secara besar-besaran sejak masa Dinasti T’ang (618-907 AD). Kapal yang tenggelam di perairan Cirebon sebagian besar muatannya barang-barang keramik. Terdiri dari tempayan, mangkuk, buli-buli, piring, dan kendi. Bentuk dan asal kendi yang ditemukan juga mempunyai keragaman. Kendi jenis Kundika dengan cucuk (corot) yang melengkung ke atas dari Tiongkok, dan jenis kendi putih Thailand selatan. Mungkin barang-barang keramik ini dikapalkan di pelabuhan Guangzhou atau pelabuhan-pelabuhan di Tiongkok Selatan. Atau bisa juga dari salah satu pelabuhan di Semenenjung Tanah Melayu, sebelum melanjutkan pelayarannya ke Jawa.

Hubungan perdagangan antara Arab, Persia, India dengan Tiongkok sudah berlangsung lama. Pelabuhan di Tiongkok Selatan yang cukup dikenal pada masa itu adalah Guangzhou. Dari pelabuhan ini barang-barang produk Kekaisaran Tiongkok dikapalkan. Sebagai sebuah pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai bangsa, tidak mustahil berkembang pula kebudayaan dari bangsa pendatang. Demikian juga karena ada kontak dagang dengan kerajaan yang sudah memeluk Islam, tidak mustahil di Guangzhou hidup kelompok masyarakat yang beragama Islam.

Melihat kargo dan tempat tenggelamnya, agaknya kapal tersebut hendak menuju ke Jawa bagian tengah atau timur. Hingga kini belum diketahui di daerah mana di Jawa Tengah lokasi pelabuhan. Dapat berlokasi di daerah Pekalongan, dan dapat pula berlokasi di daerah sekitar Gunung Muria hingga Lasem. Gunung Muria pada sekitar abad ke-9 Masehi masih berupa sebuah pulau. Mungkin kapal-kapal yang menuju ke arah timur dapat melalui selat yang memisahkan daratan Jawa dan “Pulau Muria”. Di Jawa bagian timur pelabuhan antarabangsa yang cukup ramai adalah pelabuhan Kambangputih. Sebagian besar masyarakat Jawa pada masa itu masih menganut agama Hindu. Di daerah pesisir mungkin sudah memeluk agama Islam.


Status dan Legitimasi

Di antara runtuhan kapal yang tenggelam di perairan Cirebon, ada dua jenis benda yang mungkin tidak termasuk dalam barang komoditi. Kedua jenis barang tersebut adalah hulu pedang/pisau yang dibuat dari logam berlapis emas dan dari kristal, serta stempel dari batu sabun (soapstone). Kedua macam benda tersebut merupakan satu kesatuan yang dipegang oleh seseorang yang paling berwenang di kapal.

Orang-orang di dalam sebuah kapal merupakan satu komunitas tersendiri, ada nakhoda, kelasi, dan penumpang. Semuanya itu dipimpin oleh seorang nakhoda. Dialah yang memegang kendali di kapal. Sebagai simbol status nakhoda memegang pedang dan pisau. Hulu pedang dan pisau dibuat dari bahan yang berharga. Tidak nampak benda tersebut dipakai untuk berperang.

Ibn Khordadhbeh, seorang pejabat yang dilantik khalifah Dinasti Abassiah pada sekitar abad ke-9 Masehi, adalah seorang pedagang yang pernah berkunjung ke Zabag (Śrīwijaya). Dia menulis sebuah buku yang berjudul Kitab al-masalik wa-l-mamalik (Buku tentang Jalan-jalan dan Kerajan-kerajaan). Buku ini berisi tentang semua pos-pos pergantian dan jumlah pajak di setiap tempat yang dikunjunginya. Sebagai seorang pejabat yang dilantik oleh Khalifah tentunya mempunyai tanda legitimasi dan atribut lain yang dibawa dan disandangnya.

Beberapa atribut yang dimiliki oleh seorang pejabat di dalam lingkungan sebuah kapal. Stempel bertuliskan: al-mlku; al-wahid; al-qahhar”

Stempel yang dibuat dari batusabun (soapstone) berwarna hitam, berbentuk empat persegi panjang (4,2 x 6,7 cm) dan tebal 0,7 cm. Pada salah satu sisinya (dalam sepasang bingkai bujursangkar 0,8 x 1,0 cm) terdapat kalimat yang ditulis dalam aksara Arab bergaya kufik: “al-mlku; lillah al-wahid; al-qahhar” yang berarti “Semua kekuasaan itu milik Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa” dalam dua buah bingkai empat persegi. Kalau diterjemahkan secara harfiah, maka kalimat itu mengandung asma’ul husna, tepatnya merupakan sifat yang dimiliki mausuf (Allah) yang memiliki kekuasan. Tetapi kalau ditafsirkan dengan konteks kapal dan hulu pedang/pisau, maka yang tersirat dalam kalimat tersebut mengandung makna bahwa si pembawa stempel mempunyai hak untuk pergi (berdagang) ke mana saja. Tidak ada satu kekuasaanpun yang berhak untuk melarang¬nya, karena semua yang ada di alam semesta termasuk kerajaan adalah milik Allah. Dengan demikian, stempel tersebut berguna sebagai “alat” legitimasi untuk berlayar/berdagang kemana saja.

Melihat gaya tulisan kufik yang dipakai tampaknya masih kaku jika dibandingkan dengan gaya tulisan kufik pada batu nisan Malik as-Saleh (wafat 1297 Masehi) dari Samudra Pasai (Aceh). Bentuk tulisan ini diduga berasal dari sekitar abad ke-9 Masehi yang dikembangkan di daerah Kufah pada masa pemerintahan kekhalifahan Bani Abbasiyah (750-870 Masehi).

Kalau ditelaah dari stempel yang beraksara Arab tersebut, kapal asing yang tenggelam bersama kargonya di perairan Cirebon, diduga kapal yang berasal dari pelabuhan Kufah atau Basra yang sekarang termasuk wilayah Republik Irak. Ini berarti bahwa kapal bersama kargonya berasal dari sekitar abad ke-9 Masehi. Dalam pelayarannya ke arah timur (mungkin ke pelabuhan di Jawa Tengah atau Kambangputih, Tuban) di perairan Cirebon tertimpa musibah dan tenggelam bersama kargonya. Dilihat dari posisinya di dasar laut, kapal ini tenggelam karena kelebihan muatan. Bagian ruang nakhoda masih tampak utuh (tidak terlalu porak poranda).

Hampir seluruh artefak yang diangkut tersebut bukan produk salah satu kerajaan di Nusantara. Ada yang berasal dari Timur Dekat (Persia), India, Thailand, dan ada pula yang berasal dari Tiongkok. Meskipun demikian, artefak tersebut manfaatnya sangat besar bagi sejarah kebudayaan Indonesia, khususnya sejarah masuknya Islam di Indonesia. Berdasarkan sumber-sumber tertulis para sejarahwan berteori bahwa masuknya Islam di Indonesia dibawa oleh kaum pedagang Islam. Dengan ditemukannya artefak-artefak yang berasal dari negeri-negeri yang beragama Islam dalam konteksnya dengan barang dagangan, teori tersebut semakin mendekati kebenaran. Stempel beraksara Arab dengan menyebutkan nama-nama Allah, merupakan bukti kuat bahwa Islam masuk melalui “perantara” para pedagang Islam.


Penutup

Hingga kini sebagian besar masyarakat di Indonesia mengetahui bahwa agama Islam masuk dan berkembang di Indonesia sejak abad ke-13 Masehi, yaitu dengan berdirinya Kesultanan Samudra Pasai di Aceh. Meskipun demikian anggapan kebanyakan orang, namun tidak dipungkiri bahwa jauh sebelum berdirinya Samudra Pasai, Islam sudah ada di Nusantara. Adanya pedagang-pedagang Arab yang menjalin kontak dagang dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara merupakan suatu petunjuknya.

Pedagang Arab sering dikatakan identik dengan pedagang muslim. Saya pikir pendapat ini terlalu umum yang dasarnya adalah Arab sama dengan Muslim. Hubungan perdagangan antara Arab, Tiongkok, dan kerajaan-kerajaan di Nusantara mengindikasikan ada juga muslim yang bukan Arab, misalnya orang Tionghoa yang sudah memeluk Islam. Tionghoa muslim ini juga melakukan aktivitas dagang ke segala penjuru dunia. Di pelabuhan Guangzhou tidak mustahil tinggal juga kelompok masyarakat Tionghoa yang sudah memeluk Islam.

Kapal dagang yang tenggelam di perairan Cirebon pada abad ke-9 Masehi mengindikasikan keberadaan pedagang muslim di kapal itu. Pedagang muslim yang ada di kapal bisa orang Arab, Persia, India, dan bisa juga orang Tionghoa. Ketika Chêng Ho melakukan kunjungan muhibah ke Nusantara pada abad ke-15 Masehi, ia juga mengunjungi saudaranya sesama Muslim. Ini berarti jauh sebelum kedatangan Chêng Ho ke Nusantara sudah ada Tionghoa Muslim.

Dua bulan lagi kargo kapal yang tenggelam tersebut akan dilelang oleh investor yang mengangkatnya bekerjasama dengan pemerintah Indonesia. Tidak perduli penting tidaknya bagi khasanah budaya Nusantara, tidak perduli pentingnya bagi sejarah masuknya Islam di Nusantara. Haruskah stempel yang beraksara Arab tersebut ikut dilelang demi untuk menaikkan harga jual barang lainnya? Padahal barang-barang tersebut merupakan bukti nyata masuknya Islam di Indonesia melalui jalur perdagangan.

Bambang Budi Utomo
Kerani Rendahan pada
Puslitbang Arkeologi Nasional

(Sumber: indoarchaeology.com)
Read More......

Rabu, 18 Maret 2009

Situs Gilimanuk


Lokasi dan Lingkungan Situs

Gilimanuk adalah nama suatu tempat pelabuhan penyeberangan kapal ferry dari Pulau Jawa ke Bali. Lokasi ini juga merupakan pintu gerbangnya Pulau Bali dari arah barat (apabila melalui jalan darat). Mungkin tidak banyak masyarakat awam yang tahu kalau di wilayah ini dahulu (masa pra-Hindu) mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan sejarah di Bali. Di wilayah ini telah ditemukan suatu situs kompleks kubur dari masa prasejarah yang lokasinya terletak di tepi pantai (teluk), tepatnya berada di Desa Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana dan berjarak sekitar 1 km arah tenggara dari pelabuhan penyeberangan. Berdasarkan lokasi astronomis situs ini terletak pada koordinat antara 809’36’’ – 8012’59’’ Lintang Selatan dan 114029’57’’ – 114029’10’’ Bujur Timur (Tim Peneliti 1979; 1990).



Secara geomorfologis, Situs Gilimanuk yang mempunyai luas sekitar 53 hektar dan berada pada ketinggian sekitar 4-5 meter dari permukaan laut (dpl) ini dibatasi oleh Gunung Prapat Agung yang terletak disebelah barat daya, sedangkan di sebelah selatannya terdapat rumah penduduk Desa Banjararum. Di sebelah timur situs ini terdapat areal hutan bakau dan di sebelah baratnya dibatasi oleh Selat (teluk) Bali. Wilayah ini termasuk dalam satuan pedataran alluvium dan berombak yang tersebar di bagian selatan dan utara. Dataran yang landai tersebut merupakan hasil endapan alluvium dari sungai dan laut dengan ketinggian rata-rata 0-5- meter di atas permukaan laut ke arah pelabuhan. Situs ini dikelilingi oleh paparan dangkalan (< 50 meter) dan ekosistem hutan mangrove di sebelah timur yang selalu digenangi air laut dan semak belukar (Arifin Azis, 1993).


Riwayat dan Latar Belakang

Riwayat dan latar belakang penemuan Situs Gilimanuk tidak dapat dilepaskan dari peran dan sekaligus pelopor penelitian situs ini, yaitu Prof. Dr. R.P. Soejono yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Cabang Dinas Purbakala di Bedaulu, Bali. Informasi awal tentang keberadaan situs ini bermula dari hasil laporan para pekerja DPU pada tahun 1961 yang sedang melakukan pembuatan jalan raya antara Gilimanuk – Singaraja (di Dukuh Cekik, sekitar 6 km dari Gilimanuk) dimana mereka menemukan sejumlah besar pecahan periuk (kereweng) dan beberapa beliung persegi. Atas dasar laporan tersebut, kemudian pada tahun 1962 dilakukan penelitian penjajagan di sekitar Dukuh Cekik namun hasilnya dinilai kurang memuaskan, sehingga pada tahun 1963 kemudian penelitian diperluas dan dialihkan ke daerah pinggiran pantai (teluk) Gilimanuk.

Dari hasil penelitian tersebut telah ditemukan sejumlah fragmen tulang-tulang manusia dan hewan, berbagai macam kereweng berhias dan polos, serta benda-benda logam dan manik-manik yang didapatkan secara berserakan pada salah satu tebing pinggiran pantai yang sedang mengalami pengikisan (Soejono 1977). Berdasarkan temuan-temuan tersebut, maka kemudian pada tahun 1964 dilakukan suatu penelitian (melalui ekskavasi arkeologi) secara besar-besaran yang melibatkan beberapa tenaga ahli dan gabungan mahasiswa dari 3 universitas yaitu: Universitas Udayana, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Indonesia. Penelitian kemudian dilanjutkan pada tahun 1973, 1977, 1979, 1984, 1985, 1986, 1990 dan sampai sekarang penelitian di situs ini masih terus berlanjut serta ditangani oleh Balai Arkeologi Denpasar.

Secara umum, Situs Gilimanuk yang merupakan kompleks kubur (nekropolis) dari masa prasejarah ini telah ditemukan lebih dari 300 individu rangka manusia beserta benda-benda bekal kuburnya yang antara lain berupa: gelang dan perhiasan dari kerang, tanah liat bakar (cawan, periuk, mangkuk, pedupaan, kendi), manik-manik (kaca, kerang, terakota, batu kalsedon dan emas), benda-benda perunggu dan besi (gelang, anting, cincin, mata tajak, mata tombak, mata pisau, mata pancing), sisa-sisa hewan (unggas, anjing, dan babi) (Soejono 1977;1984).


Kompleks Kubur

Dari sejumlah temuan rangka manusia yang ditemukan di Situs Gilimanuk ini secara nyata telah memperlihatkan suatu sistem atau pola penguburan yang jelas sangat berbeda dengan tradisi penguburan pada masyarakat Bali sekarang dimana umumnya dilakukan dengan cara ‘Ngaben’ (dibakar), sehingga tidak meninggalkan bekas-bekas atau jasadnya. Hal ini sesuai dengan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Bali sekarang yang mayoritas memeluk agama Hindu. Keberadaan kompleks kubur di Situs Gilimanuk yang sangat unik tersebut secara nyata telah menimbulkan suatu tanda tanya besar dan teka-teki misterius yang masih belum terjawab secara tuntas sampai sekarang.

Mungkinkah sistem penguburan yang berlangsung di situs ini berasal dari masa prasejarah; lalu sejak kapan terjadinya; kenapa rangka-rangka tersebut dibekali dengan benda-benda kubur, kenapa ada rangka-rangka binatang atau manusia yang terpotong tulangnya dan mungkin masih banyak lagi berbagai pertanyaan menarik yang memerlukan jawaban dari keunikan situs ini (Jatmiko 2000). Berdasarkan pengamatan terhadap sistem penguburan yang berlangsung di Situs Gilimanuk (menurut Soejono) secara garis besar dibagi menjadi 4 kategori menurut polanya; yaitu Pola-1 adalah kubur pertama (primary burial), Pola-2 adalah kubur kedua (secondary burial), Pola-3 adalah kubur campuran atau gabungan antara Pola-1 dan 2 dengan berbagai variasi, dan Pola-4 adalah penguburan dengan tempayan yang sifatnya khusus, karena menggunakan tempayan sepasang untuk mengubur tulang-tulangkubur kedua (double jars burial).

Dari berbagai sikap mayat yang berhasil diketahui (terutama yang banyak terdapat pada beberapa kubur Pola-1) memperlihatkan beberapa variasi atau posisi yang sangat menyolok, diantaranya yaitu sikap membujur (extended), setengah terlipat (semi flexed), melipat (flexed), dorsal dengan kedua paha terbuka, dorsal dengan bagian tungkai di bawah lutut ditarik ke belakang dan tertelungkup atau tersungkur (prostrate position) (Soejono 1977).

Berdasarkan data demografi dan hasil identifikasi anatomis terhadap sejumlah 227 individu rangka manusia yang ditemukan dalam kegiatan ekskavasi di Gilimanuk dari tahun 1964-1985 telah memperlihatkan hasil bahwa sekitar 177 individu dapat diketahui umurnya dan 115 individu dapat diketahui jenis kelaminnya. Berdasarkan umur, sebagian besar rangka manusia yang ditemukan terdiri dari usia 1 - 55 tahun (dalam usia produktif dan non produktif) dengan populasi angka kematian terbanyak antara usia 1 – 10 tahun (82 individu). Sedangkan dari jenis kelamin diketahui bahwa 68 individu terdiri dari laki-laki, 47 individu terdiri dari jenis perempuan, dan selebihnya sebanyak 111 individu sukar ditentukan karena kondisi tulang (rangka) yang sudah rapuh, fragmenter dan tidak lengkap. Populasi penduduk di situs kubur Gilimanuk diperkirakan mencapai sekitar 300 orang (pada waktu itu) yang menempati areal seluas 53 km2 (Arifin Azis 1993).


Bekal Kubur dan Konsepsi Kepercayaan


Salah satu konsepsi kepercayaan yang sangat menonjol dalam masyarakat prasejarah di Indonesia adalah sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati. Kepercayaan yang berlatarbelakang animisme dan dinamisme tersebut mempunyai anggapan bahwa roh seseorang dianggap mempunyai kehidupan di alamnya tersendiri sesudah meninggal, sehingga perlu diadakan upacara-upacara keagamaan sebelum dikuburkan. Konsepsi kepercayaan yang paling menyolok dalam kaitannya dengan upacara kematian adalah sistem penguburan, terutama bagi mereka yang dianggap terkemuka oleh masyarakat. Sistem penguburan tersebut biasanya dilakukan secara langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder) dengan penyertaan bekal kubur (funeral gift) berbentuk benda-benda pusaka, senjata, perhiasan dan mungkin juga makanan yang diletakkan dalam periuk-periuk sekitar mayat. Bekal kubur tersebut kadang-kadang juga berupa binatang (anjing, babi) dan manusia yang khusus dikorbankan dengan maksud agar arwahnya dapat ikut serta dengan roh si mati ke alam baka. Kehidupan di alam arwah dipandang sama keadaannya dengan dunia orang hidup, oleh karena itu kesejahteraan arwah harus tetap terjamin untuk menjaga kelangsungan hubungan dengan orang-orang yang ditinggalkan agar dapat terus berlangsung dengan baik (Soejono1984).

Dari berbagai bentuk pola kubur dan penyertaan benda-benda kubur yang ditemukan di Gilimanuk secara nyata hal tersebut jelas memperlihatkan suatu bentuk atau sistem penguburan yang sangat erat hubungannya dengan status sosial orang yang dikuburkan (si mati). Beberapa contoh sistem penguburan menarik yang mungkin mempunyai kaitan dengan stastus sosial di situs ini antara lain adalah temuan kubur tempayan sepasang yang disertai dengan bekal kubur manusia yang dibunuh dengan sengaja dan diletakkan dibawahnya, serta temuan tulang leher manusia yang terpotong (dipenggal?) dalam sebuah cawan, kemudian ada lagi rangka manusia yang disertai dengan rangka anjing, atau beberapa rangka manusia yang disertai dengan rangka anjing atau beberapa rangka manusia yang diberi bekal kubur berupa tutup mulut dan tutup mata dari suasa, perhiasan dari emas, kapak-kapak perunggu, mata tombak, manik-manik, gigi taring (seri) anjing yang dilubangi (sebagai kalung), dan sebagainya. Semua ini memperlihatkan suatu bentuk penghormatan terhadap orang-orang tertentu, seperti misalnya terhadap golongan pemimpin atau orang-orang yang mempunyai pengaruh besar. Khusus mengenai penyertaan korban manusia yang dibunuh secara paksa atau penyertaan binatang anjing, kemungkinan hal itu dihubungkan sebagai symbol untuk mengiring perjalanan si mati (tuannya) ke dunia arwah. Karena seperti kita ketahui anjing adalah salah satu hewan yang sangat penurut, dimana tuannya pergi dia akan selalu mengikuti, sedangkan korban manusia disini diidentikkan dengan pelayan atau budak yang sangat setia kepada tuannya (Soejono 1977).


Manusia Pendukung dan Pertanggalan (Kronologi)

Berdasarkan hasil analisis anatomi terhadap beberapa temuanrangka manusia dari situs kubur Gilimanuk yang dilakukan oleh Bio-Paleoantropologi (UGM), maka berhasil diketahui bahwa manusia pendukung situs ini adalah termasuk jenis manusia modern (spesies Homo Sapiens-sapiens). Sedangkan cirri ras yang paling dominan ditemukan adalah Mongoloid walaupun kecenderungan cirri-ciri ras Australomelanesoid masih terlihat. Dari hasil analisis pertanggalan absolut karbon 14 (C-14) yang dilakukan di laboratorium Groningen (Belanda) menunjukkan bahwa okupasi Situs Gilimanuk berlangsung selama 200 tahun, yaitu kira-kira pada abad kedua hingga keempat Masehi atau pada akhir masa prasejarah (masa perundagian – paleometalik). Pertanggalan absolut tersebut berkisar antara 1650±55 BP - 2020±165 BP (Arifin Azis 1993; 1998).


Sisa-sisa Fauna

Pemberdayaan sumber daya fauna (baik hewan darat maupun air) ternyata sudah dilakukan oleh masyarakat pendukung Situs Gilimanuk sejak dulu. Bukti-bukti tersebut diperoleh melalui sejumlah temuan tulang-tulang hewan dari hasil penggalian (masih dalam konteks kubur) yang sangat melimpah. Pemanfaatan hewan darat ini antara lain terdiri dari jenis babi, anjing, unggas (ayam), tikus dan kelelawar, sedangkan dari jenis hewan air umumnya berasal dari biota marin jenis kerang-kerangan dan ikan. Binatang-binatang tersebut kemungkinan dimanfaatkan sebagai konsumsi atau makanan sehari-hari disamping untuk keperluan upacara-upacara tertentu dalam penguburan (misalnya sebagai bekal kubur). Dari sisa-sisa tulang binatang tersebut, seringkali juga dimanfaatkan untuk peralatan dan perhiasan. Jenis kulit kerang-kerang besar seperti Strombidae, Pleurotomaiidae dan Tridacna dimanfaatkan sebagai gelang atau anting, sedangkan jenis kerang setakup Bivalvia dipakai sebagai alat serut, lancipan, atau pisau, dan jenis kerang Cowry besar dipergunakan sebagai sendok dan cawan kecil (Tim Peneliti 1979; 1990).


Penutup

Situs Gilimanuk merupakan salah satu situs kompleks penguburan (necropolis) di tepi pantai (pesisir) yang berasal dari masa akhir prasejarah sebelum masuknya pengaruh Hindu (pra-Hindu) di Bali. Dari beberapa data temuan yang dihasilkan melalui penelitian (ekskavasi), setidaknya hal tersebut telah memberikan suatu bukti dan petunjuk tentang adanya corak budaya atau tradisi asli (local) yang berkembang pada waktu itu sebelum terkena pengaruh unsur-unsur dari luar (budaya asing). Temuan rangka-rangka manusia yang dikuburkan baik secara langsung (tanpa wadah) maupun memakai wadah tempayan (bersusun) beserta benda-benda bekal kuburnya telah memperlihatkan suatu gambaran tentang adanya sistem penguburan yang berlatar belakang pemujaan arwah leluhur dan pengkultusan individu (status social masyarakat). Dan dari hasil identifikasi temuan rangka-rangka tersebut telah diketahui bahwa yang dikuburkan adalah jenis laki-laki dan perempuan yang terdiri dari golongan orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Golongan anak-anak yang mempunyai umur antara 1-10 tahun ternyata mempunyai tingkat kematian yang sangat tinggi. Sementara itu, pada waktu (masa) yang bersamaan di daerah bali (terutama di wilayah pedalaman) juga berlangsung suatu sistem penguburan yang memakai wadah “sarkofagus”.

Sistem penguburan pada masa akhir masa prasejarah (perundagian) di daerah tepi pantai (pesisir) atau sekitar tepi sungai ternyata tidak hanya terdapat di Situs Gilimanuk saja, dan ternyata di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia juga ditemukan, diantaranya adalah Situs Muara Betung (Sumatera Selatan), Anyer (Jawa Barat), Plawangan (Jawa Tengah), Melolo dan Lambanapu (Sumba Timur), Lewoleba (Flores), dan lain-lain. [Jatmiko]


DAFTAR PUSTAKA

Arifin Azis, Fadhila, 1993. “Studi Arkeologi Demografi pada Situs Kubur Gilimanuk (Bali) dari Masa Perundagian”, dalam PIA VI. Puslit Arkenas, Jakarta.

Arifin Azis, Fadhila, 1998. “Karakteristik dan Sebaran Situs Kubur Tempayan di Asia Daratan dan Kepulauan, Kawasan Asia Tenggara”. Berkala Arkeologi, Edisi No. 2 Th XVIII.

Jatmiko, 2000, “Sistem Penguburan dengan Kalamba di Lembah Besoa: Bentuk Gambaran Komunal dalam Tata Masyarakat Prasejarah di Indonesia”, Makalah dalam EHPA Bedugul (Bali). Puslit Arkenas. Jakarta.

Soejono, RP, 1977, “Sistem Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali”, Disertasi (Teks). Universitas Indonesia. Jakarta.

Soejono, RP, 1984, Sejarah Nasional Indonesia I, Editor. Depdikbud. Balai Pustaka. Jakarta.
Tim Peneliti, 1977, “Ekskavasi Situs Gilimanuk”, LPA Bidang Prasejarah, Puslit Arkenas. Jakarta.

Tim Peneliti, 1979, “Ekskavasi Situs Gilimanuk”, LPA Bidang Prasejarah, Puslit Arkenas. Jakarta.

Tim Peneliti, 1990, “Ekskavasi Situs Gilimanuk”, LPA Bidang Prasejarah, Puslit Arkenas. Jakarta.

(Sumber: indoarchaeology.com)
Read More......

Sangiran: Situs Manusia Purba di Indonesia


Lokasi dan Gambaran Lingkungan Situs


Homo erectusSitus Sangiran terletak di sebelah utara kota Solo dan berjarak sekitar 15 Km. Situs Sangiran yang mempunyai luas sekitar 59, 2 Km² (SK Mendikbud 070/1997) ini secara administratip termasuk ke dalam dua wilayah pemerintahan; yaitu Kabupaten Sragen (Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Gemolong dan Kecamatan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo), Provinsi Jawa Tengah (Widianto & Simanjuntak 1995).




Secara geo-stratigrafis, Situs Sangiran yang posisinya berada pada depresi Solo di kaki Gunung Lawu ini dahulu merupakan suatu kubah (dome) yang tererosi di bagian puncaknya sehingga menyebabkan terjadinya reverse (kenampakan terbalik). Kondisi deformasi geologis seperti ini kemudian semakin diperjelas oleh aliran Kali Brangkal, Cemoro dan Pohjajar (anak-anak cabang Bengawan Solo) yang mengikis situs ini mulai di bagian utara, tengah dan selatan. Akibat dari kikisan aliran sungai tersebut maka menyebabkan lapisan-lapisan tanah tersingkap secara alamiah dan memperlihatkan berbagai jejak fosil (manusia purba dan hewan vertebrata) (Widianto & Simanjuntak 1995).


Riwayat dan Latar Belakang

Sejarah atau riwayat penelitian di Situs Sangiran bermula dari laporan GHR. Von Koenigswald yang menemukan sejumlah alat serpih dari bahan batuan jaspis dan kalsedon di sekitar bukit Ngebung pada tahun 1934 (Koenigswald, 1936). Temuan alat-alat serpih yang kemudian terkenal dengan istilah ‘Sangiran Flakes-industry’ tersebut diperkirakan berasal dari lapisan (seri) Kabuh Atas yang berusia Plestosen Tengah. Namun hasil pertanggalan tersebut banyak dikritik oleh para ahli (de Terra, 1943; Heekeren, 1972) karena temuan tersebut dihubungkan dengan konteks Fauna Trinil yang tidak autochton (Bartstra dan Basoeki, 1984: 1989) atau bukan dari hasil pengendapan primer (Bemellen, 1949).

Penelitian di situs ini menjadi semakin menarik dan berkelanjutan ketika pada tahun 1936 ditemukan fragmen fosil rahang bawah (mandibula) manusia purba Homo erectus yang kemudian disusul oleh temuan fosil-fosil lainnya.

Setelah masa pasca Koenigswald atau pada sekitar tahun 1960-an, penelitian terhadap fosil-fosil hominid dan paleotologis di situs ini kemudian diambil alih oleh para peneliti dari Indonesia (antara lain T. Jacob dan S. Sartono) serta terus berkelanjutan sampai sekarang. Penelitian yang sangat ‘spektakuler’ terjadi ketika Puslit Arkenas melakukan kerjasama penelitian dengan Museum National d’Histoire Naturelle (MNHN), Perancis melalui ekskavasi besar-besaran selama 5 tahap (tahun 1989 – 1993) di bukit Ngebung yang menghasilkan sejumlah temuan secara ‘insitu’ dan pertanggalan absolut yang sangat menarik. Penelitian Situs Sangiran semakin berkembang pesat dalam dekade lima tahun belakangan ini setelah Balar Yogya ikut berpartisipasi langsung dan melakukan program-program penelitian secara intensif dan terpadu (Widianto 1997; Jatmiko 2001).


Geo-Stratigrafi dan Pertanggalan Manusia Purba Homo erectus

Sangiran adalah sebuah situs paleontologis yang terlengkap di Indonesia dan cukup terkemuka di dunia. Keberadaan situs ini secara resmi telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan budaya dunia sejak bulan Desember 1996 (Widianto 2000).

Dari sekitar 100 individu temuan fragmen fosil manusia purba yang didapatkan di Indonesia, hampir 65% -nya berasal dari Situs Sangiran dan mencakup sekitar 50 % dari populasi taxon Homo erectus di dunia. Pada umumnya fosil-fosil tersebut ditemukan secara kebetulan (temuan penduduk) dan dalam bentuk fragmenter; yaitu antara lain berupa tulang-tulang tengkorak, mandibula dan femur.

Fosil-fosil tersebut ditemukan pada beberapa tempat atau lokasi utama di Pulau Jawa; yaitu antara lain di Pati Ayam, Sangiran, Ngandong dan Sambungmacan (Jawa Tengah) serta di daerah Trinil dan Perning (Jawa Timur). Berdasarkan bentuk fisik dan lingkungan endapan asalnya, secara umum temuan fosil-fosil manusia purba di Indonesia dikategorikan menjadi 3 kelompok utama (Widianto, 1996); yaitu kelompok Pithecanthropus Arkaik yang berasal dari Formasi Pucangan (Plestosen Bawah) yang ditaksir mempunyai usia antara 1,7 – 0,7 tahun. Termasuk dalam kelompok ini adalah Meganthropus palaeojavanicus dan Pithecanthropus Mojokertensis.

Kelompok kedua adalah jenis Pithecanthropus Klasik yang berasal dari Formasi Kabuh (Plestosen Tengah) yang mempunyai usia sekitar 800.000 – 400.000 tahun. Jenis kelompok ini (Homo erectus) yang paling banyak ditemukan di Sangiran. Kelompok yang ketiga adalah Pithecanthropus Progresif yang berasal dari Formasi Notopuro (Plestosen Atas) dan mempunyai umur antara 400.000 – 100.000 tahun. Termasuk dalam kelompok ini adalah temuan Homo Soloensis dari Ngandong dan Trinil (Widianto 1996, Semah et.al. 1990). [Jatmiko]


Daftar Pustaka

Bartstra, GJ dan Basoeki, 1989, “Recent work on the Plistocene and the Palaeolithic of Java”, Carrent Anthropology. Vol 30. No. 2.

Bemmelan, RW van, 1949, “The Geology of Indonesia an Adjacent Archipelagoes”, Martinus Nijhoff, Den Haag.

Hekeren, HR. Van, 1972, The Stone Age of Indonesia. Verhand van het Koninklijk Inst Voor Taal -, Land- end Volken. The Hague.

Jatmiko, 2001, “ Penelitian Artefak Manusia Purba di Situs Dayu (Sangiran), Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.LPA Bidang Prasejarah. Puslit Arkenas. Jakarta.
Koeningswald, GHR van 1936, “Early Palaeolithic Stone Implements from Java”, Brill Rafles Museum. Singapore.

Semah, Francois etal, 1990, “Mereka menemukan Pulau Jawa”, Buku Perjalanan 100 Th Pithecanthropus. Puslit Arkenas.

Widianto, Hary,1996, “Laporan Penelitian Sangiran: Penelitian tentang Manusia Purba, Budaya dan Lingkungan”. BPA No 46 Puslit Arkenas, Jakarta.

Widianto, Hary 1997, “Situs Sangiran: Interpretasi Baru Berdasarkan Hasil Penelitian Terakhir”. Dlm PIA VII, Cipanas. Puslit Arkenas. Jakarta.

Widianto, Hary, 2000, “Penelitian Situs Sangiran: Mencari Jejak Budaya Homo Erectus Arhaik dari Kala Plessen Bawah Tahap II”. LPA Balar Yogyakarta.

Widianto & Simanjuntak, 1995, “Laporan Penelitian Manusia Purba, Budaya dan Lingkungan Sangiran”. LPA Puslit Arkeologi. Jakarta.

(Sumber: indoarchaeology.com)
Read More......

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: