Sabtu, 17 Januari 2009

Dari Penginapan Kafilah Menjadi Hotel Berbintang

Views


Oleh: Bambang Budi Utomo


Zaman keemasan Iran atau bahkan zaman kejayaan arsitektur Islam terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Safavid (1502-1736). Hasil karya arsitekturnya dapat dilihat di Isfahan.

Ya, mengunjungi Isfahan berarti telah melihat ”separuh dunia” karena berbagai karya arsitektur Islam dapat dilihat di sini.

Di antara tinggalan dari masa Safavid adalah kompleks sekolah, bazar, dan tempat menginap para kafilah yang tampak seperti untaian permata di pinggir Jalan Chãhr Bãgh. Kompleks ini dibangun Shah Sultan Hossein I (1694-1722 Masehi) sekitar 300 tahun silam. Shah membangun kompleks luar biasa ini untuk ibundanya. Oleh karena itu kompleks ini disebut ”sekolah dan penginapan para kafilah dari Madar-shah” (yang artinya ibunda raja).

Sejalan dengan berjayanya Safavid, pembangunan bazar, jembatan, bendungan, menara, sarana air, penginapan, masjid, dan sekolah merupakan sesuatu yang sangat populer saat itu. Penginapan para kafilah bukan sekadar menjadi tempat bermalam atau bongkar-muat karavan, tetapi juga sangat cocok untuk menyimpan barang dagangan.

Dalam rangka merekonstruksi tempat penginapan, usaha utamanya adalah mempertahankan bentuk umum yang asli.

Penginapan Madar-shah mempunyai lapangan berbentuk segi empat di bagian tengahnya, tiap sisi berukuran 80 meter. Ketika rekonstruksi dilakukan, lapangan tengah yang berdebu diubah menjadi taman dengan aneka tanaman dan bunga. Sebuah parit kecil mengalir di tengah, namanya Kali Farshadi. Di tiap sisi halaman terdapat beranda; tiap dua sisinya menyatu di suatu ruang bertingkat dua.

Kesederhanaan dan kekuatan bangunan ini, dengan area terbuka yang menyenangkan, mengingatkan kita pada kejayaan dan keagungan lapangan Naghsh-e-Jahan (meidan-e Emam) yang merupakan harta karun Persia yang tak ternilai dari masa Safavid.

Menurut Andre Goddard, yang pernah menjadi penasihat Biro Arkeologi Iran, perusahaan asuransi Iran terlibat dalam penyelamatan monumen ini. Perusahaan itu mengabulkan pengubahan penginapan menjadi hotel dan menyetujui rencana pembangunan hotel yang di kemudian hari dinamai King Abbas Hotel. Dengan demikian, bukan hanya bangunan bersejarah bisa diselamatkan, tetapi juga kenangan tentangnya sebagai bangunan penginapan pertama akan terekam dalam ingatan wisatawan yang menginap kini.

Di situ juga tersedia ruang yang anggun untuk wisatawan menikmati berbagai perayaan di Isfahan. Juga gemericik air dan warna-warni taman bergaya Persia, keagungan arsitektur Persia, desain artistik pada dinding dan beranda, lanskap dan gambaran biru zamrut kubah Chaharbagh Madresseh.

Perusahaan asuransi memulai rekonstruksi hotel pada musim panas 1960 dan menyelesaikannya pada akhir 1967. Mereka sepakat untuk menjaga keaslian bagian depan bangunan serta renovasi ruangan penginapan dan memolesnya menjadi ruang hotel. Pada tahun 1973 perusahaan asuransi tersebut memutuskan memperluas hotel.

Setelah lebih dari 30 tahun berfungsi sebagai hotel, banyak bagian rusak, bahkan runtuh sehingga memerlukan rekonstruksi. Rekonstruksi mulai dilakukan awal tahun 1996 dan selesai pada awal tahun 2001.

Pada perbaikan dan penyelesaian akhir monumen, preservasi struktur dan identitas arsitekturalnya menjadi perhatian utama selain bangunan itu sendiri. Tidak boleh ada satu hal yang dipandang lebih penting dari lainnya. Faktor-faktor ini sangat diperhatikan dalam membangun kembali area terbuka di bagian tengah.


Taman

Tidak diragukan, salah satu bagian yang sangat menakjubkan dari hotel ini adalah tamannya, yang bisa dianggap sebagai contoh taman-taman di wilayah ini yang di dunia dikenal sebagai ”Taman gaya Persia”.

Taman Persia merupakan contoh kehebatan inovasi yang menggabungkan alam buatan dan alam natural. Perpaduan air dan tumbuhan, pemisah keemasan, harmoni antara areal dalam dan luar, konsistensi artefak manusia dan fenomena alam. Singkatnya, kreasi atmosfer yang menyenangkan serta penuh ketenangan adalah keunikan taman bergaya Persia.

Dalam merekonstruksi taman Hotel Abassi, desain para arsitek dan perajin mengungkapkan hal tersebut. Di bagian utara hotel, berhadapan dengan pintu menuju ruang besar hotel, terdapat ruang tamu yang dinding dan atap tingginya dihiasi tegel keramik dan balkon bertingkat dua di kedua sisinya.

Ruang tamu ini sekarang digunakan sebagai kafe kopi tradisional. Dulu, ketika tempat ini masih digunakan sebagai penginapan kafilah, pintu dari beranda utara langsung berhubungan dengan bagian belakang lokasi pasar. Sekarang, beranda ini sudah direkonstruksi menjadi taman hotel yang tenang dan menyejukkan.

Memperkuat bagian depan (fasad) dari beranda keliling taman dengan bata dan beton, tetapi tetap dengan gaya dan tampilan kuno, mempunyai maksud tetap mempertahankan identitas arsitektural bangunan sekaligus memperkokoh bangunan sehingga bisa bertahan berabad-abad.

Hotel Abbasi termasuk hotel bintang lima dengan 230 kamar. Arsitektur yang menakjubkan dari hotel ini mengikuti gaya arsitektur Isfahan sesuai era perkembangannya, seperti gaya arsitektur Safavid (1502-1736) dan gaya arsitektur Qajar (1795-1925).


Wisata

Isfahan merupakan kota tua serta tempat yang layak dan siap menerima kunjungan wisatawan. Melihat semua di Isfahan dapat dikatakan melihat seluruh hasil kebudayaan Persia.

Kepariwisataan di Isfahan dapat dikatakan wisata berkelanjutan yang melibatkan hampir seluruh penduduk, terutama yang bergerak di bidang niaga hasil seni khas Iran, khususnya Isfahan.

Keramahan dan kepedulian penduduk Isfahan terhadap wisatawan cukup tinggi. Mengunjungi Isfahan berarti sudah mengunjungi ”setengah dari dunia”. Demikian kalimat yang tepat untuk kesan terhadap Isfahan.

Bambang Budi Utomo
Bekerja di Puslitbang Arkeologi Nasional

(Sumber: Kompas, 18 Mei 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: