Rabu, 21 Januari 2009

Kuburan Terimpit Bangunan Stupa

Views


Oleh: Bambang Budi Utomo

Tengah malam pada bulan Juli 2005, di sela-sela kegiatan penelitian arkeologi di Situs Batujaya, Karawang, Jawa Barat, dua warga Perancis pergi ke lahan yang sedang diteliti. Menurut banyak orang, lahan itu dikenal dengan nama Unur Lempeng dan sangat angker.

Apalah artinya angker bagi kedua orang Perancis tersebut. Mereka datang tengah malam untuk sekadar memotret pepohonan yang banyak tumbuh di tempat tersebut. Betapa terkesimanya mereka dan juga anggota tim lain ketika melihat hasil jepretannya.

Ada penampakan tiga buah cahaya yang terang benderang berwarna kuning di antara pepohonan, ujar salah seorang di antaranya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Itulah sekelumit pengalaman berbau mistis di antara kegiatan penelitian arkeologi yang berlangsung di Unur Lempeng, Situs Batujaya. Beberapa hari kemudian, setelah tiga cahaya tersebut terekam kamera digital, ditemukan kerangka manusia di Lempeng. Saat pertama kali ditemukan yang tampak adalah bagian kepala, kemudian menyusul bagian kerangka lainnya. Kerangka tersebut seluruhnya berjumlah sembilan individu dan beberapa di antaranya tidak utuh.


Bangunan stupa

Situs Batujaya untuk pertama kalinya ditemukan tim dari Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1984. Ketika itu tim tersebut sedang melakukan penelitian di Situs Cibuaya, sekitar 20 kilometer ke arah timur dari Batujaya.

Oleh penduduk yang datang melihat penelitian diinformasikan bahwa di Desa Segaran, Batujaya, banyak ditemukan bata berukuran besar. Bata-bata tersebut terpendam dalam tanah di sebuah tanah tinggi di tengah sawah yang dikenal dengan nama unur. Sisa-sisa bangunan yang berbentuk unur ini menyebar pada areal seluas lebih dari lima kilometer persegi.

Pada areal tersebut sekurang-kurangnya terdapat 20 runtuhan bangunan bata yang masih terpendam dalam tanah di unur maupun di bawah permukaan sawah. Sebelas di antaranya telah diketahui denahnya. Pada saat ini dua buah sudah ditampakkan, yaitu Candi Jiwa dan Candi Blandongan.

Pertanyaan yang timbul, bangunan apa, untuk pemujaan agama apa, dan kapan dibangun? Pertanyaan tersebut lama baru terjawab setelah di Candi Blandongan ditemukan benda amulet yang menggambarkan relief Buddha. Sebelumnya, ketika Candi Jiwa baru ditampakkan secara utuh, ditemukan petunjuk bangunan stupa berupa susunan bata yang melingkar konsentris.

Susunan bata ini merupakan bentuk denah dari sebuah stupa yang dibangun di atas lapik bujur sangkar. Permukaan lapik ini bergelombang, seolah-olah membentuk helai bunga teratai. Kedua petunjuk tersebut dapat mengarahkan kita bahwa bangunan bata di Batujaya merupakan bangunan stupa untuk pemujaan masyarakat pemeluk agama Buddha.

Bangunan stupa dan fondasinya di Batujaya dibina dengan bahan dasar bata. Bagian fondasinya dibuat dengan denah bujur sangkar atau empat persegi panjang dengan ketebalan dinding 75-100 cm dan dalam 150 cm. Bagian tengahnya diisi hancuran bata atau tanah. Di bagian atas fondasi ini barulah dipasang bata secara masif. Setelah bagian atas dibentuk stupa, barulah bagian dindingnya dilapisi dengan lapisan yang disebut stuko (bahan campuran yang terdiri dari hancuran kerang, pasir, dan kerikil). Bahan stuko ini sangat keras, sekeras dan sekuat beton! Hiasan bangunan yang menggambarkan bentuk-bentuk kepala binatang dan raksasa juga dibuat dari bahan stuko.

Penentuan pertanggalan relatif dilakukan berdasarkan bentuk-bentuk tulisan kuno yang tergores pada bata dari Batujaya, kemudian membandingkannya dengan temuan-temuan lain. Dari perbandingan itu, dapat diduga bahwa huruf Pallawa yang digoreskan pada bata menunjukkan pertanggalan abad ke-5 Masehi hingga ke-6 Masehi. Pertanggalan relatif lain diperoleh dari Karbon C-14 yang dilakukan di laboratorium menunjukkan rentang waktu 130-400 Masehi dan 680-980 Masehi. Berita China (Fa Hien) mengisyaratkan berasal dari sekitar abad ke-5 hingga ke-7 Masehi. Pertanggalan itu jelas menunjukkan bahwa bangunan-bangunan di Batujaya merupakan bangunan tertua yang ditemukan di Jawa.


Budaya Buni

Sebuah atau sekompleks bangunan suci tidak berdiri begitu saja. Tentu saja bangunan-bangunan tersebut ada yang membinanya dan ada kelompok masyarakat pendukungnya.

Bangunan candi atau stupa merupakan bangunan yang dibina setelah masuknya budaya India ke Nusantara. Jauh sebelum kedatangan budaya India, di kawasan pantai utara Jawa Barat telah dihuni oleh kelompok masyarakat yang telah mengenal teknik bercocok tanam. Petunjuknya berupa kepandaian membuat barang-barang tembikar. Bukti keberadaannya pertama kali ditemukan di Desa Buni, Bekasi.

Masyarakat pendukung budaya Buni mengenal sistem penguburan langsung (tanpa wadah, misalnya, tempayan kubur untuk menempatkan tulang belulang). Manusia-manusia ini dikuburkan bersama bekal kuburnya, seperti barang-barang tembikar, perhiasan, dan senjata. Pada lubang-lubang galian liar di situs Buni memang ditemukan tembikar yang berserakan dengan tulang belulang manusia, tetapi belum ditemukan secara utuh dalam konteksnya.

Baru-baru ini pada bulan Juli 2005 sebuah tim kerja sama Puslitbang Arkeologi Nasional dan Ecole Française dExtreme-Orient (Perancis) melakukan penelitian di Situs Batujaya. Penggalian arkeologis yang dilakukan di Unur Lempeng berhasil menemukan struktur bangunan bata.

Di bagian bawah dari struktur bangunan ini, pada kedalaman sekitar dua meter, ditemukan kerangka manusia yang masih utuh lengkap dengan bekal kuburnya. Sebuah kerangka, sebut saja namanya Jack the Ripper, merupakan bukti arkeologis yang sangat berharga.

Manusia ini dikuburkan memakai gelang emas di tangan kanan sambil memegang sebilah pisau (parang) besi. Di antara dua lutut dan di bagian punggungnya juga terdapat senjata dari besi. Di bagian kaki dan atas kepalanya terdapat wadah tembikar dengan motif hiasan khas Buni (lingkaran konsentris). Masih dekat dengan Jack the Ripper ditemukan juga lima kerangka lain. Kerangka-kerangka ini ada yang masih baik dan ada yang sudah rusak. Semuanya ditemukan bersama bekal kubur berupa barang tembikar.

Menuju ke arah barat dari tempat ditemukannya Jack the Ripper ditemukan sisa bangunan bata berdenah empat persegi panjang dan dindingnya bersekat-sekat membentuk ruangan. Di bagian bawah, sejajar dengan dinding fondasi, ditemukan kerangka manusia dalam posisi membujur arah timur laut-barat daya tanpa bekal kubur. Kemungkinan bekal kuburnya sudah terangkat ketika digali.

Bagaimana kaitan antara kerangka manusia tersebut dan bangunan? Harry Widiyanto, pakar manusia purba dari Balai Arkeologi Yogyakarta, menduga bahwa kubur-kubur tersebut adalah kubur dari komunitas pembina stupa meski dikubur dalam tradisi prasejarah. Petunjuknya berasal dari lokasi yang sama, posisi vertikal terhadap bangunan (bahkan ada yang kontak langsung dengan bangunannya), dan pertanggalannya dari sekitar abad ke-2 Masehi. Dengan demikian, di Situs Batujaya terdapat satu populasi yang mempunyai dua budaya berbeda.

Keberadaan data artefaktual di luar tempat asalnya mencerminkan adanya interaksi antara masyarakat yang satu dan lainnya. Prof Dr Ardika, guru besar arkeologi dari Universitas Udayana, menduga pada 2000-2500 tahun yang lalu telah terjadi kontak antara masyarakat di Nusantara dan masyarakat di Asia Tenggara maupun Asia Selatan. Bukti-bukti tersebut ditemukan di beberapa situs, antara lain, di Buni, Batujaya, Patenggeng, dan Sembiran.

Di situs-situs tersebut ditemukan sejumlah tembikar yang berasal dari sebuah pelabuhan di India Selatan, Arikamedu. Setelah terjadi interaksi budaya, pada masa yang kemudian anasir budaya India yang masuk ke Nusantara adalah agama Hindu maupun Buddha. Bukti keberadaan kedua agama ini di pantai utara Jawa Barat ditemukan di Situs Cibuaya (candi) dan Batujaya (stupa).

Itulah Batujaya, sebuah kawasan pertanian sawah irigasi yang ternyata menyembunyikan sisa peradaban masa lampau manusia. Dimulai dari permukiman sederhana, kemudian mengadakan kontak dengan India, dan akhirnya membangun stupa pada sebuah kompleks yang luas. Tinggalan-tinggalan budaya ini akan hilang sebagai akibat perluasan sawah maupun oleh para pemburu harta karun.

Bambang Budi Utomo
Kerani Rendahan pada Puslitbang Arkeologi Nasional

(Sumber: Kompas, Rabu, 28 Desember 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: