Sabtu, 07 Maret 2009

Aceh dan Pendatang

Views


Oleh: Bambang Budi Utomo

KONTAK senjata antara TNI/Polri dan GAM terjadi lagi di wilayah Bireuen, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ironisnya, ini terjadi ketika pemerintah baru saja mencabut status darurat sipil dan memberlakukan tertib sipil. Apa sebenarnya yang dicari gerombolan itu, perhatiankah atau sebuah negara tersendiri?

DAERAH ini, di masa lalu, mempunyai sejarah yang "dibuat" para pendatang, yang mengawalinya dengan aktivitas berdagang, bermukim, dan akhirnya membangun pusat-pusat kekuasaan. Mengapa mereka ke bumi Sumatera, tentu ada penariknya.

Sejak abad ke-10 hingga sekitar abad ke-17 Masehi, aktivitas utama di sekitar Selat Melaka adalah perdagangan. Pedagang berbagai bangsa datang ke Sumatera untuk membeli komoditas dagang yang sangat digemari orang-orang dari Arab dan India, yaitu kapur barus dan kemenyan.

Dalam catatan sejarah, Sumatera dikenal sebagai penghasil kapur barus (camphor), suatu produk alamiah berbentuk kristal yang dihasilkan dari getah pohon karas (Aguilaria mallaccansis atau Cinnamomum camphora). Tumbuhan ini hidup di hutan tropis Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Tanah Melayu. Selain di Indonesia, pohon ini juga tumbuh di daerah China, tetapi karena kondisi iklim berbeda, produk dan kualitas yang dihasilkannya pun berbeda. Produk alamiah ini sudah lama dikenal dan diperjualbelikan sebagai komoditas yang eksklusif.

Kristal kapur, dan juga minyaknya, tak selalu ditemukan pada tiap pohon karas. Pencari kapur biasanya menebang beberapa batang pohon secara acak sebelum menemukan pohon yang mengandung kristal kapur. Dari sekian banyak pohon yang ditebang, mungkin tidak sampai 10 persen yang mengandung kristal kapur atau minyak kapur.

Karena penebangannya yang acak dan kurangnya keahlian dalam memilih pohon yang mengandung kristal, pohon karas pun banyak berkurang. Ini tentu saja berakibat langkanya pohon karas, sekaligus langkanya kristal bahan baku kapur barus. Akibatnya, harga kapur barus dan juga minyak kapur barus menjadi mahal.

Kapan komoditas ini mulai diperdagangkan, tidak satu pun sumber tertulis yang menyebutkan. Catatan tertua tentang komoditas ini berasal dari masa Dinasti Sui (abad ke-6) yang menyebutkan bahwa salah satu produk dari Lang-ya-shiu di wilayah semenanjung adalah parfum Po-lu. Para pakar mengidentikkan Po-lu sebagai "Barus", tempat di pantai barat daya Sumatera Utara. Berita tertulis lain dari abad ke-9, yaitu Yu-yang-tsa-tsu, menyebut Ku-pu-p’o-lu, yang artinya "kapur barus", sementara dalam Chau-ju-kua (abad ke-13) disebut tentang dua tempat yang menghasilkan kapur, yaitu P’o-ni (Kalimantan) dan Pin-su (Barus).


Internasional

Barus adalah pelabuhan penting dalam perdagangan internasional. Hingga abad ke-16, komoditas dari Barus adalah kapur barus. Tempat yang menghasilkannya memang terbatas, yaitu di kawasan dekat sebuah anak sungai yang bernama Sungai Singkel. Hasil kapur barus dibawa ke Singkel (kini: Singkil) melalui Sungai Singkel, kemudian diangkut melalui jalan darat, dan akhirnya sampai di Barus. Walau untuk ke pelabuhan Barus dari arah laut agak sulit jika dibandingkan dengan keadaan di pelabuhan Singkel atau Sibolga, tetapi Barus tetap menjadi pelabuhan terpenting pada abad ke-16, sebagaimana dilaporkan oleh Tomé Pires.

Kondisi geografis Sumatera yang berada di tepi jalur perdagangan Selat Melaka, dengan hasil hutan dan tambangnya, memungkinkannya dikunjungi para pedagang asing, baik dari Arab, Persia, India, maupun dari China dan Jepang. Kegiatan perdagangan ini terakomodasi dengan adanya dua pelabuhan penting di Sumatera bagian utara pada waktu itu, yaitu Barus di pantai barat daya dan Kota Cina di pantai timur laut. Di kedua pelabuhan inilah komoditas dagang, yakni kapur barus, hasil hutan, dan tambang Sumatera, dikapalkan.


Kehadiran komunitas Tamil

Di antara para pedagang yang kerap datang ke Barus dan tempat-tempat lain di Sumatera bagian utara adalah pedagang dari Tamil, India Selatan. Mereka diketahui telah menyebar di daerah Asia Tenggara sejak abad ke-9. Hal ini diketahui dari prasasti-prasasti berbahasa Tamil yang ditemukan di Sri Lanka, Burma, Thailand, Malaysia, China, dan Indonesia.

Di Takuapa (Thailand Selatan), serikat pedagang Tamil yang bernama Mannikiram bahkan membangun permukiman. Akan halnya di Indonesia, dalam hal ini Sumatera bagian utara, tak diketahui secara pasti kapan orang-orang Tamil datang dan bermukim di daerah pesisir barat daya dan timur laut.

Prasasti Tamil yang ada di Indonesia ditemukan di Lobu Tua (Barus), Neusu (Banda Aceh), Kota Cina (Medan), dan di Bandar Bapahat (Tanah Datar, Sumatera Barat). Di Lobu Tua, sekitar 25 km arah barat laut dari Barus-di antara Aek Busuk di utara dan Aek Maca di selatan-pada tahun 1872 ditemukan sebuah prasasti batu berbahasa Tamil yang ditulis dalam aksara Grantha (Pallawa). Isinya tentang "Yang kelima ratus dari seribu arah" telah menyuruh memahat dan menancapkan batu (prasasti) ini pada Masi (Februari-Maret) tahun 1010 Saka (1088 Masehi).

Beberapa hal menarik dari prasasti ini adalah penyebutan Velapuram, Varocu, dan tiga golongan (orang) yang diwajibkan membayar pajak. Velapuram dan Varosu merupakan tempat berkumpulnya para pedagang Tamil. Velapuram adalah bagian dari wilayah sebuah kota, yang merupakan sebuah pelabuhan laut, tempat kapal-kapal dagang berlabuh untuk membongkar dan memuat barang dagang. Kota mana yang dimaksud dalam prasasti tersebut mungkin menunjuk pada kata berikutnya, yaitu Varosu. Di mana lokasi kota ini, mungkin dapat dilihat dari sumber lain yang menyebutkan kata yang sama.


Tamil

Nama Varosu dapat diidentikkan dengan Barus karena orang Tamil menyebut kata "Barus" sebagai "Varosu". Hal ini diketahui dari sebuah sumber Tamil abad ke-12 yang menyebut Varosu cutan (kamper dari Varosu) dan China cutan (kamper dari China). Dengan demikian jelas bahwa Barus (Varosu) merupakan tempat para pedagang Tamil bertransaksi dagang dan di kota ini pula mereka mendirikan serikat dagang dengan nama "Yang kelima ratus dari seribu arah".

Perserikatan dagang Tamil jumlahnya cukup banyak, beberapa di antaranya bernama Manigramam, Añjuvannnam, Ainnuarruvar, dan Valanjiyar. Masing-masing kelompok ini anggotanya memeluk satu agama tertentu, misalnya Hindu, Islam, maupun Kristen. Agama Kristen mazhab Nestorian diduga telah masuk di Barus pada pertengahan millenium pertama Masehi bersamaan dengan kedatangan pedagang dari Persia.

Kuatnya serikat dagang Tamil di Barus membawa dampak mapannya hidup orang Tamil di sana. Menurut Prasasti Lobu Tua, mereka menarik pajak añcu-tunt-ayam dalam bentuk emas berdasarkan harga kasturi dengan obyeknya "(Setiap...dari) kapalnya, nakhoda kapal, dan kevi". Mungkin yang dimaksud dengan "(Setiap...dari) kapalnya" adalah para juragan pemilik kapal. Sebagian hasil pajak dipakai untuk keperluan serikat dan sebagian lagi untuk upeti kepada Raja Cola sebagai imbalan atas perlindungannya dalam menjalankan aktivitas perdagangan.

Kemapanan komunitas Tamil di Barus dan di Kota Cina ditandai juga dengan dibangunnya sarana pemujaan. Di kedua tempat ini ditemukan runtuhan bangunan kuil Tamil, yang arcanya langsung dibawa dari tempat asalnya, yaitu pedesaan Tamil Nadu di India Selatan. Dari ciri arca tersebut diketahui agama yang mereka anut adalah Hindu atau Buddha.

Sejalan dengan langkanya bahan kapur barus akibat penebangan pohon karas yang sembarangan, lama-kelamaan komunitas Tamil yang semula mendiami pesisir barat daya Sumatera bagian utara berpindah ke pesisir timur laut Sumatera bagian utara. Di tempat baru ini agaknya mereka berkeinginan menguasai jalur perekonomian Selat Melaka, yang tadinya dikuasai Sriwijaya tetapi sudah lemah akibat serangan Cola pada tahun 1017 dan 1025. Mereka juga mendiami pantai barat Semenanjung Tanah Melayu mulai dari Tanah Genting Kra.


Penguasaan jalur perdagangan

Di kalangan sejarawan dan arkeolog, Barus dan Kota Cina dikenal sebagai situs pelabuhan kuno yang banyak berhubungan dengan kerajaan-kerajaan dari India dan China. Di kedua tempat ini pula tinggal orang- orang Tamil dengan serikat dagangnya, yang dapat bertahan dengan baik karena mendapat perlindungan dari Kerajaan Cola di India Selatan. Kehadiran serikat dagang Tamil Ainnuarruvar, yang disebutkan sebagai "Yang kelima ratus dari seribu arah" dalam Prasasti Lobu Tua merupakan indikasi penguasaan wilayah. Mereka bergerak menguasai jalur-jalur pelayaran Asia Tenggara, khususnya daerah belahan barat Nusantara, jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa (Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis).

Serangan Cola tahun 1025 yang melumpuhkan kekuatan Sriwijaya dan ditawannya Raja Sriwijaya, yaitu Sri Sanggramawijayottunggawarman, disebutkan dalam Prasasti Tañjore (1030/1031 Masehi) yang dikeluarkan oleh Rajendracola I. Selain Sriwijaya, Rajendracola I juga menaklukkan Kedah dan Langkasuka di daerah Semenanjung Tanah Melayu serta sebagian daerah Sumatera, yaitu Malayu, Panai, dan Lamuri.

Pada saat terjadinya serangan-serangan, raja-raja Cola menjalin kerja sama dengan para pedagang Tamil yang sudah masuk ke kawasan Asia Tenggara dan China. Maksudnya adalah sebagai pelindung bagi para pedagang Tamil ini. Oleh sebab itu, alasan Rajendracola menyerang daerah-daerah itu diduga karena alasan ekonomi. Pajak añcu-tunt- ayam yang ditarik dari para juragan kapal dan kevi dipakai sebagai upeti dengan imbalan keamanan para pedagang selama di laut. Dengan membayar pajak/upeti ini, Rajendracola "berkewajiban" melindungi para pedagang/pelaut Tamil, kapal dan muatannya yang beroperasi di sepanjang jalur perdagangan/pelayaran.

Sebelum serangan Cola, wilayah Selat Melaka dikuasai oleh Sriwijaya. Tiap kapal niaga yang melewati selat harus membayar cukai kepada penguasa selat saat itu, yaitu Sriwijaya. Dalam kasusnya dengan Kerajaan Cola, Sriwijaya mungkin mengutip cukai terlampau tinggi terhadap pedagang Tamil yang melewati Selat Melaka. Akibatnya, Kerajaan Cola yang melindungi para pedagang Tamil ini mengambil tindakan dengan menyerang Sriwijaya dan juga beberapa kerajaan lain di sekitar selat serta kawasan Asia Tenggara. Setelah serangan tahun 1025 tersebut, Sriwijaya tak lagi menguasai Selat Melaka seperti sebelumnya.


Dominasi asing

Sebagian besar komunitas asing asal Tamil menempati daerah pesisir timur laut Aceh, seperti di wilayah Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, hingga ke Kota Medan. Di Medan hingga kini masih dijumpai komunitas Tamil yang masih mempertahankan tradisi tempat asalnya di India Selatan.

Di sisi lain, sejarah pemerintahan di Aceh dimulai sejak lahirnya institusi kesultanan yang dikenal dengan nama Kesultanan Samudra Pasai, yang "dibangun" oleh sekelompok pedagang kaya dari Gujarat, India Barat dekat Pakistan, sekaligus juga menyebarkan agama Islam.

Sultan pertama Samudra Pasai adalah Sultan Malik al’ Saleh (abad ke-13). Keturunan dari sultan memerintah turun- temurun di Samudra Pasai, sampai kemudian "diambil alih" oleh Dinasti Saljuq dari Baghdad dengan Sultan Ali Mughayat (1514-1530) sebagai sultan pertama Kerajaan Aceh. Ini menjelaskan bahwa pada awalnya Aceh tidak diperintah oleh orang Melayu. Baru pada masa Sultan Iskandar Thani (1637-1641), Kesultanan Aceh diperintah oleh keturunan dari Pahang (Malaysia).

Beberapa sejarawan, setidak- tidaknya mereka yang berpegang pada Kitab Sejarah Melayu, masih mengaitkan para penguasa Aceh sebagai orang Melayu, bukan pendatang. Anggapan itu masih dapat diterima sepanjang masih ada data sejarah yang mendukungnya, itu pun setelah pemerintahan Iskandar Thani.

Namun, bila dilihat warna kulit dan raut wajah sebagian masyarakat yang tinggal di pesisir timur laut Aceh, sukar untuk mengatakan bahwa mereka adalah orang Melayu. Dari indikasi ini jelas ada perbedaan: kalangan elite bangsawan dicirikan keturunan Melayu, sedangkan sebagian besar rakyat dicirikan keturunan pendatang.

Bambang Budi Utomo
Kerani Rendahan pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

(Sumber: Kompas, Jumat, 10 Juni 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: