Selasa, 10 Maret 2009

Nostalgia Buletin Romantika Arkeologia

Views


Tiga perintis buletin Romantika Arkeologia, dari kiri ke kanan: Djarot Adhi Purwanto, Norman Edwin (alm), dan Berthold DH Sinaulan.
Foto: Koleksi Anton Rex Montol



Kalau saja tidak ada Norman Edwin, bisa jadi kelahiran buletin Romantika Arkeologia (RA) akan terlambat. Pertama kali RA terbit pada 1978. Sangat jauh berbeda dengan buletin-buletin zaman sekarang, RA terbit dalam kondisi serba kekurangan. Tulisan ditik dengan mesin tik manual di atas stencil sheet. Setelah itu digandakan dengan mesin duplikator milik fakultas.

Namanya juga jadul, akibat dengan sarana minim itu, tulisan dalam buletin sering samar, belang sebelah, tinta belepotan, dsb. Meskipun begitu kehadiran RA sangat membantu keakraban para mahasiswa antar angkatan ketika itu.

Sebagai pencetus dan pelaksana, tentu saja Norman yang paling pontang-panting. Dia juga yang memberi nama itu, Romantika Arkeologia, berdasarkan gagasan dari Pak Soekmono. Buletin RA edisi pertama banyak diisi tulisan tentang laporan perjalanan oleh Norman sendiri.

Rupanya kehadiran RA belum mendapat tanggapan serius dari para mahasiswa. Tidak heran, edisi kedua RA baru terbit di akhir 1979. “Ada rasa malu pada kami mengiringi penerbitan buletin kita ini. Lebih dari satu tahun yang lalu, terbit nomor pertama buletin ini, tapi baru sekarang terbit nomor keduanya!” demikian tulis Norman.

Masih seperti edisi pertama, tulisan tentang laporan perjalanan banyak dimuat dalam edisi kedua ini. Misalnya saja “Cerita dari Banten Selatan” dan “ Arca Domas dan Baduy Kanekes” oleh Norman Edwin. Ada lagi “Kimia Arkeologi” oleh Nick, “Evaluasi KAMA” oleh Boen, dan beberapa tulisan ringan lainnya.

Pada 1980 pemimpin redaksi RA beralih ke tangan Berthold DH Sinaulan. Masalah pengadaan naskah masih juga menjadi kendala, apalagi dana tentunya. Simak saja “Basa Basinya Bung Redaksi” berikut, “Agak malu kami berjumpa dengan Anda karena keterlambatan yang terus-menerus. Masalahnya sebenarnya sederhana saja: naskah kurang dan tidak ada kertas”.

Baru pada 1981 penerbitan RA mulai berkembang. Dibidani Berthold DH Sinaulan dan Djarot Adhi Purwanto, frekuensi penerbitan RA lebih teratur. Tidak hanya setahun sekali, tetapi setahun bisa beberapa kali. Malah mulai saat itu beredar dua jenis penerbitan, yakni edisi reguler yang berisi tulisan-tulisan ringan dan edisi khusus yang berisi artikel ilmiah. Yang membanggakan, mulai saat itu buletin RA telah mendapat nomor ISSN (International Series Standard Number) dari LIPI, yakni Nomor 0216-9207 untuk edisi reguler dan Nomor 0216-9258 untuk edisi khusus.

Satu lagi adiknya RA terbit pula, yakni KAMARIA, yang berisi artikel-artikel konyol versi mahasiswa. Ini bisa dilihat dari mottonya, “bagi yang suka canda dan pengen ngetop”. Tjandrian Attahiyat ditunjuk menjadi pengelola KAMARIA ini.

Menangani buletin RA ketika itu memang bukanlah pekerjaan mudah. Bahkan terkadang harus kerja lembur di kampus Rawamangun. Judul-judul tulisan harus dibuat secara manual dengan Rugos, merk yang amat terkenal waktu itu. Maklum belum ada komputer, mesin tik pun kadang pinjam dari kantor senat mahasiswa. Setelah judul jadi, masih harus dibuatkan electric sheet yang waktu itu hanya bisa dilakukan di Fakultas Ekonomi UI Salemba.

Sebagai pemimpin redaksi keempat, tugas saya tentu saja lebih ringan. Dengan sejumlah tenaga yang telah ada sebelumnya, maka penerbitan pun menjadi lebih banyak frekuensi dan tirasnya. Buletin RA mulai dibagikan kepada dunia luar, seperti balai arkeologi, suaka sejarah dan purbakala, UNESCO, dsb.

Beruntung, Pak R.P. Soejono memberi perhatian besar kepada RA. Secara periodik RA mendapatkan jatah kertas stensil dan kebutuhan lain dari kantor beliau.

RA pun mulai babakan baru dengan melakukan tugas liputan ke lapangan. Berthold dan beberapa teman mewawancarai Wakil Presiden Adam Malik. Djulianto dan Tjandrian mewawancarai kepala KITLV Jaap Erkelens.

Kendala naskah sudah teratasi, namun kendala dana tetap saja ada. Untung saja Norman Edwin kemudian berkiprah juga sebagai wartawan di tabloid Mutiara dan Berthold DH Sinaulan di Sinar Harapan (kemudian menjadi Suara Pembaruan). Mutiara dan Sinar Harapan berada dalam gedung yang sama di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur.

Banyak artikel di RA kemudian saya olah agar menjadi “artikel yang layak jual”. Honorarium itulah yang dipakai untuk kelangsungan hidup RA. Kalau tidak salah, ketika itu honorarium satu tulisan Rp 10.000 hingga Rp 25.000. Sekadar perbandingan, harga kertas stensil Rp 2.000 per rim dan biaya SPP Rp 15.000 per semester.

Selama beberapa tahun saya masih melihat penerbitan RA berjalan relatif lancar. Terakhir saya memiliki RA edisi 73, Des 1995- Jan 1996. Isinya sudah berkembang. Cetakannya sudah rapi. Mudah-mudahan setelah itu RA semakin dikenal dan menjadi ajang pengembangan jurnalistik para mahasiswa.

(Catatan: Norman Edwin meninggal di puncak gunung Aconcagua, Argentina, pada 1992 ketika menjadi wartawan Kompas)

- Djulianto Susantio

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: