Jumat, 27 Maret 2009

“Sakaguru” Golongan Menengah

Views


Oleh: Nurhadi Rangkuti


Sunan Kalijaga datang terlambat. Padahal Sunan Ngampel, Sunan Bonang dan Sunan Gunungjati, telah usai membuat tiang-tiang kayu dan siap ditegakkan. Tinggal satu tiang lagi, atap masjid pun dapat ditopang seimbang. Mereka menunggu sumbangan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga datang tanpa membawa kayu sekeping pun, setelah melakukan perjalanan jauh yang melelahkan dari tempat tirakatnya. Dengan tergesa-gesa ia mengumpulkan potongan-potongan kayu yang terserak, sisa kayu tiang milik para wali. Tatal-tatal kayu itu disusun lalu diikat dengan rumput rawadan. Sakaguru keempat, satu-satunya tiang yang tidak dibuat dari satu batang kayu utuh, tak lama dibuatnya.

Segera malam itu juga pembangunan masjid pertama di Jawa, dikebut. Saka tatal buatan Sunan Kalijaga ditegakkan lebih dulu, diikuti ketiga sakaguru lainnya. Hanya satu malam masjid di tanah Demak itu selesai dibangun!

Cerita ini memang sarat legenda, yang tercatat dalam babad dan hikayat, dan terus berkumandang lewat tutur masyarakat sampai hari ini. Kisah para wali di Jawa berkumpul di Masjid Demak untuk berdiskusi agama Islam dan mistik, setelah mendirikan bangunan sakral itu. Legenda empat tiang utama (sakaguru) dan asal muasal para wali yang membuatnya, ternyata kaya dengan versi.


Masjid Demak

Masjid Demak terletak di Desa Kauman, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, jaraknya 27 km di sebelah timurlaut Kota Semarang, Jawa Tengah. Masjid ini memang tidak dibangun dalam satu malam. Bahkan kapan peletakan batu pertama masjid keramat itu, masih menjadi bahan perdebatan ahli sejarah.

Menurut Babad Demak I, berdirinya Masjid Demak ditandai dengan angka tahun lawang trus gunaning jalma, atau tahun Jawa 1399 yaitu 1447 Masehi. Pembangunan dimulai dari pemasangan empat sakaguru, kemudian bagian-bagian lainnya, termasuk puncak masjid.

Bangunan mihrab diduga dibangun lebih dulu, setelah teka-teki di bagian bangunan itu terungkap. Sebuah hiasan relief cekung (tableau) berbentuk kura-kura ditafsirkan sebagai candrasangkala (tahun kejadian berwujud lukisan, namanya mempunyai nilai angka). Kepala, kaki, tubuh dan ekor, menunjukkan tahun Jawa 1401 (1479 M).

Angka tahun itu sesuai dengan tahun penobatan Raden Patah menjadi sultan di Demak. Bangunan-bangunan besar dan indah lainnya yang mengelilingi mihrab, didirikan 30 tahun kemudian. Candrasangkala lainnya yang tertera pada kayu di pintu gerbang utama, menyiratkan angka tahun Jawa 1428 (1506 M). Menurut Dr. H.J. De Graaf dan Dr. Th. G. Th. Pigeaud (1985), dua sarjana Belanda kenamaan, pada tahun 1507 Masehi, Sultan Trenggana meresmikan perluasan masjid.


Empat sakaguru Masjid Demak. Dari kiri ke kanan: tiang Sunan Gunungjati (baratdaya), tiang Sunan Bonang (baratlaut), tiang Sunan Ngampel (tenggara) dan tiang Sunan Kalijaga (timurlaut).

Masjid Demak memiliki 20 tiang kayu dan 36 pilar dari bata. Empat tiang utama dan 12 pilar bata terpancang di ruang utama. Delapan tiang kayu dan 24 pilar lainnya di bangunan serambi, dan 8 tiang kayu menopang bangunan pawestren atau tempat sholat wanita. Delapan tiang kayu di serambi masjid dikenal dengan nama Saka Majapahit, konon dibawa dari keraton Majapahit. Tiang kayu penuh ukiran suluran, daun yang distilir dan motif tumpal.

Empat sakaguru para wali berada diruang utama berukuran 23,1 X 22,3 meter, dan jarak antartiang 4,75 meter. Keempat tiang berdiri di atas umpak besar dari batu andesit, sekarang tertutup lantai marmer.

Tiang-tiang raksasa ini terbuat dari kayu jati utuh setinggi 16 meter dengan garis tengah 95 cm, termasuk pembungkus kayu inti yang diikat plat besi ketika dipugar tahun 1848. Garis tengah saka yang asli 65 cm.

Ternyata saka tatal Sunan Kalijaga hanya sebuah legenda. Pada tahun 1986 dilakukan pemugaran, pelapis sakaguru itu dibuka. Isinya, kayu jati utuh, bukan tatal-tatal kayu yang dihimpun menjadi tiang utama. Memang ditemukan potongan-potongan kayu yang diikat plat besi, tetapi hanya sepanjang 70 cm dari atas. Yang menyedihkan, sepanjang 7 meter dari lantai kayu intinya telah hancur dan lapuk karena digerogoti waktu, rayap, airtanah dan kotoran kelelawar.

Sakaguru Sunan Gunungjati diganti kayu baru sepanjang satu meter, sedangkan tiga sakaguru lainnya diganti setinggi 725 cm. Mencari kayu jati yang baru dengan ukuran besar sulit diperoleh masa sekarang. Akhirnya kayu pengganti itu berhasil didapatkan dari hutan di daerah Cepu dan Randublatung.


Kayu-kayu sakaguru asli yang lapuk, diganti dengan kayu jati yang baru pada pemugaran tahun 1986


Pembauran

Latar sejarah tokoh pendiri Kerajaan Demak dan para wali menurut babad dan hikayat menyiratkan pembauran. Menurut Babad Demak I, Raden Patah, pendiri dinasti Kerajaan Demak, adalah keturunan Cina. De Graaf dan Pigeaud (1985) menyimpulkan asal usul dinasti Demak dari golongan pedagang menengah yang berasal dari Cina. Sebelum menetap di Demak ia berasal dari Gresik dan telah memeluk agama Islam.

Sunan Ngampel, wali tertua di Jawa, inilah yang memerintahkan Raden Patah membuka hutan di Bintara. Orang suci ini disinyalir lahir di negeri Campa dari ibu seorang Campa dan ayah seorang Arab. Sunan Ngampel bersama saudara kandungnya bertolak ke Jawa untuk mengunjungi bibi mereka, Puteri Campa (makam puteri ini bertarikh 1448 M).

Sunan Ngampel alias Raden Rahmat alias Sayid Ngali Rahmat alias Pangeran Ngampel Denta kemudian tinggal di Ngampel Denta dalam kota Surabaya. Ia datang ke Demak untuk membangun masjid Demak bersama para wali lainnya. Hikayat Hasanuddin dari Banten menyebutkan orang suci ini kemudian menurunkan dinasti para imam Masjid Demak.

Sakaguru Sunan Ngampel di Masjid Demak berada di bagian tenggara. Di bagian baratlaut berdiri sakaguru Sunan Bonang (1475-1525), salah seorang putera Sunan Ngampel. Semula Sunan Bonang tinggal di Surabaya, kemudian Karang Kemuning, Tuban dan terakhir di Ngampel Denta sewaktu dipanggil raja Demak untuk memangku jabatan sebagai imam di Masjid Demak (sesudah tahun 1490 sampai 1506). Setelah meletakkan jabatan sebagai imam, Sunan Bonang kemudian pergi ke Karang Kemuning, Bonang dan Tuban.

Sakaguru Sunan Kalijaga berdiri tegak di timurlaut, sedangkan tiang utama Sunan Gunungjati terpancang di baratdaya. Sunan Kalijaga, semula bernama Raden Sahid, putera seorang bangsawan Majapahit di Tuban. Ilmu agama dituntutnya dari Sunan Bonang, dan menikah dengan putera Sunan Gunungjati dan tinggal di Cirebon. Akhirnya ia dipanggil ke keraton Demak, antara lain berkat rekomendasi Sunan Gunungjati.

Sunan Gunungjati, semula bernama Syekh Nurullah; kemudian terkenal dengan nama Syekh Ibnu Molana, berasal dari Pasei, kota pelabuhan tua di Aceh. Nurullah pergi ke Mekah ketika Pasei dikuasai orang-orang Portugis pada tahun 1521, kemudian merantau ke Jawa. Menurut de Graaf dan Pigeaud (1985), Keraton Demak menyambut Nurullah dengan baik, bahkan menikah dengan saudara perempuan raja ketiga Demak, Sultan Trenggana (1504-1546). Nama Sunan Gunungjati berasal dari tempat makamnya di Bukit Gunungjati, Cirebon, setelah ia berhasil mendirikan dinasti Kerajaan Cirebon dan Banten.


Kiprah Golongan Menengah

Legenda empat sakaguru Masjid Demak karya para wali suci, boleh jadi menyiratkan kiprah golongan menengah pada zaman itu. Setelah peradaban Majapahit runtuh sekitar abad ke-15, golongan menengah banyak memberi kontribusi yang berarti terhadap pembaruan peradaban Jawa yang bernuansa Islam.

De Graaf dan Pigeaud (1985) memberi istilah golongan menengah Islam. Dari permulaan agama Islam sudah berpengaruh pada golongan menengah, kaum pedagang dan buruh di bandar-bandar sepanjang pantai utara Jawa, yang menjadi tempat awal terbentuknya masyarakat Islam.

Para penyebar agama Islam mulanya juga termasuk golongan menengah kaum pedagang. Golongan menengah ini diluar golongan keraton dan petani, tetapi akhirnya dapat merasuk ke seluruh lapisan. Mereka membawa pembaruan baik di bidang keagamaan, perdagangan, kesenian, pendidikan, dan yang juga penting, karya agung Masjid Demak. Sampai abad ke-19, Masjid Demak menjadi pusat agama golongan Islam tradisional.

Tiga ratus tahun lebih empat sakaguru itu berdiri. Kini kayu jati asli tiang utama itu bertambah lapuk. Kayu pengganti akan bertambah panjang, kelak akhirnya mengganti seluruh sakaguru para wali. Belum jelas benar, apakah golongan menengah bangsa ini kini telah siap menegakkan tiang-tiang besar pembaruan dan pembauran. Melanjutkan sakaguru milik para wali, yang akan dicatat sejarah.

(tulisan ini dibuat tahun 1998)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: