Minggu, 24 Mei 2009

Mengenang Boekhandel Tan Khoen Swie

Views


Oleh DJULIANTO SUSANTIO


Sejarah perbukuan di Indonesia tampaknya tidak bisa dilepaskan dari peranan kaum minoritas. Ketika itu bangsa pribumi sedang terjajah sehingga banyak di antara mereka tidak mampu baca tulis. Di pihak lain, ada segolongan warga Tionghoa yang bermodal dan memiliki idealisme untuk meningkatkan derajat bangsa Indonesia. Salah satu caranya adalah menerbitkan buku.

Meskipun namanya tidak setenar Balai Pustaka, tidak dimungkiri kalau kaum tua sekarang masih mengenal atau mengingat nama Tan Khoen Swie (TKS). Pada zamannya boekhandel TKS merupakan penerbit besar dan ternama, meskipun beroperasi dari daerah Kediri yang kecil.

Ditunjang oleh manajemen yang bagus, hanya dalam beberapa tahun nama TKS sudah sangat akrab dengan kalangan terpelajar. Boleh dibilang nama TKS hampir identik dengan buku-buku bermutu yang diterbitkannya.

Penerbit TKS sendiri lahir sekitar tahun 1915, beberapa tahun sebelum Balai Pustaka—penerbitan besar di Jakarta yang dipelopori pemerintah Belanda—berdiri. Untuk membesarkan perusahaannya TKS banyak dibantu oleh penulis-penulis Tionghoa, seperti Tjoa Boe Sing, Tan Tik Sioe, Sioe Lian, Tjoa Hien Tjioe, dan Tan Soe Djwan.

Tidak pelak, ketika itu TKS merupakan penerbit bergengsi. Meskipun begitu TKS tidak segan-segan mengundang para penulis dari berbagai daerah untuk bekerja sama sebagai mitra. Para penulis pun bangga dengan kehadiran TKS. Bahkan ada yang sengaja datang dari Cilacap, Solo, Ngawi, dan kota-kota lain hanya untuk bernegosiasi dengan TKS.

Pujangga-pujangga terkenal Jawa seperti Ronggowarsito, Yosodipuro, dan Ki Padmosusastro juga ikut merasakan manfaat TKS. Tak terbayangkan, tanpa TKS mungkin karya-karya besar mereka tak bakalan dikenal masyarakat luas. Selain karya orisinal, TKS banyak pula menerbitkan karya terjemahan dari bahasa Belanda atau Inggris.

Kehadiran penerbitan TKS tentu saja ikut menandai era buku, menggantikan tradisi tutur yang sebelumnya banyak berkembang di Jawa. Sebuah era baru dalam penggandaan karya (tulis) yang sebelumnya hanya dikenal dalam bentuk tedhakan (turunan yang ditulis tangan). Pengarang lagu langgam Jawa, Anjar Any (kini almarhum), pernah mengakui bahwa penerbit TKS begitu produktif sehingga berperan mencerdaskan bangsa pada zamannya.

Beberapa buku terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie




Buku-buku koleksi pribadi

Dihitung-hitung TKS telah menerbitkan sekitar 400 judul buku. Jumlah yang sangat banyak untuk ukuran kala itu. Buku-buku TKS bisa dikategorikan menjadi tiga jenis berdasarkan huruf dan bahasa yang digunakan, yakni berhuruf dan berbahasa Jawa, berhuruf Latin berbahasa Jawa, dan berhuruf Latin berbahasa Melayu. Banyak dari buku-buku itu tergolong best seller pada zamannya sehingga mengalami beberapa kali cetak ulang.

Sebagian besar buku-buku TKS berupa pengetahuan populer, seperti tentang oriental, kebatinan, ramalan, primbon, legenda, dan filsafat. Misalnya saja Kitab Horoscoop, Kitab Rama Krisna, Kekoeatan Pikiran, Kitab Ramalan dan Ilmu Pirasat Manusia, Kitab Achli Noedjoem, serta Alamat Ngimpi dan Artinja. Pada masa itu, buku-buku demikian paling banyak diminati masyarakat Indonesia. Buku-buku itu diterbitkan dalam kisaran 1919 hingga 1956.

Hingga 1940-an TKS masih menjadi lokomotif penerbitan buku di Indonesia. Tak heran, TKS berhasil memperluas tempat usahanya yang berada di Jalan Dhoho 147 Kediri. TKS kemudian mendirikan Toko Soerabaia, sebenarnya toko kelontong, di Kediri dan perwakilan TKS di Solo.


Buku-buku koleksi pribadi

Sayang, usaha penerbitan TKS lambat laun mengalami kemunduran sepeninggal sang pendiri, Tan Khoen Swie (1883-1953). Kemungkinan besar, buku Alamat Ngimpi dan Artinja (1956) merupakan karya terakhir TKS, karena setelah itu tidak ada lagi buku-buku baru yang beredar di pasaran.

Betapa pentingnya peran TKS membuat pemerintah kota Kediri pada 2002 lalu membentuk Tim Penelitian Situs Tan Khoen Swie. Salah satu tugas tim adalah melacak dan mendapatkan kembali buku-buku terbitan TKS.

TKS pada masanya telah memelopori penerbitan buku dan mampu bertahan hingga sekitar 40 tahun lamanya. Namanya memang sudah tidak terdengar lagi, tetapi jejak yang ditinggalkannya telah tercatat dalam sejarah.***

DJULIANTO SUSANTIO
Penikmat Buku, Tinggal di Jakarta

3 komentar:

  1. Terima Kasih masih ada seorang anak muda bangsa ini yang mau membahas sejarah masa lampau.

    Untuk yang mampir di blog milik Mahasiswa susantio ini bisa mengupas lebih dalam isinya dan paham maknanya

    Coba juga ini di link sekaligus dibaca :"

    PURI SURYA MAJAPAHIT dan PURA IBU KAWITAN MAJAPAHIT "

    SUKSES UNTUK SEMUA DEMI NUSANTARA TANAH AIR TERCINTA BUKAN SAREAT ARAB YANG PALING BAGUS, SEJARAH KITA JUGA BAGUS...TAPI JANGAN SAMPAI 100 % DIARABISASI.

    BalasHapus
  2. di kediri, alamatnya dimana ya TKS ....?

    BalasHapus
  3. Alamat lama Jalan Dhoho 147, Kediri. Entah apakah sudah pindah atau belum.

    BalasHapus

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: