Minggu, 07 September 2008

Perpustakaan dan Minat Baca

Views


Oleh DJULIANTO SUSANTIO


Membaca dan perpustakaan memang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya cuci mata dengan mal. Namun, bila membaca mendatangkan manfaat ilmu, cuci mata hanya menghamburkan energi atau uang.

Ada berbagai alasan mengapa masyarakat, terutama para remaja, enggan membaca. Alasan klasik adalah mahalnya harga buku. Maka jangan heran kalau slogan keren "buku adalah jendela dunia" atau "buku mencerdaskan kehidupan bangsa" hanya berlaku di atas kertas.

Alasan kedua adalah perpustakaan yang ada belum representatif kondisinya. Jauh dari jangkauan, ruangannya kurang bersih, pelayanannya kurang memuaskan, dan buku-buku yang dicari sering tidak ada di tempat, menjadi alasan pokok yang masih terdengar hingga kini.

Perpustakaan adalah tempat orang membaca dan meminjam buku, termasuk berbagai bahan cetakan lain seperti majalah, surat kabar, dan terbitan berkala. Perpustakaan modern malah telah dilengkapi koleksi non-cetak, seperti kaset, video. CD-ROM, dan mikrofilm.

Sebenarnya perpustakaan banyak terdapat di sekitar kita. Yang paling kecil adalah perpustakaan pribadi atau perpustakaan keluarga. Lokasinya, ya, di rumah masing-masing. Perpustakaan pribadi umumnya menyimpan berbagai koleksi milik keluarga. Karena itu perpustakaan pribadi hanya dimanfaatkan oleh keluarga terdekat.

Yang lebih besar adalah perpustakaan sekolah. Pengguna perpustakaan sekolah adalah murid, guru, dan karyawan sekolah bersangkutan. Lebih komplet dan besar dari itu adalah perpustakaan perguruan tinggi. Koleksi perpustakaan perguruan tinggi boleh dibaca oleh siapapun yang membutuhkan.

Banyak perpustakaan juga terdapat pada lembaga-lembaga pemerintahan dan swasta. Perpustakaan yang relatif besar biasanya ada di tiap-tiap propinsi, yaitu Perpustakaan Daerah atau Perpustakaan Wilayah. Untuk mendorong minat baca pemerintah juga membuat Perpustakaan Keliling atau Perpustakaan Mobil.

Sejumlah organisasi nonprofit bahkan membuat Mobil Pintar yang di dalamnya berisi buku dan media belajar lainnya, termasuk Perpustakaan Motor Keliling yang baru diperkenalkan secara terbatas Februari 2006 lalu.

Sungguh ironis, di Jakarta perpustakaan besar seperti Perpustakaan Nasional boleh dibilang minim pengunjung. Yang datang ke sana umumnya para intelektual, akademisi, dan peneliti. Kalau dibilang perpustakaan Indonesia kurang greget dalam hal pelayanan, barangkali benarlah adanya.

Sejumlah mahasiswa mengaku lebih senang mengunjungi Perpustakaan British Council (milik Kedubes Inggris) atau Perpustakaan USIS (milik Kedubes AS) daripada Perpustakaan Wilayah atau Perpustakaan Nasional.



Rendah


Dalam suatu penelitian ilmiah pernah mengemuka bahwa minat para remaja Indonesia untuk membaca buku termasuk paling rendah di Asia Tenggara. Apalagi kalau dibandingkan Jepang dan AS, terlihat jauh sekali ketinggalan kita.

Menurut penelitian itu, di saat-saat senggang biasanya remaja Indonesia hanya ngerumpi atau ngomongin cewek/cowok. Bahkan ngeceng di mal. Bandingkan dengan remaja Jepang yang selalu memanfaatkan waktu luangnya dengan membaca buku di mana saja, seperti di taman dan kendaraan umum.

Kiranya banyak orang tahu kalau bangsa Jepang sekarang menjadi "Macan Asia" bahkan di dunia. Perekonomian mereka sudah demikian maju.

Kemajuan mereka terbilang pesat sekali, padahal kita dan Jepang sama-sama bangkit pada 1945. Mereka sukses karena didukung berbagai pihak yang antusias sekali menerjemahkan buku-buku Barat dan diimbangi minat baca yang tinggi.

Dukungan serupa juga diberikan oleh pemerintah AS kepada rakyatnya, dengan cara meningkatkan minat baca pada anak-anak. Mereka banyak sekali menyediakan bacaan di perpustakaan. Di sana kesadaran membaca sudah ditumbuhkan para orang tua dan guru sejak anak masih kecil. Bahkan sebagian pendapatan pajak negara disubsidikan untuk pembinaan perpustakaan.

Kepedulian juga diwujudkan oleh sejumlah warga AS dengan cara menghibahkan hartanya untuk mengembangkan dan mendirikan perpustakaan, termasuk berbagai lembaga pendidikan perpustakaan. Salah seorang dermawan AS yang besar minatnya terhadap perpustakaan adalah Andrew Carnegie, raja baja dari Pennsylvania. Carnegie banyak menyumbangkan hartanya untuk mendirikan perpustakaan yang disebut Carnegie Mellon. Carnegie juga giat membiayai sekolah perpustakaan di AS. Bahkan ratusan gedung perpustakaan umum di seluruh AS mendapatkan bantuan dari Yayasan Carnegie.

Mantan-mantan presiden AS juga banyak mendirikan perpustakaan pribadi yang terbuka untuk umum. Ronald Reagan mempunyai perpustakaan pribadi di California, Lyndon B. Johnson di Texas, John F. Kennedy di Massachusetts, Jimmy Carter di Atlanta, dan Richard Nixon di New York.

Kebiasaan seorang presiden memelopori pendirian sebuah perpustakaan dimulai sejak presiden ke-3, Thomas Jefferson, pada abad ke-18. Presiden itu pula yang menciptakan sebuah sistem klasifikasi buku, yakni Klasifikasi Jefferson. Sistem ini kemudian dikembangkan menjadi The Library of Congress Classification yang terkenal di seluruh dunia.

Di Indonesia sebenarnya beberapa presiden dan wakil presiden juga mempunyai berbagai koleksi buku. Yang dianggap kutu buku adalah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh Hatta. Pembesar lain yang termasuk kutu buku adalah BJ Habibie dan Adam Malik sebagaimana terlihat dari didirikannya The Habibie Center dan Museum Adam Malik.

Satu masalah besar dari rendahnya minat baca adalah keterpurukan penerbitan buku. Di Indonesia jumlah judul buku yang diterbitkan selama setahun, hanya sekitar seperempat dari penerbitan sejenis di Malaysia. Padahal jumlah penduduk negara kita berkali-kali lipat banyaknya dari Negeri Jiran itu.

Banyak pakar percaya bahwa barometer kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas masyarakatnya dalam memahami suatu ilmu pengetahuan dan teknologi, yang antara lain diperoleh lewat bahan bacaan. Suatu bangsa yang masyarakatnya kurang membaca buku, terbilang bangsa yang sulit maju.

Langkah yang harus kita lakukan sekarang adalah menggairahkan minat baca pada anak-anak dan generasi muda. Fasilitas perpustakaan pun perlu ditingkatkan dan diperbanyak. Kita harapkan pengelola mal mau berbaik hati dengan menyediakan ruangan secara gratis, sehingga perpustakaan akan masuk mal. Mungkin ramai pengunjung nantinya. Memang semua perlu proses dan dana, tapi perjuangan itu perlu. Mulai sekarang ke perpustakaan, yuk!

(Suara Pembaruan, Minggu, 30 April 2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: