Senin, 24 November 2008

Bangunan Kuno Aceh, Selamat Berkat Kearifan

Views


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO


Bencana tsunami dan gempa bumi di Aceh banyak memakan korban jiwa dan harta benda. Namun banyak pula yang selamat, di antaranya sejumlah bangunan bersejarah.

Salah satu bangunan itu adalah Masjid Baiturrahman, masjid terbesar dan tertua di Aceh. Malah ketika terjadi bencana tsunami, banyak penduduk berlindung di atas tembok Baiturrahman. Baiturrahman merupakan peninggalan monumental Sultan Iskandar Muda. Sepanjang sejarahnya masjid ini sering didatangi petinggi-petinggi negara, seperti B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Sultan Brunei Hasanal Bolkiah, dan mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad.

Kekokohan Masjid Baiturahman sering kali dihubungkan dengan mitos sebagai tempat suci yang dilindungi Allah. Memang ada benarnya, meskipun dapat pula dilihat dari sudut pandang lain.

Kearifan bangunan, itulah sudut pandang dari segi arkeologi. Masyarakat dulu kala sangat percaya akan filosofi adanya tiga alam dalam jagat raya, yakni alam bawah, alam tengah, dan alam atas. Alam bawah disimbolkan dengan kaki bangunan, alam tengah dengan badan bangunan, dan alam atas dengan atap bangunan. Untuk bisa cepat menuju alam atas, maka alam bawah harus tinggi letaknya.

Karena itu Masjid Baiturrahman memiliki kaki yang tinggi, dalam bentuk undak atau anak tangga. Bahkan memiliki sejumlah pintu semu, semacam kusen tanpa dilengkapi daun pintu dan pilar penyangga. Konstruksi seperti itulah yang menyebabkan sebagian air yang menerjang, terpecah oleh pintu semu dan pilar. Dengan demikian tenaga yang dihasilkan terjangan air tidak besar.

Rumah tua peninggalan pahlawan Aceh Cut Nyak Dien juga selamat meskipun halamannya dipenuhi genangan lumpur, serakan sampah, dan mayat-mayat kiriman. Padahal letak rumah tersebut sekitar dua kilometer dari tepi pantai.

Rumah Cut Nyak Dien bisa luput karena untuk memasuki rumah tersebut, kita harus menaiki tangga sekitar tiga meter. Sekali lagi, filosofi tiga alam yang menjadikan rumah itu terhindar dari maut.

Peninggalan bersejarah lain yang masih berdiri kokoh adalah Benteng Indrapatra. Benteng ini terbuat dari batu besar dan memiliki dinding setebal 50 cm. Di dinding depan yang menghadap ke pantai, terdapat sejumlah lubang kecil. Dulunya lubang ini dipakai sebagai tempat meletakkan senjata saat berperang (Koran Tempo, 6 Februari 2005).

Meskipun benteng ini terletak di bibir pantai, namun tak satu pun bagian benteng yang rusak. Tsunami hanya meninggalkan endapan lumpur yang cukup tinggi. Lubang-lubang kecil tempat meletakkan senjata itulah yang dipandang merupakan “dewa penyelamat”.

Berbagai peninggalan masa lampau juga selamat karena kearifan lingkungan. Banyak bangunan kuno dibangun di dekat sungai. Ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat masa lampau bahwa sungai atau air merupakan benda suci karena merupakan pelengkap penting dalam upacara keagamaan. Ketika terjadi gelombang tsunami, air yang menuju sejumlah bangunan kuno terpecahkan oleh sungai sehingga airnya berbelok arah. Karena relatif aman banyak penduduk mengungsi atau menyelamatkan diri ke situs-situs bersejarah tersebut.

Memang beberapa bangunan bersejarah dan makam-makam kuno dari periode Islam dan Belanda, sempat diterjang tsunami. Namun kerusakannya tidak begitu parah.

Kemungkinan besar bangunan-bangunan itu masih bisa dipugar kembali, sehingga geliat wisata Aceh kembali pulih. Yang parah justru peninggalan-peninggalan masa lampau, termasuk naskah-naskah kuno, yang tersimpan di dalam museum dan perpustakaan.

Bangunan-bangunan kuno, terutama kompleks makam kuno, merupakan aset wisata yang paling diandalkan di Aceh. Apalagi setiap tahunnya ratusan ribu peziarah mengunjungi situs-situs bersejarah ini, terutama makam kuno Teungku Syiah Kuala.

Bahkan boleh dikatakan makam Teungku Syiah Kuala sudah begitu melegenda, sehingga banyak dikunjungi peziarah sejak abad XIX sebagaimana laporan Snouck Hurgronye.
Menghargai masa lampau sekaligus menjaganya, paling tidak menjadi modal dasar untuk mengenang kebesaran Aceh.

Meskipun banyak sumber sejarah Aceh yang tersimpan di museum dan perpustakaan rusak berat karena tsunami, kita masih beruntung karena banyak naskah tentang Aceh masih tersimpan di berbagai negara Eropa, antara lain di Perpustakaan India Office, Perpustakaan Universitas Leiden, Perpustakaan Royal Asiatic Society, Perpustakaan King’s College, dan Perpustakaan School of Oriental and African Studies. Dari naskah-naskah inilah kita berharap dapat menjadi acuan untuk membangun kembali Aceh sebagai kota dagang dan kota pelabuhan yang terkenal seperti pada masa abad XVI-XVII.***

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: