Senin, 24 November 2008

Dulu, Aceh Surga Penelitian

Views


Oleh DJULIANTO SUSANTIO


Menurut dokumen-dokumen sejarah, Aceh pernah menjadi kerajaan yang cemerlang di masa lampau. Aceh mulai disebut-sebut pedagang dan pengelana asing sejak abad XVI. Bangsa-bangsa asing yang sering datang ke Aceh adalah Portugis, Belanda, Inggris, Italia, Prancis, China, Arab, dan India.

Namun asal mula kerajaan Aceh sampai kini masih terselubung. Cerita mitos mengatakan orang-orang Aceh adalah keturunan Ismael dan Hagar dari seberang laut. Menurut Snouck Hurgronye, orang Aceh lahir dari percampuran orang Arab, Parsi, dan Turki.


Sejarah Melayu menceritakan seorang raja dari Campa, Syah Pu Liang (atau Ling) diusir dari ibukotanya oleh bangsa Vietnam sekitar 1471. Kemudian dia mencari perlindungan di Aceh dan membentuk wangsa baru.


Hikayat Aceh yang isinya lebih bersifat dongeng mengisahkan bahwa Aceh muncul karena bersatunya dua wilayah permukiman Makota Alam dan Dar ul-Kamal (Denys Lombard, Kerajaan Aceh).


Menurut tradisi, pendiri Aceh adalah Ali Mughayat Syah (Ali Mugayat Sah). Beliau sering diceritakan kronik-kronik Aceh. Bilamana beliau naik takhta belum diketahui pasti. Hanya dalam penemuan nisan makamnya, diketahui beliau wafat pada 7 Agustus 1530.


Pada awal abad XVI Aceh sudah maju. Menurut penjelajah Eropa, di sana tidak ada tembok benteng seperti di Eropa dan India. Yang ada hanyalah lapangan yang menyulitkan orang untuk mendarat dan masuk. Ini menjadikannya semacam pertahanan alamiah.


Pada masa itu kekuasaan Aceh demikian besar karena banyak negara tetangga tunduk kepadanya. Disebutkan pula, tentara Aceh gesit dalam berperang. Kendaraan tempurnya yang paling diandalkan adalah pasukan gajah-gajah terlatih.


Kota Aceh sangat luas. Keliling Aceh, kata Nicolaus de Graaff (penjelajah Belanda), kira-kira 2 mil. Mil adalah ukuran yang biasa dipakai di Jerman dan Belanda (1 mil = 7408 meter). Jadi keliling Aceh kira-kira 15 kilometer. Sementara banyaknya rumah, kata William Dampier (penjelajah Inggris), antara 7 ribu hingga 8 ribu.


Raja Aceh yang terkenal adalah Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Sultan ini banyak membangun masjid. Dampier melaporkan bahwa masjid-masjid di Aceh berciri khusus, sangat berbeda daripada yang dilihatnya di Timur Tengah dan Turki.


Pada abad XVII Aceh pernah memiliki seorang ulama besar Abd ur-Rauf dari Singkel. Dia menulis sebuah karya agung Umdat al-Muhtajin. Setelah meninggal, dia mendapat nama anumerta Teungku di Kuala atau Teungku Syiah Kuala, karena makamnya terletak dekat Sungai Aceh. Sekarang nama Syiah Kuala diabadikan sebagai nama perguruan tinggi terbesar di Aceh.



Penelitian


Valentijn mungkin merupakan orang pertama yang menaruh perhatian khusus pada sejarah Aceh. Namun yang banyak membahas tentang Aceh adalah William Marsden. Marsden kemudian membawa beberapa naskah Aceh ke Eropa sebagai acuan bukunya, History of Sumatra. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Sumatra (1999). Sesudah itu muncul beberapa nama penulis Eropa lain, seperti E. Jacquet, Ed. Dulaurier, T. Braddell, J. Anderson, H.C. Millies, dan van Langen.


Selain kronik Aceh, para peneliti Barat banyak memakai kronik Melayu sebagai referensi. Namun isi kronik Melayu lebih mirip dongeng daripada fakta. Salah satu kronik Melayu yang dipandang benar-benar bisa diandalkan sebagai sumber informasi sejarah adalah Bustan us-Salatin, karya Nuruddin ar-Raniri. Karya Raniri dianggap sebagai monografi lengkap tentang agama dan sejarah Aceh.


Selain penelitian sejarah dan filologi, para sarjana Barat juga melakukan penelitian arkeologi di sana. Kegiatan itu mulai dilaksanakan pada 1884 oleh J.P. Moquette, van Ronkel, dan sejumlah pakar lain. Objek yang diteliti umumnya adalah masjid, nisan kuno berinskripsi, bangunan arkeologi Islam lain, dan bangunan dari masa kolonial.


Di masa penjajahan, Aceh termasuk salah satu daerah yang tidak mau tunduk kepada Belanda. Sulit sekali bagi Belanda untuk menjinakkan Tanah Rencong. Dengan pahlawan-pahlawan besar seperti Teuku Umar dan Tjut Nyak Dien, maka Perang Aceh tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu pertempuran paling lama. Perang Aceh berlangsung pada1873-1904.


Sebagai kota yang pernah berperan besar dalam sejarah, banyak peninggalan masa lampau tersebar di seluruh Aceh, berupa peninggalan tertulis dan peninggalan tak tertulis. Sebagian peninggalan tertulis berupa dokumen dan naskah kuno, banyak diboyongi ke Eropa. Saat ini sumber-sumber tersebut tersimpan di Belanda, Inggris, dan Prancis.


Sedangkan peninggalan tak tertulis berupa benda-benda arkeologi, sebagian di antaranya telah rusak diterjang tsunami akhir 2004 lalu. Sebagian lagi, seperti halnya peninggalan tertulis, masih berada di Eropa.


Dulu, Aceh menjadi surga penelitian. Mengingat masa lampaunya pernah cemerlang, sementara banyak sisa peninggalan kunonya rusak, mudah-mudahan rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh juga menyangkut warisan budayanya.***


DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, Tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: