Senin, 24 November 2008

Tsunami dan Dokumen Sejarah Aceh

Views


Oleh DJULIANTO SUSANTIO


Ingat Aceh, tentu ingat bencana tsunami yang melanda daerah itu 26 Desember 2004 lalu. Lebih dari 100.000 orang dipastikan meninggal. Tak terhitung harta benda rusak karena gelombang laut mahadahsyat itu. Tidak ada yang menduga bahwa bencana tsunami yang terjadi akan separah itu karena sebelumnya tidak ada firasat atau tanda tertentu.

Padahal sebenarnya tanda-tanda bahaya telah tertulis sejak lama. Hanya kita belum menyadari tanda-tanda itu. Jika dikaji, sejumlah dokumen sejarah dari abad XVI hingga XVIII berulang kali pernah menyebutkan Aceh (bersama Nias) sebagai “Kota Bencana”. Salah satu sumber, misalnya, menyatakan setiap tahun banjir besar, air laut pasang, dan gempa bumi silih-berganti melanda Aceh. Akibatnya, para pedagang dan pengelana asing yang pernah mengunjungi Aceh saat itu, sering menjuluki Aceh sebagai “kota mati” atau “kota yang menyeramkan”.

Disebutkan pula, bencana banjir sering dalam satu kali menghancurkan satu kampung sekaligus. Meskipun rumah-rumah penduduk dibangun di atas tiang setinggi 1,20 meter hingga 1,80 meter, selalu ada sejumlah rumah yang hanyut terseret air. Ini karena rumah-rumah di sana sedikit sekali yang terbuat dari batu. Umumnya rumah-rumah penduduk berbahan alang-alang dan bambu.

Betapa parahnya bencana itu bisa dicermati dari laporan selanjutnya, “Karena pasang purnama dan sungai hampir setiap tahun menggenangi kota, maka orang terpaksa naik perahu dari rumah yang satu ke rumah yang lainnya” (Denys Lombard, Kerajaan Aceh, hal. 61).

Selain itu, malapetaka kebakaran sering menghancurkan berbagai rumah di Aceh. Begitu pun gempa bumi. Malah gempa bumi yang terjadi sebelum matahari terbit pada 7 Maret 1621, kekuatannya begitu besar. Mereka yang berada di dalam rumah merasakan seakan-akan atap rumah roboh menimpa mereka. “Sekurangnya setiap tahun terjadi tiga-empat gempa di sana,” begitu Lombard menuliskan (hal. 63).

Banyaknya bencana di Sumatra, terlebih di Aceh, juga pernah dilaporkan William Marsden dalam bukunya Sejarah Sumatra. Kala itu, menurut Marsden, di Sumatra terdapat sejumlah gunung berapi yang sering mengeluarkan lava sehingga menyebabkan hutan terbakar. Bahkan letusan-letusan gunung berapi itu mempunyai hubungan dengan gempa bumi yang sering terjadi di sana.

Gempa bumi yang paling keras dirasakan sendiri oleh Marsden pada 1770 dan terjadi di daerah Manna. Sebuah kampung dikabarkan musnah. Selain itu banyak rumah runtuh dan habis dimakan api, bahkan beberapa orang tewas. Sebelumnya, pada 1763 Marsden mendapat kabar bahwa seluruh penduduk yang tinggal pada satu kampung meninggal akibat gempa bumi di Nias.

Rupanya gempa yang terjadi pada abad XVIII itu relatif besar karena menurut Marsden seusai gempa terjadi retakan tanah sepanjang seperempat mil dan banyak bagian bukit longsor karenanya. Sering kali gempa diiringi gelombang laut yang besar sehingga goncangannya dirasakan kapal-kapal besar yang membuang jangkar di bandar (hal. 23).

Selain gempa bumi, Sumatra khususnya Aceh, sering dilanda surf, yakni alunan ombak tinggi dan pecah di pantai. Tinggi surf mencapai 15-20 kaki, lalu puncaknya menggantung dan kemudian seluruhnya jatuh seperti air terjun, hampir tegak lurus melebur dirinya. Deru yang diakibatkan oleh hempasan itu sangat keras sehingga dapat terdengar bermil-mil di daratan dalam kesunyian malam.

Gelombang surf mungkin serupa dengan gelombang tsunami. Apalagi, menurut Marsden, tenaga surf sangat kuat. Hal ini terlihat dari sebuah perahu yang terjungkir sehingga puncak tiang layarnya menancap di pasir dan pangkalnya menembus dasar perahu (hal. 25).

Sementara itu, laporan pengelana Barat lainnya menyatakan, negeri Aceh tidak terlalu baik dari segi geografis. Bahkan negerinya sering diporak-porandakan oleh alam. Sayang, kita tidak memahami peringatan-peringatan dini dari abad lampau itu, sehingga kita tidak siaga menghadapi tsunami. Mudah-mudahan hal ini membuka kearifan kita bahwa dokumen-dokumen kuno masih bermanfaat.


Cemerlang

Meskipun sering dilanda bencana, Aceh pernah menjadi kerajaan yang cemerlang di masa lampau. Aceh mulai disebut-sebut pedagang dan pengelana asing sejak abad XVI.

Kemungkinan besar penyebutan pertama terdapat dalam buku Suma Oriental karya Tome Pires (1520). Pengelana bangsa Portugis itu menyebutnya Achei (Achey), bahkan sering kali regno dachei (=kerajaan Aceh).

Pires memberitakan bahwa Raja Aceh gemar berperang. Raja itu beragama Islam dan gagah perkasa. Dalam perang, dia telah menyebabkan banyak kerusakan pada pihak musuh. Banyak pulau di dekatnya, juga dikuasai raja itu.

Namun Barros, meskipun juga orang Portugis, menulis Aceh dengan ejaan lain, yakni Achem, Achin, dan Atchin. Sedangkan naskah Cina Tong-hsi-yang-kao (1618) dan Shun-feng-hsiang-song (abad XVII) menyebutnya A-tsi, mungkin identik dengan Acih.

Nama Aceh mulai dikenal luas pada abad ke-19 setelah Snouck Hurgronye, seorang Belanda ahli agama dan kebudayaan Islam, menulis buku De Atjehers (Orang-orang Atjeh). Cara menulis seperti itulah yang kemudian dipakai dalam teks-teks resmi. Nama Aceh sendiri, menurut tradisi Melayu, diambil dari sejenis pohon yang dinamakan Achi.

Karena terletak di tepi pantai, Aceh banyak didatangi bangsa asing dengan berbagai maksud. Ada yang berdagang, menyampaikan upeti, hingga menyebarkan agama Islam. Sebuah naskah Cina dari masa 1573-1620 memberitakan, Aceh banyak mengekspor batu mulia, nila, kuda, badak, batu ambar, kayu gaharu, kayu kalambak, kayu pucuk, cengkeh, dupa, keris, busur, timah, lada, kayu sapan, dan belerang.

Aceh sebagai bandar yang ramai dan kota perdagangan memang banyak disebutkan sumber Barat. Ini karena pelabuhan Aceh dinilai strategis dan lokasinya tidak jauh dari Selat Malaka. Ramainya perdagangan Aceh diperlihatkan oleh begitu banyaknya temuan-temuan arkeologis di sana.

Mulai abad ke-19 Aceh mendapat julukan baru, yakni sebagai “Kota Penelitian”. Banyak peneliti Barat melakukan studi di Aceh. Yang terbanyak adalah di bidang sejarah, filologi, dan arkeologi.

Dari beberapa penelitian itu, ada beberapa yang dianggap fenomenal. Misalnya penelitian yang dilakukan J.P. Moquette, terhadap tulisan pada makam-makam Islam kuno. Dia menyimpulkan dua hal penting, yakni Sultan Malik as-Salih adalah pendiri kerajaan Islam (Samudra Pasai) yang pertama di Indonesia dan para pedagang Muslim yang berasal dari Gujarat (India) merupakan penyebar agama Islam yang pertama di Indonesia. Keduanya terjadi pada abad XII (Uka Tjandrasasmita, “Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia”). Pendapat Moquette itu masih diterima para sejarawan dan arkeolog hingga kini.

Tragisnya, banyak sekali warisan kebesaran Samudra Pasai diluluhlantakkan tsunami. Akibatnya, hampir tidak ada lagi sisa-sisanya yang dapat disaksikan anak cucu kita. Untungnya, sejumlah manuskrip kuno dan benda arkeologi pernah “dibawa kabur” ke mancanegara pada zaman Hindia Belanda. Jadi, hanya artefak-artefak di Belanda, Inggris, dan Prancis itulah saksi bisu bukti kebesaran Aceh.

Masalah kita sekarang tentu adalah bagaimana upaya rekonstruksi Aceh. Bukan hanya rekonstruksi fisik, tetapi juga rekonstruksi bangunan dan peninggalan sejarah yang rusak bahkan musnah diterjang tsunami. Ini agar kebesaran Aceh tampak kembali, sekaligus menunjukkan potret buram bencana bersama keagungan sejarah.***

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, Tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: