Jumat, 20 Maret 2009

"Aksobhya" yang Gagal Dilelang

Views

ARCA Buddha yang akan dilelang di New York, AS, akhir Maret lalu, masih menjadi kontroversi soal keasliannya hingga kini. Pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menganggap arca Buddha tersebut barang curian dari Candi Borobudur sehingga mengesankan arca tersebut adalah asli.

Sebaliknya, para perajin patung batu di Kampung Prumpung, Muntilan, menilai arca tersebut buatan perajin setempat. Hal ini terlihat dari pori-pori pada tubuh arca. Menurut mereka, sejak lama banyak kolektor barang antik dari dalam negeri dan mancanegara memesan arca Buddha sejenis dari para perajin. Kemudian lewat berbagai proses arca "disulap" menjadi benda seni bernilai tinggi.

Di tangan pembuatnya arca itu hanya berharga jutaan rupiah. Namun, di Balai Lelang Christie dipasang harga pembukaan Rp 2,8 miliar. Tidak tertutup kemungkinan akan mencapai Rp 5 miliar-bahkan lebih-seandainya lelang berjalan mulus.

Melihat foto saja memang agak sulit menentukan apakah arca Buddha tersebut "asli" atau "tiruan/palsu". Namun, sebenarnya itu bisa dikaji lebih dalam oleh seorang arkeolog yang mendalami ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno).

Seniman-seniman zaman dulu biasanya mendasarkan kreasinya kepada kitab-kitab kuno dari India. Kitab tersebut memuat patokan-patokan tertentu tentang skala atau perbandingan bagian-bagian wajah yang disebut dengan satuan tala. Misalnya jarak antarmata harus sekian tala. Begitu pula jarak mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan sebagainya.

Umumnya arca-arca batu yang terdapat pada candi benar-benar mengikuti aturan kitab kuno. Nah, jika ada pembuatan arca yang menyimpang dari aturan baku, tidak pelak lagi merupakan barang palsu.


"Aksobhya"

Ditilik dari atribut atau ciri-ciri arca diketahui arca Buddha yang akan dilelang itu adalah Aksobhya. Ciri utamanya adalah mempunyai mudra (sikap tangan) bhumisparsa, yaitu sikap tangan memanggil Bumi. Sikap demikian menunjukkan Aksobhya adalah saksi saat Sang Buddha digoda oleh Mara di bawah pohon bodhi. Aksobhya adalah penguasa Timur.

Dalam agama Buddha aliran Mahayana dikenal adanya lima dhyanni-Buddha. Masing-masing menguasai empat arah mata angin pokok ditambah satu di zenith (pusat). Selain Aksobhya, keempat dhyanni-Buddha itu adalah Wairocana (penguasa zenith, mudra-nya dharmacakra, yaitu sikap tangan memutar roda dharma), Amoghasidhi (penguasa Utara, mudra-nya abhaya, yaitu sikap tangan menenteramkan), Amitabha (penguasa Barat, mudra-nya dhyana, yaitu sikap tangan bersemedi), dan Ratnasambhawa (penguasa Selatan, mudra-nya wara, yaitu sikap tangan memberi anugerah).

Amitabha adalah Buddha pada dunia sekarang, sementara Ratnasambhawa adalah Buddha yang akan datang. Lainnya-Wairocana, Aksobhya, Amoghasidhi-adalah Buddha yang telah lalu.

Umumnya penggambaran arca Buddha sangat sederhana, tanpa hiasan, hanya memakai jubah. Ciri-ciri lainnya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Candi yang terbanyak memiliki arca dhyanni-Buddha adalah Borobudur. Banyaknya 504 buah yang terdapat pada tingkat arupadhatu. Sayang, lebih dari 300 di antaranya telah cacat atau tanpa kepala. Yang tragis, 43 buah telah hilang. Demikian data pada tahun 1980.

Mungkinkah Aksobhya yang gagal dilelang itu pernah bermukim di Candi Borobudur, tentu memerlukan penelitian lebih lanjut.

Pada dasarnya seni pahat patung kuno di Indonesia terbagi atas dua gaya, yakni kelompok Jawa Tengah dan kelompok Jawa Timur. Seni pahat Jawa Tengah lebih naturalistis dan dinamis, sementara seni pahat Jawa Timur agak kaku dan terikat pada soal-soal kependetaan (R Soekmono, 1971).

Namun, bukan berarti gaya Jawa Tengah lebih tinggi langgam seninya daripada gaya Jawa Timur. Arca Prajnaparamita yang pernah bertahun-tahun bermukim di Belanda merupakan peninggalan dari Candi Singasari, Jawa Timur, yang dianggap memiliki langgam seni amat indah. Jauh melebihi gaya Jawa Tengah.

Sebagai benda seni, arca termasuk barang yang banyak diburu kolektor. Statistik menunjukkan arca kuno, termasuk relief candi dan ornamen-ornamen candi lainnya, merupakan peninggalan masa lampau yang paling sering hilang.


Modus pencurian

Modus yang umumnya dilakukan pencuri adalah menggotongnya langsung dari situs candi, terlebih untuk arca lepas. Untuk arca yang menempel pada relung candi, biasanya menggunakan pahat dan dicongkel. Bahkan ada yang dipotong atau digergaji dengan alat modern.

Pencurian arca relatif mudah dilakukan karena lokasi situs berada di ruang terbuka dan jauh dari permukiman penduduk. Banyak situs arkeologi, misalnya, terletak di atas bukit, di tengah hutan, bahkan di lereng gunung. Di pihak lain, tenaga pengawas sangat minim karena alasan klasik: ketiadaan dana.

Pelaku utama biasanya penduduk desa yang masih lugu karena diiming-imingi uang banyak oleh para penadah. Para penadah kemudian menjualnya kepada calo barang antik yang menjualnya lagi langsung kepada orang asing atau kolekdol (kolektor yang merangkap pedagang).

Sebenarnya modus dan pendistribusian benda-benda kuno curian sudah terbaca oleh pihak berwenang. Namun entah mengapa pencurian terus saja terjadi setiap tahun. Mudah-mudahan kasus arca Aksobhya itu akan membuka mata kita terhadap kepurbakalaan dan bisnis barang antik.

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, Tinggal di Jakarta


(Sumber: Kompas, 25 April 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: