Kamis, 05 Maret 2009

Candi Bumiayu Terancam Erosi Lematang

Views


Oleh: Bambang Budi Utomo

Tidak dapat disangkal bahwa sebagian besar masyarakat hanya mengetahui bahwa bangunan-bangunan candi dengan keindahannya hanya ditemukan di Jawa, khususnya Jawa Tengah...
Pada kenyataannya, tidak banyak orang yang tahu bahwa di Sumatera juga terdapat bangunan candi yang keindahannya tidak kalah dengan candi di Jawa. Di daerah tepian Sungai Lematang, di suatu tempat yang termasuk wilayah Desa Bumiayu (Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim), ditemukan runtuhan bangunan bata.

Keberadaan runtuhan bangunan ini untuk pertama kalinya dilaporkan oleh Tombrink pada tahun 1864. Kemudian mulai tahun 1973, 1976, dan 1990-an mulai diperhatikan kembali. Penelitian arkeologi yang intensif dan dilanjutkan dengan pemugaran mulai dilakukan tahun 1991 hingga sekarang. Bangunan Candi 1 dan Candi 8 telah selesai dipugar dan bangunan Candi 3 sudah diberi atap pelindung.

Kompleks Candi Bumiayu berada pada dataran rendah yang relatif datar, yang merupakan dataran lembah Sungai Lematang yang mengalir di sebelah timur situs. Timbul dugaan, sungai inilah sebagai sarana transportasi dan satu-satunya akses dari hulu ke laut karena Sungai Lematang bermuara ke Sungai Musi. Sebelum tahun 1980 sungai ini dahulu dapat dilalui kapal uap dari Palembang ke Lahat. Karena telah banyak mengalami pendangkalan akibat erosi, maka sekarang tidak dapat lagi dilalui kapal besar.


Karya seni

Di Situs Bumiayu, pada areal seluas lebih kurang 110 hektar yang dibatasi oleh parit keliling sekurang-kurangnya terdapat enam buah runtuhan bangunan bata. Bangunan Candi 1 yang telah selesai dipugar denahnya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,21 x 10,47 meter dan tangga naiknya terdapat di sisi timur. Hiasan yang terdapat di sisi kiri dan kanan tangga naik berupa hiasan kereta yang ditarik oleh singa. Di bagian depan tangga naik terdapat sisa bangunan yang disebut regol (paviliun). Dari runtuhan bangunan Candi 1 ditemukan lima buah arca, yaitu arca Siwa Mahadewa, Agastya, arca Gajasimha, dua buah arca tokoh tanpa atribut kedewaan, dan arca Nandi.

Bangunan Candi 3 merupakan sekelompok bangunan yang terdiri dari sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara yang masing-masing terletak di utara, timur, dan selatan. Berdasarkan keletakan tangga naiknya, bangunan candi induk menghadap ke arah timur laut. Berbeda dengan candi lainnya, bangunan utama Candi 3 bagian badannya berdenah segi delapan yang berdiri di atas kaki bangunan yang berdenah bujursangkar. Dari runtuhan bangunan Candi 3 ditemukan fragmen kepala arca yang berwajah raksasa (ugra), arca wanita berbentuk torso yang memakai kalung berupa untaian tengkorak, arca perempuan yang memegang ular, serta beberapa arca binatang yang berupa singa, buaya, anjing, dan ular.

Kedua bangunan candi tersebut membuktikan kepada kita bahwa ada sekelompok masyarakat di Sumatera Selatan telah dapat menghasilkan sebuah karya seni yang tinggi. Arca-arca dewa dari bahan batu putih yang ditemukan pada Candi 1 menunjukkan suatu karya seni pahat yang tinggi. Penggambaran secara terperinci perhiasan yang dikenakan pada arca tersebut membuktikan hal itu.

Pada Candi 3 sebuah karya seni yang tinggi tampak pada pembuatan relief dari terakota yang cukup terperinci. Relief tersebut menggambarkan hiasan kala dan makara yang ukurannya cukup besar dengan hiasan yang kaya. Namun, sayangnya, karya seni terakota ini kurang dibarengi dengan teknologi pembakaran. Banyak relief yang hancur karena kurang matangnya dalam pembakaran. Rupa-rupanya, ketika dalam pembakaran bagian dalam relief tersebut belum cukup kering untuk dibakar. Akibatnya, bagian dalamnya mudah hancur.

Bangunan Candi 8 bentuk denahnya sangat berbeda dengan bangunan candi lain yang ada di kompleks percandian Bumiayu. Candi lain mempunyai tangga naik yang umumnya ditemukan di sisi timur, sementara pada bangunan Candi 8 indikator tangga naik tidak ditemukan. Bentuk denahnya empat persegi panjang tanpa penampil. Di bagian atas dua lapis bata yang terakhir terdapat sebuah profil bingkai mistar dan lapisan yang keempat hampir seluruhnya diisi dengan relief bunga-bungaan. Di atas relief tersebut terdapat tiga susun bata yang membentuk bingkai polos yang selanjutnya diteruskan dengan bingkai sisi genta. Di bagian atas bingkai sisi genta itu diteruskan dengan bingkai mistar masuk ke dalam selanjutnya berkembang menjadi lantai bagian atas. Dilihat dari bentuknya yang sangat sederhana tersebut, timbul suatu kesan bahwa bangunan Candi 8 bukanlah bangunan candi (sakral), melainkan bangunan mandapa atau mungkin juga bangunan profan.

Secara keseluruhan hiasan bangunan Candi 8 hanya terdiri dari relief bunga dalam bentuk ceplok bunga dan sulur-suluran. Hiasan-hiasan tersebut ditemukan pada bingkai datar empat lapis di atas fondasi. Secara sepintas memberi kesan bahwa hiasan tersebut merupakan suatu kesatuan. Namun, apabila diperhatikan, ternyata hiasan-hiasan itu merupakan penggabungan dari sejumlah panil yang dilakukan secara acak sehingga tidak simetris. Atas dasar bukti tersebut di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwa Candi 8 yang tampak sekarang merupakan bangunan yang telah mengalami perubahan secara total dan bahkan cenderung sangat jauh menyimpang dari desain awalnya. Beberapa panil hiasan bahkan dipasang dalam posisi terbalik dengan bidang hiasan di bagian belakang atau samping, sedangkan bidang polosnya justru diletakkan pada bagian depan. Banyak pula dari hiasan-hiasan itu dipasang di bagian samping. Lebih dari itu, terdapat pula beberapa hiasan yang tampaknya disusun secara tergesa-gesa atau asal pasang sehingga antara bidang yang satu dengan bidang yang lain tidak sesuai. Gejala yang demikian memperlihatkan bahwa bata-bata yang digunakan untuk membangun bangunan ini diambil dari tempat lain atau dari bangunan lain yang telah jadi atau mungkin juga bangunan yang diambil batanya itu telah tidak lagi berfungsi.

Apabila hal yang kedua yang terjadi, mungkin sekali bahwa perubahan bentuk atau denah bangunan tersebut berlangsungnya jauh dari masa yang kemudian.


Tantrisme

Ada bangunan suci tentu ada agama yang dianut oleh kelompok masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bangunan itu. Agama apa yang dianut oleh kelompok masyarakat di Desa Bumiayu pada masa lampau? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan melihat arca yang ditemukan di dalam bangunan suci tersebut. Pada Candi 1 ditemukan arca-arca dewa Hindu, seperti arca Siwa dan Agastya. Para pakar telah sepakat bahwa berdasarkan gaya seninya, arca- arca tersebut berasal dari sekitar abad kesembilan-kesepuluh Masehi. Dari petunjuk ini dapat diketahui bahwa pada sekitar abad tersebut, ada kelompok masyarakat yang beragama Hindu yang melakukan pemujaan di Candi Bumiayu.

Pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu, khususnya Siwa, berlangsung hingga sekitar abad ke-10 Masehi. Setelah itu, kemudian mulai masuk agama lain yang mengarah kepada pemujaan Tantra. Gejala ini ditandai dengan bukti prasasti yang ”berbau” tantra yang ditemukan di tepi Sungai Lematang. Aliran agama ini kemudian berkembang di Bumiayu pada sekitar abad ke-12 hingga ke-13 Masehi, dan terakhir pada abad ke-13 Masehi yang ditandai dengan adanya arca Camundi dan arca singa yang menarik kereta mulai masuk pemujaan Tantrisme dari Orissa (India) dan Singhasari.

Keletakan Kompleks Percandian Bumiayu sangat kritis karena terletak di ujung kelokan Sungai Lematang yang selalu diterjang arus. Akibat dari kuatnya arus, dinding sungai yang terkena terjangan arus menjadi runtuh. Bangunan Candi 1 sekarang ini letaknya sekitar 100 meter dari tepi sungai yang terkena terjangan arus. Berdasarkan perhitungan, dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun bangunan candi akan lenyap tersapu arus Lematang. Candi Modong yang juga terletak di tepi Lematang telah hilang diterjang arus Lematang. Pada tahun 1930-an runtuhan bangunan ini masih ada dan keberadaannya telah dilaporkan oleh Schnitger, seorang arkeolog amatir bangsa Belanda.

Pada tahun 1990-an Pemerintah Kabupaten Muara Enim membuat sodetan dengan memotong meander sungai guna memecah arus agar tidak menerjang bangunan candi. Usaha ini agak menolong. Arus sungai menjadi agak lemah, tetapi erosi masih juga terjadi terutama pada waktu Sungai Lematang meluap.

Bambang Budi Utomo
Kerani Rendahan pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

(Sumber: Kompas, Sabtu, 25 Juni 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: