Jumat, 20 Maret 2009

”Garbage Archaeology”: Studi Sampah Masa Kini untuk Memahami Masa Lampau

Views


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO

Buat sementara kalangan sampah adalah kotoran yang menjijikkan karena sampah merupakan sisa-sisa barang atau makanan yang dibuang oleh seseorang. Sebaliknya di mata segelintir orang seperti pemulung, sampah merupakan ”barang berharga” untuk menyambung kehidupan mereka.

Di mata para peneliti teknologi, sampah pun besar manfaatnya. Sampah-sampah tertentu bisa dijadikan biogas atau pupuk tananam. Bahkan dengan melakukan daur ulang, sampah kertas dan plastik bisa ”disulap” menjadi bahan bangunan sintetis. Begitu pun sampah kaleng, yang terkadang bisa dijadikan benda seni.


Tingkah Laku

Bagi pakar ilmu sosial dan budaya, sampah merupakan sumber penelitian untuk memahami proses tingkah laku manusia. Di sejumlah negara penelitian sampah rumah tangga selalu dipelopori para pelestari lingkungan. Di Indonesia penelitian serupa pernah dilakukan sejumlah arkeolog beberapa tahun lalu. Memang kelihatannya ”gila”, arkeolog kok bukan meneliti benda-benda kuno tetapi sampah masa kini.

Arkeologi dipandang sebagai ilmu yang bersifat atemporal. Karena itu studi arkeologi tidak dibatasi waktu. Artinya, arkeologi tidak harus meneliti masa lampau atau benda-benda kuno saja. Arkeologi bisa meneliti manusia masa kini sebagai perbandingan untuk menjelaskan manusia masa lampau. Apalagi arkeologi mempunyai subdisiplin etnoarkeologi yang intinya berusaha memahami manusia pada berbagai sukubangsa.

Tentu timbul pertanyaan, bagaimana para arkeolog meneliti sampah rumah tangga itu? Mereka bukan menggali, tetapi mendatangi rumah-rumah penduduk di Jakarta dari berbagai lapisan sosial. Juga tempat-tempat pembuangan sampah, hingga tempat pembuangan akhir.

Ternyata jenis-jenis sampah bisa menggambarkan status sosial seseorang. Mana orang kaya, mana orang miskin, atau mana orang asing, bisa tergambar dari sampah-sampah yang mereka buang. Bahkan dari jenis sampah bisa ditafsirkan jumlah penghuni rumah berikut usia dan jenis kelamin mereka.

Selain itu para arkeolog mengamati tingkah laku penumpang bis kota dan pengunjung taman hiburan. Penelitian tentang sampah pernah pula dilakukan di Candi Borobudur. Waktu itu berhasil diidentifikasi berjenis-jenis sampah, yakni rokok, kertas, sisa makanan, dan sisa minuman. Kesimpulannya adalah sampah-sampah itu sengaja dibuang pengunjung. Hal ini berarti berhubungan dengan ketidakdisiplinan manusia.


Sampah Dapur

Gagasan meneliti sampah berasal dari istilah sampah dapur. Istilah ini mengacu kepada sampah-sampah makanan, umumnya berupa kulit kerang, yang tertimbun dalam suatu tempat. Sampah dapur berhubungan dengan manusia purba dari masa prasejarah yang bertempat tinggal dekat pantai.

Di dunia arkeologi penemuan lubang-lubang sampah merupakan hal yang amat berguna karena jenis-jenis sampah bisa menghasilkan banyak penafsiran. Penemuan lubang sampah merupakan salah satu jalan untuk menemukan situs permukiman. Sayangnya hingga kini penemuan situs permukiman jarang sekali terjadi di Indonesia.

Manfaat temuan situs permukiman sebenarnya sangat besar. Banyak hal bisa terungkapkan lewat kajian yang mendalam, misalnya masalah luas kota (planologi), jumlah penduduk (demografi), dan mata pencarian (ekonomi).

Sejak lama di beberapa negara maju, berkembang ”garbage archaeology” (garbage = sampah). Meskipun penelitian dilakukan terhadap manusia masa kini, namun dengan pengetahuan analogi etnografi atau etnoarkeologi, mereka mampu menjelaskan manusia masa lampau beserta kebudayaannya. Hal seperti itu pula yang ingin dicapai para arkeolog Indonesia.

Di berbagai situs arkeologi banyak ditemukan sampah berupa bekas benda-benda rumah tangga, misalnya pecahan pasu. Kesimpulan ini diambil karena pecahan pasu tersebut tidak bisa direkonstruksi menjadi setengah utuh atau utuh. Inilah yang memperkuat dugaan bahwa pasu tersebut sudah pecah sejak dulu lalu dibuang oleh pemakainya karena dianggap tidak berguna lagi. Dengan demikian sangat boleh jadi bahwa tempat ditemukannya pecahan pasu merupakan lubang sampah.

Makin banyak temuan di sekelilingnya, maka makin banyak tafsiran yang bisa dikemukakan. Semakin banyak tafsiran, tentu saja semakin luas cakrawala kita tentang masa lampau.***

*Penulis adalah seorang arkeolog

(Sumber: Sinar Harapan, 29 Desember 2004)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: