Jumat, 20 Maret 2009

Kebudayaan dan Pariwisata

Views


Oleh Djulianto Susantio

Banyak definisi tentang kebudayaan yang dikemukakan para pakar. Arkeolog R. Soekmono mengatakan kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan alam penghidupan. Antropolog Koentjaraningrat berpendapat kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Di seluruh dunia, terdapat lebih dari 100 definisi tentang kebudayaan yang disodorkan para pakar dari berbagai disiplin ilmu, seperti agama, hukum, seni, dan sastra. Kebudayaan sendiri memiliki tujuh unsur yang bersifat universal Unsur-unsur tersebut ada dan terdapat di dalam semua kebudayaan dari semua bangsa di dunia. Ketujuh unsur tersebut adalah bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, sistem religi, dan kesenian.

Kebudayaan memiliki arti penting bagi suatu bangsa. Kebudayaan merupakan jati diri nasional atau sarana pemersatu. kebudayaan dinilai berperan jika memiliki hasil budaya yang khas. Hasil budaya bukan hanya milik suatu bangsa, tapi sudah dianggap milik bersama, yakni masyarakat dunia. Lihat saja, bagaimana masyarakat dunia mengecam agresi AS ke Irak karena mereka merusakkan, menghancurkan, dan menghilangkan sisa-sisa kebudayaan kuno yang dihasilkan nenek moyang bangsa Irak.

Pada prinsipnya hasil budaya suatu bangsa dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yakni yang dapat diraba dan tidak dapat diraba. Hasil budaya yang dapat diraba, misalnya candi, istana, dan berbagai benda yang mempunyai wujud fisik. Hasil budaya yang tidak dapat diraba teramati oleh penglihatan. Seni pertunjukan dan adat-istiadat suatu suku bangsa adalah sebagian dari hasil budaya yang tidak teraba itu.


Warisan Budaya

Banyak hasil budaya suatu bangsa dikagumi bangsanya sendiri dan juga oleh bangsa lain. Bangsa Mesir, misalnya, meninggalkan piramida. Salah satu piramida, Cheops, dibangun sekitar 4.600 tahun yang lalu. Bangunan ini terdiri atas 2,5 juta balok batu dan masing-masing balok beratnya mencapai 2,5 ton. Bangsa Cina meninggalkan Tembok Besar yang panjangnya berkilo-kilo meter. Hebatnya, peninggalan budaya ini bisa dilihat dari bulan.

Bangsa Indonesia meninggalkan Candi Borobudur. Dalam pembuatannya candi ini menghabiskan sekitar 55.000 meter kubik batu andesit. Satu batunya mencapai berat puluhan hingga ratusan kilogram. Banyak hasil budaya bangsa Indonesia lainnya yang sampai kini masih tetap dilestarikan. Salah satunya dalam bentuk peninggalan arkeologi.

Peninggalan arkeologi termasuk warisan budaya hasil proses sejarah bangsa sepanjang masa. Di Indonesia salah satu fungsi warisan budaya dikaitkan dengan kegiatan kepariwisataan.

Fungsi warisan budaya merupakan penjabaran dari Pasal 32 UUD 45 tentang Kebudayaan Bangsa dan berkaitan dengan GBHN Tap MPR tahun 1988 yang berbunyi, ”Tradisi dan peninggalan sejarah yang memberi corak khas kebudayaan bangsa serta hasil-hasil pembangunan yang mempunyai nilai perjuangan bangsa, kebanggaan dan kemanfaatan nasional perlu dipelihara dan dibina untuk menumbuhkan kesadaran sejarah, semangat perjuangan dan cinta tanah air serta memelihara kelestarian budaya dan kesinambungan pembangunan bangsa”.

Hal ini berkaitan dengan sasaran pariwisata dalam pembangunan nasional yang terdiri atas lima butir. Pertama, mengembangkan dan mendayagunakan sumber dan potensi kepariwisataan nasional menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan untuk memperbesar penerimaan devisa. Kedua, memperluas dan meratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, terutama bagi masyarakat setempat, mendorong pembangunan daerah serta memperkenalkan alam, nilai, dan budaya bangsa. Ketiga, pariwisata dalam negeri diarahkan untuk memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa serta menanamkan jiwa, semangat dan nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka lebih memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional di samping untuk meningkatkan kegiatan ekonomi. Keempat, usaha pembinaan dan pengembangan kepariwisataan dalam negeri ditujukan pula untuk meningkatkan kualitas kebudayaan bangsa, memperkenalkan kekayaan peninggalan serta keindahan alam termasuk alam bahari di berbagai pelosok tanah air. Kelima, dalam rangka pembangunan kepariwisataan kita perlu meningkatkan langkah-langkah yang terarah dan terpadu dalam pengembangan objek-objek wisata serta kegiatan promosi dan pemasarannya baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sejak lama banyak peninggalan bangsa Indonesia dikagumi wisatawan asing. Museum Nasional yang sarat dengan benda-benda arkeologi adikarya selalu menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jakarta. Candi Borobudur yang penuh misteri selalu mengundang kekaguman wisatawan yang mengunjunginya. Kekayaan seni budaya berikut aspek sejarahnya selalu menjadi daya tarik utama bagi wisatawan mancanegara.

Pada 1978 dibentuk Komisi Kerja Sama untuk Pembinaan dan Pengembangan Objek Wisata Budaya oleh Direktorat Jenderal Pariwisata dan Direktorat Jenderal Kebudayaan. Waktu masing-masing bernaung di bawah Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekornunikasi serta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Maka sejak itu segala jenis penelitian arkeologi, termasuk pemugaran diarahkan untuk kepentingan pariwisata. Banyaknya kunjungan wisatawan ke berbagai warisan budaya menjadikan budaya kita lebih berarti. Apalagi kini bidang kebudayaan dan pariwisata berada dalam satu induk sehingga penanganannya lebih mudah. Namun banyak masalah masih belum tertangani dengan baik. Sebenarnya banyak warisan budaya yang berpotensi besar untuk menjaring wisatawan. Sayangnya masih urung dipugar dan terbengkalai terus hingga kini. Penyebabnya kekurangan dana, masalah klasik yang selalu terjadi dari waktu ke waktu. Jika dibandingkan dengan sesama negara berkembang, kebudayaan Indonesia boleh dibilang sejajar dengan kebudayaan Mesir, Cina, dan India.

Namun ketiga negara itu sudah lebih maju dalam menangani pariwisata budaya. Manajemen mereka sudah lebih baik daripada Indonesia . Bahkan anggaran yang mereka keluarkan jauh lebih besar daripada anggaran kita di sini. Salah satu negara yang paling banyak menyedot wisatawan mancanegara berkat peninggalan budayanya adalah Yunani. Dalam setahun Yunani didatangi 12 juta wisatawan mancanegara untuk menyaksikan peninggalan nenek moyang mereka yang terkenal kesohorannya itu. Jumlah ini jauh lebih banyak daripada jumlah penduduk Yunani. Yunani bisa maju karena manajemennya sudah profesional. Sumber daya manusianya pun benar-benar berkualitas tinggi. Penanganannya tidak asal jalan, tetapi mempunyai prospek ke depan. Selama ini kita juga tahu Spanyol selalu mengandaikan matador untuk menarik perhatian wisatawan dunia. Mereka mampu mendatangkan sekitar 20 juta wisatawan per tahun. Sungguh menakjubkan. Bukan tidak mungkin Indonesia memanfaatkan warisan budaya untuk konsumsi para wisatawan. Itu pun harus hati-hati, jangan sampai tergusur oleh Vietnam dan Kamboja, yang warisannya mirip dengan Indonesia.***

Penulis adalah anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

(Sumber: Sinar Harapan, 28 Agustis 2003)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: