Jumat, 20 Maret 2009

Moluska Purba, Kajian Arkeolog dan Antropolog

Views


Oleh: Djulianto Susanto

Dari hasil ekskavasi arkeologi, sisa-sisa moluska purba termasuk jarang ditemukan. Meski kurang diperhatikan, moluska purba tetap menjadi kajian menarik segelintir arkeolog. Banyak hal bisa terungkap dari hewan tersebut jika para pakar sanggup menafsirkannya dengan baik. Begitu juga konteksnya dengan benda-benda temuan lain, bisa berbicara banyak apabila unsur-unsur penunjangnya juga relatif banyak.

Moluska terdiri atas dua jenis hewan bertubuh lunak. Kerang (berkatup dua) dan keong (berkatup satu). Hewan ini sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Dari berbagai temuan arkeologi diketahui kerang lebih banyak dikonsumsi manusia purba dibandingkan keong. Daging kerang dan keong mengandung gizi tinggi. Banyak manusia purba, yang hidup di tepi pantai maupun di gua, mengonsumsi kedua hewan itu.

Menurut penelitian, manusia purba mulai hidup sebagai nelayan atau pencari kerang sekitar tahun 20.000 Sebelum Masehi. Mereka mengembangkan eksploitasi laut dengan menggunakan peralatan sangat sederhana. Selain diambil dagingnya, cangkang moluska dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah tangga, seperti alat pemotong, gayung, alat musik, bekal kubur, uang primitif, mas kawin, dan hiasan.

Cangkang moluska tertentu diketahui menjadi benda pusaka suatu suku bangsa karena dipandang mampu melindungi seluruh warga dari segala marabahaya. Sampai sekarang masyarakat Belu, NTT, masih miliki kepercayaan seperti itu. Sejumlah pusaka hanya boleh digunakan pada upacara adat oleh golongan bangsawan. Pusaka lain dipakai wanita tertentu untuk melakukan tarian tradisional atau menyambut tamu agung.

Cangkang kecil dirangkai menjadi kalung dan dibuat manik-manik. Perhiasan ini telah dikenal sejak zaman Paleolitik Atas. Sementara itu H.R. van Heekeren menemukan penggaruk dan alat tusuk dari cangkang moluska di situs Pangkajene, Sulawesi Selatan. Di situs Leang Karassa, tak jauh dari Pangkajene, Heekeren menjumpai lapisan kerang setebal 100 cm (Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I).


Banten Lama

Bukit kerang atau bukit remis pernah ditemukan di Sumatera. Dalam ekskavasinya dekat Medan (1925-1926), P.V. van Stein Callenfels menemukan cangkang moluska yang dijadikan alat tiup, tempat minum, gayung, perhiasan, penggaruk, dan serut bersama-sama dengan kapak genggam. Kemungkinan besar kapak genggam itu digunakan untuk memecah cangkang yang keras. Sampai sekarang kapak genggam Sumatera merupakan artefak masa prasejarah yang sangat spesifik bentuknya.

Yang agak berbeda temuan dari situs Banten Lama. Selain sejumlah besar cangkang kerang, pada situs itu ditemukan pula pecahan keramik dan periuk. Diperkirakan situs tersebut merupakan tempat permukiman penduduk pantai yang makanan pokok serta kehidupan sehari-harinya tergantung dari hasil laut.

Meskipun fosil moluska (berusia ribuan tahun) dan moluska kuno (berusia ratusan tahun) sudah banyak ditemukan pada berbagai situs arkeologi, penelitian terhadap artefak-artefak itu masih jarang dilakukan. Baru 30 tahun terakhir sisa-sisa moluska dipandang menjadi data arkeologi yang berguna bagi kelengkapan penafsiran sejarah.

Data tersebut dipakai untuk menafsirkan hubungan penghuni purba suatu situs dengan daerah-daerah lain, terutama daerah pesisir. Dengan mengetahui lingkungan hidup atau habitat berbagai jenis moluska, para pakar dapat menyimpulkan apakah penghuni purba sudah pandai menyelam atau berlayar. Moluska juga merupakan petunjuk yang berguna dalam menentukan iklim dan vegetasi.

Ada tiga manfaat studi terhadap moluska. Pertama, sebagai bahan studi tentang paleoantropologi. Kedua, untuk merekonstruksi data iklim dan lingkungan purba. Ketiga, untuk studi mengenai sumber makanan. Demikian menurut Rokhus Due Awe, peneliti moluska purba dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dan Kresno Yulianto, dosen arkeologi UI.


Jenis Istimewa

Moluska termasuk jenis yang istimewa dan dianggap paling banyak mengandung informasi kepurbakalaan dan kesejarahan. Cangkangnya yang keras karena mengandung zat kapur, memungkinkan moluska dapat menyimpan informasi dalam cuaca bagaimanapun dan dapat bertahan ribuan tahun di dalam tanah.

Moluska bukan hanya menjadi objek penelitian para arkeolog. Para antropolog pun sering meneliti moluska, tentu dalam sudut pandang berbeda. Menurut Jopie Wangania, antropolog UI, terdapat empat fungsi kerang bagi manusia: kerang pangan, kerang industri, kerang obat, dan kerang bermakna religius.

Kerang pangan dagingnya dimakan. Kerang industri cangkangnya dapat dijadikan barang kerajinan. Kerang obat sebagai obat, terutama obat kulit atau gatal-gatal. Sedangkan kerang religius digunakan pada pesta/upacara adat suatu suku bangsa.

Sebagai sumber informasi masa lampau, moluska banyak ditemukan pada situs-situs arkeologi di NTT, Anyer, dan Gilimanuk. Ada yang kecil, ada pula yang besar. Sayangnya, moluska masih sulit dijadikan pertanggalan mutlak, seperti halnya keramik atau mata uang. Ini karena bentuk cangkang hewan-hewan itu relatif sama dari masa ke masa.

Penelitian terhadap cangkang moluska bisa pula untuk mengetahui berbagai hal lain, seperti teknologi pembuatan alat, perkembangan spesies, kehidupan sosial ekonomi masyarakat, dan lingkungan hidup. Sayang, penelitian belum mengarah ke sana.

Penulis adalah arkeolog

(Sumber: Sinar Harapan, Kamis, 22 Desember 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dictionary

Kontak Saya

NAMA:
EMAIL:
SUBJEK:
PESAN:
TULIS KODE INI: